Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Ulang Tahun


__ADS_3

Minggu pagi matahari bersinar terang, tidak seperti hari libur biasa—para santri bergegas berkumpul di lapangan untuk mengikuti lomba. Peringatan hari kemerdekaan sudah akrab dengan lomba-lomba seperti balap karung, tarik tambang, makan kerupuk hingga panjat pinang. Para pengurus sudah menyiapkan lomba khusus untuk santri. Membuat kaligrafi, sambung ayat, pembacaan puisi, estafet tepung dan lomba lainnya yang tak kalah menyenangkan.


Mereka sudah menunggu momen lomba agustusan dimana semua santri bisa tertawa lepas tanpa memikirkan pelajaran sekolah. Mereka juga butuh hiburan semacam itu.


Aisyah juga ikut menyiapkan perlombaan, hari-harinya disibukkan oleh butik, renovasi rumah, menjahit, menerjemah komik dan belajar Al-Qur'an. Aisyah hampir tidak punya waktu luang tapi ia senang melakukannya.


Riuh suara santri sudah terdengar, diawali dengan lomba balap karung. 10 orang santri berada di garis start, santri lainnya menyemangati di pinggir lapangan. Santri laki-laki di sisi kiri sedangkan perempuan di sisi kanan. Mereka mengacungkan bendera merah putih untuk penyemangat.


"Ayo mas, lomba nya udah dimulai." Aisyah menarik tangan Umar yang tengah mengganti baju koko dengan kaos oblong.


"Kamu semangat sekali, itu hanya lomba agustusan biasa."


Aisyah belum pernah melihat lomba agustusan sebelumnya, di sekolah pun tak pernah diadakan lomba. Itu sebabnya Aisyah sangat bersemangat untuk menyaksikan jalannya lomba.


"Loh, Daniel." Aisyah terkejut melihat Daniel turun dari mobil yang terparkir di depan rumah. Daniel tidak bilang akan datang. "Kamu nggak ke gereja?"


Bukannya menjawab, Daniel justru tersenyum penuh arti yang membuat Aisyah kebingungan. Daniel mengeluarkan sebuah kue dari dalam mobilnya.


"Happy birthday!" Daniel melangkah mendekat, ia sengaja datang pagi-pagi untuk memberikan kejutan pada Aisyah di hari ulang tahunnya.


Aisyah membelalak kaget, ia bahkan lupa jika hari ini adalah ulang tahunnya. Kesibukan itu membuat Aisyah lupa.


"Aku benar-benar nggak ingat." Aisyah menerima kue berukuran kecil di tangan Daniel lalu ia memeluk sang adik. "Xie-xie ya."


"Semoga Kakak ku selalu bahagia dan semua keinginannya terwujud."


"Aamiin, kamu juga." Aisyah mencium kedua pipi Daniel. "Ayo masuk." Ajak Aisyah.


Umar sudah menunggu Aisyah di depan pintu, ia bukan termasuk orang yang merayakan ulang tahun tapi bukan berarti ia tidak ingat jika hari ini adalah hari ulang tahun Aisyah.


"Tadinya aku ingin jadi yang pertama tapi Daniel mendahuluiku." Umar memeluk Aisyah mendoakan kebaikan untuk sang istri lalu mengecup keningnya.


"Harusnya bangun tidur tadi Mas langsung ngucapin selamat ulang tahun buat Kak Atalie." Daniel nyelonong masuk mengambil kue di tangan Aisyah untuk diletakkan di meja. Walaupun kecil tapi kue itu cukup berat, Daniel memesannya sejak seminggu yang lalu khusus Aisyah.


"Sebenarnya dia lupa." Sahut Aisyah, ia pergi ke dapur sebentar untuk mengambil piring kecil.


"Nggak sayang, aku nggak lupa." Umar menyusul Aisyah duduk di sofa. Aisyah bersiap memotong kue itu.


Aisyah memisahkan kue untuk Maryam dan Zaid lebih dulu lalu Khalid dan Khawla.


"Itu kenapa rame banget, ada apa Mas?" Tanya Daniel.


"Anak-anak lagi lomba, kamu mau lihat?"


"Mau-mau."


"Suapan pertama untuk suamiku yang ganteng, yang kulitnya coklat dan punya jenggot tipis." Aisyah menyuapkan kue pada Umar.


"Kenapa harus disebutkan ciri-cirinya, suami mu cuma satu."


