Game Lover

Game Lover
Bab. 27 Sisi Gelap Tim Thunderstorm


__ADS_3

Now Loading...


"Lama gak ketemu, Rio," ucap Erwin sambil tersenyum berdiri di depan pintu apartemen Rio. 


"Apa kabar Erwin?" tanya Rio membalas senyuman Erwin. 


"Siapa Yo?" tanya Mirhan yang penasaran. 


"Teman lama...Erwin…" jawab Rio terlihat sekali dia sangat senang. 


"Kenapa gak lo suruh masuk Nyet?..." tanya Hanna yang menyiapkan Soto Ayam mereka ke mangkok. 


"Iya cerewet...ini gue ajak masuk…" jawab Rio dengan kesal sambil mendahului masuk. "Ayo masuk dulu Win...sorry agak berantakan…" ucap Rio mempersilahkan Erwin masuk. 


"Kalian lagi makan ya?" tanya Erwin saat melihat ada makanan di meja makan. "Maaf ya gue mengganggu?" ucap Erwin kemudian. 


"Santai aja kali Win," ucap Arif menanggapi. Dia sudah siap ingin memakan Soto Ayam miliknya.


"Lo mau makan juga Win?" tanya Mirhan kemudian. 


"Gak bro...terima kasih...lo lanjut aja makan dulu...gue kebetulan sudah makan tadi di tempat latihan bareng anak-anak…" Erwin menolak dengan halus. "Lo masih bawa terus ini konsol?" tanyanya kemudian setelah melihat konsol NineTenDo Rio yang terpasang sama televisi.


"Lo mau main?" Rio kemudian menyalakan konsol itu agar Erwin bisa main. 


"Tumben lo ngijinin gue buat mainin...biasanya kan lo selalu pelit sama tuh konsol…" sindir Erwin sambil tersenyum. 


"Lo mau main gak?" tanya Rio sedikit kesal. 


"Iya…" jawab Erwin sambil tersenyum. "Lo makan dulu gih...biar gue nungguin lo makan sambil main NineTenDo," Ucapnya kemudian. 


"Gak apa-apa nih Win?" tanya Rio lagi agak tidak enak. 


"Santai…kan gue udah bilang…kalau gue udah makan…" jawab Erwin sambil mulai memainkan game Motor Cross.


Rio bersama teman-temannya mulai menyantap Soto Ayam mereka, sedangkan Erwin asyik bermain konsol NineTenDo. Erwin bermain game dengan serius sekali. Dia sampai tidak mikirin orang di belakangnya sedang asyik. 


Setelah makan Rio lalu menghampiri Erwin yang bermain. Hanna, Mirhan, dan Arif membereskan piring dan gelas. Sementara Heri lanjut memainkan game ritem di handphonenya. 


"Sorry ya bro?" Rio lalu menghampiri Erwin. 


"Sorry kenapa?" tanya Erwin yang masih main game di konsol Rio. 


"Gue ninggalin lo makan dulu…" jawab Rio lalu duduk di sebelah Erwin lalu nyalain rokok. 

__ADS_1


"Santai aja lah…" ucap Erwin sambil fokus ke layar televisi. "Ah…sial…mati lagi…" ucap Erwin kemudian. Dia lalu meletakan stik konsol ke samping konsol. "Lo kembali ngajak anggota tim Shark Station untuk gabung?" tanya Erwin kemudian. Dia juga ikut menyalakan rokok miliknya dengan korek api.


"Ya...seperti yang lo liat, cuman posisi Helena gue ganti dengan Hanna," jawab Rio sambil menghisap rokoknya. 


"Hanna bukannya Pro Player FPS yang memiliki nickname Atena21 kan?" tanya Erwin dengan serius. 


"Memang benar…" jawab Rio sambil menghisap kembali rokoknya. 


"Apa lo yakin ingin memasukkan dia ke tim kalian?" tanya Erwin tidak yakin. "Dia bisa dibilang gak pernah memainkan game Dotha dua apalagi buat turnamen," ungkap Erwin menyangsikan Hanna. 


"Awalnya gue juga berpikir seperti itu," ucap Heri mulai mengikuti pembicaraan Erwin dan Rio. "Tapi belakangan ini gue liat kemajuan dan keinginannya untuk berkembang, itu membuat gue yakin dia bakalan jadi Pro Player Dotha dua terbaik," ucapnya menambahkanp. 


"Gue setuju dengan Heri," ucap Mirhan yang juga mengikuti pembicaraan mereka. 


"Oh...gitu ya?" tanya Erwin lalu tersenyum. "Tim lo udah pernah Sparing sama tim mana aja?" tanyanya lagi. 


