Game Lover

Game Lover
bab. 48 Betapa Over Powernya Mirhan


__ADS_3

Now Loading… 


Rio dan Mirhan segera menuju tempat mobil milik Rio diparkirkan. Terlihat mobil Milik Rio sudah berbaret dan dicoret pilox di bagian samping mobil. Sedangkan di bagian kaca tertulis  juga dicoret pilox. 


Disana tertulis, "Lo masih dekat dengan Hanna, maka lo akan menerima akibatnya…" dan di depan kaca bertuliskan, "Ini baru permulaan…" 


"Ini bukan ulah orang iseng lagi Yo…" ucap Mirhan berkomentar. 


Rio sendiri juga tahu ini bukan ulah orang iseng. Ini benar-benar hal yang sangat serius. Dia hanya gak ingin teman-temannya malah lebih memikirkan ini ketimbang turnamen mereka. 


"Terus lo mau ngelapor gitu?..." tanya Rio dengan kesal. "Emang kita punya bukti apa?..." tanyanya pada Mirhan.


"Ya...kita bisa liat kamera CCTV parkiran apartemen…" ucap Mirhan sambil berjalan menemui security apartemen. "Pak...bisa melihat kamera CCTVnya gak?...soalnya mungkin aja kita bisa tau siapa yang merusak mobil teman saya…" ucap Mirhan dengan sopan pada security.


"Nah...itu masalahnya mas...kamera CCTV untuk parkiran ini seminggu lalu dirusak orang, kami sudah memberitahukan ke CEO apartemen tapi masih belum ada rencana perbaikan…" ucap security pada Mirhan kelihatan sangat menyesal. 


"Gue bisa bicara dengan CEO apartemen ini?..." tanya Mirhan dengan serius. 


"Kalau begitu tunggu sebentar ya pak?..." ucap security pada Mirhan. 


Mirhan menunggu security itu mencarikan nomor telepon CEO dari apartemen ini. Mirhan merasa tertantang atas ucapan Rio tadi. Dia bersumpah akan mencari pelaku pengancaman ini. 


Kemudian petugas security apartemen menemui Mirhan. Dia membawa sebuah kartu nama disitu tertulis nama CEO apartemen ini dan nomor teleponnya. Mirhan langsung menerima kartu nama itu, lalu menyimpan nomor itu di handphonenya. 


Mirhan kemudian terlihat menelpon CEO dari apartemen itu. Dia terlihat dengan sabar menunggu teleponnya diangkat. Cukup lama dia menunggu sampai teleponnya diangkat.


"Halo…" ucap Mirhan setelah teleponnya tersambung. 


"Halo...ada apa ya?..." tanya si CEO. 

__ADS_1


"Saya Mirhan Meriady...saya adalah pemilik salah satu kamar apartemen  yang ada di Jalan Pramuka…" ucap Mirhan dengan berwibawa. 


"Iya...ada yang bisa saya bantu?..." tanya si CEO berusaha tetap tenang. 


"Saya ingin mengadukan mengenai perusakan mobil saya yang terparkir di parkiran apartemen…" jawab Mirhan dengan lugas. 


"Kalau masalah kerusakan mobil di parkiran apartemen itu tanggung jawab security, bukan tanggung jawab CEO…" ucapnya dengan tegas. 


"Saat ini saya mencari rekaman CCTV yang seharusnya ada...tapi ternyata ucap security anda bahwa CCTV di parkiran itu telah dirusak, jadi apa yang terjadi saat mobil saya dirusak, tidak terekam di CCTV...saya tidak bisa mencari orang yang merusak mobil saya…" Mirhan lalu menjelaskan dengan mengontrol emosinya. 


"Kalau soal itu bukan tanggung jawab saya, itu tanggung jawab staff apartemen…" ucap si CEO berusaha mengelak dari kesalahannya. 


"Staff bapak bercerita bahwa CCTV yang rusak sudah diberitahukan kepada bapak, tapi belum ada rencana untuk memperbaiki," ucap Mirhan membalas ucapan si CEO. "Saya sudah membayar parkir mobil setiap bulan, agar saya yakin mobil saya akan aman disana, tapi kalau keadaannya seperti ini...saya bisa-bisa ragu untuk tetap memarkirkan mobil saya disini dan tinggal di apartemen ini…" tambah Mirhan dengan tegas. 


