
Now Loading...
"Rio!...bagun!..." terdengar suara yang lebih keras dari suara speaker karaoke.
"Anjir!..." teriak Rio dengan terkejut. "Bisa gak lo bangunin gue gak perlu pake tuh alat?" keluh Rio dengan kesal.
"Sorry bro..." ucap Mirhan dengan tersenyum puas.
"Ada apa lo bangunin gue pagi-pagi?" tanya Rio sambil mengucek-ngucek matanya.
"Lo hari ini ada jadwal acara Game Party..." ucap Mirhan mengingatkan.
"Ya ampun!..." teriak Rio langsung lompat dari tempat tidur. "Jam berapa sekarang?" tanya Rio sambil bergegas menuju kamar mandi.
"Gak telat kok, cuman dari tadi handphone lo berdering terus," ucap Mirhan menjelaskan.
"Siapa yang nelpon gue?" tanya Rio sambil mandi di kamar mandi.
"Siapa lagi kalau bukan pacar lo?..." Mirhan ledekin Rio sambil tersenyum. "Lo kan janji pengen jemput dia hari ini buat berangkat bareng ke sana?" tambahnya menjelaskan.
"Ia...ia...cerewet..." jawab Rio sambil mandi.
Cukup lama menunggu Rio keluar dari kamar mandi. Dia sempat membaca artikel tentang tim game esport yang saat ini sedang naik. Nama tim itu adalah Thunderstorm, sebuah tim yang Rio pernah menjadi salah satu anggotanya. Ketua dari tim itu adalah Mikel Jhonstan.
Sejak Rio keluar dari tim itu dia selalu mendapat komentar negatif dari haters. Bukan hanya skill Rio yang dihina, Rio sendiri, bahkan sampai ke keluarganya. Dulu Rio mungkin sempat drop karena itu, tapi sekarang dia sudah bisa menerima itu semua.
"Baca apa lo?" tanya Rio yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Baca ini," jawab Mirhan sambil menunjukkan sebuah artikel yang membahas mengenai bekas tim Rio.
"Oh...syukur deh..." komentar Rio lalu menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
"Lo marah karena dikeluarkan dari tim Thunderstorm?" tanya Mirhan lalu menutup artikel itu.
"Gue udah ninggalin tim itu saat kami akan bertanding di final, itu membuat tim itu kalah, sangat wajar gue dikeluarkan dari tim," jawab Rio sembari dia memasang baju kaos putih dengan jas hitam di luarnya. Dia memakai celana hitam dengan sepatu putih Sneakers.
"Bisa jadi mereka masih dendam dengan lo," Mirhan berasumsi.
__ADS_1
"Gue gak peduli soal itu, yang penting mereka gak mengganggu gue dan teman-teman gue," ucap Rio lalu tersenyum. "Yuk kita berangkat, soalnya tuh si Monyet Betina pasti sudah menunggu gue," ucap Rio sambil bersiap keluar kamar.
"Lo pergi sendiri jemput dia bisakan?" tanya Mirhan kemudian.
"Emangnya kenapa kalau kita berangkat bareng?" tanya Rio kelihatan sedang bingung.
"Lo kan pacarnya Nyet...bisa bingung entar kalau fans lo tau lo dan Hanna datang ke acara Game Party bareng gue, terlebih lagi bokap sudah bawain mobil buat lo jalan bareng Hanna," Mirhan lalu memberikan sebuah kunci dan STNK mobil buat Rio. Setelah sampai di sana, entar gue bakalan nyamperin lo," tambah Mirhan lagi.
"Ia...ia..." ucap Rio lalu menerima kunci mobil dan STNK dari Mirhan.
***
Rio langsung pergi menggunakan mobil yang diberikan Mirhan. Mobil itu merek Honda Jazz berwarna biru tua. Meski tiap hari dia pergi kemana-mana memakai motor, bukan berarti dia gak bisa nyetir mobil. Dia pernah diajak Mirhan buat ikut latihan mengemudi waktu baru lulus SMP.
Sesampainya di rumah Hanna dia langsung memarkirkan mobilnya di depan pintu pagar rumah Hanna. Dia lalu mengambil handphone dari kantung celananya. Dia mencari nomor handphone Hanna untuk meneleponnya.
"Halo..." ucapnya kemudian.
"Lo lama banget sih Jin..." Hanna langsung memarahi Rio karena kesal.
"Paling lo bangun kesiangan, ya kan?" tanya Hanna dengan kesal.
