Game Lover

Game Lover
Bab 11 Bertemu Teman Masa Kecil


__ADS_3

Now Loading...


Ryu tertegun saat melihat kamar yang kosong. Semua barang-barangnya sudah dimasukan ke dalam kardus. Hanya tinggal satu barang yang belum dimasukkan yaitu konsol NineTenDo kesayangannya. 


Sementara Mirhan dan Hanna hanya terdiam menyaksikan Rio yang tertegun melihat konsol kesayangannya itu. Mirhan tau betul kebiasaan Rio setiap dia akan pindah rumah atau kontrakan. Rio pasti selalu terdiam seolah mengajak konsol kesayangannya itu untuk bicara. 


"Emang dia selalu begitu ya?" tanya Hanna pada Mirhan yang sambil memandangi Rio.


"Yah...begitulah Rio, konsol itu bisa diibaratkan pacar pertamanya," Mirhan menjelaskan pada Hanna. 


"NineTenDo memang konsol legendaris sih..." Hanna mengomentari. "Bahkan gue pernah memilikinya," ungkap Hanna yang juga kembali teringat pada seseorang di masa kecilnya. 


"Bro...sudah cukupkan pacarannya, kita sebentar lagi bakalan berangkat," ucap Mirhan yang sudah menunggu terlalu lama. 


"Sini biar gue bantu..." ucap Hanna sembari ingin membantu Rio membereskan konsol itu, tapi Mirhan melarangnya. 


"Lo boleh memegang apapun benda milik Rio, kecuali konsol itu," Mirhan menjelaskan sambil memegang tangan Hanna. "Gue pernah menyalakan konsol itu tanpa seizin Rio, akhirnya tuh anak ngediemin gue selama satu minggu," tambahnya lagi. 


"Kalau gitu kami tunggu di mobil ya?" seru Hanna pada Rio yang sekarang sedang memasukkan konsol itu dan kasetnya ke tas kesayangannya. 


"Ia..." jawab Rio dengan singkat. 


Mungkin tingkah Rio ini aneh bagi beberapa orang, tapi dia punya alasan untuk melakukan itu. Sebab benda itu adalah satu-satunya benda yang paling dia sayangi. Itu adalah konsol pemberian dari seorang anak perempuan yang menjadi cinta pertama Rio. 


Di perjalanan Rio gak henti-hentinya memegangi tas yang dia masukan konsol itu. Dia tidak ingin konsol itu terkena guncangan apalagi terjatuh. Dia duduk di depan bersebelahan dengan Mirhan. Sedangkan Hanna duduk di bangku belakang. 

__ADS_1


Sesampainya di apartemen mereka memarkirkan mobil di parkiran khusus. Mereka langsung menaiki apartemen di lantai nomor 10. Itu adalah lantai tertinggi yang pernah Rio naiki selama hidupnya. Mirhan mendahului mereka menyusuri lorong apartemen di lantai itu. Dia berhenti setelah sampai di sebuah pintu bertuliskan nomor 12.


Saat ini di kamar itu sudah ada beberapa orang yang sedang sibuk menata barang-barang milik Rio. Kamar apartemen milik Mirhan lumayan besar. Kamar itu seukuran dengan rumah kontrakan Rio. Hanya saja semua barang di kamar itu terlihat berkelas. 


Hanna ikut membantu untuk meletakan barang-barang milik rivalnya tersebut. Sedangkan Rio menaruh tas yang berisi konsol kesayangannya ke dalam lemari. "Gak lo keluarin aja tuh konsol?" tanya Mirhan pada Rio. 


"Entar aja...nunggu kita bertiga biar seru main bareng," jawab Rio sambil tersenyum. 


Di kamar itu sudah ada televisi LCD besar untuk menonton televisi atau bermain game. Sedangkan televisi yang di kontrakan dibawa Mirhan ke rumahnya. Mirhan juga meminjamkan Rio kamera DSLR untuk live streaming nanti malam.


Meskipun ini apartemen milik Rio, tapi Hanna seakan menganggap ini kamarnya. Dia yang mengatur posisi benda-benda di kamar itu. Dia meletakkan beberapa foto sesuai dengan tempatnya. Dia juga mengatur meja komputer Rio.


