Game Lover

Game Lover
Bab. 21 Pengorbanan Seorang Ayah untuk Anaknya


__ADS_3

Now Loading… 


"Ya...pemenanglah adalah tim dari Atena21…" ucap host memberitahukan pemenang dari battle kali ini. 


"Sedikit lagi SuperSonic!…" seru salah satu fans dari Rio. 


"Atena21 memang yang terbaik!…" seru fans dari Hanna. 


Awalnya Rio hanya bisa tertunduk mendapati dia kalah melawan Hanna. Begitu juga partnernya dalam tim ini. Rio kembali bangkit mengangkat kepala lalu menyemangati timnya.


"Gak apa-apa kok...ini hanya permainan…" ucap Rio berusaha tetap tersenyum. 


"Sedikit lagi kak…" keluh anggota timnya yang cewek, terlihat dia sangat sedih.


"Santai...kalian sudah bermain dengan baik," ucap Rio memberikan semangat. "Gue yakin lo pada bakalan menjadi Pro Player terbaik nanti…" tambahnya memberi motivasi. "Anggap saja ini sebagai motivasi buat lo pada agar bermain lebih baik lagi."


Rio kemudian berjalan menuju Hanna dan timnya. Rio kesana diiringi anggota dari timnya hari ini. Dengan besar hati dia menerima kekalahan ini. 


"Selamat ya…" ucap Rio menyalami satu-persatu dari tim Hanna. 


"Sebenarnya yang terakhir tadi gak gue sangka," ungkap Hanna. "Seandainya waktu masih banyak...lo pasti bisa ngalahin gue," tambahnya lagi. 


"Ini battle terbaik yang pernah kami jalani selama bermain game," ucap salah seorang anggota dari tim Hanna. 


Mereka saling bersalaman dan berfoto bareng di atas panggung. Semua penonton sudah ngelupain battle yang tadi. Sekarang mereka senang melihat kedekatan Hanna dan Rio. 


Rio melihat di antara penonton yang berdesakan ada seorang bapak yang tergencet. Bapak itu terlihat sudah tua, tapi bersemangat untuk maju ke depan. Rio merasa khawatir dengan keadaan bapak itu.

__ADS_1


Tebakan Rio benar karena bapak itu tiba-tiba jatuh di antara penonton yang membludak. "Siapapun tolongin bapak itu!..." teriak Rio membuat semua orang terkejut. 


Rio langsung melompat dari atas panggung. Dia tidak memperdulikan penonton yang mengelilinginya. Dia hanya berpikir bisa membantu bapak itu yang terjatuh. Sesampainya di samping bapak itu dia langsung menggendongnya dibantu para kru yang datang bersama Mirhan dan Arif. 


Mereka membawa bapak itu menuju ke belakang panggung. Rio terlihat khawatir dengan keadaan bapak itu. Terlihat sekali wartawan mengikuti mereka hingga ke ruangan kesehatan. Ruangan ini dikhususkan untuk siapa saja yang pingsan atau terjadi sesuatu. Tim medis sudah siap berjaga disana kalau ada yang pingsan.


Rio meletakkan bapak itu ke tempat tidur pyang sudah disiapkan. Para tim medis langsung memeriksa bapak itu dengan sangat hati-hati. Mereka memasangkan oksigen agar pernapasan bapak itu bisa berjalan dengan lancar. Akhirnya bapak itu bisa kembali siuman, namun masih belum bisa diajak bicara.


"Dia gak apa-apa kan?" tanya Rio terlihat sekali dia sedang khawatir.


"Gak apa-apa kok Yu...dia hanya kecapean…" jawab salah seorang tim medis. 


Rio cukup lega mendengar jawaban itu. Hanna yang sempat terkejut melihat Rio yang melompat dari atas panggung menuju penonton. Awalnya dia pikir Rio hanya ingin melakukan hal konyol, tapi setelah dia melihat Rio menggotong bapak itu, dia baru sadar Rio melakukan itu karena memiliki alasan. 


