Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Jalan yang Umar Pilih


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, ditemani teriknya matahari pikiran Umar semakin terasa berkemelut. Hatinya yakin telah memilih Aisyah apalagi setelah pertemuan mereka tadi. Bahkan setelah mereka berpisah, getaran itu masih ada. Getaran menyenangkan yang belum pernah Umar rasakan sebelumnya. Yang Umar pikirkan adalah bagaimana cara mengatakan perasaannya pada Zaid dan apakah Aisyah bisa menerima perasannya. Aisyah terlihat tertarik pada Umar tapi Umar tidak mau terlalu percaya diri, Aisyah belum tentu memiliki perasaan yang sama dengannya.


Umar tidak segera masuk ke gerbang, ia berhenti di taman kota untuk merokok. Berlindung di bawah pohon ketapang yang rimbun membuatnya betah berlama-lama ditambah asap rokok yang menyesakkan dada. Beberapa kali Umar menghela napas berat, ternyata cinta kepada makhluk begitu rumit. Mungkin itu sebabnya selama ini Umar tidak pernah jatuh cinta.


Setelah menghabiskan sebatang rokok, Umar beranjak dari kursi dan kembali menaiki motornya melewati jalan menuju tempat tinggalnya.


Dua orang santri membukakan gerbang untuk Umar, ia berterimakasih karena mereka melakukan itu tanpa diminta. Mereka sangat pengertian, tiba-tiba ada yang mengganggu pikiran Umar. Bukankah ia dilahirkan juga untuk meneruskan pondok pesantren tersebut meskipun saat ini Khalid lebih banyak mengurus para santri. Namun Umar tidak bisa menutup mata dan mengabaikan mereka. Ia dilahirkan untuk itu. Zaid juga pasti telah memikirkan hal itu sebelum memilih calon istri untuk Umar.


"Bagaimana jika Abah kecewa?" Umar bergumam sendiri setelah turun dari motor dan masuk rumah. Peluh membasahi punggungnya setelah berkendara di bawah terik matahari.


"Umar."


Umar urung masuk kamar mendengar panggilan Zaid, ia pun menghampiri abah nya di sofa ruang tengah, tidak lupa mencium punggung dan telapak tangannya.


"Kenapa Bah?" Umar duduk di samping Zaid, ia memperhatikan wajah serius abah nya dengan rasa penasaran.


"Ummi bilang akhir-akhir ini kamu sering melamun, Abah juga lihat kemarin kamu berdiam lama sekali di masjid, ada apa?"


Umar tertegun mendengar pertanyaan Zaid, ia tak bisa bilang tidak ada apa-apa. Zaid tidak akan percaya jika Umar mengatakan hal tersebut.


"Katakan saja." Zaid melihat mulut Umar terbuka lalu tertutup lagi seperti ragu untuk menjawab pertanyaannya.


Umar menelan ludah beberapa kali, ia telah menyusun kalimat sepanjang perjalanan kesini tapi setelah bertemu Zaid, kalimat itu menghilang seketika. Umar tidak tahu harus memulai kalimatnya dari mana. Ia tidak mau mengecewakan Zaid.


"Abah," Suara Umar terdengar gemetar hampir tidak terdengar. "Bah, Umar hendak mengucapkan sesuatu yang dapat membuat Abah kecewa."


Zaid mengerutkan kening, ia melepas kacamata yang hampir selalu bertengger di hidungnya.


"Umar ingin membatalkan perjodohan dengan Ning Hilya."


Raut wajah Zaid berubah muram, bibirnya berkedut menahan emosi. Mengapa tiba-tiba ingin membatalkan padahal sebelumnya Umar sendiri yang mengatakan akan mempercayakan semuanya pada Zaid. Tidak mungkin mereka membatalkannya padahal tanggal pernikahan sudah ditentukan.


"Apa alasannya?"


"Umar menyukai gadis lain."


