
Now Loading...
Rio berlari menelusuri rumah sakit untuk menuju ruangan ayahnya dirawat. Dia kelihatan sangat khawatir dengan keadaan ayahnya. Dia takut terjadi apa-apa pada ayahnya.
Sementara Heri, Mirhan, Hanna, dan Arif tidak bisa mengejar Rio yang berlari sangat cepat. Sebelumnya ditelepon oleh adiknya yang bernama Yulia saat di ruangan Dio dirawat. Dia langsung memasuki ruangan ayahnya yang sedang dirawat.
Saat masuk dia terkejut melihat orang-orang yang berkunjung disana. Disana ada ibunya dan juga ayah dari Hanna. Mereka sedang duduk menemani ayahnya Rio yang sedang duduk di tempat tidur.
"Papah gak apa-apa?" tanya Rio terburu-buru sekali menghampiri ayahnya.
"Akhirnya kamu datang juga," ucap ayahnya Rio sambil tersenyum.
"Anakmu sangat sayang padamu, bahkan di waktunya sangat sibuk seperti ini, dia masih sempat menemuimu…" puji ayahnya Hanna sambil tersenyum duduk menghadapi ayahnya Rio.
"Ada apa ini sebenarnya pah?" tanya Hanna yang juga baru datang bersama Mirhan, Heri, dan Arif.
"Kalian sudah bertemu lagi rupanya…" ucap ayahnya Rio setelah melihat kehadiran Hanna disana.
Rio dan Hanna langsung mencium tangan ayahnya Rio, ayahnya Hanna, dan ibunya Rio. Mereka sendiri sudah tau ayah mereka sangat berteman baik. Mirhan, Heri, dan Arif juga ikut menyalami orang tua dari kedua temannya ikut.
"Apa kabar om?" sapa Mirhan dengan ramah.
"Seperti yang kamu lihat nak," jawab ayahnya Rio dengan tersenyum.
"Dia anak siapa?" tanya ayahnya Hanna tidak mengenali Mirhan.
"Dia anak dari Meriady Hermawan," jawab ayahnya Rio.
"Oh...anak si Sultan waktu di kampus ya?" tanya ayahnya Hanna sambil tersenyum.
"Om kenal dengan papah?" tanya Mirhan agak terkejut.
"Tentu saja saya tahu, dia adalah orang yang sangat loyal...tapi dia bisa dibilang orang yang cerdas dalam mengambil kesempatan…" ayahnya Hanna menjelaskan sambil tersenyum.
"Anaknya juga begitu om…" ucap Arif menyeletuk.
"Gennya sama...ya iyalah sifatnya sama…" ucap Heri menimpali.
__ADS_1
Semuanya tertawa mendengar tanggapan Heri. Mereka kelihatan sangat senang berbincang. Hingga mereka tidak sadar seorang dokter berserta perawat sudah masuk untuk memeriksa ayahnya Rio.
"Bagaimana keadaan anda pak Reyano Refany?" tanya dokter itu dengan ramah.
"Seperti yang anda lihat...saya sangat sehat…" jawab ayahnya Rio sambil tersenyum.
"Biar saya periksa dulu ya pak?..." dokter itu lalu mengeluarkan alat untuk memeriksa pak Reyano. "Hem...saat ini anda sudah menunjukan perkembangan yang sangat bagus…" ucap dokter sambil tersenyum. "Saya rasa sebentar lagi anda bisa pulang," ucapnya lagi.
"Yang benar dok?" tanya ibunya Rio bersemangat.
"Mungkin beberapa hari lagi pak Reyano sudah bisa pulang," jawab dokter itu sambil memberikan sebuah kertas resep obat pada ibunya Rio.
"Terima kasih dok," ucap ibunya Rio sambil menerima resep obat dari dokter.
"Saya harap anda jangan merokok lagi, sebab itu akan berdampak buruk pada kesehatan anda…" saran dokter pada ayahnya Rio.
Heri, Mirhan, Arif, dan Hanna tersenyum mendengarnya. Mereka baru sadar ternyata dari ayahnyalah sifat buruk Rio yang suka merokok. Sementara Rio sendiri hanya bisa senyum kecut mendengarkan itu.
"Lo juga harus dengerin ka Rio…" ucap Yulia memarahi Rio.
Mendengar omelan Yulia ke Rio membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa. Sementara Rio hanya terdiam tidak bisa menjawab apa-apa. Mereka kelihatan sangat senang melihat Rio yang disindir adiknya.
