Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Hadiah Pemberian Felix


__ADS_3

Mengenakan rok putih yang dipadukan dengan kaos berwarna hijau Atalie siap mengunjungi kantor produksi Alindra Beauty untuk mengumpulkan data. Kelebihan Atalie adalah ia tetap bisa menyelesaikan sesuatu yang bahkan tidak disukai. Atalie yakin bisa menyelesaikan tesisnya yang topiknya sudah ditentukan oleh Jaya.


Atalie akan membahas pengaruh promosi media sosial pada penjualan produk Alindra Beauty. Sejak merilis produk pertamanya tiga tahun yang lalu Alindra Beauty percaya bahwa mereka bisa menarik konsumen tanpa promosi di media sosial. Mereka mengandalkan brosur yang dibagikan di jalan pada tahun pertama. Setelahnya Alindra Beauty memiliki konsumen tetap dan jumlahnya makin meningkat.


Namun pada awal tahun 2015 ini penjualan produk tersebut mengalami penurunan karena munculnya saingan baru yang memanfaatkan teknologi media sosial. Angka penurunan memang tidak cukup banyak tapi mereka tak mungkin membiarkannya.


Itu juga yang menjadi alasan Jaya meminta Atalie melakukan penelitian terhadap Alindra Beauty. Tak hanya bisa menyelesaikan tugas akhir tapi kantor juga akan diuntungkan jika Atalie menemukan solusinya. Jaya percaya anak muda seperti Atalie memiliki inovasi yang sangat luas.


"Bagus nggak?" Atalie meminta pendapat Daniel mengenai penampilannya, ia tidak percaya diri meski beberapa hari ini selalu mengenakan rok untuk menutupi bekas gigitan nyamuk di sepanjang kakinya.


"Bagus dari pada bekas luka Kakak kelihatan." Daniel bergidik ngeri membayangkan orang-orang akan salah fokus pada kaki Atalie yang penuh bekas luka kemerahan atau mungkin sekarang sudah hitam. Atalie bahkan memakai celana panjang di dalam rumah.


"Atau pakai celana aja?"


"Kaki Kak Atalie kecil, kalau pakai celana makin kelihatan kecil, udah itu aja."


Setelah memastikan sekali lagi dengan melihat pantulan dirinya di cermin akhirnya Atalie meraih kunci mobil dan keluar dari kamar melewati Daniel yang berdiri di ambang pintu.


"Kakak habis berantem sama Papa?" Daniel berbisik menyusul Atalie melewati anak tangga menuju lantai satu.


"Enggak."


"Aku dukung Kak Atalie punya butik." Daniel merangkul bahu Atalie.


"Kasih modal juga kalau gitu." Atalie menengadah tangan pada Daniel.


"Aku mana ada duit." Daniel menepuk tangan Atalie, ia belum bisa membantu apapun kecuali dukungan.


Atalie mendengus masuk ke mobilnya sedangkan Daniel masuk ke mobil lain. Percakapan mereka berakhir saat itu juga.


Sebelum menginjak gas, Atalie melirik spion untuk melihat pantulan wajahnya disana. Sebelumnya ia tak terlalu memperhatikan penampilan tapi semenjak mengenal Umar, Atalie jadi tidak percaya diri. Itu karena Umar tak pernah melihat Atalie saat mereka sedang bicara. Kadang Atalie berpikir, apakah ia tidak menarik hingga Umar tak sudi melihatnya.


Bahkan sekarang Umar meminta Atalie untuk tidak bertanya tentang apapun. Atalie mencengkram erat kemudi mengingat ucapan Umar waktu itu. Atalie sudah biasa mendapat penolakan, bahkan ketika dirinya punya seratus mimpi, Jaya bisa saja menentang semua mimpi itu. Namun saat Umar mengatakan Atalie tak boleh menanyakan apapun padanya, rasa sakitnya membekas hingga sekarang.


Di jok samping kemudi terdapat tumpukan buku yang Atalie beli beberapa waktu lalu. Atalie menyelesaikan membaca buku tersebut satu per satu, setiap ada sesuatu yang tidak dimengerti maka ia akan mencatatnya. Atalie mencari jawabannya di buku lain walaupun itu sangat merepotkan. Hal baiknya adalah Atalie bisa membaca lebih banyak buku.


Lagi pula Umar bukan satu-satunya manusia yang bisa menjawab pertanyaan Atalie. Sayangnya memang hanya Umar yang Atalie kenal. Atalie akan berusaha mengenal lebih banyak orang.


"Selamat pagi Ci." Seorang karyawan resepsionis menyambut kedatangan Atalie.


"Pagi." Atalie mengulas senyum tipis.


