
Khalid menepuk bahu Umar dari belakang, dari tadi ia lihat Umar melamun—sebenarnya Umar seringkali terlihat melamun sejak seminggu terakhir. Sebagai kakak, Khalid merasa ada yang aneh dengan Umar. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikiran Umar. Jika ada masalah maka Khalid bisa membantu Umar.
"Mas lihat kamu sering melamun, ada apa?" Umar meletakkan segelas teh di antara mereka, ia sengaja membuat dua gelas kopi untuk mengobrol dengan Umar.
"Nggak apa-apa Mas." Umar bahkan tidak sadar jika ia sering melamun. Entah sudah berapa lama Umar duduk di gazebo dengan pandangan kosong. Jika ada santri yang lewat dan menyapanya, Umar hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepala menjawab salam mereka.
"Jangan bohong, Mas tahu kamu dari bayi, Ummi juga minta Mas tanya ke kamu."
Sekarang pikiran Umar seperti sungai yang keruh setelah turun hujan—hujan yang tidak terasa menyegarkan justru membuatnya ingin berlindung. Namun ia bukan anak muda lagi yang pantas berlindung dari hujan lebat.
"Mas, sebenarnya terlalu terlambat untuk bilang ini tapi aku merasa nggak yakin dengan Hilya." Akhirnya Umar mengungkapkan sesuatu yang telah membuatnya gelisah.
Raut wajah Khalid berubah, senyumnya memudar. Bukankah sejak awal Umar memang tidak yakin terhadap Hilya tapi ia tetap melanjutkannya hingga prosesi khitbah dilakukan. Kini dua keluarga telah bertemu dan mereka tampak gembira kecuali satu orang yakni Umar.
"Apa maksudmu, kalian sudah melangkah cukup jauh." Khalid pikir Umar sudah selesai dengan kecamuk perasaannya. Ia juga berpikir Umar telah melupakan perasannya terhadap Aisyah—gadis yang beberapa waktu lalu tinggal bersama mereka.
"Apa yang harus aku lakukan Mas?" Umar menunduk dalam, melepas kopiah dan mengacak-acak rambutnya.
"Kamu lupa melibatkan Allah untuk hal sepenting ini hanya karena Abah dan Kyai Abizar sudah menentukan semuanya."
Umar mengangkat wajah menatap Khalid, ia merasa tertampar dengan kalimat itu.
"Mengapa kamu melibatkan Allah di akhir?"
Umar malu karena apa yang dikatakan Khalid benar adanya. Ia rutin mengisi kajian di masjid dan menjawab pertanyaan para jamaah tapi ia sendiri tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Umar tidak bisa menghilangkan keraguan dalam hati dan lupa melibatkan Allah.
"Astaghfirullah." Umar mencengkram pahanya, ia amat berdosa karena merasa bisa menyelesaikan semua ini tanpa doa. Tanpa sadar Umar telah menyombongkan diri menganggap ia bisa menghadapi ini.
"Berdoalah kepada Allah dan minta petunjuk." Khalid kembali memberi nasehat. Umar dilanda kebingungan yang luar biasa hingga lupa menyertakan Allah.
"Harusnya aku melakukan ini sejak awal."
"Sudahlah, Allah nggak akan marah karena kamu lupa, Allah sudah tahu jika manusia tempatnya salah dan lupa, semuanya belum terlambat." Umar menepuk punggung Umar untuk menguatkannya.
"Pikirkan sekali lagi, apakah kamu mampu menjadi suami untuk Ning Hilya, apakah kamu bisa membuatnya bahagia jika kamu memiliki perasaan pada gadis lain."
"Ning Hilya bilang nggak masalah dengan itu."
"Bukankah dia pantas menikah dengan laki-laki yang mencintainya, dia hanya akan menjadi bayang-bayang Aisyah kecuali kamu melupakan Aisyah dan belajar mencintai Hilya, keputusan itu ada di tangan kamu Umar, terlepas dari Abah dan Kyai Abizar, kamu yang akan menjalani pernikahan itu."
