
Setelahnya, pada hari liburanku berakhir.
Aku memutuskan belajar dan belajar sampai batas kemampuan otak ku bisa bekerja dengan keras.
Di sekolah, perpustakaan adalah tempat favoritku.
Aku akan selalu pergi ke sana ketika jam makan siang pertama jika tidak ada urusan yang menggangu.
Ngomong-ngomong, begini-begini aku adalah siswi SMP.
Jadi, aku berbeda sekolah dengan Kak Janny.
Ngomong-ngomong aku berencana melanjutkan ini ke sekolah dia setelah lulus dari SMP.
"Kakakmu adalah mantan siswi terbaik di sekolah ini, bukan? Jadi, tidak heran adiknya mewarisi sifat kakaknya."
Seseorang yang duduk di depan meja ku adalah Siska, yang merupakan teman baik aku di kelas ini.
Dan, sebagai tambahan, hanya dia adalah satu-satunya orang yang bisa aku ajak berbicara.
Selainnya?
Sungguh, aku tidak mempunyai kesempatan untuk bergaul dengan teman-temanku yang lain.
Itu karena aku yang hanya sibuk belajar sampai lupa meluangkan waktu untuk mengikuti beberapa obrolan ringan.
"Ngomong-ngomong, tentang game yang pernah kau bicarakan sebelumnya."
Siska memiringkan kepala sebelum dengan antusias menatapku.
"Jadi kau mulai tertarik, ya?!"
Dia mengatakannya, meskipun aku bilang tidak tertarik dan berbohong pun aku yakin dia akan berusaha untuk mencari tahu karena aku sudah memulai topik ini.
Jadi, aku hanya menggangukan kepala.
"Aku pernah mencobanya, tapi karena tidak memiliki teman aku tidak memainkannya lagi."
Sederhana saja, itu sudah beberapa hari yang lalu aku tidak memainkannya.
Dan memang waktu yang aku gunakan pada saat itu kebanyakan untuk mempelajari matematika dari kakak.
Dan, Kak Janny akhirnya bersedia mengajariku setelah kami melewati beberapa perdebatan yang akhirnya dimenangkan olehku.
"Jadi, ini hanya tentang tidak memiliki teman sesama pemain?"
__ADS_1
Aku menggangukan kepala, "Uhmmm, apakah kau memiliki masalah untuk itu?"
"Tentu saja!"
Eh? Dia kemudian membuatku berdiri sebelum menyudutkanku sampai tembok.
Tangan dia? Wah, itu sudah menyentuh dinding dan kemudian matanya itu.
"Anu ..."
Karena aku merasa ini tidak baik, maksudku.
"Oh, aku meminta maaf."
Siska kemudian merubah sikapnya setelah mata semua orang tertuju kepada kami.
---
Di dalam perjalanan kembali dari kantin, akhirnya aku bisa mulai membicarakan tentang itu kepada Siska.
"Heh, mengapa kau tidak bilang sebelumnya, tentang teman itu? Kau tahu, begini-begini aku adalah pemain terbaik disana!"
Nnn ... Kau tadi mengatakan pemain terbaik, huh?
"Memangnya berapa levelmu?"
"Sepertinya sudah lima puluh."
Dia kemudian tersenyum bangga, aku kagum dengan perubahan sikapnya yang instan itu.
"Kalau begitu. Emmm, aku akan menerimanya, untuk menambahkanmu di daftar teman dalam game itu."
"Sungguh?!"
Aku menggangukan kepala, dan Siska kemudian memelukku dengan ke dua tangan yang sudah melingkari leherku.
"Aku tahu aku akhirnya bisa melampauimu, meskipun itu di dalam game, hehehe."
Aku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan, tapi aku akan mengganggap ini sebagai 'Iya' atas ajakanku itu.
Lalu, aku kemudian memikirkan, bagaimana caranya untuk menambahkan teman dalam permainan?
"Oh, aku akan mengajari tentang itu nanti. Tapi sebelum itu aku ada urusan mendesak!"
Ada lorong lain di jalan lurus itu, dan sepertinya Siska mengambil yang sebelah kiri sementara aku masih melanjutkan ke depan.
__ADS_1
Aku hanya menggangukan kepala lalu menjawab, "Oke." sebelum melanjutkan langkah kakiku yang kemudian terhenti oleh DHUG! yang menabrak.
---
"Maaf, aku tidak sengaja."
Sementara aku memperbaiki posisi berdiriku, aku melihat beberapa roti yang aku beli dari kantin terjatuh di lantai.
Tapi, untunglah mereka masih berada dalam kemasan dan terlindungi oleh plastik.
Seseorang yang tidak sengaja aku tabrak, kemudian menundukan punggungnya sebelum membantuku mengambil makan siangku itu.
"Ini."
"Ya, uhmmm ... Terimakasih."
Tanganku kenudian mengambil roti itu dari tangan dia.
Aku kemudian memberanikan diri untuk menoleh ke atas.
Ke wajahnya yang cerah sekarang.
Apa-apaan dengan ketampanan itu?!
Dia adalah cowok yang ganteng, dengan rambut hitam dan lebih tinggi dari ku juga.
Jika bisa dibilang, ketinggian maksimalku berada pada dada dia.
Dan, yah, itu adalah pembeda kami.
Tapi, mengesampingkan soal itu.
Wajahnya yang sebelumnya cerah menatapku dengan ekspresi berbeda sekarang ... Eh?
"Kamu terlihat mirip dengan seseorang yang pernah aku temui."
"Permisi?"
Aku memiringkan kepala, dan cowok itu kemudian menggaruk kepalanya.
"Maaf, hanya kalimat yang tidak sengaja keluar dari mulut ini."
"Oh, jadi begitu."
Perbincangan itu menjadi canggung, jadi kami segera mengakhirinya ketika itu menjadi buntu.
__ADS_1
Aku kemudian berpamitan dengan cowok ganteng itu.
Tidak tahu kenapa, aku seperti merasakan ada yang mengintai di belakang punggungku setelahnya.