Aisyah hanya nyengir menanggapi ucapan Umar, percaya atau tidak hampir setiap saat Aisyah mengagumi kulit Umar yang sawo matang.

__ADS_1


"Dan untuk the one and only adik ku yang pasti setiap saat merindukan Kakak nya."


Daniel tidak berkomentar karena mulutnya penuh dengan kue.


"Sebentar ya, Mas panggil Ali dulu biar kalian bisa bareng pergi ke lapangan." Umar beranjak dari sana memanggul Ali untuk mengajak Daniel pergi ke lapangan.


"Aku pergi dulu ya." Daniel keluar bersama Ali, ia datang disaat yang tepat karena sama seperti Aisyah, ia juga tidak pernah melihat lomba semacam itu.


Tepuk tangan dan teriakan santri memenuhi lapangan, ketika ada yang tak sengaja jatuh mereka tertawa. Daniel juga antusias melihat jalannya lomba begitupun dengan Ali.


"Kamu udah mulai kuliah?" Tanya Ali pada Daniel.


"Belum, bulan depan mungkin baru perkenalan di kampus Surabaya setelahnya kegiatan kuliah cukup dari sini, kalau kamu?"


"Bulan depan juga aku berangkat ke pondok."


"Bukannya tempat ini juga pondok?"


"Emang iya tapi di dalam pondok ini nggak ada perguruan tinggi jadi aku pergi ke pesantren yang sama dengan Mas Umar, di Nurul Jadid."


Daniel manggut-manggut mengerti. Obrolan mereka terhenti ketika Khalid mengajak Ali dan Daniel ikut lomba balap karung. Dua anak itu langsung menerima ajakan Khalid. Daniel sudah melihat cara main lomba balap karung, ia percaya diri.


Umar dan Aisyah bergabung dengan yang lain menonton lomba. Aisyah merekam video saat Daniel melompat-lompat di dalam karung berusaha mendahului Ali. Namun Ali yang gesit dan berpengalaman berhasil sampai di garis finish paling cepat mengalahkan 7 peserta lain.


Santri perempuan berbisik-bisik memuji Ali—satu-satunya putra kyai yang belum menikah. Bukan rahasia lagi jika 3 Gus mereka selalu menjadi idola di pesantren. Tak hanya tampan, mereka juga hafidz Qur'an, berpengetahuan luas dan berkharisma kecuali Ali yang lebih humoris.


Ali mentertawakan Daniel yang berada di urutan terakhir. Wajah Daniel memerah, napasnya tersengal dan tubuhnya penuh keringat.


"Gimana saudaraku?" Ali merangkul bahu Daniel.


Lomba lainnya berlanjut tidak kalah seru hingga masuk waktu duhur. Mereka bergegas membersihkan diri dan berbondong-bondong pergi ke musholla.


*******



Nasi tumpeng berada di tengah-tengah ruangan, Maryam berada di dapur sejak pagi untuk menyiapkan acara syukuran bertepatan dengan hari kelahiran Aisyah. Kotak-kotak makanan sudah tersusun rapi yang nanti akan dibagikan pada para santri.


Aisyah berterimakasih pada Maryam karena telah menyiapkan ini semua untuknya. Ini adalah hari ulang tahun yang paling berkesan untuknya, suasananya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya Renata akan membeli kue dan mengundang teman-teman dari komunitas gereja untuk merayakan ulang tahun. Kali ini orang yang hadir jauh lebih banyak.


Zaid memimpin doa, mendoakan kebaikan untuk Aisyah dan pernikahannya dengan Umar. Mereka mendoakan agar Aisyah senantiasa Istiqomah berada di jalan Allah serta dimudahkan dalam kebaikan.


Aisyah memotong tumpeng yang sudah dihias dan dilengkapi dengan lauk-pauk, kering tempe, ayam bakar, perkedel dan mie goreng.


"Biar Ummi menyuapi mu lebih dulu." Maryam menyuapi Aisyah dengan tangannya, nasi dan kering tempe yang ia masak sendiri. "Gimana?"


"Seperti biasa masakan Ummi selalu enak." Aisyah juga menyuapi Maryam lalu Zaid yang awalnya menolak tapi ia memaksanya.


"Semoga istriku selalu dalam lindungan Allah." Umar memeluk Aisyah sesaat, sebenarnya ia ingin berlama-lama tapi ada banyak santri yang menyaksikan mereka. "Dan selalu bersama-sama dengan ku meraih cinta Allah."


