
Now Loading...
Setelah mengantar Hanna kerumahnya, Rio langsung menyalakan komputernya dan melihat kembali battle tadi siang saat melawan tim Blue Star. Dia mungkin bisa mencari kelemahan Erwin, tapi dia masih belum bisa mencari kelemahan yang lain. Dia kemudian mencatat beberapa hal yang bisa membuat timnya kalah.
Handphonenya berbunyi saat dia sedang sibuk mencari informasi mengenai tim lain. Dia kemudian membaca nama kontak yang meneleponnya. Dia tersenyum saat disana tertulis mbak Manda. Beliau adalah guru yang menjaga asrama tempat Rio, Mirhan, Heri, dan Arif tinggal waktu SMA. Mbak Manda sebenarnya adalah adik dari mamanya Rio, karena umurnya tidak terlalu jauh dari Rio makanya dia memanggil dengan sebutan mbak sejak kecil.
Dia langsung mengangkat telepon itu. "Halo mbak…" sapa Rio setelah telepon terhubung.
"Kamu kok gak cerita ke mbak pengen tunangan?" tanya mbak Manda pada Rio.
"Itu semua dadakan mbak," jawab Rio. "Gue aja tunangan karena dipaksa bapaknya Hanna buat nikahin anaknya," ungkapnya dengan serius.
"Lain kali lo cerita aja, kalau lo ada masalah," ucap mbak Manda peduli. "Oh ya, gimana tim esport lo?" tanya mbak Manda kemudian.
"Yah gitulah mbak...hari ini kami baru mengalami kekalahan yang parah," ungkap Rio dengan jujur.
"Pantesan setelah pulang diantar Mirhan dan Heri, laki gue langsung membuka komputernya," ucap mbak Manda menjelaskan mengenai Arif.
Dia dan Arif menikah tepat setelah Arif diterima kerja. Mereka berpacaran sejak lulus SMA sampai menikah. Rio seharusnya memanggil Arif dengan sebutan om, tapi karena Arif orangnya santai, dia tidak mikirin masalah itu.
"Syukur deh…" ucap Rio sambil tersenyum.
"Lain kali lo berkunjunglah ke rumah, sekalian ajak calon bini…" ucap mbak Manda pada Rio agak bercanda.
"Apaan sih mbak?" tanggap Rio dengan kesal.
"Ih…kan gue juga pengen kenal sama calon bini lo," ungkap mbak Manda.
"Iya...iya...entar gue sama dia bakalan kesana," Rio terlihat kesal menanggapi mbak Manda.
"Gitu dong…" ucap mbak Manda sambil tersenyum puas. "Lo lagi apa sekarang?" tanya mbak Manda.
"Lagi nyiapin buat turnamen entar…" jawab Rio sambil melihat catatan yang ada di mejanya.
"Lo nge handel semuanya sendiri?" tanya mbak Manda lagi.
"Siapa lagi mbak?...kan gue ketua timnya…" jawab Rio sambil mulai memasang headset bluetooth ke handphonenya.
"Lo bisa menghayer beberapa orang buat ngelakuin beberapa tugas lo," ucap mbak Manda mengasih tau.
__ADS_1
"Ini tim baru mbak, kami mana sanggup menggaji orang buat lakuin itu semua," ucap Rio menanggapi saran mbak Manda.
"Tapi Mirhan bisa, tadi dia minta bantuan mbak nyariin pelatih buat tim kalian," ungkap mbak Manda membuat Rio terkejut.
"Ternyata tuh anak serius pengen bikin gedung buat tim Shark Station berlatih," ucah Rio sambil tersenyum.
"Mbak sudah dapat orangnya...tapi mbak perlu bilang sama lo dulu, cocok gak sama ini pelatih?" mbak Manda menjelaskan.
"Emang siapa mbak?" tanya Rio penasaran.
"Mantan pelatih tim Shark Station dulu, Dendi Gunawan…" jawab Mbak Manda.
"Seriusan?" Rio lumayan terkejut mendengarnya.
Dendi Gunawan adalah pelatih tim Shark Station saat mereka pertama kali menjuarai turnamen Dotha 2 di Indonesia. Dia sebenarnya bukan Pro Player Dotha, dia Pro Player game Guardian War. Dotha 1 dulu sebenarnya adalah game DLC dari Guardian War, karena game Dotha 1 banyak diminati, maka muncullah game Dotha 2.
"Bang Dendi bukannya sekarang menjadi pelatih tim Thunderstorm?" tanya Rio dengan serius.