"Bapak sudah memberitahu kalau Ci Atalie akan datang, mari." Ia mempersilakan Atalie masuk lift menuju lantai atas. "Kebetulan Bapak juga lagi di atas."


"Bukannya Papa jarang kesini?"


"Benar, beliau sedang ada tamu."


Ini kedua kalinya Atalie mengunjungi kantor produksi Alindra Beauty, sebelumnya ia kesini untuk menghadiri peresmian gedung tersebut tiga tahun yang lalu sesaat sebelum dirinya pergi ke Hangzhou.


"Felix?" Atalie mengerutkan kening melihat Felix bicara dengan papa nya. Jadi tamu Jaya yang dimaksud adalah Felix.


"Alindra Beauty akan mengeluarkan produk kolaborasi dengan Felix." Jaya menjelaskan seolah mengerti arti tatapan Atalie pada Felix.


"Papa nggak cerita sebelumnya." Atalie berjalan mendekat tidak lupa mengucapkan terimakasih pada karyawan yang telah mengantarnya.


Jaya hanya mengedikkan bahu, ia merasa tidak perlu menceritakan hal seperti ini pada Atalie hanya karena Felix teman Atalie.

__ADS_1


"Kamu nggak tertarik pada parfum kan?"


Atalie mengangguk samar, "kalau gitu aku permisi." Ia undur diri dari sana. Atalie memiliki urusan lain disini.


Atalie masuk ke ruangan divisi pemasaran untuk mengumpulkan data mengenai promosi yang selama ini Alindra Beauty lakukan. Karena ini kantor milik papa nya maka Atalie diberi akses penuh untuk mendapatkan apapun yang ia butuhkan.


******


"Atalie!"


Gerakan Atalie untuk membuka pintu mobil terhenti ketika ia mendengar seseorang memanggilnya.


"Kenapa dia masih disini?" Gerutu Atalie setelah tahu seseorang yang memanggilnya adalah Felix. Jangan bilang Felix sengaja menunggunya, Atalie bahkan berada di ruangan pemasaran cukup lama dan ia pikir Felix sudah pulang.


"Kamu ada waktu senggang nggak?" Felix to the point, pengalamannya mendekati Atalie sudah cukup banyak jadi ia tahu kalau Atalie tidak suka berbasa-basi.


"Kenapa?"


"Aku mau ajak kamu makan siang bareng."


"Sorry aku—"


"Please sekali ini aja." Tukas Felix lagi sebelum Atalie menolaknya. "Cuma makan siang."


Atalie mendesah berat, ia terlalu malas untuk itu tapi jika menolak ajakan Felix hari ini bukan tidak mungkin lelaki itu akan mencoba lagi dihari lain.


"Oke." Atalie tidak punya pilihan lain. "Dimana?"


"Osing King, tahu kan?"


Felix membukakan pintu mobil untuk Atalie dengan penuh semangat tanpa ia sangka ternyata Atalie masuk ke mobilnya sendiri. Felix pikir Atalie akan naik mobilnya.


Mobil Atalie keluar dari area parkiran kantor produksi Alindra Beauty lebih dulu disusul mobil Felix.


Setelah ini Atalie berharap dirinya tak pernah bertemu dengan Felix lagi.


Osing King tampak ramai ketika Atalie dan Felix sampai disana bertepatan dengan jam makan siang. Atalie pikir tak akan ada meja kosong untuk mereka tapi ternyata Felix sudah lebih dulu melakukan reservasi. Itu artinya Felix sudah mempersiapkan ini sebelumnya.


Felix menarik kursi mempersilakan Atalie duduk.


"Kalau aku menolak ajakan mu tadi gimana?" Atalie menatap Felix lurus, "sedangkan kamu udah reservasi restoran nya."


"Itu makanya aku maksa kamu karena aku udah terlanjur reservasi."


"Kalau aku tetap menolak?"


"Aku akan makan sendiri." Felix terkekeh, ia sudah memesan makanan untuk mereka berdua. Felix mengira-ngira makanan kesukaan Atalie, mungkin tidak jauh berbeda dengannya karena mereka sama-sama keturunan Chinese.


Dua orang waiter mengantarkan makanan ke meja Felix. Sebenarnya Felix ingin makan malam romantis dengan Atalie. Namun kesempatan mengajak Atalie makan seperti tadi tidak datang dua kali. Felix sekarang tak peduli, meskipun bukan malam romantis asal bersama Atalie maka itu akan menyenangkan.


Lain halnya dengan Atalie, ia bosan ingin segera mengakhiri pertemuan ini. Berbagai hidangan di atas meja tidak membuat Atalie tergiur. Mereka hanya berdua tapi Felix memesan makanan satu meja penuh. Rupanya Felix sengaja ingin menjebak Atalie di restoran ini dalam waktu yang lama.


