
Bel pelajaran selesai.
Seperti biasa, setelah itu aku dan Siska kemudian pulang bersama.
"Hei! Hei, kamu tahu Jean?"
"Tidak."
Aku menggelengkan kepala.
"Papa ku sangat senang melihat aku yang berhasil meningkat di bagian nilai bahasa!"
"Asalkan kau belajar dengan sungguh-sungguh, maka siapapun bisa melakukannya."
Aku menjawab itu dengan sedikit tidak antusias, dan Siska menatapku sambil mengembungkan pipi setelahnya ... Hm?
"Jean jahat! Kamu bahkan tidak memberiku selamat!"
"Apakah itu perlu?"
Dan ketika aku mengatakannya, Siska langsung pergi dariku sambil menangis ... Eh?!
---
Jadi, akhirnya aku pulang sendiri pada waktu itu.
Dan kebetulan pada sore hari ini terasa sedikit berbeda dari biasannya.
"Aku tidak tahu, tapi aku pasti melakukan kesalahan padanya."
Aku berniat untuk meminta maaf kepada Siska karena tidak menyadari niatnya ketika mengatakan itu.
"Tapi aku juga tidak bisa menghubungi ponsel dia."
Ummm, kira-kira dia mau memaafkanku, ya?
Kemudian, karena aku merasa ada yang aneh di punggungku, seperti ada yang mengawasi──
Aku kemudian dengan buru-buru melanjutkan perjalanan menuju gang kecil, untuk melihat beberapa orang dengan wajah garang.
"Yo! Gadis yang tersesat."
Ada dua, ah, tidak! Itu adalah tiga orang cowok yang terlihat sangat liar dan berandalan, kurasa.
Aku mundur beberapa langkah.
"Sepertinya aku salah jalan."
Tidak tahu ada yang sudah berdiri di belakangku.
"Mau pergi kemana, gadis kecil?"
Dan, dengan "Hehehe." dia menatapku dengan senyuman jahat.
Mataku bergetar dengan sendirinya dan lututku terasa lemas.
__ADS_1
"Ah, ayolah bos, kamu membuat dia ketakutan. Setidaknya perlakukan adik ini dengan lembut."
Pria di belakangku kemudian mengambil ransel ku yang terjatuh dan kemudian membalikannya, mengeluarkan isi di dalamnya.
Perlahan, buku-buku yang sudah disimpan rapi terjatuh ke tanah.
"Hanya ada barang yang tidak berguna seperti ini? Kupikir aku bisa menemukan uang atau semacamnya."
Dia melempar ranselku setelah selesai dengan urusannya mengacaukan buku, dan langsung menghampiriku.
Aku menatap kosong, tapi bukan ke arahnya melainkan ke buku yang sudah bercampur dengan debu.
"Kamu ... Kamu merusak mereka?"
"Hah? Apakah ada masalah?"
"Tentu saja, mereka adalah buku. Jendela dunia."
Pria itu terkekeh begitupun dengan yang lainnya.
"Heh, dasar gadis sok rajin. Jadi, ada yang bertingkah seperti murid teladan sekarang?"
"Dan, oi! Sepertinya kau salah memeriksa sesuatu. Tidak di dalam tas itu, melainkan di saku baju dia."
"Oh?"
Dia kemudian mengamati atasanku.
Dan memang disana ada kantong yang terletak pada bagian tertentu.
"Aku lihat begini-begini kamu ternyata cukup imut juga."
---
"Dia seperti gadis yang sebelumnya."
Gadis itu tengah sibuk memikirkan sesuatu, dan Kyle hanya mengamati dia sebelum gadis itu tiba-tiba memasuki gang kecil.
"Apa yang?"
Ketika Kyle sampai, dia melihat ada beberapa orang sudah melempar ransel gadis itu, dan kemudian melihat satu pria berniat menyentuh nya dengan tangan yang sudah bergerak ke arah──
"Tidak akan aku biarkan!"
Karena dari sudut pandang Kyle, dia melihat gadis itu sedang dirampok atau bahkan lebih parah berusaha dilecehkan.
Kyle kemudian berlari untuk memukul salah-satunya.
Pukulannya begitu mendadak.
Satu preman yang tidak berhasil merespon serangan itu hanya bisa menunggu sampai suara DHUG! yang menghantam bagian pipinya.
"Bos!"
Kyle tidak mempedulikan pria itu yang kesakitan, dia kemudian beralih kepada gadis yang berhasil dia lindungi lalu berada di depannya.
__ADS_1
---
"Emmm, kamu?!"
Aku tidak tahu, tapi seseorang sudah menyelamatkan ku dari mereka.
Dia kemudian menyuruhku untuk tetap berada di belakangnya, dan aku kemudian menuruti sambil menggangukan kepala.
"Ohoho, ternyata ada yang bermain pahlawan sekarang?"
"Dan aku lihat kalian sedang melakukan sesuatu yang tidak pantas kepada seorang gadis!"
Preman itu yang merasa tersinggung dengan ucapan cowok penyelamat langsung mempersiapkan serangannya.
"Tunggu, kamu! Jangan bilang!"
Sementara aku yang akan mengetahui perkelahian tidak dihindarkan, cowok yang diarahkan tinju ke wajahnya menangkis itu lalu meraih lengan satu preman untuk kemudian membantingnya.
Serangan tidak berhenti disana, sementara satu sudah teratasi, satu preman yang lain yang melihat teman nya berhasil dilumpuhkan melancarkan tendangannya.
---
"Kau akan menyesal!"
"Aku akan menggingat ini! Kau dengar?!"
"Kami tidak akan melepaskanmu!"
Sementara aku melihat para preman sudah pergi dari sana.
Cowok itu menuju ke arah buku yang terjatuh di lantai sebelum menaruhnya kembali ke dalam ransel yang tadi dilempar, sebelum memberikannya ke padaku.
"Ini ..."
"Ah, uhmmm, terimakasih."
Aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi kepada penyelamatku, namun aku mungkin harus melakukan hal yang seharusnya, yaitu berterimakasih sebaik mungkin.
"Namaku adalah Kyle, dan kamu?"
"Jean."
Kami kemudian saling berjabat tangan, sebelum perlahan aku melihat ke wajahnya yang terasa tidak asing.
Eh, tunggu?! Kyle, si murid populer itu?
"Kamu, ah ... Emmm ..."
"Ada apa?"
Aku langsung menggelengkan kepala dengan tegas.
"Kamu pasti sangat ketakutan tadi, bukan? Lalu, sebaiknya kita pulang bersama untuk berjaga-jaga."
Kyle mengatakan itu sambil menggangukan kepala.
__ADS_1
Heh, tunggu! Tunggu sebentar!
Pulang dengan cowok?!