"Ia...maaf deh..." ucap Rio berusaha agar Hanna tidak marah.
"Lo masuk dulu, bokap gue pengen ngomong..." perintah Hanna dengan tegas.
"Kenapa nih?" tanya Rio yang benar-benar kebingungan.
"Lo masuk aja napa? Bokap gue pengen bicara sebentar," bentak Hanna dengan kesal ke Rio.
"Ia...ia...gue masuk," Rio terpaksa mengikuti apa yang diperintahkan Hanna.
Dia keluar dari mobilnya lalu memencet bel yang ada di depan pagar rumah Hanna. Pembantu Hanna yang kemarin rumahnya didatangi Rio dan Mirhan menemuinya. Beliau tersenyum dengan ramah ke arah Rio sembari membukakan pagar.
"Neng Hanna dan bapak sudah menunggu," ucapnya dengan tersenyum.
"Mampus deh gue," bisik Rio dari dalam hati. "Mirhan gak bilang gue harus bertemu dengan bokapnya Hanna, kan gue masih belum siap," bisik Rio dari dalam hati sembari berjalan masuk.
__ADS_1
Pembantu itu menuntun Rio menuju Hanna dan ayahnya menunggunya di ruang tamu. Rio berusaha menunjukan kesan sebaik mungkin di hadapan ayahnya Hanna. Ayahnya Hanna lalu berdiri dan menyalami Rio.
"Kamu anaknya Reyano Refany kan?" tanya beliau membuat Rio cukup terkejut.
"Om dari mana tau nama ayah saya?" tanya Rio yang masih bingung.
"Rupa nya kamu sama sekali sudah lupa ya?" tanya ayahnya Hanna kemudian. "Wajar saja, sudah lama sejak Hanna memberikan kamu konsol kesayangannya," ucap ayahnya Hanna menjelaskan.
Kali ini Rio semakin terkejut dengan kenyataan itu. Ternyata orang yang menjadi musuhnya selama ini, adalah teman terbaiknya dimasa kecil. Bodohnya dia sama sekali tidak menyadari tentang itu.
Rio lalu memandang ke arah Hanna yang sedang memakai gelang pemberiannya saat mereka berpisah. "Sorry ya Yo? Gelang lo berapa kali putus karena tangan gue yang tambah gede," ungkap Hanna sambil tersenyum.
Rio tidak tau harus senang atau marah mendengar kenyataan ini. Dia pun sebenarnya sangat senang mendapati bahwa cewek masa kecilnya kini menjadi cewek yang sangat cantik. Dia berpikir jangan-jangan Hanna sudah tau kalau dia adalah teman masa kecilnya.
"Lo kenapa gak pernah ngomong soal ini jir?" tanya Rio pada Hanna.
"Gue juga awalnya gak tau, tapi setelah gue liat konsol NineTenDo lo, gue sadar itu konsol punya gue yang diberikan ke lo," Hanna mengungkapkannya dengan tersenyum.
"Terus kenapa lo kemaren waktu gue nganter lo gak cerita?" tanya Rio lagi.
"Tadinya gue pengen nyembunyiin ini dulu dari lo, tapi karena gue udah cerita sama bokap gue, terus bokap pengen ngomong sama lo, eh bokap malah cerita yang sebenarnya..." Hanna menjelaskan dengan wajah yang cemberut.
"Maafkan ayah ya?...soalnya ayah sangat senang kamu bisa bertemu dengan Rio," ungkap ayahnya Hanna dengan tersenyum. Rio juga tidak bisa menutupi kebahagiaannya bisa dekat dengan Anna cewek yang dulu menjadi temannya waktu kecil.
"Ya...ampun!..." seru Hanna saat dia melihat jam. "Kita sudah telat..." tambahnya lagi.
"Bener juga..." ucap Rio lalu mencium tangan ayahnya Hanna. "Kami berangkat dulu ya om?"
Kemudian Hanna juga mencium tangan ayahnya. "Hanna berangkat ya yah..."
"Yo...tolong jaga Hanna ya?" pesan ayahnya Hanna sambil tersenyum.
"Ia...om..." jawab Rio sambil tersenyum.
Mereka berdua langsung buru-buru berangkat naik mobil. Hanna selama di perjalanan bercerita tentang dia setelah keluarganya pindah rumah. Begitu juga Rio bercerita bagaimana dia bisa menjadi seorang Pro Player.
Bersambung...
__ADS_1