Game Lover

Game Lover
Bab. 9 Haters


__ADS_3

Now Loading...


Akhirnya Rio dan Mirhan di titik lokasi yang dikirimkan Hanna. Mereka langsung memarkirkan mobil tepat di depan rumah yang Hanna beritahukan. Sementara Rio dan Mirhan menunggu di dalam mobil agar tidak ada yang mengenali mereka. 


Mirhan lalu menghubungi nomor kontak Hanna yang ada di handphonenya. "Halo...Han..." ucap Mirhan setelah teleponnya terhubung dengan Hanna. "Oke kami akan masuk ke dalam," ucap Mirhan lalu menutup teleponnya. "Dia meminta kita mengetuk pintu rumah ini, katanya ini adalah rumah dari pembantunya," ucap Mirhan menjelaskan pada Rio. 


"Hedeh...kenapa ribet banget sih ini cewek satu?" keluh Rio mendengus dengan kesal. 


"Mau gak mau kita harus nurut bro..." ucap Mirhan lalu mendahului keluar dari mobil. 


Mereka berdua keluar dari mobil menuju sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Mirhan lalu mengetuk rumah itu di bagian pintunya. Tidak berapa lama keluarlah seorang ibu-ibu dengan tatapan ramah pada mereka berdua. 


"Ia...ada apa ya den?" tanya ibu itu dengan ramah. 


"Saya dan teman saya dipinta Hanna buat menjemputnya disini," jawab Mirhan menjawab dengan sopan. 


"Oh...kalian teman non Hanna ya?"  tanya beliau dengan semringah tertawa kecil, tapi bukan tertawa merendahkan. "Silahkan duduk dulu den..." ucap ibu itu mempersilahkan mereka masuk dan duduk di lantai karena rumahnya tidak memiliki kursi di ruang tamu. 


"Ia...terimakasih bu..." ucap Rio dengan sopan. "Ini rumah Hanna?" tanya Rio yang sama sekali tidak pernah ke rumah Hanna. 


"Bukan...ini rumah ibu Yati...orang yang mengurus rumah gue," jawab seorang cewek memakai jaket berwarna biru tua dengan kaos berwarna putih di dalamnya, sedangkan untuk bawahannya dia memakai jeans berwarna biru dan sepatu warna putih. Dia adalah Hanna cewek yang mereka ingin jemput. "Kita langsung jalan aja," ucap Hanna sok memerintah mereka. 


"Ya udah..." ucap Rio lalu berdiri diikuti Mirhan. 


"Bi!...kami mau jalan dulu!..." ucap Hanna pada ibu Yati. 


"Gak minum dulu non!..." tanya ibu Yati dari dapur. 


"Gak bi!...kami buru-buru!..." jawab Hanna. Ibu Yati lalu keluar dari dapur menemui mereka. 


"Hati-hati di jalan ya non?" pesan Ibu Yati pada Hanna. 


"Ia bi..." jawab Hanna sambil mencium tangan ibu Yati. Disini terlihat sekali Hanna sangat santun pada orang yang lebih tua dari dirinya meski dia adalah majikan ibu Yati. Rio dan Mirhan ikut mencium tangan ibu Yati juga untuk menghormati. 

__ADS_1


Setelah mereka merasa suasana aman, mereka bertiga lalu masuk ke dalam mobil. Mirhan yang menyetir mobil. Rio duduk di sebelahnya, sedangkan Hanna duduk di bangku belakang. 


"Untung gue bisa kabur..." ucap Hanna dengan lega bersandar ke bantalan kursi. "Lo tau gak? saat ini pintu pagar rumah gue sedang dikepung wartawan, gue jadi gak bisa kemana-mana kan?" ucapnya lagi dengan sangat kesel. 


"Ini semua gara-gara tuh gosip sialan," ucap Rio yang juga ikut kesel. 


"Terus kalau bukan lo pada yang bikin tuh gosip, siapa dong?" tanya Hanna penasaran. 


"Prediksi gue sih, kalau bukan staf Megawave, atau fans yang kebetulan membaca saweran lo ke gue saat gue live streaming," ucap Rio menjelaskan. 


"Jadi video waktu kita bermain game bukan lo Mir yang mengirim ke medsos (singkatan dari media sosial)?" tanya Hanna sambil memajukan tubuhnya.


"Tadinya gue pengen ngirim, tapi gak sempet, soalnya gue udah kecapean," Mirhan menjawab pertanyaan Hanna sambil menyetir mobil. 


"Terus ngapain staf Megawave membuat berita gosip ini coba?" tanya Hanna penasaran.


"Kemungkinan mereka manfaatin ini agar masyarakat penasaran dengan game Shooter of War yang bakqlan launching," jawab Rio menjelaskan sambil membuka handphonenya. 


"Kalau ke cafe Game Station aman gak ya?" tanya Rio mengusulkan itu. 


