Game Lover

Game Lover
Bab. 4 Konsol Kesayangan


__ADS_3

Now Loading...


Setelah bermain game semalaman sampai pagi akhirnya Rio bisa tertidur pulas di kasurnya.  Dia pagi ini ingin benar-benar istirahat tanpa perdulikan lagi masalah apapun. Bahkan semua handphone yang dia miliki suara nada deringnya sudah di silent. 


Semua harapannya itu buyar karena pagi-pagi sekali ada sesuatu yang telah mengejutkannya. "Yo...bagun..." samar tapi terdengar sangat jelas. "Yo!...Bangun!..." kali ini lebih keras karena seperti keluar dari speaker yang besar. 


"Iya!..." teriak Rio dengan kesal. "Siapa sih bangunin orang pagi-pagi!..." teriaknya ngomel-ngomel.


"Sorry bro...ternyata alat buatan Heri waktu SMA ini cukup berguna juga," ucap Mirhan seolah tidak bersalah sama sekali. 


"Oh...lo..." ucap Rio sambil mengucek-ngucek matanya. "Gimana lo bisa masuk ke rumah gue?" tanyanya bingung sahabatnya bisa masuk ke rumahnya. 


"Kan lo sendiri yang ngasih kunci ini ke gue, agar gue bisa bangunin lo..." ucap Mirhan sambil nentengin sebuah kunci. 


"Oh...iya...gue lupa..." ucap Rio lalu meregangkan badan. 


"Buset...lo main tuh game semalaman?" tanya Mirhan setelah melihat PC atau komputer Rio yang masih nunjukin screen game yang dia diberikan pada Rio. 


"Mau gimana lagi?" tanya Rio lalu berjalan ke kamar mandi membawa handuk. "Tunggu bentar ya? Lo kalau mau minum cola dan makan tinggal lo ambil aja di kulkas dan lemari dapur aja," ucapnya ke Mirhan yang melihat-lihat seisi kamar Rio. 


Selama di kamar mandi Mirhan melihat-lihat seisi kamar Rio yang masih sama seperti waktu dia tinggal di asrama SMA. Kamarnya terlihat sangat berantakan. Dia sempat melihat-lihat foto waktu dia dan Rio memenangkan turnamen esport pertama mereka. Disana ada Dia, Rio, Heri, Arif, dan Helena. Sayangnya ketiga sahabatnya itu sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. 


Sekilas dia melihat sebuah konsol yang sangat jadul, tapi masih terlihat bersih dan bagus. Itu adalah konsol yang selalu Rio bawa kemanapun dia tinggal, bahkan sejak mereka tinggal di sebuah asrama SMA. Dari dulu dia sudah penasaran dengan konsol itu, tapi sahabatnya tidak pernah mau meminjamkan apalagi menjualnya. Padahal Mirhan bersedia membelinya dengan harga yang mahal. 


Tidak lama kemudian Rio selesai mandi. Dia masuk ke kamar dengan memakai celana pendeknya. Dia menyapu badannya dengan handuk yang dia bawa ke kamar mandi. 


"Lo mau mainin tuh konsol?" tanya Rio sembari dia mengambil pakaian di lemarinya. 


"Emang lo ngijinin gue mainin ini konsol?" tanya Mirhan sambil menunjuk ke konsol NineTenDo milik Rio. 

__ADS_1


"Sini biar gue nyalain..." ucap Rio setelah dia selesai berpakaian. 


Dia kemudian mendekat ke arah konsol yang terpasang pada televisi. Meski itu adalah konsol lama, tapi tidak terlihat ciri-ciri konsol yang sudah lama dibuat. Masih terlihat seperti konsol baru dibeli dari toko. Begitu juga Sticknya masih berfungsi dengan baik. Setiap kali ada kerusakan pada konsol itu Rio selalu membawanya ke tukang service. 


"Gila!...ini bukannya game Mortal of Hells seri pertama ya!..." seru Mirhan seperti menemukan sebuah harta karun. "Ini game yang sangat langka bro...kalau lo jual bisa tembus sampai 50.000.000 rupiah," ucap Mirhan menjelaskan dengan bersemangat. 


"Ini dibelikan bokap gue saat beliau berkunjung ke Amerika," ucap Rio menanggapi. "Lo mau coba mainin?" tanya Rio menawarkan. 


