
Now Loading…
"Lo jauhin Hanna, kalau gak, gue pastikan lo akan menyesal…" itulah isi dari kertas yang dikirim ke Rio.
"Apaan sih?...paling cuman ulah fans cemen doang deh…" ucap Rio mengomentari isi kertas ancaman itu.
Tidak lama kemudian Hanna datang tanpa mengetuk kamar. Rio langsung buru menyembunyikan kertas ancaman itu. Dia lalu memasukkan pembungkus kado ke bak sampah.
"Itu pembungkus kado apa?..." tanya Hanna saat melihat Rio membuang pembungkus kado ke sampah.
"Ada orang iseng ngirim barang aneh ke gue…" Rio lalu menunjuk bak sampah. "Tapi jangan teriak ya?...kalau lo liat barangnya agak sedikit aneh…" dia kemudian mengingatkan calon istrinya itu.
"Emang barang apaan sih?..." tanya Hanna, tapi sebelumnya dia meletakkan tas dan jaketnya ke meja.
Dia kemudian mengambil bak sampah lalu mencari benda yang dimaksud Rio. Dia terkejut saat memegang sebuah benda yang lembek keras dan panjang. Matanya terbelalak saat melihat benda yang dia pegang.
"Eeaa!..." teriak Hanna membuat seisi rumah sakit terkejut.
Itu cukup membuat seisi rumah sakit terkejut. Suster yang tadi mengajak Rio ngobrol kembali ke kamar Rio dirawat. Dia langsung menghampiri Hanna yang menutup matanya.
"Ada apa?..." tanya suster sangat khawatir dengan keadaan Hanna.
Hanna sambil menutup matanya menunjuk ke arah bak sampah. Suster itu penasaran dengan isi bak sampah itu. Dia pelan-pelan menghampiri bak sampah itu. Tangannya mengobok isi bak sampah dengan hati-hati. Dia takut akan keluar binatang seperti cicak, kecoa, tikus, atau sebagainya.
Dia akhirnya menyentuh benda yang juga sebelumnya disentuh oleh Hanna. Namun anehnya suster itu tidak terkejut saat menyentuh benda itu. Dengan santainya dia mengangkat benda itu dengan tangannya.
"ini hanya mainan…" ucap suster itu dengan santai. "Ini punyamu?..." tanya suster itu pada Rio.
"Gak...silahkan dibuang…" jawab Rio dengan santai.
Suster itu langsung menaruh benda itu k dalam bak sampah. Kemudian dia membawa bak sampah itu keluar kamar rawat Rio. Setelah suster itu keluar, Hanna baru bisa membuka matanya.
"Lo kenapa sih?..." tanya Rio seolah tidak tau kenapa Hanna menutup matanya.
__ADS_1
"Siapa sih yang ngirim tuh benda kesini?..." tanya Hanna terlihat kesal.
"Itu makanya gue juga gak tau…" jawab Rio lalu menegakkan tempat tidurnya agar bisa duduk. "Mungkin orang yang suka sama lo, dan gak suka kalau gue jadian dengan lo…" menambahkan jawabannya.
"Perasaan gak ada deh...soalnya fans gue sendiri gak ada sampai seniat itu…" ucap Hanna kembali mengingat-ingat.
"Lagian ngapain lo kaget sih?..." tanya Rio sambil menatap wajah Hanna. "Entar kalau lo nikah, malam pertama juga liat yang kayak begituan…" ucap Rio sambil tersenyum.
"Malam pertama beda urusan…" jawab Hanna dengan wajah yang memerah karena malu.
"Oh...gitu…" ucap Rio dengan otak yang traveling kemana-mana.
"Eh...lo jangan mikir macem-macem ya?..." Hanna memperingatkan Rio.
"Apaan?...gue hanya mikir saat malam pertama sama lo doang kok…" jawab Rio dengan santai.
"Lo pikir gue mau malam pertama tidur bareng sama lo?..." tanya Hanna seolah menolak malam pertama satu ranjang dengan Rio.
"Lo pikir gue juga mau?...gue juga ogah kali…" Rio menanggapi Hanna dengan kesal.
"Gimana keadaannya dok?..." tanya Hanna setelah dokter memeriksa Rio.
