Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
First Trip 2


__ADS_3

Pukul 12 malam Atalie dan teman-temannya memutuskan untuk mendaki. Itu adalah jam yang tepat untuk melihat sunrise dan bluefire di puncak Ijen. Suhu yang semakin dingin menusuk kulit tak menyurutkan semangat mereka. Jaket tebal yang mereka kenakan tidak cukup untuk melindungi mereka dari suhu dingin.


Medan yang ditempuh tidak terlalu sulit bahkan untuk pemula seperti Atalie. Di antara mereka, Atalie lah yang lebih muda sehingga teman-teman Atalie selalu memastikan Atalie baik-baik saja. Atalie merasa aneh dengan perlakukan mereka karena di rumah ia adalah seorang kakak.


"Eh hati-hati." Tio menoleh melihat Atalie hampir terpeleset karena jalanan berpasir, ia mengulurkan tangan pada gadis tersebut.


"Nggak apa-apa." Atalie menolak uluran tangan Tio.


Tio terpaksa menarik tangannya kembali dengan perasaan kecewa. Sejak awal ia sudah menduga jika Atalie bukan gadis yang muda didekati. Namun dengan berkemah dan mendaki bersama seperti ini mereka jadi bisa lebih dekat. Tio berharap banyak pada momen yang belum tentu bisa mereka lakukan lagi setelah ini. Tio tak pernah punya kesempatan untuk mendekati Atalie. Umur boleh belia tapi pembawaan Atalie yang pendiam membuat orang-orang di sekitarnya merasa segan. Padahal sebenarnya Atalie banyak bicara saat bersama orang yang benar-benar akrab dengannya.


Sampai di pertengahan jalan mereka memutuskan untuk singgah sebentar di Kantin Ijen Miner yang menjual mie dan minuman hangat untuk para pendaki. Di meja juga sudah disediakan kerupuk untuk teman makan mie.


Atalie keheranan melihat teman-temannya memesan mie instan rebus padahal sore tadi mereka sudah makan mie instan.


"Atalie pesan apa?" Tanya Margie yang mendadak bertugas menjadi waiter, ia mengingat pesanan teman-temannya dan nanti akan menyebutkannya pada pemilik kantin.


"Teh aja."


"Yakin nggak mau pesan mie?" Seru yang lain.


"Mie disini enak loh." Tambah Alfi.


Atalie hanya menggeleng, dimana-mana mie instan pasti rasanya sama. Ia memilih mengeluarkan ubi yang mereka bakar tadi. Atalie sengaja membawa sisanya dalam kantong plastik.


"Wah nggak sabar lihat bluefire." Sukma menggosok-gosok kedua tangannya yang saling bertautan untuk mengurangi hawa dingin meskipun ia sudah memakai sarung tangan.


"Tapi kita lumayan cepat lho daki nya, baru satu jam udah setengah jalan." Juna menyalakan ponselnya untuk melihat jam.


"Normalnya emang segitu." Tio mentoyor kepala Juna hingga membuat lelaki berambut gondrong itu bersungut-sungut.


"Ini adalah suatu keajaiban karena Atalie bisa ngetrip bareng kita." Alfi mendongak ke atas langit yang penuh bintang seolah kehadiran Atalie benar-benar sebuah keajaiban.


"Terimakasih sudah mengajakku." Atalie menganggukkan kepala.


"Jangan terlalu formal gitu." Sukma menyikut lengan Atalie.

__ADS_1


Meskipun sedikit terkejut tapi akhirnya Atalie ikut tertawa bersama mereka.


"Aku mau ubi." Tio mencomot ubi bakar dari kantong plastik yang Atalie letakkan di atas meja.


"Kamu udah makan banyak tadi." Juna merebut ubi dari tangan Tio. "Nanti kentut terus lho."


"Emang makan ubi bikin sering buang angin ya?" Atalie bertanya ragu-ragu.


"Sama seperti kol dan sawi, ubi membuat produksi gas di usus meningkat." Jawab Alfi.


Pesanan datang mie instan rebus dengan asap yang masih mengepul membuat mulut mereka banjir air liur hanya dengan melihatnya.


"Mau coba nggak?" Sukma mendorong semangkuk mie miliknya ke dekat Atalie.


"Nggak usah Mbak." Tolak Atalie halus, ia tak pernah makan mie instan tengah malam. Bagaimana jika badannya bengkak besok karena kebanyakan makan.