"Kamu suka Sanbeiji nggak atau mau Ayam Hainan aja?" Felix melihat dua macam olahan ayam di hadapan mereka.


"Ini aja." Atalie mengangkat sendok dan garpu nya, ia memilih Sanbeiji karena letaknya paling dekat. Meskipun olahan ayam, Sanbeiji bukan makanan halal karena saat mengolahnya menggunakan arak masak.


"Kamu pasti sering makan itu waktu di Hangzhou." Felix mulai menyuapkan sepotong ayam dan nasi tapi pandangannya tidak terlepas dari Atalie.

__ADS_1


"Sanbeiji makanan populer Taiwan yang asalnya dari Jiangxi, dari pada Sanbeiji aku lebih sering makan Mie Pian Er Chuan atau Lai Wong Bao dengan teh Longjing." Atalie ikut melahap makanannya, Felix hanya tersenyum salah tingkah saat Atalie menjelaskan beberapa makanan khas Hangzhou. Dasar sok tahu, gerutu Atalie dalam hati.


"Oh iya, gimana pendapat kamu soal kolaborasi Felish dan Alindra Beauty?"


"Pendapat?" Atalie tak berhak memberi pendapat apapun karena itu bisnis papa nya. "Aku nggak tahu apa-apa soal itu, kamu lihat sendiri kan kalau sebelumnya Papa nggak cerita soal kolaborasi itu."


"Menurutmu produk ini akan laku?"


"Ya, kenapa enggak." Atalie mengedikkan bahu, "dua brand yang sudah populer jika berkolaborasi pasti akan laku keras di pasaran."


Felix tersenyum lebar hingga matanya tampak segaris. Ia bereaksi berlebihan padahal Atalie tidak sedang menuju dirinya.


Makanan penutup mereka siang itu adalah Lemon Meringue yang juga dipilih oleh Felix. Sedangkan Atalie hanya bisa memakan apa yang sudah Felix pesan untuknya. Ia hanya ingin segera kembali ke rumah dan membaca buku.


"Terimakasih makanannya." Ucap Atalie setelah menghabiskan segelas minuman dengan rasa Citrus dan Yuzu yang asing di lidahnya. Sebenarnya Atalie tidak terlalu suka tapi ia bukan orang yang mudah menyia-nyiakan makanan.


Felix meletakkan paper bag merah jambu di atas meja setelah waiter membereskan piring bekas makan mereka.


Dia mulai lagi, Atalie jengah menolak barang pemberian Felix tapi hingga sekarang lelaki itu tak pernah menyerah.


"Berhubung kamu nggak suka parfum, aku beliin kamu high heels, sangat cocok untuk kaki kecil mu."


"Aku nggak bisa pakai high heels."


"Ini nggak terlaku tinggi kok."


Atalie menarik paper bag itu dan mengeluarkan isinya, jika dengan memakai high heels tersebut Atalie bisa segera pulang maka ia akan memaksakan diri memakainya.


"Cocok sekali di kaki mu." Puji Felix setelah Atalie memakai high heels berwarna putih tersebut.



Atalie beranjak dari duduknya, berjalan tertatih keluar restoran. Untungnya jarak meja dan pintu keluar tidak terlalu jauh.


"Semoga lain kali kita bisa makan bareng lagi."


"Aku harap ini yang terakhir." Atalie mengembangkan senyum lebar saat mengucapkan itu.


Sedangkan Felix tetap tertawa menganggap ucapan Atalie hanya candaan. Lebih tepatnya ia tak mau menerima penolakan Atalie.


Atalie berusaha berjalan cepat mendahului Felix menuju mobil sambil menenteng paper bag berisi sandal miliknya.


"Awh!" Atalie memekik ketika pijakannya menjadi tidak seimbang dan terjatuh. Padahal tinggal satu langkah lagi Atalie mencapai mobilnya.


"Atalie!" Felix berlari menghampiri Atalie.


Atalie memejamkan mata menggigit bibir menahan sakit, kakinya terasa berdenyut-denyut dan nyeri luar biasa. Bahkan tanpa sadar air mata meleleh di pipinya.


Felix mengangkat tubuh Atalie mendudukkannya di mobil, "aku minta maaf, harusnya aku nggak maksa kamu pakai high heels itu."


Ketika membuka mata Atalie merasa pening, ia menatap Felix tajam. Ia meremas roknya menahan nyeri yang semakin terasa hebat. Atalie ingin meneriaki Felix dan mengeluarkan semua koleksi umpatan di kepalanya tapi ia tak punya cukup kekuatan untuk melakukan hal tersebut.


"Aku anterin kamu ke rumah sakit."


"Antar aku pulang." Pinta Atalie dengan suara tertahan.


__ADS_1


__ADS_2