Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Naksir Umar?


__ADS_3

"Gracia yang manis, coba lihat aku bawa apa?" Atalie masuk ke tempat kos Gracia tanpa mengetuk pintu. Gracia tengah berlari di atas treadmill membelakangi pintu. Ia turun dari treadmill saat mendengar suara Atalie.


"Bawa apaan?" Gracia meneguk sebotol air yang ia letakkan di samping treadmill. Sudah cukup olahraga hari ini, ia duduk di samping Atalie.


"Kamu nggak tahu kan ini apa?" Atalie meletakkan kantong plastik berisi ubi kukus di atas meja.


"Ketela ungu." Gracia mencomot satu ubi dan mengupasnya, lumayan untuk sarapan setelah olahraga. Perutnya juga belum diisi dari tadi. Ubi kukus baik untuk kesehatannya.


"Hah kamu tahu?" Atalie terkejut padahal beberapa detik yang lalu ia hendak membanggakan diri di depan Gracia.


"Emang ada orang yang nggak tahu?" Gracia melahap ubi tersebut tanpa mempedulikan ekspresi terkejut Atalie.


"Aku." Atalie menunjuk dirinya sendiri.


"Demi apa?" Gracia dengan matanya yang sipit itu melotot tak percaya.


"Sumpah aku nggak tahu ada makanan kayak gini, malu banget tadi di depan Mas Umar dan Ummi." Atalie menggaruk kepalanya frustrasi.


Gracia tertawa keras seolah puas melihat Atalie mempermalukan dirinya sendiri di depan Umar dan Maryam.


"Ah kesel banget!" Atalie melepas pashmina yang ia kenakan dengan asal. Atalie sudah menonton banyak tutorial jilbab di YouTube tapi pada akhirnya ia melilitkan jilbab panjang itu dengan asal-asalan. Toh Maryam tetap memujinya cantik. Lain kali Atalie akan membeli jilbab yang lebih mudah dipakai.


"Kamu harus banyak belajar buat deketin Umar dan keluarganya." Gracia menepuk bahu Atalie memberi motivasi.


"Maksud kamu?" Atalie memicingkan mata.


"Kita kenal dari kecil jadi aku tahu kalau sekarang ini kamu lagi berusaha deket sama Umar kan?"


"Enggak." Atalie menggeleng.


"Jangan bilang kamu nggak tertarik sama Umar." Mata Gracia menyipit.


"Emang enggak."


"Nggak percaya."


Atalie beranjak dari sofa menuju kamar, ia hendak ganti baju untuk bersiap pergi ke kampus.


Hari ini Atalie dan teman-temannya akan membagikan makanan di jalan. Itu merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap satu bulan sekali.


"Ya udah kalau gitu kamu mau kan aku comblangin sama Felix."


"Nggak ah!" Terdengar suara teriakan Atalie dari dalam kamar.


Gracia cekikikan setelah menggoda Atalie. Felix adalah cowok yang naksir Atalie sejak SMA tapi sayangnya Atalie tak pernah menanggapi. Padahal menurut Gracia, Felix itu tipe pacar idaman. Wajah tampan dan memiliki karir cemerlang tapi rasa suka memang tidak dapat dipaksakan.


Gracia menyusul ke kamar untuk mandi setelah berolahraga. Berkat Atalie, Gracia bisa sarapan sehat pagi ini. Gracia jarang memiliki waktu untuk sarapan karena sama seperti Atalie, ia selalu kesiangan.


"Kalau nggak mau, berarti bener kamu naksir Umar."


"Tolong jangan menyudutkan ku wahai Gracia." Atalie menatap Gracia kesal. Ia sudah ngantuk berat tapi harus pergi ke kampus. "Walaupun aku akui dia ganteng tapi aku nggak naksir kok."


"Dan kamu mau aku percaya?"


"Ya lah, bohong itu dosa."

__ADS_1


"Kata siapa?"


