Game Lover

Game Lover
Bab. 47 Mobil Rio Dirusak


__ADS_3

Now Loading…


Setelah pulang dari rumah sakit, Rio terus-terusan bermain game Dotha 2 live streaming di komputernya. Dia masih tidak diizinkan untuk berlatih bersama tim Shark Station, jadinya dia memutuskan untuk bermain game Dotha 2 di apartemen. Dia sudah tidak memikirkan surat ancaman itu. Saat ini ia hanya fokus agar tim mereka bisa menembus babak selanjutnya. 


Live streaming malam ini memberikan penghasilan yang lumayan besar buatnya. Ini penghasilan pertamanya setelah terbaring begitu lama di rumah sakit. Untuk beli makanan atau apapun, dia lebih memilih ojek online untuk membelikannya


Tidak lama kemudian bel apartemennya berbunyi saat dia sudah berhenti bermain game dan live streaming. Dia dengan pelan membuka pintu kamar apartemennya. Saat dia buka tidak ada orang sama sekali di luar. Saat dia menoleh ke kiri dan ke kanan, tiba-tiba ada seseorang yang muncul mengagetkan Rio. 


"Anjir!…" seru Rio karena kaget. "Lo bisa gak sih gak usah ngagetin gue?..." tanya Rio benar-benar kaget. Dia adalah Mirhan yang sengaja berkunjung ke apartemen. 


"Sorry bro…" ucap Mirhan sambil masuk. "Lo abis main apaan?..." tanyanya saat melihat komputer yang masih nyala dan kamera yang terpasan di meja. 


"Gue baru aja abis live streaming main game Dotha 2," jawab Rio lalu menidurkan badannya dengan pelan ke kasur. 


"Kenapa lo gak gabung tim party milik tin Shark Station aja?..." tanya Mirhan lagi sambil membuka komputer milik Rio. 


"Bisa-bisa gue diomelin bang Dendi, kalau dia tau gue main game Dotha 2 padahal dipinta istirahat…" jawab Rio menjelaskan. 


"Orang kayak lo gak mungkin bisa istirahat…" ucap Mirhan seakan menyindir Rio. 


"Oh ya...gimana anak-anak di tempat latihan?..." tanya Rio kemudian. 


"Semuanya sih berjalan lancar, cuman buat susunan pemain belum ditentukan…" jawab Mirhan sambil membuka jendela kamar apartemen Rio. "Mungkin bang Dendi pengen lo tampil di next battle…" ungkap Mirhan. 


"Jujur kalau gue sih mau...tapi...gue takutnya bakalan bikin masalah setelah gue gabung tim…" ungkap Rio seperti takut. 


"Kalau soal itu lo santai aja…" ucap Mirhan menyemangati. 


Kemudian dia berjalan menuju tempat komputer Rio. Disana ada sebuah kertas yang diterima Rio saat di rumah sakit. Dia membaca dengan serius kertas itu. Wajahnya tiba-tiba berubah saat tau isi kertas itu. 


"Ini adalah sebuah ancaman…" ucap Mirhan berkomentar. 


"Iya...gue tau...tapi gak perlu kita nanggepin serius lah…paling hanya fans…" ucap Rio sambil menyalakan sebatang rokok. 

__ADS_1


"Kalau gitu biar gue cari siapa orangnya…" usul Mirhan sambil menyimpan kertas itu ke dompet miliknya. 


"Gak usah lo anggap serius lah bro…" ucap Rio mencoba menahan sahabatnya. 


"Tetap aja ini gak bisa diterima bro...sekarang baru ancaman...besok apa lagi?..." tanya Mirhan dengan serius. 


"Mungkin ini hanya kerjaan orang-orang iseng bro…" Rio berusaha mencari penjelasan logis. 


"Oke...gak bakalan gue seriusin, tapi...kalau setelah ini ada yang lebih parah lagi…gue gak bakalan tinggal diam…" ucap Mirhan bersungguh-sungguh.


"Dan please jangan lo ceritain ini sama anak-anak...gue gak pengen pikiran mereka kacau karena hal seperti ini…" pinta Rio pada Mirhan. 


"Lo terlalu lembek tau gak sekarang…" komentar Mirhan ke Rio. 


"Gue hanya ingin mengutamakan hal yang lebih penting daripada ini…" Rio menanggapi komentar Mirhan dengan santai. "Mending pesan makanan yuk?..." pinta Rio untuk mengalihkan pembicaraan. "Laper gue…"


"Lo pengen makan apa?..." tanya Mirhan sambil mengeluarkan handphonenya. 


