
Pada pagi itu, aku pergi ke sekolah setelah sarapan.
Namun, ada yang berbeda dari pagi yang biasannya cerah itu.
"Dia tidak datang, ya?"
Karena kejadian kemarin lebih tepatnya, aku merasa hati Kyle mungkin sudah hancur karena kejadian itu.
Aku juga cukup terkejut ketika melihat ternyata Kakak Janny sudah punya pacar.
Padahal, aku ingat betul tahun ini dia akan memasuki usia 19 tahun.
Dan ... Tentu itu masih terlalu awal untuk menikah.
Pada akhirnya aku pergi sendiri ke sekolah karena tidak menemukan wajah yang terasa akrab bagiku berada disana.
"Di tempat ini biasanya dia akan menungguku."
Aku menyentuh dinding pagar rumahku sebelum terburu-buru menggelengkan kepala.
"Apa yang kamu pikirkan, Jean?!"
Tentang berjalan bersama itu, ah ... Rasanya cukup memalukan untuk diingat kembali.
Lalu.
"Yah, bukankah lebih baik begini?"
Entah kenapa, meskipun aku mengatakannya, tetap saja aku merasa hampa di bagian tertentu.
...----------------...
Aku melihat Siska tersenyum bahagia ketika aku sampai di kelas dan menaruh ranselku di meja.
"Huh, apakah telah terjadi sesuatu, Siska?"
Gadis itu langsung menggangukan kepala antusias dalam pertanyaanku.
"Hei! Hei! Kamu tahu tidak? Akan ada murid pindahan ke sekolah kita!"
Karena aku tidak tahu, aku menggelengkan kepala.
"Terus ...?"
Dalam pertanyaan itu. Ugh, entah kenapa aku melihat wajah Siska yang seperti tersipu sebelum berkata.
"Menurut rumor yang beredar, dia berasal dari luar negeri! Lalu, tampan juga! Aku berharap dia pindah ke kelas kita!"
Aku merasa pembicaraan ini menjadi berlebihan sekarang karena Siska secara tidak terduga menunjukan beberapa ekspresi yang bervariasi, contohnya ketika dia tersenyum sambil memegangi pipi.
__ADS_1
Lagipula, belum tentu dia, maksudku murid baru tersebut akan bergabung ke kelas kami.
Ketika aku memikirkannya, bel masuk kelas tiba-tiba berbunyi.
Semua orang duduk di kursinya masing-masing.
Banyak yang menoleh satu sama lain ketika guru kami membawa wajah baru seseorang ke dalam kelas.
"Tidak mungkin."
...----------------...
Sekilas aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
Laki-laki berambut pirang dengan tubuh kurus dan mata berwarna biru sudah ada dihadapan kami.
Dan dari sepengetahuanku, dia bukan murid ataupun siswa yang berasal dari sini.
"Jadi begitulah anak-anak. Kita kedatangan murid baru."
Semua orang melompat dari tempat duduknya, khususnya para perempuan yang saling memegangi bagian wajah dengan bentuk mata yang menjadi love di bagian tertentu ... Eh?!
"Ah! Tampan sekali!"
"Dia ... Dia adalah tipe ku!"
Ketika aku melihatnya, entah kenapa aku merasa sedikit heran melihat para gadis-gadis itu yang langsung terpesona padanya dalam pandangan pertama.
Aku kemudian melihat Siska yang berada di depan tempat dudukku tersenyum puas dan dengan air liur yang menetes.
"Jangan bilang kamu juga termasuk?!"
Tapi, yah ... Tidak semuanya sih.
Karena siswa laki-laki di kelas ini semuanya menatap geram ke arah yang diketahui adalah murid baru tersebut.
Ada apa dengan mereka, ya?
...----------------...
Laki-laki rambut pirang itu tersenyum sebelum maju beberapa langkah.
"Halo teman-teman! Perkenalkan namaku adalah Lyon. Salam kenal semuanya!"
Dia melambaikan tangan pada kami yang menatap dia dalam keheningan tersebut, para gadis langsung menanggapi dengan, "Ahhhh!" atau, "Waaaa!" seperti tertusuk di bagian hati.
Tapi khusus untuk siswa laki-laki, tidak yang menggubris tindakannya dan justru menoleh dengan ekspresi kesal.
Merasa perkenalan sudah selesai, pak guru kemudian membantu murid baru tersebut memilihkan tempat duduk.
__ADS_1
"Nah, karena ada bangku kosong di sebelah Jean."
Oh, disamping tempatku?
Para wanita di kelas langsung menatap tajam ke arahku seolah-olah aku bersalah ... Huh?
Tapi ... Eh?
Itu berarti, aku dan dia berada berdekatan dengan──
"Namaku adalah Lyon. Jadi, kamu adalah?"
Aku menegang ketika murid baru tersebut memintaku untuk berjabat tangan dan sudah ada di depan wajahku.
Aku ingat padahal guru baru saja mengatakan namaku tadi.
Entah kenapa, Lyon ini seperti ingin mengulangi pada bagian perkenalan itu.
"Etto ... Namaku adalah Jean ... Uhmmm ..."
"Jean, maksudku. Bisakah kita berteman?"
Oh, ada apa dengan permintaan yang begitu tiba-tiba ini?!
Bahkan, aku merasa punggungku mulai ditatap oleh banyak orang sekarang.
"Ah, ya ... Uhmmm, tentu ..."
Ketika aku menjawabnya demikian dalam situasi mendesak tersebut, Lyon terlihat bahagia bersama dengan Siska yang terlihat murung.
"Jean ... Kamu beruntung."
Eh?! Ah, ngomong-ngomong ada apa dengan ekspresi sedih itu?!
...----------------...
"Baiklah, bapak akan mulai pelajaran hari ini. Jadi, semuanya silahkan buka buku kalian."
Aku mengambil alat tulisku lalu benda lain yang disuruh oleh pak guru, sebelum mendengar suara dari samping.
"... Jean ..."
"Etto, ada apa?"
Ketika aku menanyai pemilik suara yang ternyata adalah Lyon.
"Maafkan aku, tapi ... Uhmmm, bisakah kita berbagi buku?"
"Eh?!"
__ADS_1