"Aku akan mencari jawabannya." Umar beranjak setelah meneguk teh hangat yang Khalid bawa hingga tandas. Setelah ini ia mungkin akan berada di masjid dalam waktu yang cukup lama.
Khalid menatap kepergian Umar, ia harap sang adik mendapat jawaban terbaik. Jawaban yang tak hanya disukai oleh Umar tapi paling penting Allah menyukainya. Apalagi yang bisa manusia perbuat jika bukan melakukan segala sesuatu yang Allah sukai.
Umar bergegas pergi ke masjid, berwudhu dan shalat dua rakaat. Tanpa terganggu oleh suara santri yang sedang mengaji bersama Zaid, Umar tetap berdzikir dan berdoa dengan khusyuk.
Umar memohon ampun karena telah menempatkan Allah di akhir padahal ia harus mengutamakan Allah dalam setiap hembusan napasnya.
"Ya Allah, berilah hamba rezeki berupa pernikahan yang Engkau sukai." Setetes kristal bening luruh ketika Umar memejamkan mata. Umar menahan tangisannya sekuat tenaga meski percuma, ia tetap terisak di tempat shalatnya.
Tidak ada yang bisa Umar lakukan selain mencari ridho Allah, itu adalah prioritasnya. Jika menikah dengan Hilya mungkin tidak akan terlalu sulit karena Hilya sudah paham betul tentang hak-hak suami dan istri dalam pernikahan. Sedangkan Aisyah belum mengerti soal itu, Umar harus mengajari nya banyak hal. Namun jika hati sudah jatuh, sesulit apapun pasti Umar akan menjalaninya dengan perasaan bahagia.
Umar berada di masjid hingga larut malam, ia baru keluar dari sana setelah mendirikan shalat tahajjud. Ia akan tidur sebentar karena paginya harus pergi ke kampus. Karena libur beberapa hari, Umar meninggalkan banyak pekerjaan maka ia harus pergi ke kampus di hari Minggu.
******
Para anggota komunitas jemaat Immanuel sudah berkumpul di depan gereja setelah melaksanakan kebaktian Minggu. Mereka membungkus beras, minyak dan gula ke dalam kantong plastik sebelum dibagikan pada orang-orang kurang mampu yang lewat di sekitar sana.
Di antara mereka terdapat satu orang yang berpenampilan berbeda. Aisyah mengenakan gamis merah muda dan jilbab berwarna senada.
"Kamu cantik sekali." Puji teman-teman Aisyah.
"Terimakasih karena kalian masih menerima aku untuk ikut kegiatan komunitas ini." Aisyah senang karena mereka masih mengizinkan dirinya ikut kegiatan padahal ia sudah memberitahukan akan keluar dari komunitas itu.
"Kamu bisa ikut kapanpun kamu mau." Tukas mereka.
"Jangan bilang ini pertemuan terakhir kita."
Aisyah menggeleng, walaupun tidak yakin akan sering bertemu tapi ia pasti bisa meluangkan waktu untuk mengobrol dengan mereka. Dulu minimal seminggu sekali mereka pasti bertemu, melakukan ibadah bersama atau kegiatan sosial lainnya.
__ADS_1
Berbeda keyakinan lantas tidak membuat mereka memutus pertemanan. Mereka juga sama sekali tidak menentang keputusan Aisyah. Itu adalah hidup yang Aisyah pilih dan mereka hanya bisa berharap yang terbaik untuknya.
"Aku kesana dulu." Aisyah mengambil tiga kantong plastik untuk diberikan pada pemulung yang berada di seberang jalan. Mereka berpencar di sekitar gereja menghampiri pedagang kaki lima, pemulung dan pengemis.
Aisyah menghampiri seorang ibu pedagang pinggir jalan, terdapat tumpukan sapu lidi di atas alas karung. Aisyah memberikan satu kantong plastik sembako pada pedagang tersebut.
"Matur nuwun Nduk."
"Sami-sami Bu, kami dari komunitas jemaat gereja Immanuel."
Pedagang tersebut berterimakasih berkali-kali bahkan matanya berkaca-kaca.