"Belum sih mah…" jawab Rio baru sadar perutnya berbunyi. Suaranya mengisi seisi ruangan rawat.
"Eh...ka Rio...eh...kelaparan ya kak?..." Yulia kembali meledek Rio.
"Bukan hanya kakak yang kelaparan, mereka juga dek…" ucap Rio sambil menengok ke arah Hanna, Mirhan, Heri, dan Arif.
"Yaudah sekalian makan disini aja…" ajak ibunya Rio dengan ramah.
"Enggak ah tante...kita makan di luar aja…" jawab Mirhan berusaha menolak.
"Ayolah Mir...sekali-sekali gak apa-apa kan?" Arif bersemangat ingin ikut makan.
"Kebetulan ibu bawa makanan yang ibu masak dari rumah kok…" ucap ibunya Rio sambil tersenyum. "Soalnya papahnya Rio kadang gak suka makan masakan rumah sakit," tambah beliau lagi.
Ibunya Rio, Hanna, dan Lia mempersiapkan piring dan gelas. Mereka bekerja sama untuk menyiapkan makanan dan Minuman. Sementara ayahnya Rio dan ayahnya Hanna ngobrol bareng Rio dan teman-temannya.
__ADS_1
"Coba lihat Rio, Hanna selain cantik, dia juga baik karena mau membantu ibu dan adikmu menyiapkan makanan," ayahnya Rio memuji Hanna di depan Rio.
"Apaan sih pah?..." wajah Rio terlihat memerah karena malu.
"Papah ingin kamu memiliki istri seperti Hanna…" tambah ayahnya lagi membuat Rio tambah terdesak.
"Rio dan Hanna bukannya sudah pacaran om?..." Arif ikut masuk dalam pembicaraan.
"Oh...begitu ya?...kok kamu tidak pernah cerita ke ayah?..." tanya ayahnya Rio terlihat serius.
"Mereka saja baru jadian om…" Mirhan menjawab pertanyaan ayahnya Rio.
"Apa om gak membaca atau melihat berita tentang mereka di televisi?" tanya Heri pada ayahnya Rio.
"Saya selama di rumah sakit tidak pernah ada waktu untuk menonton televisi," jawab ayahnya Rio.
"Kalau begitu kapan kamu mau meresmikan hubungan kalian ke tahap yang lebih serius?" tanya ayahnya Hanna menatap Rio dengan serius. Saat ini Rio merasa sedang diintimidasi oleh ayahnya Hanna.
"Belum tau sih om, kan Rio baru saja jadian dengan Hanna," jawab Rio agak kikok.
"Kalau kalian sudah pacaran, buat apa tunggu lama-lama lagi?" tanya ayahnya Rio pada Rio membuatnya semakin tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tapi papah masih di rumah sakit, Rio gak bisa gitu aja melamar Hanna sebelum papah benar-benar sembuh," jawab Rio berusaha mencari alasan.
"Kalau begitu setelah papah sembuh...kita akan datang ke rumah Hanna untuk melamar Hanna untuk kamu," ucapan ayahnya Rio membuat Rio tak bisa berbuat banyak.
Hanna yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka hanya bisa diam. Saat ini mereka merasa semua ini tidak seperti rencana mereka sebelumnya. Hanna kemudian mulai mengambil sikap dan mulai berbicara.
"Om...pah...saat ini Hanna dan Rio sedang ingin mengikuti turnamen esport Dotha 2, jadi kami akan banyak sibuk setelah ini," Hanna berusaha menjelaskan kepada ayahnya dan ayahnya Rio.
"Syukurlah dia ikut bicara, supah saat ini gue merasa ditodong oleh bokap dan bokapnya Hanna," ucap Rio dari dalam hati karena merasa terbantu oleh Hanna.
"Baiklah kalau begitu…" ucap ayahnya Hanna setelah berpikir begitu lama. "Tapi setelah turnamen game esport kalian selesai, saya harap Rio datang untuk melamar Hanna," ayahnya Hanna memberi keputusan.
"Saya akan datang beserta keluarga untuk melamar Hanna," ucap ayahnya Rio dengan mantap.
"Sungguh keluarga dengan demokrasi yang sangat tinggi…" sindir Heri sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
Setelah perdebatan yang sangat panjang itu, mereka akhirnya makan-makan. Setelah makan Rio disuruh ayahnya untuk mengantarkan Hanna dan ayahnya pulang dengan mobil milik ayahnya. Sementara Heri, Arif, dan Mirhan pulang dengan mobil Mirhan.
Bersambung…