Setelahnya tidak terdengar jawaban Zaid melainkan suara tamparan yang begitu keras. Umar tersungkur ke lantai, Zaid melayangkan pukulan di pipi Umar hingga sudut bibirnya mengucurkan darah.


"Abah, ada apa Bah?" Maryam berlari mendengar suara ketika Umar jatuh ke lantai, ia gemetar karena panik melihat Umar menunduk di atas lantai. "Kenapa Abah menampar Umar, apa salahnya Bah?"


Zaid memijit keningnya, ia tetap bungkam meski Maryam terus memberondonginya dengan berbagai macam pertanyaan. Ia juga merasakan nyeri di punggung tangannya akibat memukul Umar terlalu keras.


"Maafkan Umar Bah." Umar menunduk memegang kaki Zaid sedangkan Maryam terus bertanya apa yang terjadi pada mereka.


Zaid memalingkan wajah enggan melihat Umar, ia teramat kecewa pada sang anak. Mereka sudah merencanakan pernikahan itu dengan begitu baik. Bukan hanya Hilya, Umar akan membuat Abizar dan seluruh keluarganya marah dengan keputusan tersebut. Mereka berasal dari keluarga terpandang, bagaimana mungkin Umar gegabah dalam memutuskan sesuatu.


Maryam menarik Umar mengajaknya berdiri dan pergi ke ruangan lain karena ia tidak mendapat jawaban apapun.


Kini Maryam tidak bertanya lagi, ia membersihkan luka di sudut bibir Umar dan mengoleskan obat. Setelahnya Umar jatuh ke pelukan Maryam dan menangis tersedu-sedu.


Maryam menepuk-nepuk punggung Umar untuk menenangkannya. Meski sudah usia 30 tapi Umar tetaplah seorang anak, ia butuh pelukan seorang ibu. Ibu adalah tempat paling nyaman untuk menumpahkan tangisan selain lantai—tempatnya bersujud.


"Maafkan Umar, Ummi." Umar juga meminta maaf pada Maryam karena ia pasti akan membuat sang ummi kecewa.


"Kenapa kamu harus minta maaf?" Maryam bertanya dengan lembut.


"Tadi Abah sangat marah karena Umar bilang ingin membatalkan perjodohan ku dengan Ning Hilya."


Maryam tertegun, tangannya yang sedang berada di punggung Umar spontan jatuh.


Umar menutup mata siap menerima amarah sang ummi juga. Ia sudah mengatakannya maka tak ada alasan untuk takut. Semua ini harus Umar hadapi.


Namun tak ada kemarahan yang Umar dengar, Maryam tetap diam yang justru membuat Umar lebih takut.


Umar melepas pelukannya dan menatap Maryam. Ia menatap ke dalam mata Maryam yang berkaca-kaca. Tentu saja Maryam kecewa. Mungkin itu alasan mengapa Umar sering melamun setelah prosesi khitbah dengan Hilya. Apakan itu juga alasan Umar enggan ikut saat mereka membeli seserahan. Umar juga tidak mau bertukar nomor telepon dengan Hilya. Maryam tidak pernah berpikir sejauh itu. Ia pikir Umar hanya malu karena tidak pernah berinteraksi dengan perempuan sebelumnya.


"Biar Ummi dengarkan alasannya dulu."


Umar sedikit lega karena Maryam tidak langsung marah dan bersedia mendengar penjelasannya.


"Apa sejak awal kamu memang tidak yakin pada Hilya?"


Umar mengangguk,"saya pikir seiring berjalannya waktu, saya bisa menerima Ning Hilya lagi pula dia gadis yang baik akhlak dan agamanya, dia gadis yang sempurna untuk menjadi seorang istri tapi saya takut tidak bisa membuat Ning Hilya bahagia dengan pernikahan ini ketika saya mencintai gadis lain."


Maryam menghela napas berat, sepertinya ia tahu gadis yang Umar sukai. Maryam sudah mengetahui itu bahkan sejak Umar belum menyadarinya.


"Cinta bukan satu-satunya alasan untuk menikah."

