
"Dia akan menjemput kita besok pagi. Kebetulan itu adalah hari liburmu bukan, Jean?"
Aku menggangukan kepala.
Karena dia menanyakan tentang itu.
"Memangnya Kakak berniat pergi kemana lagi selain ke bioskop?"
"Tentu saja, ke taman bermain."
"Eh?!"
Ketika aku menyadarinya, bahwa acara ini yang tidak sesederhana kelihatannya.
"Ta-taman bermain?"
Aku membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang ketiga diantara keduannya.
Maksudku, mereka memilih tempat itu sebagai lokasi kencan, lalu mengajak ku untuk ikut juga?
Nah, akan menjadi masalah jika aku dianggap sebagai penggangu setelahnya.
Setidaknya, yang aku pikirkan pada saat ini adalah berusaha untuk menjadi adik yang penurut dan baik.
...----------------...
"Dengar ... Jean, dia akan datang beberapa menit lagi. Lalu, ini! Kakak membelikan sesuatu kepadamu."
Esok hari datang begitu cepat dari dugaanku.
Di dalam kamarku Kakak langsung memberikanku sebuah tas yang berisi baju baru disana.
"Un, terimakasih Kak."
Bertanya-tanya kenapa Kakak Janny begitu peduli dengan penampilanku?
Aku juga tidak keberatan jika sesekali diberikan hadiah semacam ini. Dan karena Kakak sudah membuatnya khusus untuk ku──
Aku mendengar suara klakson mobil dari luar bersamaan ketika Kak Janny memberitahuku.
"Dia sudah datang."
Dan dengan cepat aku pergi dari tempatku berada lalu menerobos pintu untuk kemudian bertemu dengan laki-laki bertubuh tinggi.
...----------------...
"Oh."
Aku mengamatinya dari atas kebawah.
Dia memang besar dan lebih tinggi dari ukuranku, setidaknya dua kali lipat.
Nah, karena aku bukan yang dia cari.
__ADS_1
"Kamu adiknya Janny?"
"Oh, itu ... Etto ..."
"Keizha!"
Kak Janny kemudian muncul dari dalam rumah dengan pakaian mahal dia.
"Bagaimana?"
"Fumu ... Terlihat sangat cocok untukmu."
"Sungguh?!"
Entah kenapa, mereka seperti sudah menjadi pasangan saja.
Eh, bukankah Kakak Janny sudah memiliki hubungan itu sekarang, dengan pria ini?
"Anu ... Emmm, nama kamu adalah Keizha rupanya. Lalu adikmu ..."
"Oh, Kyle? Kamu mengenali dia?"
Laki-laki bernama Keizha yang ternyata adalah calon yang akan menikahi Kakak Janny memainkan dagu sebelum mempersilahkan kami masuk ke dalam mobil.
Aku tidak tahu apa yang dia maksud setelahnya, tapi apa yang terjadi setelah kami membuka pintu mobil adalah aku yang bertemu dengan seseorang yang aku kenali.
...----------------...
"Oh ... Kamu?"
Aku buru-buru menutup mulutku ketika Kyle secara tidak terduga berada di dalam sana.
Maksudku dia adalah Kyle dan memang cowok itu!
"Bagaimana bisa ..."
Ah, ini akan menjadi canggung sekarang.
Kyle buru-buru memalingkan muka dalam kesempatan aku yang masih mencerna situasi, sementara kakak dia, Keizha, membantu Kak Janny memasuki mobil.
"Nah, karena kalian berdua sudah saling mengenal. Kenapa tidak memulai ini dari kamu, etto ... Jean yang duduk di sebelah Kyle, lalu aku dengan ..."
Aku melihat, kepalan di tangan Kyle mulai terbentuk bersamaan dengan dia yang berusaha untuk menahan sesuatu dari perkataan Keizha.
"Aku mengerti, Kak."
Dia memejamkan mata sebelum menoleh ke arahku.
"Apa yang kamu tunggu, cepatlah ke sini."
"Oh, tentu ..."
Karena mobil itu hanya berisi tempat duduk yang sangat terbatas, aku dan Kyle duduk di belakang sementara Kak Janny dan Keizha tentu berada di depan.
__ADS_1
Mengabaikan soal itu, kami benar-benar merasa sangat canggung dengan pertemuan tiba-tiba ini.
Sebelumnya Kyle pernah mengatakan dia menginginkan kita tidak bertemu lagi, bukan? Kemarin, namun yang terjadi justru sebaliknya.
"Anu ..."
Ketika aku berusaha untuk menanyainya, dia hanya, "Huh ..." menghela nafas panjang sebelum memintaku untuk tetap diam.
Padahal, aku hanya ingin menghibur dia setelah kejadian itu.
...----------------...
"Etto, apakah kamu tidak apa-apa?"
Ketika Kak Janny dan Kak Keizha terlihat bermesra-mesraan di depan kursi kami.
Kyle yang melihat itu dengan geram mengamati mereka dengan tatapan tajam sebelum menggelengkan kepala ke arahku.
"Tidak ... Hanya saja suasana hatiku tidak baik sekarang."
Uh, apakah benar begini? Kyle yang aku kenali tidak berwajah seperti sekarang, maksudku dia hanya murung dan murung sepanjang waktu.
Berbeda dengan Kyle yang ramah seperti dulu, setidaknya sikap dia berubah 180 derajat setelah kejadian tidak terduga itu.
"Aku minta maaf."
"Kenapa minta maaf lagi?"
Aku menggelengkan kepala.
"Tidak, hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara untuk meluruskan masalah ini."
Kyle menghela nafas panjang.
"Aku juga sebenarnya tidak ingin ini berlarut-larut. Namun, kurasa itu tidak mungkin lagi untuk kita menjadi seperti dulu."
"Hmmm, kenapa?"
Kyle menoleh ke atas sebelum mengamatiku.
"Bukankah kamu sekarang membenciku karena perbuatanku yang mendekati kamu dengan maksud lain?"
Nah, aku sekarang tidak bisa mengatakan apapun.
Jika aku mengatakan "Tidak" entah kenapa aku merasa hatiku menolak aku untuk mengatakannya.
Ada apa dengan perasaan yang begitu menyulitkan ini?
"Benar, kan?"
Pada akhirnya perbincangan menjadi canggung lagi setelah itu.
Kami hanya diam sepanjang perjalanan dalam beberapa waktu kedepan.
__ADS_1
Setidaknya, aku melihat dari waktu ke waktu Kyle semakin cemburu melihat pasangan di depan dia.
Dan kecemburuan dia mencapai pada tingkat baru setelah kami turun dari mobil.