Game Plus School!

Game Plus School!
Chapter 59


__ADS_3

"... Hiks ..."


Air mataku menetes dengan sendirinya bersamaan dengan perkataan Kyle.


Karena dia menyadari itu.


"Maaf ..."


"Huh?"


Perlahan aku mengelap air mata tersebut sebelum melihat dia yang terlihat──Oh noo! Jangan memunculkan ekspresi itu lagi.


"Tidak! Jangan lagi! Lalu kita akan pergi ke sana sekarang, oke?"


Kyle melebarkan mata dalam ekspresi aku yang tiba-tiba berani.


"Serius? Kamu sudah tidak takut?"


Aku menggangukan kepala tegas.


"Tapi kamu tetap berada di paling depan."


"... Ha? Tentu saja ..."


Dan perjalanan horor kemudian dilanjutkan selama beberapa menit setelahnya.


...----------------...


Aku duduk di kursi bersama dengan wajahku yang bermasalah.


"Aku tidak tahu bahwa wahana itu ternyata akan semenyeramkan ini."


Aku tidak bisa membantah hal tersebut, maksudku rumah hantu tadi memang sangat seram dan menggangetkan.


Ini wajar karena aku baru pertama kali memasukinya, dan mencobanya juga dengan seorang laki-laki.


"Ini ..."


Kemudian aku melihat Kyle yang membawa dua ice cream.


"Huh, itu untuk ku?"


Dia kemudian memberikan salah-satunya kepadaku sebelum aku dengan ragu-ragu mengambilnya.


Aku memperbaiki posisi dudukku, sementara Kyle fokus dengan es krimnya.


Perlahan aku mengintip dia ketika makan, tapi sebelum itu.


"Kamu yakin akan makan seperti itu? Maksudku noda yang menempel di pipimu itu?"


Mataku membelalak karena kaget.


"Eh?"


Ketika aku baru menyadarinya. Aku tidak sengaja menemukan ada sisa makanan tersebut di bagian yang ditunjuk oleh Kyle.

__ADS_1


"Aku kurang fokus ..."


Sementara aku yang terlihat kesulitan untuk mengelapnya.


Kyle langsung menyentuh pipiku dengan kedua tangan yang salah satunya memegangi tisu sebelum berkata.


"Wajahmu yang cantik ini akan kotor jika tidak dibersihkan dengan baik."


Dan dalam keheningan itu aku hanya tersipu.


Aku hanya diam dalam perlakuan halus dari Kyle.


Setidaknya dia melakukannya dengan baik, maksudku membantu mengelap bagian yang kotor itu sampai bersih.


"Oh, sudah memerah?"


"Aku tidak──"


Duh, kali ini aku tidak bisa membantahnya, tentang wajahku yang semerah tomat itu.


Aku buru-buru memalingkan kepala bersamaan ketika Kyle memandangiku heran.


"Kita akan pergi sekarang, setelah kamu menghabiskan ice cream mu tentunya."


Aku menggangukan kepala.


Jadi kami akan bergabung kembali dengan rombongan sebelumnya, ya?


...----------------...


Ketika hari sudah hampir sore bersama dengan kami yang masih berjuang untuk mencari Kak Janny.


"Permainan menembak?"


Juga, aku ingat kakak pernah mengajak ku untuk memainkan itu pada sebuah festival musim panas.


Dan dia menghadiahiku banyak mainan setelahnya.


Kyle yang mendengar perkataanku menjadi cukup tertarik sebelum dia dengan uang kertas membayar untuk bisa memegangi sebuah senapan sebelum, BOM! yang membuat sesuatu meluncur dengan dahsyat.


Sebuah peluru karet kemudian ditembakan dari sana, bersamaan dengan itu.


"Ah, meleset."


Pada percobaan pertama, itu hanya mengenai bagian dinding bukannya mainan.


Dia kemudian mencoba dan mencoba lagi, tapi hasilnya tetap gagal.


Sementara itu, aku melihat pemilik tempat bermain menjadi puas karena satu demi satu uang kertas sudah menumpuk di atas meja.


"Apakah kamu tidak akan bermain lagi, nak?"


Kyle yang sudah naik turun bahunya menggelengkan kepala sebelum dengan satu tembakan terakhir.


"Akhirnya kena!"

__ADS_1


Sebuah mainan boneka akan terjatuh bersamaan ketika dia berhasil mengenainya.


"Hahaha ... Keberuntungan yang tidak terduga, ini!


Karena pemilik tempat itu merasa bahwa dia tidak rugi meskipun Kyle berhasil melakukannya, aku yang melihat itu justru berbentu "O" di mulutku sebelum Kyle memberikan boneka itu kepadaku.


"Untuk ku?"


"Ya, ambilah. Karena aku tidak bermain boneka, kau tahu?"


Sebuah boneka beruang berwarna coklat, jadi ini adalah hadiah pertama dari Kyle untuk ku, ya?


Entah kenapa aku buru-buru menggelengkan kepala karena pikranku tertuju ke arah yang lain.


"Apa kamu adalah pacar dia? Nah, karena kamu bersama seseorang, mengapa tidak mencoba ini juga, nona?"


Pemilik permainan itu tersenyum lebar sebelum aku menyadari ada maksud lain dari ekspresinya itu.


"Aku tidak──" Sementara aku yang panik ingin membantah tentang "pacar" itu, Kyle dengan senapan mainan yang masih berada di tangan dia memberikanku alat untuk menembak tersebut.


"Ini, cobalah."


"Aku?"


Huh, sebenarnya aku tidak yakin dengan ini.


Tapi bukankah kita hanya perlu membidik lalu menarik pelatuk setelah dirasa yakin sudah mengunci target.


Sebelum CTAAK! yang terdengar menghantam sesuatu.


Sebuah kotak kecil kemudian terjatuh dari atas sebelum aku menemukan itu karena tembakanku.


"Heh?"


...----------------...


Aku melihat, karena itu hanya sepasang boneka kecil, maksudku ... Aku mendapatkan gantungan kunci boneka dari hadiah menembak jatuh target sebelumnya.


"Aku tidak tahu kamu ahli melakukannya, Jean. Bahkan sekali tembak berhasil mendapatkan dua?"


Karena aku juga masih tidak percaya dengan itu, tapi ... Ngomong-ngomomg.


"Ini ... Aku berikan satu untukmu."


"Uh, gantungan kunci itu?"


Aku menggangukan kepala dalam pertanyaan ragu-ragu Kyle, sebelum memalingkan muka sambil menyerahkan itu dengan ekspresi bermasalah juga.


"Tolong ambil ini, karena kamu sudah memberikanku sesuatu tadi. Aku berniat untuk membalasnya, hanya itu saja. Aku tidak berniat untuk hal yang lain, jadi ... Etto ..."


"Ugh, oke ..."


Dia kemudian mengambil yang warna hitam.


Satu dari dua pilihan gantungan kunci boneka beruang kecil.

__ADS_1


Kalau dipikirkan lebih jauh lagi, ini pertama kalinya aku memberikan sesuatu pada orang lain.


Dan kemudian, ada apa dengan perasaan yang tiba-tiba terasa lega ini?


__ADS_2