Mereka membagikan makanan untuk pada santri, Daniel yang juga masih berada disana ikut membagikan makanan. Setelahnya mereka makan bersama-sama.

__ADS_1


"Kak, aku pulang dulu ya, nanti Kakak dan Mas Umar ke rumah ya." Daniel berpamitan pada yang lain.


"Iya, aku udah janji sama Mama mau nginep disana, hati-hati ya."


"Kok buru-buru mau pulang sih?" Ali menyahut, ia senang memiliki teman main seperti Daniel. Setidaknya mereka bisa banyak mengobrol sebelum berangkat melanjutkan kuliah masing-masing.


"Mau ke gereja dulu wahai saudaraku." Daniel menirukan gaya bicara Ali saat memanggilnya saudara. Itu terdengar lucu tapi akrab sekaligus.


*******


Tidak ada perjanjian khusus berapa kali Aisyah dan Umar akan menginap di rumah orangtua Aisyah dalam satu bulan. Umar membebaskan Aisyah untuk mengajaknya menginap kapanpun Aisyah merindukan orangtuanya. lagi pula jarak rumah mereka tidak terlalu jauh.


Aisyah membantu menyiapkan malam bersama juru masak dan ART, itu adalah sesuatu yang dulu tidak pernah ia lakukan. Namun sekarang Aisyah sudah biasa melakukannya, ia memindahkan masakan ke meja makan dan membantu sebisanya. Setelah semuanya siap, Aisyah memanggil mama dan papa nya yang tengah berada di taman belakang bersama Umar. Sedangkan Daniel tanpa dipanggil sudah memiliki naluri untuk turun ke lantai bawah dan makan bersama.


"Ini khusus untuk mu." Renata mendekatkan sepiring mie untuk Aisyah. Hidangan mie yang wajib ada saat ulang tahun menjadi simbol panjang umur.


"Tahun ini dan tahun-tahun setelahnya hanya akan ada makanan halal di atas meja setiap kalian datang." Ujar Jaya.


"Terimakasih Pa." Aisyah dan Umar menjawab bersamaan.


Awalnya sulit menyesuaikan diri tapi Aisyah percaya mereka akan terbiasa dengan perubahan itu.


"Jadi gimana renovasi rumah kalian?Tanya Renata.


"Semuanya lancar Ma, mungkin Minggu depan udah bisa ditempati."


"Kamu menyukai rumah itu?" Jaya juga bertanya, ia sudah melihat rumah yang baru dibeli Umar. Itu rumah biasa yang jauh dari kata bagus, kelebihannya hanya ada di halaman yang luas.


"Suka kok, itu cukup untuk kami berdua dan kelebihan lainnya aku nggak akan capek bersihin karena rumah itu nggak terlalu luas."


"Kamu yakin nggak mau pakai ART?"


Aisyah menggeleng, ia tidak mau ada ART di rumahnya. Aisyah bisa membersihkan rumah itu sendiri, Umar juga selalu siap membantunya.


Tujuan Aisyah menginap di rumah orangtuanya juga karena ia hendak menjahit pakaian menggunakan kain pemberian Hilya. Aisyah mengukur tubuh Umar, ia akan membuat pakaian untuk Umar dan dirinya. Aisyah belum tahu kapan mereka akan menggunakan baju itu, ia belum memikirkannya.


"Batik ini indah sekali." Aisyah membentang kain tersebut, ia sudah membuat pola dengan kertas koran. Aisyah bisa menemukan tumpukan koran bekas di gudang karena papa nya selalu membaca koran setiap pagi.


"Pasti akan lebih indah setelah istriku menjahitnya."


"Bahu mu lebar sekali Mas." Aisyah melihat catatan ukuran badan Umar. "Aku khawatir nggak kebagian kain."


"Badan ku nggak sebesar itu."


"Coba aku ukur sekali lagi." Aisyah mendekat pada Umar tapi ia tidak membawa alat ukur di tangannya.


"Gimana caranya?" Umar kebingungan ketika Aisyah membentangkan tangan.


"Begini." Alih-alih mengukur badan Umar, Aisyah justru memeluknya.


"Istriku pandai menggoda." Umar membalas pelukan Aisyah lebih erat. Wajah Aisyah tenggelam dalam dada bidang Umar. Sebelum jadi istri pun, Aisyah sudah pandai menggoda Umar.

__ADS_1




__ADS_2