
Segelas teh hangat sudah siap di atas nampan bersama pisang goreng buatan Aisyah yang mengeluarkan aroma vanilla. Aisyah sering melihat mama nya membuat kue, bubuk vanili itu tidak pernah ketinggalan selalu ditambahkan ke dalam adonan kue.
"Wangi sekali pisang goreng buatan istriku." Umar muncul di belakang Aisyah, ia bangga karena sekarang Aisyah tidak bisa menyeduh teh tapi juga membuat pisang goreng. Seperti kebanyakan orang bilang itu adalah hal sepele tapi bagi Umar, tidak ada yang sepele. Setiap kemajuan yang Aisyah tunjukkan selalu berarti.
"Selamat satu bulan pernikahan." Aisyah menyuapkan pisang goreng ke mulut Umar.
Umar terkekeh menyambut pisang goreng itu dengan senang hati lalu mengunyahnya.
"Kenapa ketawa?"
"Apa setiap hari terasa begitu berat hingga kamu selalu menghitungnya?"
Aisyah menggeleng, "justru karena setiap hari terasa berharga makanya aku hitung."
"Ternyata sudah satu bulan, terimakasih ya." Umar mengusap pipi Aisyah, memasukkan anak rambut yang menyembul dari jilbabnya.
"Untuk apa Mas?"
"Untuk semua waktu, tenaga dan pikiran yang kamu curahkan untuk belajar banyak hal."
"Aku juga mau bilang terimakasih karena Gus Umar sudah jadi suami paling sabar sedunia." Aisyah merangkul lengan Umar, semoga tidak ada santri yang tiba-tiba masuk ke dapur. Ini bukan jadwal mereka memasak.
"Kamu mau tinggal berdua?" Umar sudah lama memikirkan soal itu sejak ia mendengar percakapan Aisyah dengan salah satu santri di dapur. Umar tidak mau Aisyah dipandangan sebelah mata. Aisyah adalah istri yang berharga bagi Umar.
"Hm?" Alis Aisyah terangkat, mengapa tiba-tiba
"Berdua, di rumah yang hanya ada kita."
Aisyah ingin langsung menjawab iya tapi ia khawatir membuat Umar tersinggung. Bukannya Aisyah tidak suka tinggal disini, ia senang belajar banyak hal. Aisyah hanya sedikit tidak nyaman dengan beberapa santri yang sering meremehkannya.
"Kalau dihitung-hitung tabunganku cukup untuk membeli rumah, nggak besar tapi lebih dari cukup untuk kita, salah satu teman dosen merekomendasikan satu rumah dekat kampus Poliwangi, kamu mau lihat?"
Aisyah mengangguk mengusap matanya yang tiba-tiba basah, ia tidak menduga jika Umar memperhatikannya sedetail itu. Aisyah tidak pernah mengeluh soal tinggal disini tapi Umar mengerti.
"Aku antar teh untuk Abah dulu."
"Iya, hati-hati sayang." Umar melihat Aisyah meninggalkan dapur. Aisyah rutin membuatkan teh untuk Zaid setiap sore setelah shalat ashar. Sejauh ini Zaid sudah mau bicara lebih lama dengan Aisyah. Itu juga kabar baik karena Zaid akhirnya bisa menerima keberadaan Aisyah.
"Teh nya Abah." Aisyah meletakkan teh dan pisang goreng dekat Zaid duduk bersila di ruang tengah. Tangan kanan Zaid sibuk menggulir tasbih sedangkan mulutnya tidak henti membisikkan dzikir.
Zaid melirik Aisyah sejenak lalu kembali memejamkan mata.
"Aisyah."
Aisyah menghentikan gerakannya, ia hendak beranjak dari sana. Biasanya memang tidak banyak percakapan di antara mereka. Aisyah hanya mengantar teh lalu beranjak setelah Zaid mengucapkan terimakasih. Meski begitu Aisyah senang setiap kali mendengar Zaid berterimakasih. Setidaknya ada satu kata yang Aisyah dengar dari mertuanya itu.
"Bagaimana bacaan Al-Qur'an mu, sudah lancar?" Zaid mengangkat wajah menatap Aisyah sepenuhnya. Sudah satu bulan sejak Aisyah menikah tapi Zaid sama sekali tidak memperhatikan Aisyah. Padahal dulu Zaid sendiri yang mengatakan jika Aisyah butuh bimbingan.
"Mmm soal itu, saya juga tidak tahu apakah bisa disebut lancar atau belum."
__ADS_1
"Memangnya Umar tidak mengajarimu?"
"Mas Umar selalu mengajari saya Bah, tapi sebenarnya Mas Umar sedikit galak." Aisyah berbisik saat mengatakan Umar galak. Sebenarnya Umar hanya tegas saat mengajari Aisyah tapi tetap saja Aisyah merasa Umar sedang marah-marah.
"Dia galak sama kamu?"
"I-iya Bah, saya agak takut." Aisyah tiba-tiba menemukan cara untuk lebih dekat dengan Zaid.
"Nanti Abah tegur supaya lebih lembut sama istrinya."
"Eh, tidak perlu Bah, bagaimana kalau saya belajar dengan Abah?"
"Yakin kamu mau belajar sama Abah?"
"Iya, saya sudah lama ingin belajar Al-Qur'an dengan Abah."
"Kalau begitu mulai malam ini kamu belajar sama Abah."
"Serius Bah?" Aisyah membelalak.
Zaid mengangguk, ia tidak pernah berbohong.
"Terimakasih Bah, saya permisi dulu." Aisyah meninggalkan ruang tengah dengan senyum bermekaran.