__ADS_1


"Umar tahu Ummi, tapi seumur hidup Umar hanya akan merasa bersalah terhadap Hilya karena tidak bisa memperlakukannya dengan baik."


"Perasaanmu akan segera hilang setelah menikah dengan Hilya." Sebenarnya Maryam akan selalu mendukung apapun keputusan Umar tapi keadaannya sekarang berbeda. Mengapa Umar mengatakan ini setelah mereka menentukan tanggal pernikahan.


"Tidak Ummi." Umar menggeleng, untuk pertama kalinya ia memiliki keinginan. Ia ingin menikahi gadis yang dicintainya.


"Siapa gadis itu?"


"Aisyah."


Dugaan Maryam benar, Umar menyukai Aisyah. Maryam tahu itu saat Umar begitu bersemangat saat menceritakan soal Aisyah.


"Lalu kenapa kamu menerima perjodohan itu?"


"Sebenarnya saat itu Umar belum menyadari perasaan Umar terhadap Aisyah apalagi dia belum memeluk Islam." Umar tidak memiliki alasan untuk menolak saat itu. Ia terlambat menyadari perasaannya.


"Sekarang sudah terlambat Umar, Abah akan kecewa begitupun dengan keluarga Hilya padahal hubungan kita selalu baik sebelum ini."


"Belum terlambat Ummi, Umar belum menikahinya."


Maryam kembali menghela napas berat, ini menyangkut dua keluarga. Abizar adalah sahabat baik Zaid, hubungan mereka tak akan sebaik dulu jika Umar membatalkan perjodohan tersebut.


"Silakan kamu pergi sendiri ke rumah Kyai Abizar lalu katakan apa maksud mu." Suara Zaid kembali terdengar mengejutkan Umar dan Maryam.


"Baik Bah, Umar akan pergi." Umar beranjak dari duduknya, ia mengenakan kembali helm dan menyambar kunci motor. Tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Zaid dan Maryam.


Zaid terpaku di tempatnya berdiri untuk beberapa saat, ia pikir Umar tidak akan berani menemui Abizar apalagi mengatakan akan membatalkan perjodohan mereka. Umar adalah lelaki pemalu, tanpa disangka ia langsung pergi begitu saja setelah Zaid mengatakan hal tersebut.


*******


Umar tidak tahu dari mana energi di dalam tubuhnya hingga ia bisa pergi dengan motornya menuju Lumajang yang jaraknya ratusan kilometer. Ia bahkan tidak mengganti pakaiannya yang basah oleh keringat tapi kini sudah kering terkena angin.


Umar berhenti sebentar di masjid ketika mendengar suara adzan ashar. Ia mengadu pada Allah, jika Aisyah memang jodohnya maka Allah pasti akan memudahkan jalannya. Umar tidak lagi memikirkan apakah Aisyah akan menerimanya. Setelah berdoa Umar hanya perlu memasrahkan segalanya pada Sang Pemilik Takdir.


Ia melanjutkan perjalanan melewati kota Jember yang berbatasan dengan Lumajang. Ia sampai di pondok pesantren Al-Islam tepat saat adzan magrib berkumandang dari masjid pondok.


Umar merasa segar kembali setelah berwudhu, perjalanan dari Banyuwangi cukup menguras tenaga apalagi dengan motor. Ia mendapat shaf paling belakang karena para santri sudah memenuhi bagian depan.


"Lho Gus Umar." Seseorang yang mengenali Umar menyapa ketika mereka sama-sama keluar dari masjid. "Kapan datang?"


"Kyai Abizar belum keluar, mari saya antar ke ndalem."


"Tidak apa-apa, saya tunggu disini saja."


"Jangan Gus, masa Gus Umar dibiarkan di luar."


"Tidak apa-apa Mas." Umar melebarkan senyum, ia hanya ingin bertemu dengan Abizar dan tidak perlu diperlakukan spesial.


"Sebentar lagi kan Gus Umar juga akan menjadi bagian dari pondok pesantren Al-Islam, maka jangan terlalu sungkan."