"Gimana kalau kita pesan bakso yang dulu ada di dekat asrama Flower Garden…" usul Rio kemudian. 


"Asyik...udah lama gue gak ngerasain Bakso Jumbo yang ada disana," Rio juga bersemangat. 


"Sekarang menunya sudah banyak bro...dan ditambah lagi...itu restoran sudah mendapat rating tertinggi di Ojol…" Mirhan terlihat sangat bersemangat melihat data restoran yang jadi langganan mereka waktu SMA. 


"Ya jelaslah...karena bakso yang dijual disana juga enak-enak…" ucap Rio berkomentar. 


"Lo pesan apa aja tadi?..." tanya Mirhan pada sahabatnya. 


"Bakso Jumbo, tapi gak pakai mie, pakai bihun sama sayur aja…terus minumnya es teh manis aja…" ucap Rio pada sahabatnya. "Eh...tapi jangan dikasih sambel ya?...soalnya lo tau kan gue gak doyan pedes...dan jangan dikasih kecap..."Rio melengkapi pesanannya.


"Lo gak berubah ya?...pesanannya selalu ribet…" komentar Mirhan. "Oke sudah dipesan," ucap Mirhan. 


"Maklumin aja bro...lo kan tau gue gak suka pedas...dan ada bahan yang gak gue suka di bakso…" ungkap Rio sambil nyengir. 

__ADS_1


"Pantesan lama lo baru dapat pacar…" ejek Mirhan sambil meletakkan handphonenya. "Sebenarnya hubungan lo sama Hanna gimana sih?..." tanya Mirhan kemudian. 


"Ya…gitu-gitu aja…" jawab Rio kurang jelas. 


"Maksud lo gitu-gitu aja kayak gimana sih?...gak ngerti dah…" Mirhan menanggapi sambil menggaruk-garuk kepalanya. 


"Ya...gitu...gue juga bingung…" jawab Rio dengan jujur. 


"Bingung gimana?...kan lo yang rasain…" tanya Mirhan kurang puas dengan jawaban Rio. 


"Gimana ya?...tuh cewek aneh...soalnya kadang dia perhatian banget...kadang bikin gue kesel...kadang gue pengen ngelindungin dia…" ucap Rio terlihat sekali dia benar-benar bingung. 


"Masalahnya sekarang...lo cinta gak sama dia?..." tanya Mirhan lebih menyudutkan Rio.


"Gue sendiri bingung bro...perasaan gue saat ini cinta, hanya suka, benci, atau biasa aja…" jawab Rio dengan jujur. "Sebab gue kadang suka dengan sifat dia yang penyayang, kadang gue kesal dengan tingkah dia yang gak mau kalah…" ungkapnya kemudian. 


"Wajarlah...lo berdua kan baru-baru ini deket banget…" ungkap Mirhan. "Jadi perasaan lo masih campur aduk…" tanggap Mirhan dengan santai. "Tapi kalau Hanna sebenarnya suka sama lo gimana?..." tanya Mirhan dengan serius. 


"Gimana dia suka sama gue?...selama ini aja kami banyak berantemnya…" jawab Rio berusaha menyangkal kesimpulan Mirhan. 


"Eh...siapa tau?...sebenarnya dia menyimpan perasaan buat lo…dari perhatiannya buat lo den dengan sabarnya dia merawat lo…" ucap Mirhan memberikan teorinya. 


"Kan selama ini kita seperti itu hanya di depan orang banyak Nyet…" Rio menyangkal. "kalau kita berdua tetap berantem kayak biasanya…" tambahnya menjawab. 


Kemudian bel apartemen Rio berbunyi, Mirhan lalu mengintip siapa yang memencet. "Security apartemen…" ucap Mirhan pada Rio. 


"Yaudah...bukain aja bro…" ucap Rio. 


Mirhan lalu membukakan pintu apartemen. "Iya...ada apa ya?..." tanya Mirhan. 


"Mohon maaf mas Rio nya ada?..." tanya Security itu dengan sopan. 


"Iya pak…ada apa ya?..." tanya Rio kemudian. 

__ADS_1


"Jadi Gini mas...mobil mas yang terparkir di parkiran apartemen ada yang merusak…" jawab security itu.


Bersambung...


__ADS_2