Umar yang sengaja menunggu Aisyah keluar dari ruang tengah keheranan melihat sang istri tersenyum lebar. Aisyah juga berada disana sedikit lebih lama dari biasanya. Umar menduga ada kabar baik mengenai usaha Aisyah mendekati abah.
"Ada apa?"
"Kok gitu?"
"Ya aku bilang aja Mas Umar galak jadi aku mau belajar sama Abah."
"Astaghfirullah sayang, aku mana pernah galak sama kamu." Umar meraih tangan Aisyah menggenggamnya.
"Kamu galak Mas."
"Aku sudah lebih lembut lho ngajarin kamu."
"Aisyah bukan Sa' tapi Syin, Aisyah perhatikan mulutku, Aisyah aku sudah bilang ditahan dua harakat, Aisyah kurang panjang, Aisyah itu terlalu pendek." Aisyah menirukan gaya Umar saat mengajarinya membaca Alqur'an yang membuat Umar tertawa melihatnya.
"Aku minta maaf."
"Tapi aku tetap murojaah sama Mas ya."
"Tentu aja, aku nggak akan galak lagi."
"Mas Umar tunggu di gazebo ya, aku ambil teh sama pisang goreng dulu." Aisyah bergegas pergi ke dapur sementara Umar mengambil mushaf di kamar lalu menunggu di gazebo depan. Mereka biasa murojaah tiap sore di gazebo ditemani pisang goreng, ubi rebus atau singkong goreng. Aisyah lebih semangat jika di tengah murojaah bisa mengunyah makanan. Umar juga tidak melarangnya, yang penting sang istri senang.
******
__ADS_1
Mobil yang Umar kendarai berhenti di depan rumah satu lantai dengan pagar berwarna hitam. Halamannya luas mampu menampung hingga lima mobil. Itu adalah rumah yang direkomendasikan oleh salah satu rekan dosen Umar. Saat itu Umar memang berpikir untuk mencari tempat tinggal lalu temannya merekomendasikan rumah yang baru ditinggalkan penghuni lama nya ke kota lain.
"Sepi ya Mas." Aisyah turun dari mobil setelah Umar membukakan pintu untuknya.
Rumah itu tidak terletak di area strategis, letak rumah lain juga cukup berjauhan. Umar memastikan sekali lagi lokasi rumah itu dengan alamat yang sudah dikirimkan oleh temannya.
"Iya, makanya harganya lebih murah."
Seorang lelaki berusia sekitar 40 tahunan menghampiri mereka, ia adalah perantara pemilik rumah dan calon pembeli.
Umar mengucapkan salam dan menjabat tangan pria tersebut. Mereka sempat bercakap-cakap di telepon kemarin, Umar mengatakan akan melihat-lihat rumah itu hari ini. Jadi setelah pulang dari kampus, Umar menjemput Aisyah di butik lalu kesini.
"Gus Umar putranya Kyai Zaid ya?" Pria itu mengenal sosok Umar.
"Benar Mas."
"Saya Budi kebetulan adiknya yang punya rumah, saya tidak menduga jika calon pembeli rumah ini adalah Gus Umar."
Umar mengangguk santun, "ini istri saya."
"Mari silakan masuk Gus, Ning."
Halaman rumah itu ditanami rumput yang tampak terawat. Jika melihat ke sisi kiri terdapat pohon mangga yang rimbun.
Pertama-tama mereka masuk ke ruang tamu yang memiliki sofa dan meja panjang. Interior keseluruhannya berwarna putih tanpa lukisan apapun. Di sudut ruangan terdapat bunga artificial dan meja kecil. Di pisahkan oleh partisi kayu, ruang tengah lebih luas dibandingkan ruang tamu.
Kamar utama memiliki kamar mandi dan lebih luas dibandingkan kamar lainnya. Paling belakang adalah dapur sekaligus ruang makan serta kamar mandi yang agak tersembunyi. Pintu dapur mengarah langsung ke halaman belakang yang juga luas. Bangunan rumah hanya mengisi seperempat dari total keseluruhan tanah.
"Ini rumah tua jadi mungkin butuh renovasi di beberapa bagian."
"Tidak masalah, saya dan istri saya akan membicarakannya lagi, saya akan menghubungi Mas Budi secepatnya."
"Baik Gus, saya tunggu kabar dari Gus Umar dan Ning Aisyah."
Umar berterimakasih karena Budi sudah mendampingi mereka melihat rumah tersebut. Setelahnya Umar pamit dari sana.
"Bagaimana pendapat mu sayang?" Umar menginjak pedal gas membawa mobil melewati jalan kecil di perumahan yang tidak terlalu padat. Kiri kanan jalan mulai dipasang umbul-umbul dan bendera merah putih memasuki bulan Agustus. "Kamu menyukainya?"
"Aku lumayan suka kok sama rumah itu, aku yakin kamu juga suka karena halamannya luas dan kamu bisa bercocok tanam disana, kebunnya lebih luas dari kebun di pesantren."
"Kamu benar, tapi rumahnya memang nggak terlalu luas."
"Nggak masalah Mas, kita cuma perlu ganti keramik kamar mandi dan atap ruang tengah yang katanya bocor."
Umar mengangguk, satu tangannya meraih tangan Aisyah untuk menggenggamnya. Aisyah menoleh mengulas senyum membalas genggaman Umar.
"Kamu yakin mau jual mobil itu Mas?"
"Iya, mobil itu sudah tua dan sering macet di tengah jalan." Umar akan menjual mobil miliknya.
__ADS_1
"Untuk biaya renovasi biar aku yang handle."
"Baiklah."