"Memangnya Erwin gak cerita?" tanya mbak Manda. "Sebelum dia keluar dari tim Thunderstorm, Dendi saat itu juga keluar dari tim jtu," ungkap mbak Manda menjelaskan.
"Terus bang Dendi mau menjadi pelatih tim Shark Station?" tanya Rio bersemangat.
"Siapa aja yang tau ini?" tanya Rio kemudian.
"Lo dan Mirhan, bahkan suami gue belum tau," jawab mbak Manda.
"Syukur deh…" ucap Rio lalu menyalakan rokoknya.
"Oh ya...bokap lo apa kabar?" tanya mbak Manda.
"Saat ini keadaan bokap sudah agak membaik, besok mungkin sudah bisa pulang ke rumah," jawab Rio sambil merokok.
"Bagus dong…" ucap mbak Manda. "Tapi kok lo keliatannya gak seneng?" tanya mbak Manda lagi.
"Gue seneng kok, cuman…" omongan Rio terhenti kemudian.
"Cuman kenapa?" tanya mbak Manda mendesak.
"Kata bokap kalau beliau pulang kerumah, gue harus segera bertunangan dengan Hanna," jawab Rio agak leso
__ADS_1
"Bagus dong...kalau begitu...kenapa lo malah bete?" tanya mbak Manda menyelidik.
"Masalahnya gue dan Hanna gak murni pacaran mba…" Rio keceplosan bicara yang sebenarnya.
"Maksudnya gimana sih? Mbak gak ngerti deh…" tanya mbak Manda pengen minta kejelasan.
"Sial...gue ngomong yang sebenarnya…" ucap Rio dari dalam hati.
Rio kemudian menceritakan semuanya pada mbak Manda. Dia bercerita dari mulai kecil dia berteman dengan Hanna waktu kecil, sampai dia yang digosipkan pacaran. Dia juga bercerita sebenarnya dia dan Hanna tidak pernah akur. Dia juga bercerita alasan mereka berpura-pura pacaran karena kontrak mereka pada perusahaan milik ayahnya Mirhan.
"Lo yakin Hanna gak memiliki perasaan buat lo?" tanya mbak Manda dengan serius.
"Selama ini kami musuhan terus, gimana mungkin dia suka sama gue," jawab Rio dengan yakin.
"Perbedaan cewek sama cowok adalah kalau cewek bisa menyimpan perasaannya, sedangkan cowok gak bisa menyimpan perasaannya," ucap mbak Manda meyakinkan Rio. "Contohnya lo, saat ini lo suka kan sama Hanna?" mbak Manda menebak dengan benar.
"Suka sama dia?...gak mungkin banget…" Rio berusaha dengan keras menyangkalnya.
"Lo ingat omongan mbak...Sebelum kalian habis kontrak, lo sudah benar-benar pacaran sama Hanna," ucap mba Manda dengan yakin.
"Apaan sih mbak?..." Rio terlihat kesal. "Gak jelas deh…"
"Udah dulu ya Yo?...soalnya mbak harus nidurin anak mbak dulu…" ucap mbak Manda menutup pembicaraan.
"Iya mbak…" jawab Rio lalu hubungan telepon dimatikan.
Rio kemudian merenung sesaat memikirkan apa yang diomongin mbak Manda. Dia terlihat sangat galau saat ini, sehingga dia langsung mematikan komputernya. Kemudian dia menghempaskan tubuhnya ke kasur untuk lekas tidur.
Dia melihat konsol yang diberikan oleh Hanna untuknya waktu kecil. Dia tersenyum mengenang masa kecil mereka bermain game bersama. Kemudian dia menatap foto-foto mereka sewaktu kecil.
Dia sesaat membayangkan seandainya dia benar-benar menjadi suami Hanna. Dia dimasakin masakan yang enak setiap hari. Bermain game bareng di konsol NineTenDo mereka. Memiliki anak yang juga senang bermain game seperti mereka.
"Ah!...bego!..." teriak Rio tidak jelas. "Mikirin apa sih lo Yo?" makinya pada dirinya sendiri.
Saat dia ingin memejamkan mata, tiba-tiba handphonenya berbunyi lagi. Dia agak kesal mendengar suara panggilan telepon. Saat dia melihat nama kontaknya, ternyata tidak memiliki nama kontak, artinya belum disimpan di handphonenya.
"Halo...siapa ini?" tanya Rio dengan suara yang sudah ngantuk.
"Halo sayang...masa kamu lupa dengan suaraku…" ucap suara itu dengan lembut masuk ke telinga Rio.
__ADS_1
Bersambung…