
Bunyi klakson terdengar memburu mengejutkan satpam yang ketiduran di pos dekat gerbang. Pria berusia 50 tahunan itu terperanjat berlari keluar untuk membukakan gerbang meski dengan mata masih setengah terbuka.
"Pak tolong masukin mobil saya ya." Aisyah keluar dari mobil dengan terburu-buru.
"Lho Ci Atalie baru aja keluar kok udah pulang?" Satpam tersebut baru bisa membuka mata sepenuhnya setelah mendengar suara Aisyah.
"Iya, nggak jadi, tolong ya Pak." Aisyah berlari melewati halaman rumahnya.
"Iya saya masukin mobilnya, kok buru-buru mau beol ya Ci?" Satpam melihat punggung mungil Aisyah semakin menjauh, ia sudah lama bekerja untuk keluarga Jaya sehingga tahu kebiasaan Aisyah. Dulu waktu kecil setiap pulang sekolah Aisyah selalu buru-buru masuk ke rumah karena kebelet BAB.
"Pak, iler nya di dagu itu bersihin!" Aisyah setengah berteriak dari pintu rumahnya.
"Si Cici pakai lihat iler saya segala lagi." Ia mengusap dagunya yang basah oleh liurnya sendiri sebelum memasukkan mobil Atalie ke garasi.
"Mama!" Aisyah mencari mama nya ke taman belakang. Biasanya saat pagi hari Renata berada di taman untuk menyirami tanaman hias atau memberi makan ikan. "Mama."
"Apa sih Atalie." Renata memutar badan mendengar suara Aisyah ribut memanggilnya. "Baju kamu kenapa kotor gitu sih?"
"Ma, aku mau bicara serius." Aisyah menghampiri Renata di pinggir kolam. Ikan-ikan koi dengan berbagai corak naik ke permukaan ketika Renata melempar pakan.
"Ganti baju dulu gih, bau lumpur." Renata mendorong punggung Aisyah agar mengganti pakaian lebih dulu.
"Ma yang mau aku bicarakan jauh lebih penting dari baju."
"Apa sih, kamu hamil?" Tanya Renata asal.
"Astaghfirullah Ma, nikah aja belum!" Aisyah menghentakkan kakinya.
"Anaknya Tante Veve kemarin tiba-tiba ngasih tahu kalau dia hamil jadi langsung ngadain pernikahan Minggu depan."
"Mama tahu dosen aku yang pernah kesini waktu itu?" Aisyah duduk di samping mama nya menggantungkan kaki ke kolam.
"Kenapa?"
"Ma, dia bilang mau nikahin aku." Mata Aisyah berbinar-binar saat mengatakan itu, ia masih ingat setiap kata yang Umar ucapkan dan itu sangat mendebarkan.
"Kenapa dia mau nikahin kamu, memangnya kamu hamil anak dia."
"Ih Mama, aku nggak hamil."
"Terus kenapa dia tiba-tiba mau nikahin kamu?"
"Sebenarnya aku udah lama suka sama Mas Umar tapi dia kelihatan nggak peduli, barusan tiba-tiba dia bilang mau kesini sama Abah dan Ummi untuk melamar ku."
__ADS_1
"Kamu masih kecil gini mau nikah?"
"Sebentar lagi aku 24 tahun." Aisyah mengingatkan mama nya untuk kesekian kalinya bahwa ia bukan lagi anak kecil.
"Kamu pikir nikah itu gampang, kamu masak mie instan aja nggak bisa." Renata belum mengajari Aisyah soal memasak atau pekerjaan rumah tangga lainnya. Itu adalah kesalahannya tapi Renata tidak pernah menduga jika Aisyah akan menikah muda. Renata sudah memperkirakan Aisyah akan menikah di usia 30 tahun setelah karirnya sukses.
"Siapa bilang aku nggak bisa masak mie instan." Aisyah pernah mencoba masak mie instan di tempat kos Gracia walaupun itu gagal. Namun setidaknya ia pernah mencoba. Lagi pula ia termasuk orang yang mempelajari sesuatu dengan mudah.
"Terus kamu mau kasih makan suami mu mie instan setiap hari?"
"Nggak lah Ma."
"Lagian kamu belum wisuda."
"Bulan depan aku udah wisuda, aku juga udah punya rencana buka butik setelah wisuda."
"Mari bicarakan ini dengan Papa, pernikahan itu sekali seumur hidup, kamu harus pikirkan matang-matang." Renata beranjak dari sana setelah puas memberi makan ikan.
Aisyah masih termenung tak percaya jika Umar benar-benar akan melamarnya. Ia sudah mau menyerah karena kabarnya Umar dan Hilya akan segera menikah.
"Allah benar-benar ajaib." Aisyah menengadah ke atas langit biru. Mendung yang semalam menggantung perlahan menghilang hingga langit terlihat sepenuhnya.
