Game Lover

Game Lover
Bab. 49 Bertemu Teman Sekaligus Saingan Waktu SMA


__ADS_3

Now Loading… 


Akhirnya Arif, Gio, Yoda, dan Mirhan menginap di apartemen Rio. Malam harinya Hanna, Rasya, Helena, dan Heri datang berkunjung ke apartemen Rio. Sebelum mereka memasuki area apartemen, disana sudah dijaga oleh beberapa pengawal.


Mereka sebelum masuk ke area apartemen diperiksa dengan ketat oleh penjaga disana. Tidak peduli siapapun yang akan masuk, semuanya harus diperiksa keseluruhan barang yang dibawa mereka. Ini cukup membuat Hanna terlihat kurang nyaman. 


"Ini apaan sih?...masa Kit mau masuk apartemen tuh Jin Botol harus diperiksa seketat ini sih?...emang dia siapa?...artis?..." keluh Hanna sangat kesal pada tunangannya. 


"Yang gue denger mobil Rio dirusak orang saat di parkir di apartemen…" ucap Heri menjelaskan. 


"Tapi...emang harus sampai segitunya ya?..." tanya Helena juga mengeluhkan terlalu banyak penjagaan. 


"Gue takutnya ini bukan hanya mengenai pengrusakan mobil, ini lebih dari itu…" ucap Rasya mengambil kesimpulan. 


"Kayaknya gue harus nelpon tuh anak deh...dulu…" ucap Hanna lalu mengambil handphonenya.


Dia mencari nomor telepon Rio disana yang disimpan di kontak handphonenya. Cukup lama dia menunggu teleponnya diangkat oleh Rio. Tidak seperti biasanya teleponnya tidak diangkat, kali ini sampai nada sambung habis, tunangannya itu tetap tidak mengangkat telepon darinya. 


"Ini si Jin Botol ngapain sih?..." tanya Hanna dengan kesal. 


"Mungkin mereka sedang sibuk, mending kita langsung menuju apartemen mereka aja…" ajak Heri pada mereka. 


Mereka pun langsung masuk lift apartemen menuju lantai yang kamar Rio ada disana. Terlihat beberapa orang yang sedang sibuk berbicara mengenai kejadian yang terjadi di apartemen ini. Diantara mereka ada yang kesal, karena harus diperiksa dulu sebelum masuk ke gedung apartemen mereka. Padahal mereka juga salah satu penghuni di apartemen ini. 


Sementara Hanna terlihat sangat tergesa-gesa karena ingin sekali memarahi Rio dan Mirhan. Dia kesal karena calon suaminya dan temannya membuat ulah di sini. Sedangkan Rasya, Heri, dan Helena mengikutinya dari belakang. 


Akhirnya mereka sampai juga di kamar milik Rio. Tanpa basa-basi lagi Hanna langsung memencet bel kamar Rio. Cukup lama dia menunggu hingga Mirhan membukakan pintu. 


"Lo pada ngapain kesini?..." tanya Mirhan kelihatan bingung.


"Gue dikasih tau oleh mbak Manda...kalau mobil Rio dirusak orang…" jawab Hanna lalu buru-buru masuk. 


"Dasar Monyet...gue bilang jangan sampai Hanna tau tentang ini…" ucap Rio memarahi Arif. 


"Hedeh...gue kalau pengen kemana-mana harus izin sama istri gue dulu...kalau alasan gue gak jelas, gue gak bakalan diizinin nginep di luar...." ucap Arif menjelaskan. 

__ADS_1


"Emang kenapa gue gak boleh tau?..." tanya Hanna sambil menatap Rio dengan tajam. 


"Sebab…" Rio terlihat berpikir sangat keras mencari alasan yang bagus. 


"Itu karena yang merusak mobil Rio ada hubungannya sama lo…" Gio menjawab pertanyaan Hanna dengan santai.


"Ada hubungannya dengan gue?...maksudnya gimana sih?...gue gak ngerti deh…" tanya Hanna terlihat bingung. 


"Mending lo baca ini…" ucap Yoda lalu menyerahkan secarik kertas pada Hanna. 


"Apa ini?..." tanya Hanna sambil menerima kertas itu dari Yoda. Dia kemudian membacanya dengan serius. "Siapa sih yang ngirim ini?...gak ada kerjaan deh…" ucap Hanna setelah dia membaca isi kertas itu. 


"Ini dikirim saat Rio masih di rumah sakit…" jawab Mirhan menjelaskan. 


