
"Ma, aku izin keluar sama Khanza ya." Atalie menghampiri Renata yang sedang mengaduk adonan kue di dapur. Itu adalah kegiatan Renata sehari-hari, membuat kue adalah hobinya tapi sayangnya itu tidak menurun pada Atalie. Justru Atalie paling anti dekat-dekat dengan dapur. Jika Renata mahir membuat kue lain halnya dengan Atalie yang menggunakan penanak nasi saja tidak bisa.
Sejak kecil Renata mendaftarkan Atalie untuk mengikuti les renang, piano dan rangkaian les mata pelajaran di sekolah. Mungkin itu sebabnya untuk memasak Atalie sama sekali tidak bisa.
"Kok Mama bikin kue banyak banget?"
"Mau dikasih ke Tante Veve juga."
Atalie manggut-manggut, Veve adalah salah satu teman karib Renata. Atalie tidak ingat siapa saja teman mama nya, mungkin itu alasannya ia tak punya banyak teman.
"Sekalian bawain kue buat mereka." Renata mencuci tangannya lalu mengambil salah satu toples di kabinet untuk tempat Almond Oatmeal Cookies yang sudah ia buat.
"Aku yang susun ya." Atalie menyusun cookies pada toples.
"Sama Khanza aja?" Renata melanjutkan aktivitasnya mengaduk adonan, ia akan membuat satu jenis kue kering lainnya sebagai persediaan camilan di ruang tamu. Renata bisa saja membeli kue di toko tapi ia memilih membuatnya sendiri.
"Ayana juga." Atalie mencomot satu cookies dan melahapnya.
"Mau kemana?"
"Ke Mall, kok Mama nggak jual kue aja sih?"
"Jual kue itu nggak gampang, kalau banyak yang suka pasti nanti permintaan makin banyak terus butuh karyawan, iya kalau mereka bisa bikin kue yang rasanya sama kalau enggak?"
Atalie nyengir, ia tidak berpikir sejauh itu.
Renata memasukkan toples tersebut ke dalam paper bag dan menyodorkannya pada Atalie.
"Mereka pasti seneng banget dibawain kue, aku berangkat ya." Atalie menenteng paper bag sedangkan tangannya yang lain asyik memainkan kunci mobil.
"Hati-hati." Pesan Renata entah Atalie mendengarnya atau tidak karena anak itu sudah menghilang.
Selain Mall, Atalie juga akan pergi ke kajian bersama Ayana dan Khanza. Mereka bersikeras mengajak Atalie untuk ikut kajian ustadz Hamzah. Sebenarnya Atalie tidak tertarik pada ustadz yang katanya tampan itu, hanya saja Atalie merindukan suasana masjid.
"Kalau ketemu Mas Umar di masjid, berarti dia jodoh aku." Atalie mentertawakan perkataannya sendiri. Ia mengatakan itu karena tidak mungkin bertemu Umar di masjid sebab hari ini adalah jadwal kajian Hamzah.
Mobil Atalie berhenti di tempat parkir pusat perbelanjaan, Ayana dan Khanza sudah menunggu di dalam. Atalie menyambar jilbab di kursi samping lalu memasangnya.
__ADS_1
"Nyaman banget." Atalie turun dari mobil setelah mengenakan jilbab, ia ingin menyamakan penampilan dengan Ayana dan Khanza. Ia mengenakan rok dan kemeja serta jilbab hitam—satu-satunya jilbab yang ia punya.
"Ya ampun sampai pangling." Ayana menepuk bahu Atalie di lobi mall, ia dan Khanza mencari-cari Atalie sejak tadi.
"Ini bukan pertama kalinya aku pakai jilbab." Sungut Atalie, bahkan Ayana selalu mendandaninya dengan jilbab banyak gaya.
"Aku tahu tapi hari ini kamu cantik banget." Puji Khanza.
"Ayo ah jalan." Atalie menarik tangan Ayana dan Khanza menuju lantai dua. Atalie akan membeli tas baru berbahan keras sesuai saran Umar waktu itu. Atalie merasa tersentuh karena Umar begitu perhatian, atau dirinya saja yang terlalu PD karena Umar memang lelaki yang baik.
"Selamat sore Kak, ada yang bisa saya bantu?" Seorang karyawan bertanya dengan ramah ketika Atalie dan dua temannya menghampiri salah satu store brand ternama di pusat perbelanjaan tersebut.
"Saya ingin tas dengan bahan kuat dan keras." Kata Atalie dengan yakin, meskipun itu terdengar aneh tapi ia tetap menyebutkan tas yang diinginkannya pada karyawan wanita tersebut.
"Ini adalah tas dengan bahan kuat dan tidak mudah rusak." Ia menunjukkan salah satu tas selempang berwarna putih pada Atalie.
Atalie meraba permukaan tas tersebut, "ya sudah ambil ini." Tanpa ba-bi-bu ia memutuskan untuk membelinya. Sebenarnya banyak tas lain yang terpajang dengan berbagai warna dan model. Semuanya bagus tapi tujuan utama Atalie adalah membeli tas yang keras.
