
Pondok pesantren Al-Islam dipenuhi oleh lautan manusia yang akan mengantarkan Hilya ke peristirahatan terakhirnya. Mereka semua terpukul mendengar kabar meninggalnya putri sulung Kyai Abizar yang dikenal ramah dan baik hati.
Lantunan kalimat tauhid terus dikumandangkan hingga ke pemakaman yang tidak jauh dari pondok.
Aminah menangis sesenggukan tak kuasa mengantar sang anak ke liang lahat, ia jatuh pingsan beberapa kali sejak prosesi memandikan Hilya dilakukan. Bagaimana ia tidak terpukul, tadi pagi Hilya masih pamit pergi ke Banyuwangi. Aminah tidak mengizinkan karena Hilya baru saja melalui kondisi kritis. Namun Hilya terus memohon mengatakan ingin bertemu Umar dan istrinya. Akhirnya dengan berat hati Aminah mengizinkan Hilya pergi. Namun Aminah tidak menduga jika itu adalah terakhir kalinya ia berbicara dengan Hilya.
Kelopak mawar bertaburan di atas pusara Hilya hingga tanahnya tidak terlihat. Doa-doa terus dilantunkan bersama tangisan yang tidak ada tanda-tanda akan berakhir.
Pada akhirnya manusia akan kembali ke tanah, kembali ke pangkuan sang maha kuasa. Manusia harus ingat bahwa dunia bukanlah tempat yang kekal.
Satu per satu pelayat meninggalkan pemakaman menyisakan keluarga inti dan keluarga Zaid mengelilingi pusara Hilya. Mereka tidak menyangka jika pertemuan dengan Hilya sangatlah singkat. Masih lekat di pikiran mereka kalimat terakhir Hilya sebelum pulang tadi. Hilya berpamitan pada semua orang tapi hari ini dengan pandangan dalam nan lekat. Ternyata ia hendak pulang selama-lamanya.
Matahari sudah tumbang di ufuk barat, angin berhembus membawa udara dingin menusuk kulit. Burung gagak yang hinggap di dahan pohon kamboja terus berbunyi seolah mendukung kesedihan manusia di bawahnya.
Tatapan Aisyah kosong ke arah pusara yang masih basah penuh bunga. Jika ia yang baru mengenal Hilya saja merasa amat kehilangan lalu bagaimana perasaan keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Aisyah menyeka air matanya yang tak henti meleleh, Hilya bilang mereka akan segera bertemu. Namun bukan pertemuan seperti ini yang Aisyah inginkan.
"Sabar Mas," Aisyah menggenggam tangan Umar, ia tak tahu harus mengucapkan kalimat macam apa untuk menguatkan Umar.
"Ning Hilya sudah berada di tempat terbaik di sisi-Nya." Gumam Umar.
Adzan magrib berkumandang, mereka mulai meninggalkan pemakaman menuju musholla untuk memenuhi panggilan Allah.
Ba'da isya tahlilan dilakukan di musholla hingga halaman pondok. Ratusan orang memenuhi area pondok yang datang dari segala penjuru kota Lumajang hingga luar kota. Malam itu Umar mendapat kehormatan memimpin tahlil karena permintaan Abizar.
Sementara Aisyah berada di dalem bersama para perempuan. Tidak ada yang ia kenal kecuali mertuanya, Khawla dan Aminah. Aisyah juga membantu sebisanya, ia tak mau memaksakan diri dan mengacaukan dapur.
Aminah memanggil Aisyah untuk mendekat, ia ingin bicara berdua dengan istri Umar tersebut.
Aisyah melihat Maryam seolah meminta izin, setelah Maryam mengangguk barulah Aisyah duduk tepat di samping Aminah.
__ADS_1
"Kamu boleh panggil saya Ummi, seperti kamu memanggil Ummi Maryam.
"Baik Ummi."
"Ini gelang dari kamu?" Aminah membuka tangannya yang dari tadi terkepal, tampak manik-manik menyembul dari telapak tangannya.
"Benar Ummi."
"Kalau begitu tolong pakaikan." Aminah menyodorkan gelang itu pada Aisyah. "Kamu membuatnya sendiri?"
"Iya, ini gelang manik pertama yang saya buat." Aisyah memakaikan gelang tersebut pada Aminah.
"Saya tidak ada di dekat Hilya disaat-saat terakhirnya tapi orang yang menemani Hilya tadi menyampaikan jika Hilya sempat mengatakan bahwa ia bahagia karena bertemu dengan mu, Hilya juga senang bisa memakai gelang ini."