Tidak lama kemudian bapak itu akhirnya sadar seoenuhnya. Rio langsung bergegas menemuinya untuk mengetahui keadaannya. Rio lalu duduk di sebelah bapak itu dengan penuh perhatian. Rio selalu berpikir melihat ayahnya setiap kali melihat orangtua seperti itu. Itulah yang membuatnya peduli pada keadaan bapak itu. 


"Tolong maafkan kami pak…" ucap Rio dengan tulus meminta maaf.


"Bapak kenapa berdempetan dengan penonton?" tanya Hanna yang duduk di sebelah Rio. 


"Anak saya sangat mengidolakan kalian…" jawab bapak itu sambil meminum air yang Mirhan berikan untuknya. "Saya ingin memberikan hadiah kejutan untuk anak saya," bapak itu melanjutkan jawabannya. 


"Sekarang anak bapak dimana?" tanya Rio penasaran. 


"Anak saya mengalami kecelakaan saat ingin bertemu dengan kalian di acara Game Party," jawab bapak itu dengan berurai air mata. "Dia ditabrak saat mengendarai motor menuju tempat acara itu diselenggarakan," bapak itu menjelaskan dengan lengkap.


Rio semakin tersentuh mendengar jawaban dari bapak itu. "Mir, gue boleh minta kaos Megawave : Shooter of War sama lo?" tanya Rio pada Mirhan. 

__ADS_1


"Bisa…" jawab Mirhan. "Ty...tolong ambilin…dan kaset fisik game Shooter of War " ucap Mirhan pada Asty salah satu kru dari acara ini. 


"Terima kasih banyak nak," ucap bapak itu sambil meneteskan air mata. "Kalian memang pantas menjadi idola anak saya, kalian adalah contoh baik buat anak saya," tambahnya dengan berurai air mata. 


Rio langsung melarang disaat wartawan ingin merekam mereka dengan handphonenya. Begitu pula dengan yang lain yang ada disana. "Gue mohon jangan ada yang merekam ini," ucap Rio dengan tegas. "Ini bukan untuk konsumsi publik," tambahnya lagi. 


"Tapi ini bisa bikin popularitas lo naik…" ucap seorang wartawan yang ada disana.


"Apa yang lo pikir hanya berita? disini ada orang yang sedang sakit, sangat gak sopan kalau lo memanfaatkannya buat konsumsi publik," ucap Heri dengan kasar.


Semua wartawan keluar setelah mendengar ucapan yang kasar dari Heri. Terlihat sekali mereka tidak suka dimarahi oleh Heri. Sementara semua orang yang ada di dalam sana tidak ada yang berani merekam. Rio kemudian memandang bapak itu dengan ramah. 


"Bolehkah kami mengantarkan bapak pulang setelah acara ini selesai?" tanya Rio pada bapak itu. 


"Tidak perlu nak, bapak bisa pulang sendiri…" ucap bapak itu berusaha menolak. 


"Kami ingin bertemu dengan anak bapak," ucap Hanna dengan ramah. "Kami berharap bisa membuatnya bahagia dengan bertemu kami."


"Terima kasih banyak nak...kalian berdua sangat baik," ungkap bapak itu kembali menangis. "Selama ini anak saya selalu membicarakan mengenai kalian berdua, bahkan dia selalu menonton video kalian di Utube, dia bisa melupakan penderitaannya saat dia melihat video kalian," ucap bapak itu bercerita. 


"Keadaan anak bapak saat ini bagaimana?" tanya Arif penasaran. 


"Anak saya sedang menjalani pemulihan patah kaki karena ditabrak mobil," jawab bapak itu. 


Selama ini Rio dan Hanna tidak pernah menyangka ternyata video mereka saat bermain game sangat berarti buat seseorang. Padahal video yang mereka buat murni untuk bermain game dan bercanda. Ini membuat mereka tambah semangat lagi membuat video dan live streaming di Utube. 


Rio dan Hanna meninggalkan bapak itu untuk melanjutkan acara. Dia, Hanna, Mirhan dan Heri mengganti pakaian mereka. Mereka memakai kaos yang akan mereka pakai saat bertanding. 

__ADS_1


Mereka kemudian bersiap dibelakang panggung untuk dipanggil Host. Mereka terlihat sangat bersemangat untuk memperkenalkan tim Shark Station.


Bersambung...


__ADS_2