"Tangannya Ibu kenapa?" Aisyah melihat luka di punggung tangan ibu pedagang itu.
"Nggak apa-apa, ini biasa kena pisau waktu bersihin lidi dari daun kelapa nya."
"Saya obatin mau nggak Bu?"
"Nggak usah Nduk, ini hampir sembuh kok, biasanya saya kasih minyak tanah."
Aisyah baru tahu jika minyak tanah bisa menyembuhkan luka. Namun ia tetap mengambil kotak P3K di mobil untuk mengobati luka tersebut.
"Nduk e ini dokter ya?"
"Bukan, saya masih mahasiswi Bu." Aisyah mengoleskan luka yang sudah meradang dengan petroleum jelly yang bisa mempercepat proses penyembuhan.
Dari kejauhan Umar tidak sengaja melihat Aisyah sehingga ia menepikan motornya tepat di depan warung, sekalian membeli rokok disitu. Umar jarang merokok, hanya pada saat pikirannya kacau seperti sekarang ia ingin mengisi tubuhnya dengan asap tidak sehat itu.
"Itu lagi ada apa Bu?" Tanya Umar pada penjaga warung, jalanan menjadi sedikit macet di depan gereja.
"Mereka komunitas gereja yang lagi bagi-bagi sembako."
Setelah membayar sebungkus rokok, Umar keluar dari warung tidak lupa mengucapkan terimakasih. Sudah berapa lama Umar tidak bertemu Aisyah, ia merindukan pertanyaan-pertanyaan aneh Aisyah.
Umar melihat Aisyah mengobrol akrab dengan pedangan sapu lidi itu. Rupanya Aisyah mulai belajar berinteraksi dengan orang lain. Getaran itu kembali hadir di dada Umar, jantungnya berdegup dua kali lebih kencang. Getaran yang hanya bisa Umar rasakan saat bertemu Aisyah. Mungkin itu yang disebut cinta, Umar tidak tahu pasti.
"Ibu jual sapu lidi ya?"
"Iya."
"Seribu lima ratus."
Aisyah terkejut mendengar harganya yang begitu murah padahal cara membuatnya memakan waktu lama untuk menghasilkan satu ikat sapu lidi.
"Kalau gitu saya beli semua." Aisyah menyodorkan satu lembar seratus ribu pada ibu.
"Ini cuma 10 ikat Nduk, saya belum ada kembalian."
"Nggak apa-apa buat Ibu aja."
Ibu tersebut tertegun untuk beberapa saat, tangannya gemetar memegang seratus ribu yang hampir tidak pernah ia temui. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali melihat pecahan seratus ribu.
Aisyah mengambil 10 sapu lidi yang sudah diikat kencang agar lebih mudah saat membawanya. Mobil Aisyah berada di seberang jalan, ia meninggalkan kotak P3K karena tidak bisa membawanya sekaligus.
Aisyah kaget ketika ada tangan orang lain mengambil alih sapu lidi tersebut.
"Mas Umar?" Sejak kapan Umar berada disitu, Aisyah yakin dari tadi ia tidak melihat sosok Umar.
"Biar saya bantu bawa."
"Makasih Mas, mobil ku ada di depan gereja." Aisyah melebarkan senyum, apakah ia mimpi indah semalam hingga esok harinya bisa bertemu Umar. Karena Umar membantu maka Aisyah bisa membawa kotak P3K miliknya.
"Kamu memberikan semua uangmu pada penjual sapu lidi ini?" Tanya Umar ketika mereka telah menyebrangi jalan.
"Enggak, aku nggak punya banyak uang sekarang." Aisyah tidak bisa menghamburkan uangnya seperti dulu, jika papa nya masih memberinya kartu kredit pasti ia sudah menghabiskan semua uang cash di dompetnya.
"Kenapa?"
Aisyah menghela napas berat, "Papa dan Mama nggak ngasih uang lagi jadi aku udah nggak bisa menghamburkan uang."
__ADS_1
"Itu bagus buat kamu."