"Boleh...tapi jangan hard (dalam game kesulitan permainan dibagi tiga atau lebih. Bisa juga bentuk simbol bintang atau angka. Sering dipakai di dalam game ialah Easy, Normal, dan Hard.) ya mainnya?" pinta Mirhan. 


"Santai...lo ga main lawan CPU (Bisa diartikan komputer atau yang sering disebut di era game online saat ini ialah Bot.) kok, tapi lo lawan gue," ucap Rio bersemangat. 


"Lawan lo?" tanya Mirhan terkejut. "Lo mah udah Pro (singkatan dari Profesional),lha gue...mainin ini game aja baru sekarang," ucapnya lagi ketakutan. 


"Iya...iya...gue mainnya santai kok," ucap Rio sambil tersenyum. 


"Sial!..." teriak Rio tidak terima dikalahkan. 


"Kok gue menang ya?" tanya Mirhan dengan mimik wajahnya seperti minta ditampar. 


"Rematch..." ucap Rio dengan kesal. 


Mereka menggunakan karakter yang sama, cuman kali ini Rio menggunakan beberapa jurus. Meskipun begitu dia tetap bermain tidak serius. Kadang dia ngepur Mirhan. Ngepur dalam dunia game battle bisa berarti rela mengurangi darah dengan sengaja dipukul musuh, di dunia bola sengaja bunuh diri agar musuh bisa dapat satu poin, di balapan sengaja diam saat yang lain start duluan. Tetap saja dia kalah lagi melawan Mirhan. 


"Ya tuhan!...sedikit lagi!..." teriak Rio dengan kesel. 


"Yes...menang lagi..." ucap Mirhan dengan bangga. 


Kali ini Rio benar-benar main dengan serius. Dia menggunakan jurus-jurus andalannya. Beberapa kali jurus dari Mirhan berhasil dikembalikan.

__ADS_1


"Anjir!...kok bisa gitu!..." teriak Mirhan. "Pasti pakai Cheat (adalah istilah main curang dalam game. Dulu cheat digunakan untuk mempermudah gamer atau pemain, sekarang digunakan untuk bermain curang dalam game online atau battle. Biasanya orang yang memakai cheat akan didiskualifikasi kalau di turnamen.)," ucapan Mirhan membuat Rio tertawa. 


Akhirnya dia bisa mengalahkan Mirhan dengan mudah. Darahnya tidak sedikitpun berkurang. Rio puas bisa mengalahkan Mirhan dengan telak. 


"Yes!..." seru Rio dengan puas sambil menggerakan tangannya seolah ingin meninju. 


"Katanya lo mainnya gak serius," ucap Mirhan dengan kesal. 


"Sorry bro...gue kepancing..." ucap Rio sambil tersenyum. 


"Udah ah...gue cape main bareng lo..." ucap Mirhan lalu membuang stick ke depan. 


Rio lalu merapikan konsol yang baru saja mereka mainkan. Dia sangat berhati-hati meletakkannya agar tidak rusak. Dia sangat menyayangi konsol itu lebih dari apapun. 


"Sebenarnya lo cepat beradaptasi dengan game yang belum pernah lo mainin, tapi lo hanya males mengeksplorasi skill khusus yang dimiliki oleh karakter lo, seandainya lo bisa menggunakan skill karakter lo dengan lebih maksimal lagi, gue pasti kalah di akhir tadi," ucap Rio menjelaskan kekurangan musuhnya. 


"Itu game mah udah makanan lo tiap hari, ya iyalah...lo bisa ngalahin gue..." ucap Mirhan merendah. "Gue rasa ga ada yang bisa ngalahin lo dalam mode on fire lo..." tambahnya lagi. 


"Nyatanya ada..." jawab Rio sambil tersenyum. 


"Siapa?..." tanya Mirhan penasaran. 


"Yaitu cewek yang memberikan konsol NineTenDo ini ke gue," jawab Rio lalu mengambil sebuah foto yang di dalamnya ada dia dan seorang cewek waktu mereka masih kecil. "Namanya Ana," ucap Rio dengan bangga memperlihatkan foto itu pada Mirhan. 


"Anak cewek yang manis," ucap Mirhan sambil melihat dengan teliti foto yang Rio berikan. "Apakah lo tau sekarang dia ada dimana?" tanyanya kemudian. 


"Gak tau sih...tapi gue yakin suatu saat nanti dia akan mengambil konsol ini," ucap Rio sambil tersenyum. 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2