
Dan pada acara terakhir liburan kami.
"Duh, kalian pergi kemana saja sebelumnya?"
Kakak Janny dengan pipi yang sudah mengembung langsung memarahiku yang tidak kelihatan dari tadi.
Tunggu, bukan aku yang sebenarnya bersalah.
Tapi jika aku mengatakan bahwa Kyle lah yang membuat itu terjadi.
"Tolong maafkan dia. Aku mengajak Jean untuk pergi mencoba beberapa wahana tadi."
Kak Janny memandangi Keizha selama beberapa detik sebelum mereka berdua menggangukan kepala.
"Begini, ya ... Sebenarnya kami sudah memutuskan akan mengajak kalian ke biskop nanti, bukan?"
Aku dan Kyle bersama-sama menggangukan kepala.
"Maaf, karena ada urusan mendadak, jadinya kami harus membatalkan itu." (Keizha)
"Heh?!"
Ketika aku berusaha mendengarkan yang menjadi masalahnya.
Tunggu sebentar, jadi acara nonton film itu akan dibatalkan?
Sementara aku yang terlihat kebingungan, Keizha menyerahkan lembaran uang pada Kyle.
"Lalu, Kyle. Kamu tolong antar adik Jean untuk pulang ke rumahnya menggunakan kereta, mengerti?"
Kyle dalam ekspresi murung menggangukan kepala sebelum mengambilnya.
"Lalu bagaimana dengan kalian?"
Aku menanyakan itu ketika keduanya akan memasuki mobil.
"Kami akan pergi ke suatu tempat untuk membicarakan sesuatu dengan orang tuaku."
Keizha yang menjawab pertanyaanku.
"Apakah itu adalah masalah yang terlalu penting?"
Ya, aku mungkin tahu itu mungkin berhubungan dengan Kakak Janny yang menerima lamaran dari Keizha sebelumnya, dan sepertinya dia berniat mengajak Kakak Janny untuk pergi ke ...
"Eh?! Ke rumah orang tua?!"
Aku tidak tahu apa yang aku katakan, tapi kalimat itu lepas begitu saja dari mulutku.
Ketika aku melihat keduanya, maksudku kedua Kakak itu memandangiku heran.
"Aku ... Aku hanya salah berbicara ..."
"Oh, lalu ... Maafkan aku, Jean. Ah, Kakak merasa bersalah karena menyuruhmu pulang sendiri."
"Dia tidak sendiri, Kyle ... Tolong jaga dia, oke?"
__ADS_1
Dan dalam kalimat terakhir itu Keizha yang mengatakannya.
Kyle langsung mengepalkan tangan sebelum menarik pergelangan tanganku menjauh dari sana.
"Y-yah ... Begitulah ... Kami pergi sekarang, ya?"
Meskipun aku merasa ini tidak sesuai dengan rencana.
Kami yang pulang seperti ini, lalu kedua orang itu yang sepertinya memiliki rencana lain.
Ngomong-ngomong tentang acara pulang ini.
Yah, aku sudah terbiasa karena setiap sekolah aku menggunakan kereta untuk bisa sampai disana dengan cepat, tapi untuk pulang aku biasa melakukannya dengan berjalan kaki meskipun akan memakan waktu.
Sungguh, kalau harus mengatakannya, disini kebanyakan orang menggunakan alat transportasi umum untuk berpergian.
Tapi, mengabaikan hal itu.
Tidak terasa kami sudah sampai di stasion dan memesan tiket untuk masuk.
Pada waktu itulah, aku melihat Kyle menggelengkan kepala keras sebelum menyadari wajah khawatirku.
"Aku sudah baik-baik saja. Ngomong-ngomong maafkan aku yang sudah banyak merepotkanmu hari ini."
"Kyle ..."
Aku menatapnya dalam kalimat itu, tidak peduli bagaimana hasilnya, dia pada akhirnya menerima itu dengan lapang dada.
"Yah ... Meskipun aku masih merasa sakit hati karena idiot itu sungguh-sungguh melakukannya."
Nah, aku juga tidak menyangka pada akhirnya mereka sungguh merencanakan hal ini, meskipun sekarang masih hanya sebatas bertunangan.
"Pufff."
Ketika Kyle melihatku yang berusaha untuk menahan tawa dalam ekpresi kesal dia kepada Keizha.
"Aku serius kok."
"Etto, maafkan aku ..."
Kemudian kami memasuki gerbong kereta dan duduk di kursi panjang di sebelah kiri.
"Ngomong-ngomong, Kyle. Apa kamu beneran sudah merasa baik?"
Aku menatap dia dalam ekspresi khawatir.
Aku merasa dia perlu yang namanya istirahat dari mengalami kejadian itu di hari ini.
Tepat ketika aku mengatakannya, dia memintaku untuk menyiapkan sesuatu yang empuk.
"Etto ... Bisa kau katakan lagi?"
"Aku bilang tolong pinjamkan pahamu."
"WaawWwAaa ..."
__ADS_1
Aku hanya terkejut dalam kalimatku, tidak. Ini lebih dari itu!
Bukankah kamu baru saja menikmatinya tadi?! Untuk tidur di pangkuanku, ha?
"Aku merasa itu sungguh efektif untuk menghilangkan rasa lelahku. Entah kenapa ketika aku tertidur di bantal empukmu itu, aku mendadak teringat akan kenangan pada saat bersama ibuku yang berada jauh dari sini. Kalau kamu menolak aku juga tidak akan mempermasalahkannya, jadi ..."
Tunggu, ini?
"Boleh kok ..."
"Huh?"
Etto ... Mengabaikan Kyle yang terkejut, aku kemudian memperbaiki posisi duduk ku disana sebelum menyentuh halus pahaku.
"Silahkan ..."
Nah, ada kursi panjang di kereta itu dan karena tidak ada yang melihat kami melakukannya, yah ... Meskipun ada beberapa pengunjung di sudut gerbong saja, namun mereka terlihat hanya sibuk dengan ponsel mereka.
Pada akhirnya Kyle yang sudah lelah tertidur di pangkuanku dalam hitungan detik.
"Dia tidur seperti bayi."
Mengabaikan Kyle.
Oh, ngomong-ngomong masih ada beberapa waktu lagi sebelum kami tiba di tempat tujuan kami.
Nah, karena jaraknya lumayan, aku akan membiarkan dia istirahat sebentar sementara itu aku memeriksa ponsel pintar ku untuk mengkonfirmasi nomor seseorang.
...----------------...
Dalam pesan di ponsel.
• Lyon》 [Oh, Jean! Ini memang aku!]
• Jean》 [Ya, ngomong-ngomong aku sudah pulang.]
• Lyon》[Heh? Sungguh? Kalau begitu apakah kamu masih bersama dengan laki-laki itu?]
• Jean》 [Maksudmu Kyle?]
Lyon mengirim aku sebuah setiker cemberut.
• Lyon》[Katakan kepada dia bahwa aku adalah saingannya mulai dari sekarang.]
Heh? Apa maksud dia? Ketika aku berusaha untuk menanyai alasannya itu, tulisan offline langsung muncul di bawah nama akun dia.
Nah, karena itu yang menjadi pesan terakhirnya, pada akhirnya aku menunjukan obrolan itu kepada Kyle yang kemudian membuka matanya ketika tidur.
Aku kemudian melihat dia dalam ekspresi penuh kejutan setelahnya dan terlihat tertantang dalam hal lain.
Ugh, aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi?
── ── ──
Volume 3 - Game Plus School Chapter 61 [End]
__ADS_1