Mirhan terlihat seperti seorang bos yang sedang memarahi bawahannya. Mirhan memang orang yang santai dalam beberapa hal, tapi kalau berhubungan dengan hal seperti ini, dia akan berubah menjadi orang yang tegas. CEO itu seperti tidak bisa berkutik mendengar ucapan Mirhan yang akan keluar dari apartemen ini. 


"Hari ini saya akan melaporkan ke polisi atas kejadian ini...secepatnya polisi akan menanyakan mengenai CCTV parkiran apartemen ini yang rusak pada anda," ucap Mirhan menambahkan. "Saya rasa cukup itu saja pak, saya akan menghubungi anda lagi lain kali…" tambahnya kemudian.


"Orang seperti dia sekali-sekali memang harus digeretak dulu bro…" Mirhan menanggapi sambil tersenyum. "Urusan mobil lo...biar suruhan bokap gue yang mengurus...sementara ini lo tinggal di tempat gue aja…" usulnya kemudian. 


"Gue males ngerepotin lo lagi...gue tetap tinggal disini aja...lagian gue males mindahin barang…" jawab Rio sambil terkadang memegangi perutnya yang masih sakit. 


"Kalau gitu gini aja...gue, Gio, Arif, dan Yoda menginap di apartemen bareng lo…" Mirhan memberikan solusi. "Jadi kalau terjadi apa-apa lagi...kita semua bisa turun tangan…" tambahnya lagi. 


"Apa gue gak ngerepotin lo pada?..." tanya Rio agak ragu-ragu.


"Santai bro...kayak kami ini orang lain aja…" jawab Mirhan sambil tersenyum. 


Dia lalu menemui security apartemen untuk berbicara. Mereka agak khawatir akan dipecat karena mengadukan semuanya pada Mirhan mengenai ini semua. Sementara Mirhan menanggapi itu semua dengan santai. 

__ADS_1


"Kalian gak perlu khawatir...kalau kalian dipecat di apartemen ini, gue akan meminta bokap gue untuk mempekerjakan kalian di tempatnya…" Mirhan berusaha menenangkan security itu. "Kalau perlu bokap gue akan membeli apartemen ini...jadi kalian gak akan dipecat dari sini…" tambahnya lagi. 


Mirhan kemudian menghubungi ayahnya dan menjelaskan apa yang terjadi. Ayahnya Mirhan yaitu pak Meriady langsung memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di apartemen. Mulai sore ini suruhan pak Meriady akan datang ke apartemen. 


Sementara suruhan anak buah ayahnya Mirhan yang lain menyelidiki kasus ini. Selain itu karena nama ayahnya Mirhan yang cukup dikenal dan om Mirhan termasuk orang yang penting di kepolisian. Itu membuat kasus ini segera diusut oleh pihak kepolisian. 


Sesampainya Arif, Gio, dan Yoda di depan apartemen milik Rio, mereka terkejut dengan pengamanan yang sangat ketat disana. Bayangkan saja pengamanan di apartemen Rio sama seperti pengamanan tamu kenegaraan. Mereka sudah tahu semua ini adalah ulah dari Mirhan si Anak Sultan yang selalu berlebihan kalau melakukan sesuatu. 


"Sorry bro...gue baru dateng...sebab baru diceritain si Anak Sultan tadi…" ucap Arif menemui Rio di parkiran. 


"Gimana mobil lo sekarang?..." tanya Gio pada Rio yang berdiri memperhatikan mobilnya sedang diangkut.


"Liat aja tuh…" jawab Rio sambil menunjuk mobilnya. 


"Gila…separah itu?..." Yoda terkejut melihat mobil Rio. 


"Lo tau siapa yang ngelakuin?..." tanya Arif kemudian. 


"Ini…" ucap Mirhan sambil menunjukkan kertas ancaman yang dikirim ke Rio. 


"Ini udah keterlaluan bro…" ucap Arif setelah membaca kertas itu.


"Itu dikirim waktu gue masih di rumah sakit…" ucap Rio dengan serius. 


"Kenapa lo gak cerita sama kita?..." tanya Gio terlihat kesal. 


"Ya...gue gak pengen ngerepotin lo pada…" jawab Rio kemudian. 


"Apanya yang ngerepotin sih?...kan kita teman lo…kita pasti bantuin lo lah…" ucap Arif terlihat kesal pada Rio. 

__ADS_1


Ternyata Hanna juga datang untuk menemui Rio ke apartemen. Dia khawatir dengan keadaan tunangannya. Rio sendiri bingung siapa yang menceritakan semuanya ke Hanna. 


Besambung...


__ADS_2