"Saat ini Rio sudah mulai membaik, saya rasa besok dia sudah bisa pulang, tapi jangan terlalu banyak beraktifitas dulu…" Dokter menjelaskan atas pertanyaan Hanna.
"Tuh dengerin…" omel Hanna pada Rio.
"Iya...gue denger kok…" jawab Rio dengan santai. "Apakah saya bisa jalan-jalan keluar ruangan dok?" tanyanya dengan penuh harap. "Soalnya lama saya tidur di ruangan ini terus…" ucap Rio menjelaskan.
"Bisa...tapi kamu harus ditemani istrimu…" ucap dokter sambil tersenyum pada Hanna.
"Denger?...kalau lo mau keluar harus sama gue…" Hanna dengan leluasa mengomeli Rio. "Dia ini orangnya bandel banget dok…" ucap Hanna menjelaskan pada dokter.
"Wajar saja seorang suami dalam keadaan sakit seperti ini, pasti bermanja pada istrinya…" ucap dokter sambil menyerahkan resep obat untuk Rio. "Kalau begitu...saya ingin mengunjungi pasien lain dulu ya?..." ucapnya kemudian pamit pada Rio dan Hanna.
__ADS_1
Dokter serta suster langsung keluar dari ruangan tempat Rio dirawat. Sebelum keluar si suster tersenyum pada Rio dan Hanna. Dia teringat saat tadi Hanna berteriak di ruangan itu.
"Gue penasaran deh…emang siapa sih yang mengirimkan benda itu?..." tanya Hanna kemudian.
"Gue juga gak tau…" jawab Rio bersikeras.
"Apakah ada sebuah surat bersama benda itu?..." tanya Hanna lagi. "Gak mungkin dia mengirim tanpa ada suratnya…" ucap Hanna berpendapat.
"Mending kita bicarain ini di taman aja, soalnya gue udah cape tiduran mulu…" ucap Rio sembari ingin berdiri.
"Biar gue bantu…" ucap Hanna lalu bergegas memegangi Rio.
Dengan bantuan Hanna akhirnya Rio bisa berdiri dari tempat tidurnya. Meski selama ini Hanna sering berdebat dan bertengkar dengan Rio, tapi dia cukup sabar untuk membantu keperluan Rio. Selama Rio dirawat Hanna lah yang membantunya.
Hanna kemudian mengambil infus yang tergantung. Dia membawa infus itu untuk Rio yang berjalan di sampingnya. Disini terlihat sekali sifat yang disukai Rio dari Hanna.
Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju sebuah taman. Di taman itu ada tempat duduk yang memang disediakan untuk pasien dan pengunjung rumah sakit. Hanna membantu Rio duduk di bangku taman dengan hati-hati.
Semua orang memperhatikan mereka berdua di taman. Mereka terpukau atas kemesraan yang diperlihatkan keduanya. Mereka menebak pasangan ini adalah pasangan yang harmonis. Padahal mereka tidak tahu bahwa Rio dan Hanna sering sekali bertengkar, dan hubungan mereka saat ini hanya karena sebuah perjodohan.
"Boleh minta rokok yang gue pesan tadi?..." pinta Rio pada Hanna.
"Jadi itu alasan lo pengen duduk di taman?..." tanya Hanna sambil mengambil sebungkus rokok dan sebuah korek api.
"Mau gimana lagi?...gak mungkin kan...gue ngerokok di ruangan gue dirawat…" jawab Rio sambil mengambil rokok dan korek api yang diberikan Hanna. Dia kemudian mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya.
"Entar kalau lo jadi suami gue...jangan terlalu keseringan ngerokok ya?..." pinta Hanna dengan serius.
"Lo gak suka kalau punya suami perokok?..." tanya Rio kemudian.
"Bukan begitu…" jawab Hanna. "Tapi gue hanya gak ingin lebih cepat menjadi janda…" tambahnya menjelaskan jawabannya.
Mendengar jawaban Hanna membuat Rio cukup merasa bersalah. "Oke…gue akan berhenti merokok demi lo…" Rio berjanji pada Hanna dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Jawaban Rio membuat Hanna tersenyum. "Terima kasih…" ucap Hanna sambil tersenyum.