"Yah." Aisyah mengedikkan bahu, mungkin bagus untuk memperbaiki gaya hidupnya yang hobi belanja. "Kok kamu bisa tiba-tiba ada disini?"
"Saya mampir beli rokok di warung deket sini dan nggak sengaja lihat kamu."
"Wajah Mas Gus Ustadz Umar sedikit berubah padahal belum satu bulan kita nggak ketemu."
"Oh ya? memangnya wajah saya kenapa?" Umar menyentuh wajahnya.
"Kusut kayak cucian belum disetrika."
"Astaghfirullah," Umar memutar kepala bercermin pada jendela mobil Aisyah. "Cuma kamu yang berani bilang begitu."
Aisyah tertawa, jika terdengar oleh para santri di pondok pasti ia sudah dihujat habis-habisan belum lagi menjadi bahan gosip di belakang.
"Atalie!"
Aisyah dan Umar sama-sama menoleh ke sumber suara. Felix setengah berlari menghampiri Aisyah. Umar langsung memasang wajah garang mengingat Felix adalah cowok yang pernah mengganggu Aisyah dulu.
"Felix, udah semuanya?" Tanya Aisyah pada Felix.
"Udah, gimana kamu udah kasih ulasan buat produk parfum aku."
"Udah kok, aku kirim lewat email nanti." Aisyah benar-benar memakai parfum Felish selama seminggu ini untuk memberi ulasan. Meskipun tidak suka memakai parfum tapi Aisyah ingin melakukan yang terbaik sekaligus untuk permintaan maafnya pada Felix.
"Wah, kamu mengulasnya dengan serius."
"Ya, bikin produk itu nggak gampang jadi aku nggak mungkin main-main kasih ulasan, semoga bisa bantu kamu mengembangkan produk Felish ke depannya."
"Makasih ya, setelah ini kita mau makan di Osing King, kamu tahu kan selain terkenal sama Sanbeiji nya, olahan Hong Bak mereka juga enak."
"Iya aku tahu, Hong Bak mereka emang enak."
"Kamu mau makan Hong Bak, itu—" Umar menyahut, tadinya ia tidak mau ikut menimpali obrolan Aisyah dan Felix tapi mereka membahas soal makanan non halal bernama Hong Bak itu.
"Aku tahu, aku nggak ikut kok." Sahut Aisyah cepat agar Umar tidak salah paham.
"Eh sorry aku lupa." Felix menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.
"Jangan minta maaf." Balas Aisyah.
"Kalau gitu aku sama yang lain duluan ya." Felix melambaikan tangan dan segera pergi dari sana bergabung dengan anggota lain.
"Bukannya sebelumnya kalian bertengkar?" Umar ingat betul bahwa Aisyah mengatakan tidak akan pernah memaafkan cowok bernama Felix itu.
"Udah enggak, aku nggak mau menyimpan dendam, katanya itu nggak baik buat hati kita."
"Dia teman mu?"
"Dulu kami satu SMA dan sekarang Felix ada kerjasama dengan Papa ku jadi dibandingkan sama aku, dia lebih akrab sama Papa."
Umar manggut-manggut mendengar penjelasan Aisyah.
"Ngomong-ngomong waktu itu kamu ngobrol apa sama Papa kok Papa tiba-tiba kasih izin aku kembali ke rumah."
"Saya hanya mengatakan kalau kamu tinggal bersama keluarga ku di pondok pesantren."
"Cuma itu?"
"Sepertinya iya." Umar tidak mau memberikan cerita detail nya pada Aisyah. Yang penting sekarang Aisyah sudah bisa tinggal lagi dengan keluarganya.
Aisyah heran karena Umar bisa membuat papa nya yang keras kepala itu luluh hingga ia diperbolehkan tinggal di rumah lagi. Bahkan Jaya sama sekali tidak membahas soal Aisyah yang sekarang sudah memeluk Islam.
"Aku juga mau pulang."
"Iya." Umar juga sedang dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan pekerjaan di kampus.
Mereka berpisah di depan gereja siang itu, Aisyah masuk ke mobil sedangkan Umar menaiki motornya.
__ADS_1