Game Lover

Game Lover
Bab. 16 Saat di tim Thunderstorm


__ADS_3

Now Loading...


"SuperSonic, seberapa yakin kamu akan memenangkan turnamen Dotha 2 World Champions ini?" tanya seorang wartawan saat tim Thunderstorm mengadakan konferensi pers.


"Kami sangat yakin dengan skill yang kami miliki, kami pasti akan bisa melaju sampai akhir," jawab Rio dengan mantap. 


"Apakah kalian tidak takut menghadapi tim-tim luar yang terkenal dengan keberhasilan mereka memenangkan turnamen-turnamen besar?" tanya wartawan sekali lagi. 


"Tim kami juga tim yang hebat," jawab Rio tegas. "Itu dibuktikan kami juga berhasil melangkah sampai sejauh ini, karena kami sudah terlatih menghadapi tim-tim yang bisa dikatakan sekelas tim dunia," tambahnya lagi. 


"SphinX, seberapa yakinkah kamu bahwa SuperSonic akan membawa tim kalian menjadi juara?" tanya wartawan ke Mikel. 


"Gue percaya dengan jam terbang SuperSonic selama ini, kami pasti bisa menembus babak final, bahkan bisa menjadi juara," jawab Mikel lalu tersenyum ke arah Rio. 


"Oke cukup sekian untuk konferensi pers kali ini, setelah ini tim Thunderstorm akan mempersiapkan diri untuk terbang ke Jepang," ucap manajer tim Thunderstorm.


Tim Thunderstorm yang dipimpin oleh Mikel keluar dari area konferensi pers berbarengan dengan Rio. Mereka terlihat sangat akrab, sebab mereka masuk tim ini berbarengan. Mereka berdua sama-sama anak warnet yang mereka tahu hanya bermain game dengan rasa senang. 


"Kemarin lo ngilang kemana bro?" tanya Mikel saat mereka sambil berjalan menuju hotel. 


"Kemarin kepala gue pusing, makanya gue harus keluar nyari obat, ternyata susah juga ya nyari obat sakit kepala doang disini," Rio sambil memijat kepalanya.


"Waduh…" tanggap Mikel keliatan khawatir dengan keadaan Rio. "Tapi sekarang lo gak apa-apa kan?" tanyanya memastikan. 


"Santai...udah lumayan berkurang kok," jawab Rio sambil tersenyum. 


"Malam ini kita main NineTenDo lo ya?" pinta Mikel memohon ke Rio. "Soalnya gue penasaran dengan Super Derio yang kemarin gue mainin, susah banget," ucap Mikel masih penasaran. 


"Ia...tapi lo mainnya jangan barbar ya?" ucap Rio dengan serius. 


"Ia...ia...gue tau itu konsol kesayangan lo," Mika menanggapi dengan tersenyum. 

__ADS_1


Mereka tinggal di kamar hotel yang sama. Kadang anggota tim yang lain masuk kamar mereka untuk bersantai atau menanyakan permasalahan mereka saat bermain game. Rio selalu memberikan solusi yang cukup membantu mereka. 


Kali ini merek bermain game NineTenDo di kamar Rio dan Mikel. Mereka terlihat sangat senang memainkan konsol itu. Rio dijuluki King of Retro sebab dia selalu menang memainkan seluruh game retro. 


"Jir...susah bener sih…" ucap Yoda yang memiliki nickname Cyclone19. Dia adalah salah satu orang paling dekat dengan Rio selain Mikel di tim itu. Sebenarnya dia bukan gamer yang suka memainkan game retro, tapi karena Rio dan Mikel yang meracuninya, itu yang membuatnya juga suka bermain game retro yang selama ini belum pernah disentuhnya. 


"Lo injak dulu kepalanya lalu menuju ke tuas yang ada di belakangnya," Rio menjelaskan secara rinci. 


"Masa sih semudah itu?" tanya Yoda seolah tidak percaya yang apa yang dikatakan Rio. 


"Mending lo coba deh…" saran Mikel sambil tersenyum. 


Dia mulai memainkan seperti sebelumnya dia mainkan. Dengan mudah dia melewati rintangan karena sudah terbiasa. Hingga sampailah dia menghadapi bos yang mengalahkannya. Dia lalu melakukan gerakan lompatan ke arah kepala bosnya. Kemudian menyentuh tuas yang ada di ujung. Saat itu juga bos itu langsung terjatuh karena jembatan di bawahnya terbuka. 