Umar hanya tersenyum, ia tidak akan menjadi bagian pondok ini.


"Perlu saya temani?"


"Terimakasih tapi saya bisa menunggu Kyai disini sendiri."


"Baik kalau begitu, saya permisi Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Umar duduk di teras masjid sembari melihat santri yang berlalu-lalang di depannya. Kehidupan para santri itu indah, mereka tak hanya belajar tapi juga mengabdi. Mereka begitu taat pada kyai dan mengutamakan adab. Tak hanya ilmu dunia, mereka mendapatkan lebih banyak ilmu akhirat disini.


Umar juga merasakan menjadi santri di Nurul Jadid, masa-masa remaja hingga lulus S2 lalu pergi ke Shanghai untuk membimbing mualaf disana. Tidak banyak yang Umar bimbing, hanya 8 orang tapi Umar cukup kesulitan karena perbedaan bahasa. Namun itu memberinya pengalaman yang berharga, itu artinya ia bisa membimbing Aisyah sebagai istrinya.


"Gus Umar."


Suara itu membuyarkan lamunan Umar, ia mendongak dan mendapati Hilya berada di hadapannya.


"Assalamualaikum Gus." Ucap Hilya.


"Waalaikumussalam." Jawab Umar, dari mana Hilya tahu jika dirinya ada disini.


"Saya diberitahu Mas Riski bahwa Gus Umar ada disini, kenapa tidak masuk?"


"Saya menunggu Kyai Abizar disini."


"Mari tunggu di rumah."


Umar tidak memiliki pilihan selain mengikuti Hilya, ia mengekori di belakang tanpa mengatakan apapun. Umar semakin merasa bersalah setelah bertemu Hilya tapi ia tetap harus mengatakannya.

__ADS_1


"Ning."


Langkah Hilya terhenti mendengar Umar memanggilnya lalu membalikkan badan.


"Saya akan membatalkan perjodohan kita."


Hilya tertegun, seperti tersengat listrik bertegangan tinggi Hilya tidak bisa berkutik di tempatnya berdiri. Mengapa Umar tiba-tiba ingin membatalkan perjodohan mereka. Sebelumnya mereka sudah sepakat untuk melanjutkannya. Atau hanya Hilya yang setuju sedangkan Umar tidak.


"Apa alasannya?" Suara Hilya terdengar gemetar, ia menahan tangisnya sekuat tenaga. Hatinya terasa diiris-iris, perih sekali.


"Saya tidak bisa menikah dengan gadis yang tidak saya cintai."


Hilya terisak, ia tak bisa lagi menahan tangisnya apalagi mengendalikan dirinya.


Umar hendak mengatakan bahwa Hilya pantas menikah dengan lelaki yang mencintainya, Hilya pantas mendapat lelaki yang jauh lebih baik dari Umar. Hilya adalah gadis baik yang diperebutkan banyak lelaki di luar sana. Namun kalimat itu hanya akan semakin menyakiti Hilya maka Umar hanya bisa mengatakan itu.


"Gus main-main dengan saya?"


"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya tapi saya sama sekali tidak berniat main-main dengan Ning Hilya, setelah memikirkannya saya tidak bisa menyakiti Ning Hilya lebih dalam seandainya perjodohan ini dilanjutkan, saya tidak bisa."


Melihat penampilan Umar saat ini, pasti ia terburu-buru datang kesini. Hilya memalingkan wajah, apakah Umar begitu tidak menginginkannya?


"Umar, mari masuk." Amina muncul dari balik pintu. Percakapan Hilya dan Umar terpaksa terhenti setelahnya. "Buatkan teh untuk Umar." Pintanya.


Meski diselimuti kemarahan Hilya tetap menuruti perintah ummi nya membuat teh untuk Umar.


"Maaf saya tidak memberitahu sebelum datang." Umar duduk bersila di atas alas permadani merah yang membentang ke seluruh ruang tamu.


"Tidak apa-apa, pasti ada sesuatu yang mendesak karena kamu tiba-tiba datang."