"Kami rasa selama ini kami hanya bermain melawan Player Online di game," jawab Rio kemudian. 


"Gue udah mencoba menghubungi beberapa tim, tapi gak ada yang menjawab dan menerima," ungkap Mirhan menjelaskan. 


"Wajar aja sih, tim ini bisa dibilang belum punya ranking di turnamen Dotha dua," ucap Arif yang ikut merokok bersama Erwin dan Rio. 


"Gitu ya?" tanggap Erwin dengan serius. 


"Gue juga sudah keluar dari tim Thunderstorm," jawab Erwin lalu menghisap rokoknya. 


"Lho kok bisa? Bukannya selama ini di tim Thunderstorm, lo sudah memberikan beberapa kali kemenangan pada tim itu?" tanya Hanna kemudian. 


"Setahun lalu gue sudah merasa gak nyaman di dalam tim itu, kediktatoran Mikel semakin gak masuk akal," jawab Erwin dengan serius. 


"Gue juga dengar gosip itu, tapi gue pikir itu hanya gosip dari orang yang ingin menjatuhkan tim Thunderstorm," ucap Mirhan berkomentar.


"Gosip itu menyebar saat Yoda dan gue keluar," ungkap Erwin kemudian.


"Yoda juga keluar dari tim Thunderstorm?" Rio cukup terkejut mendengar berita ini.


"Sejak lo keluar dari tim Thunderstorm tanpa pamit, membuat setiap Player yang keluar dari tim Thunderstorm pasti akan diserang oleh fans Thunderstorm, sama seperti yang terjadi pada Rio," Erwin menjawab pertanyaan Rio. 


"Apa pihak tim Thunderstorm gak mencoba untuk meredam itu semua?" tanya Arif dengan kesal. 


"Mereka bahkan terkesan membiarkan semua itu," jawab Erwin dengan lesu. 


"Fans terlalu fanatik pada tim yang mereka bela," Heri berkomentar pedas. 

__ADS_1


"Terus bagaimana dengan lo dan Yoda sekarang?" tanya Rio dengan serius. 


"Kalau gue sekarang sudah bergabung dengan tim Blue Star, sedangkan Yoda udah gak pernah ada kabar lagi sejak dia keluar," jawab Erwin sambil menghisap rokoknya.


"Dia pasti sudah kena mental akibat serangan fans Thunderstorm yang kacau," komentar Heri. 


"Padahal dia salah satu Player yang sangat hebat," ungkap Rio mengenang saat mereka bermain di tim Thunderstorm.


"Fans Thunderstorm bukan hanya menyerang Player mereka yang keluar dari tim Thunderstorm, mereka juga menyerang tim-tim yang akan menjadi lawan mereka di turnamen," Erwin melanjutkan ceritanya. 


"Gue membaca artikel di internet, semua tim yang akan menghadapi tim Thunderstorm selalu mendapat bully an dan kata-kata kasar dari fans Thunderstorm," ucap Mirhan lalu memperlihatkan sebuah artikel pada Rio, Heri, Hanna, dan Arif. 


"Bahkan bullyan bukan hanya terjadi sebelum match, tapi juga saat match," ungkap Erwin pada mereka. 


"Bisa dibilang mental tim musuh dihajar habis-habisan oleh fans mereka," Rio menanggapi sambil merokok. 


"Tapi bukannya tim musuh sudah terbiasa mengikuti turnamen? Harusnya mereka sudah siap dengan itu semua," Hanna ikut berkomentar. 


"Bayangkan aja lo bertanding diantara fans musuh yang menghina pelatih, teman, bahkan sampai keluarga lo," ucap Heri pada Hanna. 


"Itu kacau banget sih…" komentar Arif sambil merokok. "Ditambah lagi kalau Player memang memiliki masalah diluar bermain game," tambahnya lagi. 


"Ini harus kita perhitungkan nanti saat turnamen," ucap Rio kemudian. 


"Oh ya...spal Sparing, gimana tim Shark Station match melawan tim gue?" tanya Erwin kemudian. 


"Wah...ide bagus tuh…" ucap Mirhan bersemangat. 


"Nanti gue akan menghubungi lo buat nentuin jadwal," ucap Erwin pada Rio. 


"Gimana, Heri, Mirhan, Hanna, dan Arif?" tanya Rio pada timnya. 


"Gak masalah," jawab Hanna. 


"Menarik," jawab Arif. 


"Oke…" jawab Mirhan. 


"Gue ngikut aja," jawab Mirhan. 


"Tapi lo inget, gue dan tim Blue Star akan bermain serius," ucap Erwin sambil tersenyum. 


"Memang itu yang kami harapkan," Rio menanggapi dengan serius. 

__ADS_1


Bersambung… 


__ADS_2