
Para santri berbaris rapi di sepanjang gerbang hingga halaman rumah Zaid dengan pakaian putih dan sarung khas anak santri. Mereka menyambut kedatangan Umar dan Aisyah disiang yang terik.
Ketika mobil Aisyah mulai bergerak perlahan memasuki area pondok, tabuhan rebana dan shalawat dikumandangkan dengan kompak.
Aisyah terperangah melihat pemandangan tidak biasa itu, ia terkejut karena disambut begitu meriah oleh mereka semua. Ia dan Umar sudah seperti pejabat negara yang mendatangi suatu daerah.
"Kenapa kita disambut seperti ini Mas?" Aisyah melihat ke kanan dan kiri dimana para santri berdiri menunduk takzim.
"Selamat datang di rumah kami, Aisyah." Umar tersenyum lebar turun dari mobil lebih dulu.
Aisyah tak percaya bahkan ketika Umar membukakan pintu mobil, ia masih bengong.
"Kamu masih ingat siapa saja yang boleh bersentuhan dengan mu?" Saat perjalanan kesini Umar menjelaskan tentang siapa saja yang menjadi mahram untuk mereka sehingga Aisyah tidak sembarangan berjabat tangan dengan lawan jenis.
"Abah, Ummi, Mbak Khawla, Mas Umar dan santri perempuan."
"Benar, selain itu cukup letakkan dua tangan di depan dada."
Aisyah mengerti.
"Aku akan menjelaskannya lagi nanti."
"Aku sudah mengerti Mas." Aisyah meyakinkan Umar juga ia sudah paham tentang mahram. Ia pernah belajar sebelumnya hanya saja kadang lupa karena belum terbiasa.
"Assalamualaikum, Ummi Abah." Umar mencium tangan orangtuanya begitupun dengan Aisyah.
"Waalaikumussalam, selamat datang Aisyah." Maryam memeluk Aisyah dengan penuh kasih sayang.
Aisyah agak terkejut dengan perlakuan spesial ini, disambut dengan barisan para santri ditambah hadrah yang sangat meriah. Apakah karena statusnya sudah berganti menjadi istri Umar. Beberapa waktu lalu ia hanya seorang biasa yang bahkan tidak tahu apa itu pondok pesantren.
Para santri membubarkan diri setelah Zaid dan keluarganya masuk ke kediaman.
"Antar Aisyah ke kamar mu." Pinta Maryam pada Umar, itu juga akan menjadi kamar Aisyah mulai hari ini.
"Baik Ummi." Umar mengajak Aisyah menuju kamarnya. Rumah itu tidak luas, ada 4 kamar yang jauh dari kata mewah. Jika dibandingkan dengan asrama santri, rumah itu justru sederhana. Kamar-kamar itu ditempati Zaid dan Maryam, Umar serta Ali, menyisakan satu kamar kosong yang dulu sempat ditempati Aisyah selama satu bulan. Khalid dan Khawla serta anak mereka berada di bangunan yang terpisah di belakang rumah tersebut.
Aisyah meletakkan tas selempang dan paper bag begitu sampai di kamar Umar. Kamar itu tidak beda jauh dengan kamarnya saat tinggal disini dulu. Tempat tidur yang menempel ke sisi dinding, lemari kayu dan meja belajar sekaligus rak buku yang sudah tidak muat menampung barang lain. Di samping meja belajar terdapat pintu yang menghubungkan kamar mandi. Tidak ada AC, hanya kipas angin kecil di sudut ruangan. Jika Renata masuk kamar itu mungkin ia akan mengatakan, bagaimana seseorang bisa bernapas di ruangan sempit ini. Namun walaupun tidak seluas kamar Aisyah, kamar tersebut sangat nyaman.
"Kamu terkejut melihat kamar mu, Aisyah?" Umar menyeret koper Aisyah meletakkannya di dekat lemari, ia tidak punya banyak pakaian jadi lemari itu masih muat menampung baju Aisyah.
"Nggak Mas, kamar ini nggak jauh beda dari kamar yang aku tempati dulu."
"Luas seluruhnya sama seperti kamar mandi mu."
"Aku juga merasa kamar mandi itu terlalu luas."
Umar tersenyum, alih-alih mengatakan kamar ini terlalu sempit Aisyah justru mengatakan kamar mandinya yang terlalu luas.
"Tapi Mas, aku pernah masuk asrama putri bareng Hana, kamar mereka lebih bagus dari ini."
"Abah dan Ummi memang mengutamakan santri, kami terbiasa hidup sederhana sejak kecil."
"Aku suka kamar ini."
"Kenapa?"
Aisyah melebarkan senyum melangkah mendekat memeluk Umar.
"Karena ini kamar Mas Umar yang juga jadi kamarku." Mata Aisyah berkaca-kaca, ia hanya belum percaya bisa berada satu kamar dan bahkan memeluk Umar.
