Game Plus School!

Game Plus School!
Chapter 56


__ADS_3

Aku pikir telah terjadi sesuatu yang buruk dengannya, tapi aku tidak bisa untuk menanyainya sekarang karena jarak kami sudah berada terlalu jauh.


...----------------...


Bel kelas kemudian berbunyi tepat pada saat jam pulang.


Dalam kesempatan itu, aku berniat untuk segera keluar dari kelas.


"Oh, perlu aku bantu?"


Lyon menawariku untuk membantu merapikan buku dalam ranselku karena melihat ekspresi wajahku yang seperti terburu-buru.


Tapi aku yang merasa itu sudah beres terlebih dahulu──


"Aku minta maaf, Siska, Lyon, tapi aku harus menemui seseorang sekarang!"


Pokoknya harus segera menemui dia.


Siska dan Lyon saling berpandangan sebelum keduanya menggangukan kepala.


Dalam kesempatan itu, aku dengan sedikit kasar membuka pintu kelas lalu berlari untuk kemudian sampai di belakang punggung seseorang yang berada di depan gerbang sekolah.


...----------------...


"Anu ..."


Karena Kyle tidak menyadari keberadaanku, aku memanggilnya dengan keras meskipun bahuku masih bergerak tidak teratur.


"... Anu!"


"Huh?"


Akhirnya dia menoleh ke arahku, tapi sebelum itu menjadi sebuah perbincangan──


"Maaf, tapi sepertinya aku terburu-buru. Jadi ..."


Apakah memang akan seperti ini?


Maksudku, Kyle kali ini menatapku kosong tanpa ada senyuman seperti pada waktu itu.


Aku kemudian menyadarinya, bahwa aku yang mungkin sudah membuatnya menjadi seperti itu karena kesalahanku kemarin.


"Tu-tunggu sebentar. Tentang Kakak Janny! Aku benar-benar tidak tahu bahwa pacar dia adalah kakakmu, lalu ... Maaf!"


Aku menundukan kepala.


"Untuk apa?"


Kyle membalikan wajah ke arahku.


Mata kami akhirnya bertemu lagi.


Dalam kesempatan itu, tanpa sadar air mataku menetes dan membasahi pipiku.

__ADS_1


"Aku minta maaf karena tidak bisa mempertemukan kalian dan tidak menepati perkataanku."


Sementara aku serius mengatakannya, Kyle hanya menatapku dalam keheningan dengan senyuman kecil.


"Tidak masalah. Lalu, lupakan itu. Aku sudah menyerah untuk mengejarnya."


"Eh?!" Mengabaikanku yang terkejut, Kyle melanjutkan.


"Tentu saja. Tapi, aku juga perlu mengatakan sesuatu kepadamu. Emmm, tentang suatu hal yang aku sembunyikan darimu."


Huh, kira-kira apa yang mau dia katakan kepadaku?


Ketika dia menjelaskannya, tentang Kyle yang sebenarnya sudah mencurigai aku yang ternyata adalah satu keluarga dengan Kakak Janny dan berusaha mendekatiku untuk mencapai tujuannya──


"Oh, jadi begitu, ya?"


Ah, entah kenapa aku merasa sakit pada bagian itu sekarang.


Sederhana saja, Kyle hanya mendekatiku untuk bisa lebih dekat dengan orang lain.


Yup, dia adalah Kakak ku.


Memang, rasanya akan menyakitkan untuk didengar. Tapi aku akan berusaha tetap kuat mendengar itu dan menunjukan senyuman.


"Aku sama-sama melakukan hal yang buruk. Jadi, tolong maafkan aku. Lalu, bisakah kita tidak bertemu lagi?"


"Kenapa ...?"


Yah, aku tidak pernah menduga akan menjadi seperti ini endingnya.


Kyle kemudian pergi dari sana tanpa berpamitan kepadaku dan langsung berjalan ke depan melewati hujan dedaunan pohon pada sore hari itu yang berguguran disana.


Aku melihatnya dalam kesunyian tersebut.


Kali ini, aku benar-benar tidak bisa menghentikannya.


Dia sudah pergi terlalu jauh.


Meskipun aku mengejarnya sekarang, aku tidak yakin Kyle akan menanggapi perkataanku seperti sebelumnya.


Aku sebenarnya hanya berniat untuk menghiburnya sebagai cara untuk mengobati rasa sakit hati dia pada waktu itu, tidak lebih.


Apakah ini berlebihan?


...----------------...


"Aku pulang ..."


"Selamat data──"


Ketika Kak Janny menyadari ekspresi wajahku yang murung.


"Ada apa denganmu, Jean? Tidak seperti biasanya."

__ADS_1


Aku dengan terburu-buru menggelengkan kepala.


"Tidak, hanya saja aku merasa lelah hari ini."


"Oh, sungguh? Jadi, aku tidak bisa memberitahumu sekarang, ya? Tentang kita yang akan pergi ke suatu tempat."


"Uh, maksud Kakak?"


Dia tersenyum kepadaku sebelum memperlihatkan dua tiket yang aku ketahui bisa digunakan untuk menonton──


"Darimana Kakak mendapatkannya? Tiket nonton film itu?"


Kakak Janny sekarang tersenyum puas ketika aku menanyainya.


"Temanku yang memberikannya."


Oh, tentu saja itu adalah Kakaknya Kyle, mungkin?


Tapi, ngomong-ngomong tentang nama dia.


Ah, sepertinya aku lupa untuk menanyakan itu.


Sementara itu.


"Ini ..."


Heh? Dia memberikannya?


Satu tiket milik dia kepadaku.


"Uh, bukankah ini adalah acara kalian berdua?"


Kak Janny menggelengkan kepala.


"Tidak ... Karena dia juga memintaku untuk mengundangmu ..."


Aku mengerti sekarang.


"Jadi, Kakak berniat mengajak ku untuk ikut?!"


...----------------...


Kak Janny menggangukan kepala.


Yah, mempertimbangkan permintaan tersebut mungkin aku akan memikirkannya dengan baik.


Jarang-jarang aku bisa memiliki kesempatan emas semacam ini.


Untuk menyelidiki seseorang yang dibilang Kyle adalah calon suami Kakak Janny.


Nah, karena kami akan bertemu nanti, aku berniat untuk menilai apakah dia memang pantas atau tidak untuk Kakak.


"Aku menyetujuinya ..."

__ADS_1


Yosh! Aku akan berusaha disana!


__ADS_2