
Now Loading…
Sekarang tim Shark Station sudah resmi menjadi bagian tim esport. Mirhan berhasil meminta ayahnya untuk menjadi sponsor buat tim mereka, dengan syarat mereka harus memakai Produk dari perusahaan milik ayahnya Mirhan. Nama perusahaan itu adalah Ranger, itu adalah perusahaan yang menjual alat aksesoris komputer mulai dari mouse gaming, keyboard gaming, headset gaming, sampai kursi gaming.
"Tempat apa ini?" Arif tercengang melihat sebuah ruangan yang berisi komputer gaming dan semua aksesoris dari Ranger.
"Ini adalah tempat kita akan berlatih…" jawab Mirhan sambil memilih salah satu komputer.
Ayahnya Mirhan membeli sebuah apartemen yang bersebelahan dengan apartemen Rio untuk menjadi tempat mereka latihan. Mereka memiliki jadwal setiap hari untuk berlatih disini. Mereka berlatih dengan serius untuk mengikuti META yang dibuat Rio.
Hanna juga mulai belajar mengenai mekanisme MMORPG yang sedikit berbeda dengan game Moba yang dimainkan di android. Hanna ternyata cukup cepat untuk mempelajari bagaimana cara bermain game Dotha 2. Sekarang dia bisa dengan mudah mengimbangi permainan Rio, Heri, Mirhan, dan Arif.
"Ternyata gak salah Rio mengajak lo masuk tim, sebab lo sangat cepat beradaptasi," puji Heri pada Hanna. Heri yang memiliki nickname Teslater di game Dotha 2. Sebenarnya dia adalah orang yang baik dan peduli pada teman, hanya saja kadang kata-katanya agak sedikit menyakitkan buat orang lain.
Hanna tersenyum mendengar pujian dari Heri yang dianggap orang paling judes yang pernah dia kenal. Rio senang Hanna bisa beradaptasi dengan anggota lain. Dalam game tim yang dibutuhkan adalah kerjasama tim, bukan individu dari Player.
"Ternyata Rio gak salam memilih lo masuk di tim ini, selain lo cepat beradaptasi dengan tim, lo juga cewek yang cantik," Seperti Biasa Arif selalu berusaha untuk menggoda cewek meski dia tahu saat ini dia sudah memiliki istri. Arif adalah Player Dotha 2 yang memiliki nickname Hercoles. Dia adalah orang yang paling tua di tim ini, tapi dia masih hormat pada Rio, karena Rio adalah orang yang pintar mengatur permainan. Dia dari dulu sejak SMA sangat senang menggoda dan mendekati cewek.
"Lo jangan berani-berani mendekatinya, sebab dia sudah menjadi pacar Rio," ucap Mirhan pada Arif. Mirhan adalah wakil dari Rio nicknamenya adalah Werewolf.
"Gak apa-apa kok Mir, lagian cuma pacaran settingan aja," Hanna menanggapi ucapan Mirhan.
"Settingan?...maksudnya gimana?" tanya Arif penasaran.
"Bukannya dari dulu lo selalu menentang hal-hal yang berbau settingan, kenapa sekarang lo lakuin itu?" tanya Heri dengan sinis.
__ADS_1
"Ceritanya panjang...entar gue ceritain…" sebenarnya Rio kesal mendengar ucapan dari Hanna, sebab dia mulai suka dengan Hanna, tapi dia tidak punya nyali buat mengungkapkannya.
Mereka kembali melanjutkan latihan bermain game Dotha 2. Mereka mulai kembali mencoba beberapa hero untuk dipakai dalam kompetisi. Meski Heri dan Arif adalah Player yang jago bermain game Dotha 2, karena sudah jarang main game itu, mereka harus kembali mencoba beberapa hero andalan mereka.
Rio cukup bagus untuk mengarahkan dan menyusun strategi. Itu terbukti keberhasilan mereka menang 4 kali tanpa memperoleh kekalah sekalipun. Sebenarnya ini sudah cukup bagus, cuma kekompakan mereka harus ditingkatkan lagi.
Mereka berlatih hampir seharian hanya memainkan game yang sama. Tanpa sadar mereka teringat pengalaman mereka pertama kali bermain game Dotha 2 di warnet asrama sekolah mereka. Saat itu sama seperti sekarang mereka bermain tanpa beban. Mereka bermain hanya untuk bersenang-senang. Seperti itulah inti dari bermain game yaitu untuk bersenang-senang.