"Mau lihat model lain?"
"Baik, tunggu sebentar."
"Kamu lagi nyari tas atau bahan bangunan sih?" Ayana menyikut lengan Atalie.
Atalie hanya tersenyum membuat dua temannya kebingungan. Jika mengingat kalimat Umar waktu itu, Atalie ingin terus tersenyum. Namun Atalie tidak mau menceritakannya pada Ayana dan Khanza.
Setelah mendapat satu tas, mereka lanjut pergi ke toko yang menjual baju muslim. Atalie membeli beberapa jilbab walaupun belum tentu ia bisa memakainya, Atalie hanya ingin mengoleksi mereka.
"Ganti yang ini deh, coba." Khanza menyodorkan jilbab pashmina merah muda yang senada dengan rok Atalie.
"Sebenarnya aku nggak bisa pakai yang panjang ini." Atalie ragu melihat jilbab pilihan Khanza.
"Ini bagus lho, lagian kamu pakai rok merah muda masa jilbabnya hitam sih, nggak cocok."
"Nanti aja aku ganti di mobil, yang penting dibeli dulu." Atalie tahu jika penampilannya aneh, itu karena ia hanya punya satu jilbab.
Ayana dan Khanza juga membeli jilbab walaupun niat awal mereka untuk menemani Atalie tapi pada akhirnya mereka tak dapat menahan diri.
__ADS_1
Karena keasyikan berbelanja mereka hampir lupa untuk pergi ke kajian. Atalie meletakkan barang belanjaannya di bagasi lalu menancap gas sementara Ayana dan Khanza menaiki motor mereka masing-masing.
Jarak mall dengan masjid tidak terlalu jauh, hanya 10 menit dengan kecepatan tinggi. Untungnya lalulintas tidak padat sore itu. Atalie menyampirkan jilbabnya asal sebelum turun dari mobil.
"Eh!" Atalie memekik ketika jilbab nya melayang tertiup angin. Selain bahan pashmina tersebut yang memang licin, Atalie juga tidak bisa menggunakan jarum pentul seperti yang Ayana dan Khanza biasa lakukan.
Atalie celingukan mencari jilbab nya yang jatuh, rupanya angin sore ini cukup kencang hingga bisa menerbangkan jilbabnya.
"Ini punya mu?"
Atalie membalikkan badan mendengar suara seseorang yang sangat familiar di telinganya, tidak, bahkan aromanya langsung dikenali oleh Atalie. Aroma musk yang maskulin tapi manis pada saat bersamaan.
"Mas Umar?" Atalie membelalak, dari pada mengambil jilbab yang berada di tangan Umar, ia lebih memilih untuk mengkondisikan suasana hatinya atau debaran jantungnya agar tidak melompat keluar. Atalie ingat ucapan iseng nya tadi, jika ia bertemu dengan Umar hari ini berarti mereka berjodoh.
"Ini jilbab mu?" Tanya Umar sekali lagi meskipun ia tahu kalau itu memang jilbab milik Atalie. Siapa lagi yang begitu ceroboh menjatuhkan kain penutup kepala itu jika bukan Atalie.
Atalie mendadak panas dingin melihat penampilan Umar. Umar mengenakan sarung batik berwarna hitam dan baju koko putih persis seperti sosok pria dalam mimpi Atalie.
Atalie memperhatikan Umar dari atas hingga bawah, tidak salah lagi, pria dalam mimpinya memang Umar. Bedanya sekarang Umar tengah menyodorkan jilbab bukan bunga mawar putih.
"Temanmu bilang kamu nggak boleh pergi ke kajian lagi." Umar menurunkan tangannya karena Atalie tidak segera menerima jilbab tersebut. Gadis itu hanya melongo sampai lupa berkedip.
"Kok Mas Umar ada disini, katanya hari ini jadwalnya Ustadz Hamzah." Atalie mengabaikan pertanyaan Umar.
"Jadi kamu kesini mau ikut kajian Ustadz Hamzah?"
"Iya, Ayana dan Khanza mengajak ku, katanya Ustadz Hamzah ganteng, eh maksud aku—" Atalie tak bisa berpikir jernih memikirkan Umar yang hadir dalam mimpinya.
"Itu alasan mu ikut kajian? karena Ustadz nya tampan?"
"Bukan-bukan." Atalie gelagapan walaupun ia memang tidak berniat melihat ustadz yang katanya tampan itu. Jelas lelaki di hadapannya sekarang jauh lebih tampan—setidaknya di mata Atalie.
"Saya permisi dulu." Umar melenggang pergi meninggalkan Atalie yang masih terpaku di tempatnya.
Atalie melihat punggung lebar Umar semakin menjauh lalu menghilang di balik pintu masjid. "Jilbab aku!" Ia baru sadar jika Umar membawa jilbab nya.
Tanpa sadar Umar mengepalkan tangannya kuat bersama jilbab Atalie di tangannya. Alisnya bertaut sedangkan wajahnya merah padam ketika memasuki masjid. Beberapa jamaah laki-laki yang melihatnya langsung menunduk tidak berani menyapa Umar.
__ADS_1