Game Lover

Game Lover
Bab. 23 Bertemu dengan Anak Bapak yang Pingsan


__ADS_3

Now Loading...


Seluruh tim Shark Station langsung mengantarkan bapak yang pingsan di antara penonton setelah acara selesai. Mereka sengaja untuk pergi diam-diam tanpa diketahui fans dan para wartawan. Mereka memakai mobil Alphard milik Mirhan untuk pergi ke rumah sakit. 


Mereka berniat memberikan kejutan untuk anak bapak itu. Kata beliau anaknya sangat mengidolakan Rio dan Hanna. Bahkan belakangan ini anaknya selalu menonton video Hanna dan Rio bermain game untuk menghiburnya. 


Mereka sengaja memarkirkan mobil di tempat yang khusus agar tidak diikuti wartawan atau tidak ada orang yang tahu. Rio, Hanna, Mirhan, Arif, dan Heri memakai jaket berwarna hitam. Mereka berjalan menuju ruangan anak itu digiring oleh bapak dari anak itu. 


Saat mereka berada di depan ruangan anak itu dirawat, mereka kemudian berhenti sejenak. "Pak, bapak masuk lebih dulu ke ruangan anak bapak, bawa ini untuk dia," ucap Rio membuat rencana. "Nanti kami akan masuk berbarengan untuk memberi kejutan padanya," ucap Rio sambil berbisik. 


Ayah dari anak itu langsung mengerti apa yang direncanakan Rio. Beliau lalu menganggukan kepala lalu masuk keruangan anaknya. Rio dan teman temannya mengintip anaknya terkejut dan senang sekali saat melihat kaos yang dibawakan oleh bapaknya.


Anak itu menangis sambil mencium kaos yang sudah diberi tanda tangan oleh Rio, Hanna, Mirhan, Heri, dan Arif. Dia terlihat memeluk ayahnya dengan berurai air mata. Rio, Mirhan, Arif, dan Hanna juga ikut sedih melihat moment itu. Bahkan Heri yang jarang meluapkan kesedihannya juga ikut menangis.


 Rio, Hanna, Mirhan, Heri, dan Arif memasuki ruangan itu. Kali anak itu kembali terkejut melihat mereka masuk satu-persatu. Rio tersenyum ramah pada anak itu sambil berjalan menghampirinya. Anak itu terdiam seolah tidak percaya apa yang dia lihat. Orang yang selama ini dia tonton live streamingnya di Utube, kini ada di hadapannya. 


"Apa kabar bro?" sapa Rio dengan ramah. 


"Ini seriusan?..." tanyanya seolah tidak percaya. 


"Iya...kami ada disini…" ucap Hanna sambil tersenyum manis padanya. 


Anak itu memeluk Rio dengan erat, terlihat sekali dia sangat bahagia bertemu idolanya. Rio mengusap belakangnya seperti seorang kakak yang meneguhkan adiknya. Rio tau derita yang dialami anak itu sangat berat. 


Anak itu duduk dengan kaki yang diperban dan kasih pengunci agar tulangnya tidak bergeser. Bisa dikatakan kecelakaan yang dialaminya sangat parah, terlihat dari keadaannya saat ini. Rio merasa kasihan kepada fansnya itu. 


"Papah yang mengajak mereka disini?" tanyanya pada bapaknya. 


"Bokap lo adalah ayah yang terhebat," ucap Rio sambil tersenyum. "Dia rela berdesak-desakan untuk mendapatkan kaos yang berisi tanda tangan dari kami," tambahnya lagi.


Anak itu memandang ayahnya dengan berurai air mata. Dia sama sekali tidak menyangka ayahnya rela berjuang sampai seperti itu. "Terima kasih yah…" ucap anak itu sambil menangis. 


"Kamu harus bangga padanya…" ucap Heri setelah menghapus air matanya. 


"Lo nangis Her?" tanya Arif pada Heri. 


"Gak...mata gue kelilipan tadi," jawab Heri dengan datar. 


"Nama lo siapa?" tanya Rio pada anak itu. 

__ADS_1


"Namaku Hardio Kusumah, kak…" jawabnya sambil tersenyum. Terlihat dia sangat senang saat ini. 


"Lo saat ini kuliah atau kerja?" tanya Hanna yang duduk di sebelah Rio. 


"Aku baru lulus sekolah SMA…" jawabnya pada Hanna. 


"Apakah lo bisa bisa menggunakan software live streaming dan edit video?" tanya Mirhan sebab dia ingin mengambil Dio menjadi kru di tim Shark Station. 


"Kalau edit video bisa kak, tapi live streaming belum bisa," jawab Dio dengan jujur. 