Umar ikut tersenyum mengecup bibir Aisyah sesaat.
Mereka bersiap mendirikan shalat dhuhur di musholla bersama yang lain. Salah satu rutinitas yang Aisyah rindukan ketika berada di pondok. Sekarang ini sudah menjadi tempat tinggalnya. Lingkungan pondok yang asri sudah membuat Aisyah betah sejak ia pertama kali kesini.
"Manis sekali." Gumam Umar ketika ia dan Aisyah keluar dari masjid usai shalat dhuhur.
Aisyah menoleh tidak mengerti, apanya yang manis? mereka tidak sedang memakan sesuatu yang manis.
"Senyum mu, kenapa kamu tersenyum manis sekali."
"Aku senang, bisa keluar masjid berjalan beriringan dengan mu, dulu aku cuma bisa lihat punggung lebar Mas Umar dari jauh tapi sekarang aku disini."
"Kamu juga bisa memeluk punggung lebar ini."
"Aku ingin tapi nggak bisa."
"Kenapa?"
"Banyak orang."
"Kalau gitu, begini saja." Umar diam-diam meraih tangan Aisyah dan menggenggamnya lalu keduanya tersenyum saling berpandangan penuh cinta. Dunia serasa milik berdua, dunia mereka penuh dengan bunga bagai musim semi meskipun Indonesia tidak memiliki musim tersebut tapi tak ada yang tidak mungkin bagi dua orang yang saling jatuh cinta.
Langkah Aisyah terhenti ketika mendapati mobil lain terparkir di halaman rumah, itu mobil yang tidak asing.
"Itu mobil-"
"Itu mobil keluarga Kyai Zaid." Umar mempercepat langkah diikuti Aisyah.
Aisyah tertegun melihat seseorang yang duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
Aisyah terkejut melihat Hilya sangat berbeda dari terakhir kali ia bertemu. Tubuh Hilya terlihat kurus dan ringkih, matanya cekung sedangkan kulitnya putih pucat.
"Ning Hilya," Umar bersuara lebih dulu, "kenapa datang kesini?" Ia yang akan menjenguk Hilya bersama Aisyah nanti. Apalagi kondisi Hilya terlihat belum membaik, ia tidak perlu datang.
Hilya tersenyum tipis di balik cadarnya beranjak mengulurkan tangan pada Aisyah.
"Selamat ya untuk pernikahan mu dan Gus Umar."
Tangan Hilya begitu dingin ketika Aisyah menggenggamnya.
"Terimakasih tapi Ning Hilya tidak perlu datang apalagi saya dengar kalau Ning Hilya masih dirawat di rumah sakit." Aisyah mengajak Hilya duduk.
"Benar Ning, saya berencana mengajak Aisyah untuk menjenguk Ning Hilya."
"Saya harus datang untuk memberi selamat." Hilya menatap Aisyah dan Umar bergantian, tatapan yang teramat dalam. "Takut tidak sempat." Hilya meletakkan paper bag di atas meja. "Ini untuk mu, saya dengar kamu mahir menjahit."
"Ning sungguh tidak perlu memberi hadiah." Aisyah makin tidak enak.
"Itu adalah kain batik, Aisyah bisa membuat baju pasangan, batik itu akan terlihat indah jika Aisyah yang menjahitnya."
"Batik ini sudah terlihat indah bahkan sebelum dijahit, terimakasih Ning Hilya sudah datang bahkan membawa hadiah untuk kami."
"Saya yakin pernikahan kalian akan dipenuhi keberkahan." Setetes kristal bening membasahi pipi Hilya, tidak ada yang tahu, hanya ia yang merengkuh sakit itu seorang diri. Mau bagaimana lagi, bukankah takdir Allah tak pernah buruk, sekalipun tidak pernah. Maka Hilya hanya bisa mengikhlaskan lelaki yang ia cintai bersanding dengan wanita lain. Lagi pula Umar terlihat amat bahagia sekarang. Jika bersamanya, mungkin Umar akan tersiksa.
Aisyah tidak mengatakan apapun, ia hanya bisa memeluk Hilya. Memberi nasehat untuk menguatkan Hilya pun rasanya tidak pantas. Setidaknya kalimat itu tak pantas keluar dari mulut Aisyah.
"Jangan sekalipun merasa bersalah, kamu memang ditakdirkan untuk menjadi istri Gus Umar." Gumam Hilya.
"Saya tidak pernah bertemu gadis sebaik Ning Hilya, sekarang saya mengerti kenapa Abah dan Ummi menginginkan Ning Hilya untuk menjadi menantu mereka."