Aisyah menggenggam tangan Aminah, "tapi Ummi, ini hanya gelang dan tidak ada yang istimewa."
"Istimewa karena kamu adalah wanita yang akan mendampingi Umar seumur hidup mu."
"Maafkan saya Ummi." Air mata Aisyah kembali berlinang.
"Semoga Ummi diberi ketabahan yang tidak terbatas." Aisyah bergerak memeluk Aminah, ia hanya ingin memberi kekuatan pada seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya. Aisyah tahu itu tidak banyak membantu tapi ia tetap ingin melakukannya.
Aisyah menangis tersedu-sedu mengingat semua kalimat-kalimat indah Hilya. Tak ada kata yang sia-sia, semuanya bermakna. Aisyah semakin sadar bahwa ia tak akan pernah bisa menyamai Hilya dalam hal apapun. Begitu istimewanya seorang Hilya.
*******
Keluarga Zaid sampai di rumah hampir tengah malam, tidak ada percakapan setelah turun dari mobil. Mereka langsung pergi ke kamar masing-masing. Rasanya masih belum percaya jika Hilya yang tadi siang mengunjungi mereka sekarang sudah tiada.
Setelah bersih-bersih dan ganti baju, Aisyah baru merasakan perih dan panas di kakinya. Seharian ini Aisyah tidak merasakan apapun, kakinya melepuh dan mengelupas di beberapa bagian.
"Aku akan mengobatinya." Umar datang membawa salep untuk Aisyah, ia meletakkan kaki Aisyah ke pangkuannya.
__ADS_1
"Aku bisa obati sendiri Mas." Aisyah hendak mengambil salep tersebut tapi Umar tak memperbolehkannya.
"Harusnya diolesi salep sejak tadi, maaf aku nggak nggak sadar kalau kaki mu melepuh." Umar tak memperhatikan kaki Aisyah saking kagetnya dengan kabar itu.
"Kulit ku memang sensitif, harusnya nggak separah ini."
"Seperti saat terkena cipratan minyak, Mama juga bilang kalau kamu gampang digigit nyamuk."
"Untungnya di kamar ini nggak ada nyamuk."
"Aku nggak kasih izin nyamuk buat masuk apalagi hinggap di kulit istriku." Tentu saja tidak ada nyamuk karena baru kembali dari musholla usai shalat subuh, Umar buru-buru menyemprotkan obat nyamuk ke seluruh kamar.
Aisyah tersipu setiap kali Umar memanggilnya istriku. Itu masih terdengar aneh tapi Aisyah menyukainya.
"Ayo tidur, Mas pasti capek habis nyetir berjam-jam." Aisyah menurunkan kakinya dari pangkuan Umar.
Tempat tidur di kamar itu tidak luas jika dibandingkan dengan ranjang di rumah Aisyah. Sebenarnya ukuran kasur itu hanya untuk satu orang tapi mereka bisa tidur berdua di atasnya. Sekali lagi, Aisyah menyukainya.
Aisyah berbaring di dekat dinding lalu Umar menyusul di sampingnya. Jika boleh diatur ulang, Aisyah ingin meletakkan kasur itu di tengah ruangan tapi karena kamar tersebut sempit, barang-barang di dalamnya hampir tidak bisa ditata ulang.
"Mas, apa yang terjadi setelah kita meninggal?" Aisyah memiringkan tubuhnya menghadap Umar.
"Kita akan didatangi dua malaikat, Munkar dan Nakir yang akan menanyakan siapa Tuhan kita, siapa Nabi kita, apa agama kita, siapa Imam kita, dimana kiblat kita dan siapa saudara kita."
"Apa mereka jahat?"
"Dalam beberapa riwayat Munkar dan Nakir digambarkan dalam bentuk yang menyeramkan, berkulit hitam, garang, keras dan menakutkan."
"Bagaimana mungkin malaikat datang dalam bentuk menakutkan padahal Ning Hilya orang yang baik."
"Inshaa Allah malaikat akan lebih lembut pada Ning Hilya, kita doakan ya." Umar pikir Aisyah akan cemburu saat bertemu Hilya tadi tapi mereka justru seperti teman yang sudah kenal lama. Sayangnya pertemanan mereka hanya berlangsung kurang dari dua jam.
__ADS_1
Aisyah mengangguk merapatkan tubuhnya pada Umar padahal jarak mereka sudah sangat dekat berkat tempat tidur yang sempit.
Maaf update cuma seuprit.