Rio dan Mirhan merasa cape karena disuruh-suruh Hanna menaruh barang-barang sesuai keinginan nya. Akhirnya setelah beres-beres mereka bertiga tiduran di satu tempat tidur karena kelelahan. Saat itu juga bel pintu apartement Rio berbunyi. Mirhan mengintip dari lobang kecil di pintu. 


"Akhirnya yang kita tunggu datang juga," terlihat senyuman tersembul dari wajah Mirhan. 


"Totalnya 250.000 rupiah mas..." ucap driver ojek online itu tidak bisa menutupi kegugupannya. 


Mirhan mengeluarkan uang dari dompetnya yang berjumlah 300.000 rupiah. Lalu memberikannya kepada driver itu. "Kembaliannya ambil aja..." ucap Mirhan sambil tersenyum. 


Driver ojek online itu menerima uang itu, tapi masih enggan pergi dari tempat itu. Rio yang menyadari ada yang aneh pun langsung bertanya, "Ada apa Mas?" tanya Rio dengan Ramah. 


"Boleh saya foto bareng sama mas  Rio dan mbak Hanna?..." tanya Driver ojol itu.  "Soalnya aku ngefans dengan kalian..." tambahnya dengan ragu-ragu mengeluarkan handphonenya. 


"Tentu saja boleh..." Hanna menjawab dengan tersenyum. 

__ADS_1


"Kalau gitu biar gue yang ngefotoin..." usul Mirhan lalu menerima handphone milik driver ojol itu. 


Mereka berfoto di depan pintu apartemen Rio. Rio dan Hanna berdiri mengapit driver ojol itu yang berdiri di tengah. Setelah beberapa kali foto driver ojol itu tersenyum karena senang bisa bertemu dan foto bareng idolanya. Rio dan Hanna juga memberikan tanda tangan ke handphone si ojol dengan menggunakan spidol permanen milik Mirhan. 


Driver itu pergi dari apartemen Rio dengan wajah yang gembira. Rio dan Hanna tersenyum karena ternyata mereka berdua memiliki fans dari driver ojek online juga. Mereka senang bisa membuat seseorang senang.


Mereka bertiga kembali masuk ke dalam apartemen. Mirhan mengambilkan gelas untuk minum cola dan tisu untuk mengelap tangan saat memakan pizza. Sedangkan Rio dan Hanna bekerja sama membersihkan tempat makan yang juga ada di apartemen itu. 


Mereka makan pizza sambil bercanda satu sama lain. Meski disini Rio dan Hanna terlihat sudah akrab, itu bukan berarti mereka lantas jadian. Mereka hanya akrab karena memiliki tanggung jawab yang sama yaitu berpura-pura pacaran. 


Setelah memakan pizza Rio lalu mengambilkan konsol NineTenDo nya yang ditaruh di dalam lemari. Rio sangat tekun memasang setiap kabel konsol itu agar bisa terhubung ke televisi. Hanna sempat terkejut saat melihat konsol itu dari dekat. Dia seperti pernah melihat konsol itu. Saat dia berniat menyentuhnya, Rio langsung melirik ke arahnya. 


"Kenapa lo liatin konsol gue?" tanya Rio dengan judes. 


"Santai aja bos...gue cuman penasaran soalnya dulu gue pernah punya konsol seperti ini," Hanna menjawab lalu membalik bagian belakang konsol. 


Dia terkejut karena dia melihat sebuah tanda yang masih diingat sampai sekarang. Disana ada tulisan "anna" yang ada satu huruf yang hilang. Hanna lalu tersenyum memandang ke arah Rio. Dia tidak bisa menutupi rasa bahagianya itu yang tersirat dari wajahnya. 


"Ternyata lo menepati janji lo untuk menjaga konsol itu dengan baik," itulah bisikan Hanna dari dalam hatinya. 


"Lo suka game apa Han?" Rio kemudian sambil mengeluarkan kaset-kaset yang dia miliki. Sekilas Hanna melihat sebuah kaset yang berjudul "Road Fighter".


"Road Fighter aja..." jawabnya sambil tersenyum. Dia merasa hari ini adalah hari bahagianya bisa bertemu dengan teman masa kecilnya.


Mereka main game itu selama berjam-jam sampai-sampai Mirhan tertidur di tempat tidur. Hanna dan Rio saat ini memiliki skor kemenangan yang sama. Mereka sudah main sebanyak berpuluh-puluh kali. Sampai mereka kecapean. 

__ADS_1


Bersambung… 


__ADS_2