Hilya mengurai pelukan dan menangkup pipi Aisyah. Keduanya berderai air mata. Umar yang melihat pemandangan itu tidak sanggup bertahan lebih lama, ia beranjak dari sana. Umar tak kuasa melihat Hilya tersiksa dan Aisyah yang merasa bersalah.
"Abah dan Ummi akan memperlakukan mu dengan baik, semoga kamu Istiqomah menggenggam agama Allah, kamu akan menjadi istri dan ibu yang luar biasa."
"Semoga Ning Hilya segera pulih, nanti kita ketemu lagi."
"Mungkin butuh waktu lama untuk bertemu lagi."
Aisyah menggeleng, "saya mengerti Ning Hilya pasti sibuk tapi Mas Umar dan saya akan datang ke Lumajang."
"Baik, bawakan oleh-oleh khas sini."
Aisyah tersenyum menggenggam tangan Hilya yang kurus. Ning Hilya putih sekali, bahkan mengalahkan Aisyah yang berdarah Chinese.
"Tentu."
Maryam mengajak Hilya dan dua orang yang menemani makan bersama. Kebetulan sudah waktunya makan siang. Abdi dalem sudah menyiapkan makanan di atas meja.
"Rencananya Ning Hilya mau lanjut S2 atau belum kepikiran?" Zaid bertanya.
Hilya mengangkat wajah meletakkan sendoknya, ia kesusahan memotong daging rendang di piringnya.
"Saya tidak akan melanjutkan S2 Abah Yai."
"Lalu?"
"Belum ada rencana."
Aisyah meletakkan suwiran daging rendang ke piring Hilya.
"Oh, terimakasih Aisyah." Hilya tidak tahu jika ternyata Aisyah memperhatikannya.
Aisyah menjawabnya dengan senyuman, tenaga Hilya pasti belum kembali. Bekas jarum infus bahkan masih terlihat jelas di tangan Hilya. Aisyah mencoba membantu sebisanya.
******
"Saya pamit pulang Ummi, Abah." Hilya mencium tangan Maryam dan berpelukan sebentar. "Gus Khalid, Ning Khawla, Gus Ali, saya pamit." Katanya lagi.
"Hati-hati di jalan Ning." Ucap mereka.
"Gus Umar, saya pamit." Hilya menatap Umar sekali lagi, tatapan dalam yang menyiratkan kesedihan tapi ia harus bahagia karena Umar pun terlihat begitu.
"Hati-hati di jalan, sampai rumah tolong kabari kami."
Hilya mengangguk, "saya pamit, Aisyah."
"Terimakasih Ning sudah datang, nanti saya akan berkunjung dan membawa bagiak dari sini."
Hilya memeluk Aisyah sekali lagi, lebih lama.
Aisyah menggenggam tangan Hilya enggan melepasnya, entah kenapa. Ini baru kali kedua mereka bertemu. Sebelumnya mereka juga tidak pernah mengobrol. Namun hari ini Aisyah merasa sangat akrab dengan Hilya, bukan karena rasa bersalah atau kasihan. Aisyah justru mengagumi sosok Hilya yang begitu tegar datang dan memberi selamat. Jika Aisyah berada di posisi Hilya mungkin ia tak akan sekuat itu.
Hilya melepas genggaman Aisyah lebih dulu, ia merogoh sesuatu di dalam tasnya.
"Ini untukmu, kamu bisa memakainya sesekali." Itu adalah cadar tali milik Hilya yang belum pernah dipakai. "Itu jenis cadar yang saya suka, mungkin terasa asing untuk mu tapi semoga nanti kamu juga suka."
"Saya juga punya sesuatu untuk Ning Hilya." Aisyah memasangkan gelang manik-manik yang ia buat sendiri. Selain menjahit, Aisyah juga senang membuat sesuatu dari manik-manik.
"Cantik sekali, ini gelang pertama ku."
__ADS_1
"Sebelumnya Ning Hilya tidak pernah pakai?"
Hilya menggeleng, ia tidak suka memakai perhiasan. Saat pertama kali memakai perhiasan, itu tidak bertahan lama karena Hilya harus mengembalikan pada yang memberikannya. Mungkin gelang itu juga tidak akan lama Hilya pakai meski ia menyukainya.
"Lihat, tangan Ning jadi makin cantik."
Hilya terkekeh pelan, Aisyah lucu sekali.
Hilya masuk mobil mengucapkan salam setelah berpamitan pada semuanya. Ia bisa melihat senyum lebar Umar, lelaki yang sampai saat ini masih ia cintai. Hilya akan menggenggam cintanya meski tidak mudah dan menyakitkan.
Mereka masuk setelah mobil Hilya meninggalkan halaman.
Aisyah mengeluarkan kain batik pemberian Hilya dan menyimpannya di dalam lemari sekaligus menata pakaiannya. Sekarang lemari Umar sudah didominasi oleh pakaian milik Aisyah.