Atalie mengedikkan bahu, ia tak tahu siapa yang mengatakan hal tersebut tapi kalimat itu sangat populer.


Atalie hanya perlu mengganti gamisnya dengan jeans dan tanktop yang dipadukan dengan kemeja flanel hitam. Hanya itu yang Atalie bawa ke tempat kos Gracia.


"Wah kece banget penampilan kamu." Gracia masih sempat menilai penampilan Atalie sebelum ia menghilang dari balik pintu kamar mandi.


Atalie memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Aku berangkat dulu." Atalie setengah berteriak pada Gracia yang berada di dalam kamar mandi. Tanpa menunggu jawaban, Atalie keluar dari sana.


******


"Atalie ya?"


Atalie mengalihkan perhatian pada salah satu mobil yang berhenti di dekatnya ketika ia hendak memberikan sepiring makanan untuk tukang becak.


Panjang umur nih si Felix, gara-gara Gracia tadi bahas Felix, muncul orangnya kan.


"Eh Felix, hai." Atalie menyapa Felix dengan ramah, tapi ia lebih dulu menghampiri tukang becak untuk memberikan makanan di tangannya.


"Terimakasih ya."


"Sama-sama Bapak, silakan duduk." Atalie mempersilakan tukang becak itu duduk di kursi yang telah disediakan.


Atalie kembali, ia pikir Felix hanya menyapanya dan berlalu tapi ternyata teman SMA nya itu justru meminggirkan mobilnya dan turun dari sana.


"Ini acara apa?" Felix menghampiri Atalie.


"Udah lama kita nggak ketemu, boleh ngobrol sebentar?"


Atalie ingin menolak, ia melirik wadah nasi yang sudah kosong setelah dibagikan pada semua orang yang datang. Atalie tak punya alasan untuk menolak ajakan Felix. Akhirnya ia mengangguk dan mencari tempat duduk di sekitar situ.


"Cuma sebentar ya."


Felix terkekeh, "kamu nggak pernah berubah, masih jutek."


Atalie tersenyum hambar, ia harus segera kembali ke kampus setelah membagikan makanan. Itu sebabnya Atalie tak bisa lama-lama mengobrol dengan Felix.


"Kamu mau kemana?" Tanya Atalie basa-basi, sepertinya Felix memang ingin ditanya. Atalie tebak pertanyaan itu akan dijawab dengan rentetan kalimat yang panjang.


"Mau ke kantor produksi, akhir-akhir ini di kantor sibuk banget, permintaan costumer semakin meningkat sampai kami kewalahan, kamu tahu nggak Felish mau ngeluarin produk baru, sebentar—" Felix mengeluarkan botol kecil dari saku jas nya, "ini sampelnya, gimana kalau nanti aku minta pendapat kamu tentang produk ini?"


"Kenapa aku?" Atalie enggan menerima sampel parfum tersebut, kenapa pendapatnya diperlukan untuk produk Felix yang diberi nama Felish tersebut.


"Karena aku ketemunya kamu, ambil aja terus kasih tahu pengalaman kamu tentang parfum ini."


"Sorry, aku nggak berpengalaman soal parfum, kamu bisa pilih orang lain buat kasih pendapat." Atalie mendorong tangan Felix.


"Tapi kamu pakai parfum kan?"


"Pakai, tapi alangkah baiknya kalau kamu minta pendapat orang yang memang bekerja di bidang itu."


Felix terpaksa menarik tangannya kembali dan memasukkan sampel parfum ke dalam saku. Felix pikir cara ini akan berhasil untuk membuat dirinya dan Atalie saling berhubungan. Mereka bisa bertukar pesan melalui WhatsApp tapi ternyata mendapatkan Atalie tidak semudah itu. Felix bahkan sudah melakukan berbagai cara untuk mendekati Atalie sejak SMA tapi tak pernah berhasil.

__ADS_1


"Om Jaya juga sering beli produk kami."


"Aku tahu."


"Kalau kamu?"


"Aku belum pernah pakai Felish tapi menurutku parfum kalian lumayan enak."