Setelah selesai berlatih mereka langsung berkumpul di kamar apartemen Rio. Heri tersenyum melihat sebuah konsol yang selalu dia pinta Heri untuk memperbaikinya kalau ada kerusakan. Itu adalah konsol kesayangan Rio dan tidak ada satu orangpun yang bisa menyentuhnya.
"Lo masih menyimpan konsol itu?" tanya Heri sambil menunjuk konsol NineTenDo milik Rio.
"Itu adalah harta karun gue yang paling berharga," jawab Rio lalu tersenyum ke arah Hanna.
"Ini konsol kalau di rumah nenek gue, sudah di loakin kali," Arif lalu memegang beberapa kaset dari konsol itu.
"Ternyata pengetahuan lo mengenai game-game retro bagus juga ya?" pujian dari Heri membuat Hanna tersenyum.
"Mau coba mainin game itu?" ucap Rio menawarkan lalu berusaha menyalakan televisi dan konsolnya.
Mereka bermain game itu dengan mode bergantian. Mereka berusaha menyelesaikan teka-teki dan Puzzle di game tersebut. Hanya dua orang yang mampu menyelesaikan game dengan mudah yaitu Hanna dan Rio. Sisanya masih kesulitan dalam mekanisme game dan controller permainan.
"Rio memang selalu yang terbaik kalau urusan bermain game retro," puji Mirhan yang sudah tiduran di kasur. "Tapi yang gue gak abis pikir, ternyata lo juga jago main game jadul seperti ini ya Han?" ucap Mirhan memuji Hanna.
"Jelaslah...dia bisa dibilang anak NineTenDo juga," jawab Rio sambil tersenyum.
__ADS_1
"Game seperti ini sebenarnya gak terlalu susah, cuma kita yang terlalu terbiasa dengan game yang memudahkan player untuk bermain," ungkap Heri sambil bermain.
"Bener...kita dimudahkan oleh check point (agar setiap karakter di game mati dia tidak perlu memulai dari awal permainan, dia cukup melanjutkan dari check point), ditambah dengan sistem continue tanpa batas," tambah Rio memperjelas ucapan Heri.
"Itu dibuat sejak era PZ 1, karena banyak yang mengeluh dengan kesulitan di game," tambah Arif ikut berbicara.
"Makanya muncullah yang namanya difficulty dalam bermain game, agar player bisa menyesuaikan kemampuan mereka dengan kesulitan bermain game," ucap Hanna menambahkan.
"Itu sangat penting bagi pembuat game, sebab sekarang ini player akan sangat senang kalau game yang mereka mainkan tidak terlalu sulit, asal dalam catatan jalan ceritanya menarik dan bagus," Mirhan ikut berkomentar.
Kemudian karakter yang Heri mainkan mati, lalu muncul tulisan Game Over di layar. Terlihat sekali Heri sangat kesal mendapati semua itu. "Game ini terlalu sulit buat gue," ternyata dia cukup sadar diri.
"Sini biar gue coba…" ucap Arif lalu mengambil Stick yang dipegang Heri.
"Gue aja yang sudah terbiasa dengan game seperti ini kesulitan, apalagi lo yang taunya game Dating Simulator (Game Ngedate dengan karakter cewek di game) doang," ucap Heri meremehkan Arif.
Ternyata Arif bisa melewati level yang Heri dan Mirhan lewati dengan mudah. Dia bermain game itu seperti biasa saja. Sebab Dulu Arif bisa dibilang anak game Ding-dong atau bisa dibilang game arcade legendaris. Rio sudah sering waktu SMA jalan bareng Arif buat bermain game Ding-dong.
Mereka semua pulang ke rumah saat waktunya sudah malam. Yang tinggal di asrama itu hanya Hanna dan Rio. Dia menunggu Rio untuk membereskan konsol itu.
"Lo pengen ngambil konsol ini lagi?" tanya Rio pada Hanna.
"Gak...konsol itu memang sudah gue berikan buat lo," jawab Hanna sambil tersenyum.
Setelah itu Rio mengantarkan Hanna pulang menggunakan mobilnya. Di perjalanan dia sempat memperhatikan Hanna yang dia rasa sangat cantik. Dari hati Rio yang terdalam ada rasa senang digosipkan menjadi pacar Hanna, namun dia masih gengsi buat mengakuinya.
__ADS_1
Bersambung…