Aisyah tak berani berdoa untuk meminta Umar pada Allah, ia hanya sering membisikkannya dalam hati dan berandai-andai. Namun Allah tetap mengetahui apapun meski itu tersembunyi di balik hati manusia.
"Kenapa kita nggak tukeran nomor telepon, aku bahkan nggak tahu jam berapa dia mau kesini." Aisyah beranjak dari sana menuju kamarnya untuk ganti baju. Kemarahannya reda seketika setelah mendengar ungkapan perasaan Umar. Ia bahkan tidak bisa berhenti tersenyum.
Sementara itu Renata, Jaya dan Daniel melakukan kebaktian pagi seperti rutinitas mereka biasanya. Setelahnya mereka akan sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Mereka semua adalah orang yang sibuk, tidak ada waktu senggang bahkan saat akhir pekan.
"Jadi benar Umar akan melamar mu?" Jaya menatap lurus pada Aisyah di balik kacamata tebal yang bertengger di tulang hidungnya.
"Iya Pa, Mas Umar bilang dia akan kesini untuk melamar ku." Jawab Aisyah dengan wajah berseri-seri. Semburat merah terlihat di pipinya sejak ia sampai di rumah.
"Hah, Kakak mau dilamar, kok bisa Mas Umar mau sama Kak Atalie?" Daniel menjulurkan lidahnya jahil pada Aisyah.
Aisyah menendang kaki Daniel karena telah bicara sembarangan.
"Memangnya kamu siap?" Tanya Jaya lagi.
Aisyah mengangguk, bagaimana mungkin ia tidak siap dilamar oleh lelaki yang sudah ia sukai sejak lama.
"Baiklah, suruh Umar datang."
"Papa setuju?" Renata tak percaya Jaya langsung mengizinkan Umar datang.
__ADS_1
"Kenapa enggak?" Jaya mengedikkan bahu menikmati sarapannya pagi ini.
"Tapi kan Pa—"
"Umar pria yang baik, dia juga mapan dan lancar berbahasa Mandarin."
"Papa selalu terobsesi sama orang yang mahir berbahasa Mandarin." Renata mendengus kesal, pertimbangan Jaya terhadap calon suami Aisyah sangat tidak masuk akal.
"Itu sudah cukup untuk Papa menerima Umar."
"Pa, menikah itu nggak gampang, Atalie juga harus belajar banyak hal, Papa tahu sendiri Atalie nggak tahu apa-apa soal menikah."
"Atalie punya kita, orangtuanya yang selalu siap berada di sisinya, jika pernikahan adalah hal yang sulit maka kita akan membuatnya menjadi mudah."
Aisyah terperangah, melihat papa nya langsung memberi izin seperti sebuah keajaiban. Ia tak pernah melihat papa nya begitu mudah menyetujui keinginannya.
"Kok Papa langsung setuju?"
"Papa sudah membicarakan hal ini dengan Umar."
"Kapan Pa?"
"Waktu dia antar kamu kesini."
Sepasang mata Aisyah melebar, jadi Umar sudah pernah mengatakan niatnya tersebut pada Jaya. Aisyah sama sekali tidak tahu tentang itu. Mungkin itu sebabnya Umar tidak mau memberitahu saat Aisyah menanyakannya.
"Saat itu Umar mengatakan dia menyukaimu."
Aisyah menahan senyum, dari pada mengungkapkan perasaan terhadap dirinya Umar lebih memilih mengatakan itu pada Jaya. Umar melakukan jurus pendekatan langsung pada Jaya.
"Papa pernah bilang kalau aku harus menikah dengan sesama Chinese."
"Sekarang itu nggak jadi masalah, lagi pula kamu sekarang sudah berbeda." Ada raut kesedihan di wajah Jaya ketika mengatakan itu tapi ia segera menutupinya dengan senyum dan melanjutkan makan. "Hari ini Papa akan pulang lebih awal."
"Tapi aku belum tahu jam berapa Mas Umar kesini."
"Jam 2 siang dia bilang." Jaya mengacungkan ponselnya.
"Papa punya kontaknya Mas Umar?" Aisyah dibuat terkejut untuk kesekian kalinya. Ternyata Umar sudah lebih dulu mendekati Jaya dibandingkan Aisyah. Aisyah merasa kalah telak dari papa nya sendiri. Ia juga tidak punya alasan untuk meminta nomor telepon Umar lebih tepatnya ia gengsi minta duluan.
"Kamu nggak punya?" Tanya Renata tak percaya.
Aisyah menggeleng.
__ADS_1
"Gimana sih mau menikah kok nggak punya kontak masing-masing." Gerutu Renata seraya mengunyah suapan terakhir.
Aisyah hanya nyengir mendengar ejekan mama nya. Mereka bisa bertukar nomor setelah bertemu nanti asal Umar yang memintanya lebih dulu.