
Pada perjalanan kami selanjutnya.
Kami memang akan menemui Kakak Janny yang kami ketahui keberadaannya berada di dekat tempat kami berada, sebelum seseorang yang tidak asing muncul di jalan.
"Oh, Jean?! Itu kamu, bukan?"
Aku menoleh tidak percaya dengan yang menyapaku ternyata adalah teman sekelas yang baru pindah itu.
"Kenalanmu?"
Karena Kyle merasa sedikit terganggu dengan itu, dia menanyaiku begitu sebelum aku menggangukan kepala.
"Dia adalah temanku, yah .... Uhmmm, nama dia adalah Lyon."
"Senang bisa mengenalmu, sesama teman Jean."
Dan Lyon langsung meminta Kyle untuk menerima jabat tangan dia dengan senyuman hangat, sebelum secara tegas menatap Kyle selama beberapa waktu.
Huh, aku tidak menyadari itu, ada apa dengan tatapan dingin yang tiba-tiba itu.
Kemudian, Kyle hanya menanggapi dalam diam sebelum menghela nafas.
"Kita akan pergi sekarang, ayo Jean."
Dan dia mengajak ku untuk meninggalkan Lyon.
"Heh? Apakah baik seperti ini?"
Meninggalkannya seperti itu terdengar keterlaluan menurutku, tapi kami juga tidak memiliki waktu sekarang.
Setelah menjelaskan situasinya kepada Lyon.
"Jadi kalian tidak sedang berkencan, ya?"
Entah kenapa aku merasa Lyon menghela nafas lega karena perkataanku tadi.
Tunggu, kenapa kamu yang lega?
"Jadi, etto ... Bisakah kami pergi sekarang?"
"Tunggu sebentar, Jean. Aku ingin kamu menyimpan ini."
Lyon menyerahkan sebuah kertas untuk kemudian diberikan kepadaku.
"Oh, sebuah nomor telepon?"
"Yup, hubungi aku jika kamu membutuhkan bantuanku, Oke? Kemudian aku juga akan pergi ke suatu tempat bersama dengan my elder sister!"
Aku menggangukan kepala sebelum berjalan ke arah Kyle yang ternyata menungguku di depan.
...----------------...
"Ada apa denganmu, Kyle?"
Laki-laki itu langsung menggelengkan kepala tegas ketika aku bertanya demikian.
"Tidak, hanya saja aku sedikit khawatir tentang Kakak bodoh itu yang akan berbuat hal aneh kepada Janny!"
__ADS_1
Dalam perkataan itu aku hanya tersenyum heran.
Ugh, dia mengatakan Kakak dia sendiri sebagai orang bodoh?
Dan kemudian kami bertemu dengan mereka secara kebetulan di depan wahana bermain yang kemudian membuat Kyle terkejut karena.
"Ugh? Apa yang akan mereka lakukan?"
"Tu-tunggu dulu, Kyle."
Aku buru-buru menghentikan dia untuk berbuat nekat dengan memeluknya dan berharap bisa menghentikan langkah kaki laki-laki itu.
Tapi, syukurlah itu berhasil dilakukan.
Kyle menatap ke bawah dalam suasana hati yang kacau hari ini, aku tahu itu.
Kau tahu? Apa yang ada dihadapannya saat ini adalah yang paling membuatku tercengang.
Mari kita mengintip isi perbincangan kedua Kakak kami.
...----------------...
"Aku hanya merasa terlalu lama menunggu jawaban darimu."
"Oh, benar. Aku ... Sebenarnya ..."
"Kumohon, Janny. Kita akan segera berpisah setelah lulus SMA. Dan kau tahu itu, tentang aku yang akan senang melihatmu mengenakan cincin yang menegaskan bahwa kamu sudah dimiliki oleh seseorang."
Mata Janny terbuka cukup lebar sebelum meletakan tangannya di dada.
"Aku tahu itu, namun ... Aku masih perlu memikirkannya, tentang pertunangan ini."
Keizha memegangi pundak dia, dan secara alami itu akan membuat mata mereka bertemu dalam situasi yang berbeda.
...----------------...
Aku yang melihat itu melebarkan mata sebelum mendengar jawaban, "Iya" dari Kakak Janny sebelum menemukan seseorang sudah menangis di sampingku.
"Hei, Kyle? Ada apa?"
"Aku ... Aku tidak ..."
Oh, aku mengerti itu.
Dia pasti sedang sakit hati bukan?
Yah, meskipun aku tidak tahu bagaimana rasanya melihat seseorang yang dicintai direbut begitu saja──
Aku segera menghilangkan itu daei dalam pikiranku dan melihat Kyle sudah berjalan menjauh dari sana.
"Ah, tunggu!"
Semakin aku mengejar dia, dia berjalan semakin jauh.
Dia menuju ke suatu tempat yang cukup gelap di luar taman bermain itu.
Karena itu adalah sore hari, jadi masih ada cahaya yang meneranginya.
__ADS_1
Namun, aku merasakan itu sedikit hampa pada bagian tertentu.
Sampai kami tiba di sisi lain lokasi, maksudku kami menemukan pemandangan sungai di depan kami lalu kota yang terlihat indah ketika disinari cahaya sore matahari.
Nah, karena taman bermain itu terletak di tempat yang tinggi, jadinya semua yang aku lihat akan menjadi jelas.
Lalu, disana aku melihat seseorang sedang merenungi semua itu, Kyle yang menghela nafas panjang sebelum dia menyadari kehadiranku.
"Kamu datang kesini?"
"Iya, aku hanya khawatir kepadamu."
Aku yang merasa sudah terlibat dalam hal ini tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Meskipun Kyle menolak ku berulang kali.
"... Apakah ada yang bisa aku lakukan?"
"Kalau begitu, bisakah kamu mendekat?"
"Eh?"
Ketika aku menatap mata Kyle dan menaikan kepala.
"Tu-tunggu, apa maksudmu tadi?!"
U~n, tapi aku takan percaya jika Kyle yang menyuruhku melakukannya.
"Oh, aku hanya ingin kenyamanan. Lalu, tolong pinjamkan pahamu itu untuk menjadi bantal tidurku."
Jadi dia hanya ingin tidur untuk melupakan semua itu, ya?
Nah, aku pikir cara tersebut bisa digunakan, namun.
"Yakin? Aku tidak pernah mengatakan itu nyaman untuk digunakan, lho?"
Karena aku juga pertama kali melakukan ini.
Kyle menggangukan kepala sebelum dia menatap mataku dengan penuh harapan.
"Oke ... Lalu, emmm ... Tunggu sebentar ..."
Meskipun aku pada awalnya tidak akan menyangka akan melakukannya.
Tapi, tepat ketika dedaunan pohon di sekitar kami mulai berguguran.
Cahaya matahari tersebut kemudian menyinari kami yang sedang──
"Uh, seperti yang aku duga. Ini bahkan lebih nyaman dari yang ada dirumah."
"Sungguh?"
Kyle mengatakan, "Un." karena dia tidak bisa menggerak-gerakan kepalanya lebih jauh lagi.
Aku hanya menatap mata dia dari atas.
Nnn, aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi, tapi sepertinya aku sudah sangat mencapai batas untuk bisa bertahan sekarang.
__ADS_1
"Oh, wajahmu memerah, lho?"
"Tolong jangan dipikirkan!"