"Itu kado dari teman-teman Mas Umar?" Aisyah menunjuk tumpukan kado di sudut kamar. Ia hanya membawa sedikit kado dari rumah dari teman-teman dekatnya. Tentu Felix tidak termasuk walaupun Aisyah tahu kado dari Felix adalah barang mahal.
"Iya, besok aja kita buka, kamu pasti masih capek."
"Aku buka yang ini aja dulu." Aisyah mengeluarkan kado-kado dari paper bag, itu kado dari Gracia, Ayana dan Khanza.
Gracia memberi sepasang handuk dengan jahitan nama Aisyah dan Umar sedangkan Ayana memilih satu set alat masak yang entah bisa Aisyah pakai atau tidak karena ia belum bisa memasak. Sementara Khanza menghadiahi Umar dan Aisyah bed cover tebal.
Percayalah setebal apapun selimutnya kalian tidak akan bisa tidur nyenyak, ups maaf Gus.
"Dasar si Khanza." Aisyah menggerutu.
Aktivitas mereka tertunda ketika adzan ashar berkumandang. Keduanya segera menuju musholla untuk shalat berjamaah.
Setelahnya Umar bersiap pergi ke masjid Al-Fatah untuk mengisi kajian rutin. Ia sudah harus kembali ke kegiatan rutinnya.
"Mau aku ajari membuat teh?" Umar mengajak Aisyah ke dapur.
Beberapa santri yang berada di dapur pelan-pelan undur diri melihat Umar dan Aisyah.
"Biasanya saat sore begini Abah duduk di ruang tamu, membaca kitab, buku atau Al-Qur'an sambil minum teh." Umar mengambil cangkir dan lepek.
"Jadi ini teh untuk Abah?" Aisyah mendadak gugup padahal itu hanya secangkir teh yang semua orang bisa membuatnya. Bagaimana jika tidak enak dan Zaid makin tidak menyukainya, itu pikiran Aisyah yang membuatnya gugup.
"Panaskan air." Pinta Umar.
Aisyah mengambil panci, mengisinya dengan air dan menyalakan kompor. Menuang teh ke dalam panci lalu menunggunya hingga mendidih.
"Abah nggak terlalu suka manis."
"Satu sendok cukup?"
"Cukup."
"Gunakan saringan ini." Umar meletakkan saringan di atas gelas.
"Kenapa nggak pakai teh celup?"
"Abah selalu minum teh nya yang ini."
Aisyah manggut-manggut, Umar memberinya pelajaran berharga hari ini.
Setelah air mendidih Aisyah menuangnya ke cangkir yang sudah diberi saringan. Aroma teh menguar dari sana, Aisyah menghirupnya dalam-dalam.
"Aku akan mengantarnya pada Abah."
"Baik, hati-hati ya."
Menggunakan alas nampan, Aisyah melangkah menuju ruang tengah. Tak hanya teh, sepiring pisang kukus juga akan menemani Zaid membaca sembari menunggu waktu magrib.
"Halo, assalamualaikum, ada apa?"
Langkah Aisyah terhenti ketika melihat Zaid berbicara dengan seseorang di telepon.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, ya Allah, benarkah kabar ini?"
"Ada apa Bah?" Khalid muncul dari pintu depan, ia baru kembali dari musholla.
Zaid melepas kacamata dan mengusap matanya yang basah, terdiam sejenak lalu menarik napas dalam sebelum bicara. Ia tak sanggup, telepon di genggamannya terlepas.
"Ada apa Bah?" Tanya Khalid sekali lagi, kali ini dengan nada menyelidik.
"Abah baru dapat kabar kalau Hilya meninggal saat perjalanan pulang."
Pyarrr!
Nampan di tangan Aisyah terlepas, gelas berisi teh panas pecah berkeping-keping. Ia berdiri membeku di tempatnya. Meski air panas mengenai kaki Aisyah, ia tidak sedikitpun bergerak. Bagaimana mungkin Hilya yang baru dua jam lalu bicara dengannya dikabarkan meninggal. Bukankah mereka akan bertemu lagi. Tidak tidak. Tidak mungkin.
Semua penghuni rumah mendengar suara pecahan gelas itu. Umar berlari menghampiri Aisyah, ia terkejut melihat segelas teh itu sudah berserakan di lantai. Namun bukan itu yang paling mengejutkan melainkan kalimat yang akan Aisyah katakan.
"Abah bilang Ning Hilya meninggal." Suara Aisyah gemetar, ia mengangkat kakinya yang terasa panas. Aisyah menunduk, kakinya melepuh tapi itu bukan yang terburuk. Sesuatu yang paling buruk adalah ketika seseorang yang kamu sayangi harus pergi meninggalkan mu untuk selamanya.
__ADS_1