Hilya menuang air panas pada gelas yang sudah berisi dua sendok gula pasir lalu mencelupkan teh beraroma melati. Aroma melati yang selalu menenangkan ketika menghirupnya dalam-dalam. Namun kali ini aroma itu tidak berhasil menghibur Hilya. Bahkan untuk memegang nampan saja rasanya Hilya tidak sanggup.


Ketika kembali ke ruang tamu, Hilya mendapati Abizar telah kembali dari masjid.


"Abah mau teh juga?" Hilya meletakkan teh di hadapan Umar dan dua toples cookies serta anggur kering.


"Tidak usah." Balas Abizar.


Hilya hendak kembali ke dapur tapi Aminah mencegahnya padahal ia tak ingin mendengarkan perkataan Umar sebentar lagi. Itu akan semakin terasa menyakitkan.


Hilya pikir semuanya akan berjalan lancar setelah prosesi khitbah beberapa waktu lalu. Selangkah lagi mereka akan menuju pelaminan tapi Umar tiba-tiba ingin membatalkannya. Umar adalah tipe suami idaman Hilya, ia tidak pernah memikirkan lelaki lain kecuali Umar. Hilya percaya hanya Umar yang dapat menjadi suaminya, membangun rumah tangga dan melahirkan anak-anak sholeh dan sholehah. Sekarang harapan itu pupus sudah seperti daun-daun kering yang berguguran dan manusia tidak dapat menolak takdir. Hilya tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya.


"Saya minta maaf karena datang tanpa pemberitahuan." Umar baru sadar jika ia masih mengenakan pakaian yang sama sejak pagi tadi.


"Abah mu sudah menelepon saya tadi dan mengatakan kamu akan datang."


Umar tidak menyangka jika Zaid akan menelepon Abizar pasak kedatangannya. Lalu apakah Zaid juga memberitahu tujuan Umar datang kesini, sepertinya tidak karena ekspresi Abizar terlihat tenang.


"Sepertinya ada hal mendesak yang hendak kamu katakan."


"Benar Kyai." Ini sangat mendesak bagi Umar karena jika tidak segera mengatakannya mungkin ia akan kehilangan keberanian.


"Saya hendak mengurungkan khitbah saya dengan Ning Hilya."


Abizar dan Aminah tersentak mendengar penuturan Umar. Mereka sama sekali tidak menduga jika Umat akan mengatakan hal tersebut.


"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Kyai dan Nyai serta Ning Hilya, saya sama sekali tidak bermaksud bermain-main dengan Ning Hilya."


"Apa alasannya Umar?" Tanya Aminah.


Umar tetap menundukkan kepala, sungguh tidak pantas jika ia mengatakan alasan yang sesungguhnya pada Aminah dan Abizar.


"Katakan Umar." Desak Abizar lagi.


"Abah," Hilya yang dari tadi hanya menunduk akhirnya angkat suara, "Abah, Ummi tidak perlu menanyakan alasannya terhadap Gus Umar karena Hilya sudah mengetahuinya."


"Jadi kamu sudah tahu ini sebelumnya Hilya?" Aminah menatap Hilya, matanya berkaca-kaca tak kuasa melihat kesedihan Hilya.


"Ini juga kesalahan Hilya karena saat itu Gus Umar memang tidak ingin melanjutkan perjodohan kami tapi saya bersikukuh meneruskannya."


"Ini sepenuhnya kesalahan saya." Timpal Umar. Ia kembali meminta maaf kepada mereka berkali-kali walaupun itu tidak akan bisa mengobati rasa kecewa Hilya.


Hilya tersenyum getir, ia tak peduli apapun yang Umar katakan. Itu tidak akan mengubah keadaan mereka. Umar akan tetap membatalkan lamaran mereka dan menikahi gadis lain. Membayangkannya saja Hilya tidak sanggup, ia ingin pergi jauh dimana dirinya tidak mendengar kabar Umar.



__ADS_1


__ADS_2