Game Plus School!

Game Plus School!
Chapter 8


__ADS_3

Bel pulang sekolah berbunyi.


Aku kemudian mempersiapkan buku-bukuku dan menaruh mereka semua ke dalam tas.


"Jadi, Jean. Aku akan berkunjung ke rumahmu hari ini, bagaimana?"


Siska tersenyum mengatakan itu sambil melihatku yang merapikan barang bawaan.


"Aku tidak keberatan jika ini hanya tentang menambah teman itu. Tapi, sepertinya aku tidak memiliki waktu luang untuk melakukannya."


"Ah, ayolah. Sekali saja, oke? Atau, jangan katakan kau hanya bermain ketika ada senggang?"


"Memang, aku akan bermain ketika seluruh pekerjaan rumahku selesai."


Siska kemudian terkekeh.


Kami melanjutkannya di lorong dan berjalan ke taman menuju luar gerbang sekolah.


"Tapi aku akan tetap berkunjung, lho."


"Terserah, tapi kamu tidak akan mendapatkan apapun selain melihatku yang bekerja keras di meja."


"Aku akan menggangumu."


Nah, karena dia mulai terlihat menyebalkan sekarang.


"Baik, satu jam."


"Permisi?"


Aku menghela nafas.


"Waktuku bisa bermain hanya satu jam! Itu setelah aku belajar pada malam hari. Pukul sembilan lebih tepatnya."


"Berarti aku bisa menginap di rumahmu?"


Eh, tapi ... Uhmmm, "Aku tidak masalah dengan itu, tapi bagaimana dengan orang tuamu?"

__ADS_1


Siska terkekeh.


"Aku memang memiliki masalah dengan mereka akhir-akhir ini."


"Tunggu, aku bisa menebaknya."


Aku tahu, dia pasti dimarahi karena terlalu sering melupakan pelajarannya di sekolah.


"Yah, untuk beberapa alasan aku bahkan sampai diancam tidak boleh menyentuh peralatan game, ku selama beberapa waktu."


"Uh, kau pasti sangat menderita, bukan?"


"Dan di situlah masalahnya. Tapi, setelah ini aku bisa bernafas lega."


"Kenapa kau bisa mengatakan itu?"


Dia tersenyum bahagia.


"... Itu karena aku yang pergi ke rumah gadis pintar di kelasku untuk belajar. Dan orang tuaku pasti akan mengizinkanku menginap dengan alasan seperti ini, jadi untuk masalah itu sudah beres."


Seperti biasanya, dia selalu menggunakan berbagai macam cara untuk bisa bermain game dengan puas.


"Tapi ini tidak baik. Jika kamu mau, aku bisa membantumu."


"Sungguh? Oh, apakah Jean yang baik ini akan membuat nilai ku melambung tinggi?"


Aku menggangukan kepala.


"Tapi, nnn ... Itu tergantung dengan niatmu belajar."


"Ah, itu mah masalah gampang!"


---


"Aku pulang."


Di rumah, aku kemudian membuka pintu lalu membuka sepatuku.

__ADS_1


"Selamat pulang, Jean."


Ada suara yang terdengar meskipun itu berada pada ruangan lain.


Aku kemudian pergi ke dapur untuk melihat Kakak Janny sedang memasak.


"Apakah ada yang bisa aku bantu?"


"Ah, tidak. Tapi, sepertinya kita kekurangan sesuatu."


"Aku akan membelinya."


"Sungguh? Oh, aku akan sangat terbantu dengan itu!"


Dia kemudian memberikanku beberapa lembar uang, lalu ada kertas daftar belanjaan juga.


Aku menggangukan kepala.


Biasanya ibu yang melakukan tugas ini, tapi karena dia sedang bekerja, begitupun dengan ayah yang juga sibuk dengan kantornya di luar kota, jadi hanya ada kami di rumah dalam beberapa jam sore itu.


Sejujurnya, orang tua kami jarang pulang kerumah karena pekerjaan.


Bahkan, ayahku yang diluar kota hanya mengirimkan uang dan uang untuk kami.


Dan meskipun begitu, aku tidak sampai menyalahkan dia di bagian itu, setidaknya untuk saat ini.


Kakak Janny selalu berkata, meskipun mereka jarang menunjukan perhatian mereka belakangan ini, tapi ayah dan ibu selalu menyayangi kami berdua.


Setidaknya, itulah yang dia katakan, sampai aku tanpa sadar sudah berada di depan toko yang memang sering aku kunjungi.


---


Kota itu cukup luas dan indah, di sekitar jalanan ini juga hampir semua lingkungannya yang terjaga dan terawat.


Ada banyak bangunan modern yang mulai dibangun disana, dan aku juga akan menemukan sebuah sungai di dekat disini, bersamaan dengan taman yang cukup luas.


• Ting! Anda mendapatkan pesan

__ADS_1


Sebuah suara ponsel pintar terdengar dari kantong celana ku.


Oh, aku tahu ini adalah pertanda apa.


__ADS_2