"Gila!..." teriak Yoda. "Semudah itu?..." tanyanya seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. 


Sementara itu Rio, Mikel, dan anggota tim yang lain tertawa dengan tingkah Yoda. Rio seperti biasa selalu merokok saat bersantai atau saat bermain game. Kadang kalau di suatu tempat dia tidak diizinkan merokok, maka dia akan mencari WC umum untuk merokok. 


"Bagi rokok lo ya?" ucap Mikel sambil mengambil satu batang rokok. 


"Ambil…" jawab Rio sambil menghembuskan asap dari mulutnya. 


"Lo berdua gak pernah ya jaga image di depan publik," ucap Dewa yang memiliki nickname Megamoon mengomentari kapten dan wakil kaptennya di tim Thunderstorm.


"Ngapain kita harus jaga image di hadapan orang?" tanya Mikel sambil ngerokok. 


"Lagian kita hanya Pro Player, bukan artis yang menjual kepribadian yang palsu untuk terkenal," jawab Rio sambil minum cola yang ada di gelas miliknya. 


"Yang penting kita bermain bagus, dan terus menang," Mikel menambahkan sambil mengepulkan asap rokok. 


Sementara Rio hanya tersenyum mendengar ucapan dari Mikel. Di tim ini memang Mikel sebagai ketua tim, tapi yang menentukan META bermain selalu saja Rio. Bahkan tidak jarang Rio menyusun META baru saat mereka sedang bermain. Rata-rata triknya selalu berhasil dengan sukses. 

__ADS_1


Setelah teman-temannya sudah pada tidur, Rio merokok di taman hotel. Dia duduk bersandar di bangku taman sambil memandangi bulan yang terang malam itu. Datanglah seseorang yang menghampirinya kesana. 


"Kelihatannya lo sedang ada yang dipikirin," ucap Erwin yang memiliki Nickname Azazel46. 


"Gak kok bro…" jawab Rio berusaha tersenyum. 


"Lo gak perlu bohong, gue tau lo sedang ada masalah," ucap Erwin sambil duduk di sebelah Rio. Dia juga menyalakan rokok yang baru saja dibeli. 


"Saat ini kita gak boleh memikirkan masalah apapun," ucap Rio sambil menghisap rokoknya. 


"Bokap lo masuk rumah sakit kan?" pertanyaan Erwin membuat Rio terkejut. 


"Lo tau dari mana?" tanya Rio hampir saja rokok di tangannya terlepas. 


"Gue kemarin ngikutin lo…" jawab Erwin sambil menghisap rokoknya. "Sebab gue penasaran kenapa lo sering ngilang…" tambahnya menjelaskan. 


"Oh...gitu…" ucap Rio setelah mendapat penjelasan dari Erwin. 


"Kenapa lo gak cerita ke Mikel?" tanya Erwin dengan serius. 


"Masalah gue sama sekali gak penting, yang penting sekarang adalah bagaimana tim kita bisa menjuarai turnamen Dotha 2 World Champions," ungkap Rio dengan serius. "Tolong lo jangan ceritain ini ke yang lain, apalagi sama Mikel," pinta Rio dengan penuh harap. 


"Oke...gue akan berusaha merahasiakan ini," ucap Erwin lalu kembali menghisap rokoknya. 


Mereka merokok sambil bersantai di bangku taman. Erwin adalah salah satu orang yang cukup dekat dengan Rio setelah Mikel dan Yoda. Dengan Erwin lah Rio bisa ngobrol dengan serius tanpa harus membohongi diri. 


Mereka menghabiskan malam dengan membicarakan mengenai perjalanan mereka besok ke Jepang. Mereka sudah berencana ingin pergi ke sebuah tempat di jepang. Mereka berjanji akan memenagka turnamen ini.


Tidak lama kemudian handphone Rio berbunyi. itu adalah telepon dari ayahnya Rio yang terbaring di rumah sakit. "Iya ada apa yah?" tanya Rio setelah mengangkat telepon.


"Kamu tidak perlu memikirkan keadaan papah, yang kamu harus lakukan hanya berjuang, dan berikan yang terbaik," ucapan dari ayahnya membuat Rio menangis.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2