"Kemungkinan gak aman deh..." jawab Hanna sambil berpikir dengan keras. 


"Yaudah kita jalan dulu aja," usul Rio kemudian males mikir. 


"Tapi ngapain juga fans kita membuat gosip kita jadian?" tanya Hanna kemudian melanjutkan pembicaraan yang tadi terputus. 


"Wajar di dunia hiburan, seorang fans berharap yang terbaik sesuai pemikiran mereka, tapi belum tentu apa yang mereka pikirkan baik, pasti baik juga untuk idolanya," ucap Rio memberikan pendapat. 


"Tapi kadang ada seseorang yang bukan fans melakukan itu hanya untuk mencari perhatian dari semua orang," Mirhan menambahkan apa yang Rio ucapkan. 


"Haters (orang yang membenci artis tertentu) juga parah lho...mereka bisa membuat berita hoax (berita palsu atau bohong) yang bertujuan menjatuhkan artis atau public figur yang mereka benci," ucap Hanna dengan serius. "Bahkan si artis atau public figur ada yang sampai bunuh diri lho," tambahnya lagi menceritakan kejadian yang terjadi pada salah satu public figur dunia. 


"Sedangkan mereka para haters gak sadar sudah melakukan pembullyan yang berakibat fatal pada si artis," ucap Rio menanggapi ucapan Hanna. 

__ADS_1


"Mereka beranggapan seorang artis harus bisa menahan segala macam bullyan dari mereka," ucap Mirhan menimpali. "Eh...tapi kita kok kayak memiliki satu pemikiran yang sama ya dengan hal seperti ini?" tanya Mirhan tersenyum sambil menyetir mobil. 


"Gue terlahir sebagai anak orang kaya, banyak Haters gue mengatai gue dengan seperti ini, 'Ya...jelaslah dia bisa sejago itu, anak orang kaya sih, sudah pasti orang tuanya membiayai segala kebutuhannya bermain game,'" ucap Hanna dengan kesal. 


"Kalau lo masih mending dibully seperti itu," ucap Rio mengomentari cerita dari Hanna. "Kalau gue mulai dari menghina skill gue sampai menghina keluarga gue, seandainya mental gue gak kuat, gue pasti bakalan sampai bunuh diri juga," kali ini Rio yang bercerita. 


"Kalau gue sih gak pernah mikirin apapun yang diomongin Haters, sebab itu hanya karena mereka iri dengan kesuksesan gue," ucap Mirhan yang sekarang mengungkapkan pendapatnya. 


"Terus kalau lo Yo, apa yang bikin lo kuat menerima bullyan Haters?" tanya Hanna pada Rio. 


"Gampang saja, gue saat ini menjadi tulang punggung keluarga gue, adik gue sedang ingin meneruskan kuliah, dan ayah gue sedang dirawat di rumah sakit, kalau gue jatuh karena Haters, gimana nasib keluarga gue?" ucap Rio dengan serius menceritakan keadaan keluarganya. 


"Lo kok gak pernah cerita masalah itu?" tanya Hanna yang terkejut mendengar cerita Rio, sebab dia tidak pernah tahu tentang ayahnya Rio yang di rawat di rumah sakit.


"Bukan sifat gue yang menjual kesedihan gue demi belas kasihan orang lain," jawab Rio dengan tegar. 


Hanna memandang Rio dengan kekaguman yang sangat besar. Dia tidak pernah menyangka rivalnya itu memiliki beban hidup yang sangat besar. Sampai-sampai dia tidak sadar Mirhan sedang memperhatikannya. 


"Mending kalian benar-benar jadian," usul Mirhan yang nyengir sambil menyetir mobil. 


"Jadian sama dia?..." tanya Hanna karena terkejut. "Ogah...ih..." tambahnya sambil menunjukan gestur jijik. 


"Gue juga gak mau kali…jadian sama lo..." ucap Rio menanggapi ucapan Hanna. Mirhan tertawa puas mendengar reaksi mereka berdua. 


Handphone Mirhan tiba-tiba berbunyi dengan keras. "Yo...tolong ambilin handphone gue dong..." pinta Mirhan pada temannya. 


"Bokap lo..." ucap Rio sambil menunjukan handphone itu ke Mirhan. Mirhan lalu memencet headset bluetoothnya. 


"Ia yah..." jawab Mirhan. "Ia ini Mirhan kebetulan sama Rio dan Hanna," ucapnya kemudian. "Oke, kami akan kesana," jawabnya setelah itu handphone dimatikan. "Bokap gue nyuruh lo pada ke kantor untuk menemuinya sekarang," ucap Mirhan kepada kedua temannya. 


Rio dan Hanna lalu saling berpandang-pandangan. Mereka bingung ada apa yang sedang terjadi. Apakah kontrak mereka akan dibatalkan karena gosip ini? 


Bersambung... 

__ADS_1


__ADS_2