"Jangan-jangan ini dikirim bersama dengan benda vulgar itu…" ucap Hanna kembali mengingat saat dia menemukan sebuah benda yang dibuang di tempat sampah rumah sakit. 


"Benda vulgar?...maksudnya apa?..." tanya Rasya tidak mengerti maksud Hanna. 


"Pokoknya benda itu vulgar...lebih baik gue gak ceritain bentuknya seperti apa…" jawab Hanna dengan serius. "Jadi orang yang mengirim kertas ini juga yang sudah merusak mobil Rio?..." tanya Hanna kemudian. 


"Sayangnya kita masih belum tau siapa pengirimnya…" ucap Gio dengan lesu. 


"Soal itu suruhan gue sedang mencarinya di rumah sakit...mereka saat ini menanyakan siapa pengirimnya dan mereka mengecek CCTV yang terpasang di rumah sakit…" ucap Mirhan bersemangat. "Lo pada santai aja...cepat atau lambat kita pasti menemukannya. 


"Lo kembali memakai power lo buat ini semua…" ucap Heri mengomentari Mirhan. 


"Untungnya gue juga dibantu oleh teman lama kita…" ucap Rio sambil tersenyum. 


"Siapa?..." tanya Heri terlihat sangat bingung. 


"Sebentar lagi dia datang…" jawab Rio dengan santai. 


Benar saja setelah Rio berbicara seperti itu, tiba-tiba pintu kamar apartemennya berbunyi. Mirhan kemudian mengintip dari lobang kecil di depan pintu apartemen. Kemudian dia tersenyum setelah mengetahui siapa yang datang. 


"Dia sudah datang…" ucap Mirhan sambil tersenyum. 

__ADS_1


Kemudian Mirhan membuka pintu apartemen itu. Lalu masuklah seorang cowok dengan tubuh yang setinggi Rio. Dia memakai setelan pakaian polisi yang sangat rapi. Dia tersenyum pada Rio yang berbaring di tempat tidur. 


"Dicky?..." Rasya terkejut melihat seseorang juga dia kenal. 


"Rupanya anak pembangkang waktu SMA ini sedang punya masalah besar…" ucap Dicky dengan tatapan menyindir Rio. 


"Lo gak pernah berubah bro…" ucap Rio sambil menatap Dicky. 


"Ternyata lo berhasil menjadi polisi bro?..." tanya Arif sambil menyalami dan memeluk Dicky. 


"Dan lo sudah lebih seperti bapak-bapak sekarang…" ucap Dicky pada Arif. 


"Hai Ky...masih suka ngebully junior?..." tanya Heri sambil senyum. 


"Sejak bermasalah dengan lo pada saat SMA, gue males melakukannya lagi…" jawab Dicky lalu menyalami dan memeluk Heri. "Jadi si Jin Botol ini punya masalah apalagi?..." tanyanya kemudian sambil duduk di sebelah Heri. 


"Coba lo baca ini?..." ucap Hanna lalu menyerahkan kertas ancaman itu pada Dicky. 


Dicky kemudian membacanya dengan serius. Setelah membacanya dia kemudian mulai berkomentar. "Ini hanya kerjaan orang yang gak punya nyali…" ucap Dicky berkomentar. 


"Gak punya nyali ya?..." Heri menanggapi ucapan Dicky dengan senyuman tersembul dari bibirnya. "Jadi lo mengakui apa yang lo lakuin dulu waktu SMA juga gak punya nyali?..."


"Saat itu gue masih bocah…" jawab Dicky terlihat kesal disindir Heri. 


"Saat itu lo lagi bucin-bucin nya sama Rasya kan?..." ledek Rio dengan puas. 


Wajah Rasya langsung berubah merah setelah disindir Rio seperti itu. Begitu juga Dicky hanya bisa pasrah dengan sindiran Rio. Dulu waktu di SMA Dicky dan Rio bersaing untuk mendapatkan hati Rasya. 


Mereka kembali tertawa mengingat mengenai itu semua. Mereka kembali mengingat kenangan mereka waktu di SMA 13 Flower Garden. Disaat itu adalah masa yang sangat luar biasa bagi mereka semuanya, khususnya buat Rio, Murhan, Heri, Arif, Helena, Rasya, dan Dicky. 


Bersambung… 


Note:


Buat kalian yang penasaran apa yang terjadi antara mereka dan Dicky waktu SMA. Silahkan kalian berkunjung ke Novel Asrama SMA Flower Garden yang juga ada di Noveltoon. Itu adalah karya bersama antara gue dan teman gue.

__ADS_1



__ADS_2