"Apa nggak ada yang sesuai selera kamu?"


Atalie jengah dengan pertanyaan Felix, ia ingin kabur saja. Atalie belum pernah pergi ke toko Felish sehingga ia tak tahu apakah aroma mereka ada yang sesuai dengan seleranya atau tidak. Atalie hanya basa-basi soal parfum Felish lumayan enak.


"Kalau nggak ada, kamu bakal marah?"


Felix tertawa, "enggak lah."


Atalie mengangguk samar dan melempar pandangan ke arah lain tanpa berniat menjawab pertanyaan Felix.


"Aku harus balik kampus nih." Atalie melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sebenarnya kelas pertamanya masih dimulai satu jam lagi tapi ia malas mengobrol lama-lama dengan Felix.


"Oh gitu?" Wajah Felix menyiratkan kekecewaan.


"Duluan ya." Atalie segera beranjak dari sana meninggalkan Felix dan masuk ke mobil.


******


Bunyi derit ban bergesekan dengan aspal mencuri perhatian mahasiswa yang berada di tempat parkir. Mereka melihat ke arah mobil Atalie yang baru memasuki area parkiran dengan kecepatan tinggi padahal ada banyak kendaraan lain disana.


"Gila hampir aja, mati aku!" Atalie mengeluarkan berbagai umpatan dari mulutnya sambil memegangi dadanya karena terkejut. "Ya Tuhan ampuni aku ampuni aku! Atalie langsung sadar setelah mengotori mulutnya dengan umpatan. Namun soal mengumpat, Atalie jagonya. Ia memiliki banyak jenis kata umpatan di kepalanya, mulai dari nama-nama binatang hingga bahasa asing.


"Maaf-maaf kamu nggak apa-apa kan?" Atalie turun dari mobilnya memastikan seseorang yang hampir saja ditabraknya tidak terluka. "Maaf ya." Ucapnya sekali lagi.


"Hampir aja, kamu jago ngerem nya."


Atalie mendelik, seorang lelaki yang menaiki motor itu adalah Umar. Tunggu dulu, kenapa ada Umar disini.


"Kok kamu disini?" Atalie spontan bertanya, apakah ada barangnya yang ketinggalan lagi di rumah Umar.


"Ada urusan." Umar mencabut kunci motor dan memasukkan ke dalam saku jaket lalu melangkah pergi meninggalkan Atalie.


"Ck, dasar Ustadz sombong." Gerutu Atalie, "bahkan dia nggak pernah lihat muka ku padahal kita lagi ngobrol." Ia melangkah ke arah lain, bukan ke kelas melainkan menuju kantin untuk sarapan. Karena makanan tadi sudah habis dibagikan jadi Atalie tidak bisa mencicipinya meski sedikit. Atalie harus menahan liur yang membanjiri mulutnya saat membagikan makanan.


"Nggak pernah diajarin sopan santun kali ya, Mama aja selalu bilang, tatap mata lawan bicara mu dan dengarkan dengan sungguh-sungguh, dia enggak." Atalie mengibaskan rambutnya masih belum selesai mencemooh Umar.


"Ibu, mau nasi padang satu." Atalie menyebutkan pesanan pada penjaga kantin.


"Pakai apa Ci?"


"Rendang, daun singkong, sambal ijo sama kerupuk."


Penjaga kantin membuat pesanan Atalie, ia mengambil sedikit nasi dan lauk yang Atalie inginkan. Ia hafal betul jika Atalie tidak suka nasi terlalu banyak.


Atalie memilih meja di tengah kantin untuk menikmati sarapannya. Kantin sepi karena sebagian kelas sudah dimulai.


Tanpa sengaja Atalie melihat Umar masuk ke ruang rektor yang membuatnya jadi penasaran tujuan Umar kesini.

__ADS_1


"Nggak mungkin dia kuliah disini." Atalie bergumam sendiri sambil mengunyah makanannya.


__ADS_2