"Gampanglah tinggal gue ajarin…" ucap Mirhan sambil tersenyum. 


"Seriusan kak?" tanya Dio bersemangat. 


"Iya…" jawab Mirhan. "Tapi lo mau kan kerja jadi kru kami?" 


"Tentu saja kak…" Jawab Dio bersemangat. 


"Tapi sebelumnya lo harus sembuhkan kaki lo dulu…" ucap Hanna sambil menunjuk kaki Dio. 


"Begitu ya kak…" Dio terlihat kecewa. 


"Ini buat lo…" ucap Heri sambil memberikan sebuah alat seperti perban. "Lo pasang itu ke kaki lo yang patah setiap hari, itu akan membantu mempercepat proses pemulihan," ucap Heri menjelaskan. 


"Setelah lo sembuh, Mirhan akan menjemput lo disini," ucap Rio sambil memegang pundak Dio. "Sekarang lo semangat ya bro?" ucap Rio sambil tersenyum. 


"Jangan pernah menyerah, kamu pasti bisa," ucap Hanna menyemangati. 


Tidak lama kemudian karena para perawat yang mengetahui kedatangan Rio dan teman-temannya di ruangan Dio, banyak orang yang masuk ke ruangan itu. Mereka mengajak Rio dan Hanna untuk berfoto bareng. Karena sudah terlanjur Rio dan Hanna pun menerima permintaan mereka.


Diantara fans mereka ada yang merekam Rio dan Hanna di rumah sakit. Sebenarnya Rio sendiri merasa risih direkam, tapi karena sudah terlanjur dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah melayani beberapa permintaan berfoto bareng, Rio dan teman-temannya mengajak Dio dan ayahnya berfoto bareng mereka. 


Mereka sempat bermain game moba bareng untuk bersenang-senang. Mereka bermain battle tiga lawan tiga. Rio, Dio, dan Hanna melawan Mirhan, Heri, dan Arif. Mereka main dengan beberapa player online. 


Rio kali ini bermain sebagai Shooter, Hanna memakai Fighter, dan Dio memakai Tank. Mereka bermain memakai handphone mereka masing-masing. Dio ternyata juga jago bermain game seperti ini. Dia berhasil memojokan Heri dan Arif. 


"Good job Dio…" ucap Rio pada Dio. 


"Rio fokus di tengah…" ucap Hanna mengingatkan. 

__ADS_1


"Santai napa?..." Rio terlihat sangat santai. 


"Kak Hanna...mau gue TB in gak?" tanya Dio bersemangat. 


"Tapi lo siapin spell darah sama emblem darah ya?" perintah Hanna juga mengikuti Dio. 


"Siap kak…" jawab Dio sambil tersenyum. 


"Lo kalau main yang bener dong…" ucap Heri memarahi Arif.


"Ah...bacot lo…" ucap Arif terdengar tidak terima dimarahi Heri. 


"Slow bro...kita coba curi tower aja…" ucap Mirhan lalu berhasil merobohkan salah satu tower tim Rio. 


"Sial…" maki Hanna dengan kesal. "Tuh…kan…dia berhasil mencuri tower kita," Hanna marah-marah.


Rio berhasil menghancurkan dua tower sekaligus. Dia sendirian membunuh dua hero musuhnya. Level heronya saat ini sudah sangat besar. Dia dengan mudah membunuh hero milik Heri dan Arif sendirian. 


"Sial…" ucap Arif dengan kesal. 


"Gue bilang juga apa? Lo mainnya yang bener…" Heri memarahi Arif. 


"Ia...ia…" ucap Arif terpaksa ngalah berdebat dengan Heri. 


Permainan dengan mudah dimenangkan oleh tim Rio. Permainan Hanna dan Dio ternyata bisa menembus pertahanan Mirhan, Heri, dan Arif. Dio terlihat sabgat senang karena timnya berhasil menang. 


Tidak lama kemudian handphone Rio berbunyi. Dia lalu mengecek siapa yang menelponnya. Ternyata itu adalah nomor kontak dari Yulia adiknya.


"Iya...ada apa dek?" tanya Rio setelah dia mengangkat telepon. 


"Kakak ada dimana?" tanya Yulia. 


"Kakak ada di rumah sakit…" jawab Rio kebingungan. "Ada apa dek?" tanya Rio lagi. 


"Kakak cepat ke ruangan papah...sebab beliau ingin bertemu," jawab Yulia terdengar ini sangat penting. 


"Oke...sekarang kakak bakalan kesana…" ucap Rio sembari menutup teleponnya. "Gue harus menemui bokap gue sekarang…" 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2