"Percaya deh, mie warung itu rasanya beda."


Akhirnya Atalie menyendok sedikit mie dan kuah, ia meniupnya sebentar lalu melahap mie beraroma soto tersebut. Mata Atalie melebar, ucapan Sukma benar. Mie tersebut sangat berbeda dengan yang Atalie biasa buat di rumah.


Atalie mengangguk pelan, ia ingin makan lagi tapi itu bukan mie miliknya.


"Enak banget." Lirih Atalie.


"Pesan gih."


Walaupun Atalie akui mie itu enak tapi ia tak mau mengisi perutnya yang sudah penuh. Akhirnya ia hanya menyesap teh hangat dan ubi bakar yang sudah dingin.


"Cantik banget." Margi mendongak ke langit.


Pemandangan Milkyway menghipnotis mereka. Belum sampai di puncak tapi mereka sudah disajikan pemandangan indah seperti itu.



"Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang," Juna ikut melihat hamparan langit di atas mereka.

__ADS_1


Atalie terlihat kebingungan dengan kalimat Juna yang langsung disadari oleh Sukma.


"Itu salah satu ayat Alqur'an." Jelas Sukma.


Atalie ikut mendongak, pemandangan langit malam ini sangat menakjubkan. Sepertinya setelah ini sesekali ia harus melihat ke atas langit untuk mengagumi karya Tuhan yang amat indah.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju puncak Ijen lalu melewati jalan menurun untuk menyaksikan bluefire yang hanya ada dua di dunia. Satu lainnya berada di Islandia.


"Wah bagus banget." Seru mereka saat melihat bluefire setelah melalui perjalanan menanjak selama satu setengah jam lalu menurun. Perjalanan yang cukup melelahkan tentu setimpal dengan pemandangan tersebut.


"Kenapa bisa gitu ya?" Alfi mengajukan pertanyaan pada teman-temannya yang mungkin juga tidak tahu seperti dirinya.


"Ketika gas belerang dan oksigen bercampur pada suhu tertentu akhirnya menghasilkan lidah api berwarna biru seperti yang kita lihat sekarang." Atalie menjawab pertanyaan Alfi, sebelum kesini ia sudah lebih dulu mencaritahu tentang Ijen di Internet. Atalie tak mau perjalanan hanya ini akan menjadi sia-sia, ia harus mendapat pelajaran baru. Namun sekarang ia merasa telah banyak mendapatkan sesuatu dari pada yang dibayangkan.


"Wah kamu nggak tahu kalau ubi bikin kita kentut terus tapi kamu tahu soal bluefire." Puji Tio.


"Aku baca di internet." Atalie tak mau dipuji hanya karena hal seperti itu.


"Udah nyerah aja, dia nggak gampang dideketin." Bisik Margi.


"Mbah Kakung ku juga tahu kalau dia nggak gampang dideketin." Sungut Tio, dengan wajahnya yang tampan ia percaya diri untuk mendekati Atalie. Tio tidak tahu bahwa wajah tampan saja tak cukup untuk Atalie.


Matahari mulai mengintip dari balik pegunungan menghasilkan sinar jingga di cakrawala berpadu dengan birunya langit. Kehangatan kian merayap, semua mata menatap takjub pada ciptaan sang Tuhan.


"Gimana cara Allah menciptakan matahari yang indah banget kayak gini." Sepasang netra milik Alfi berbinar-binar.


"Itu di luar logika kita sayang." Juna menanggapi yang membuat Alfi tersipu karena dipanggil sayang. "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya . Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui."


"Itu ayat Alqur'an juga?" Tanya Atalie pada Sukma.


"Iya." Sukma mengangguk tanpa melihat Atalie, ia sedang menikmati pemandangan di hadapannya. Matahari mulai merangkak naik tapi mereka masih betah berada disana. Rasanya enggan untuk turun, pemandangan ini terlalu indah untuk diabaikan.


Mereka mengabadikan momen dengan kamera milik Juna. Dengan latar belakang kawah Ijen yang berwarna hijau kebiruan, mereka berpose di depan kamera.


Selagi berada disini mereka tak mau menyia-nyiakan waktu. Setelah ini mereka akan segera disibukkan dengan tesis sebagai tugas akhir.

__ADS_1



__ADS_2