
Hasil panen kebun Umar kali ini cukup melimpah, biasanya banyak tanaman yang gagal panen karena diserang hama. Namun karena sudah belajar banyak soal bercocok tanam, Umar mengetahui hal-hal apa saja yang harus ia lakukan untuk mendapatkan hasil panen yang bagus.
Umar dibantu oleh beberapa santri laki-laki mencabut sawi, kentang dan wortel dari kebun yang tidak terlalu luas itu. Hari Minggu selalu menjadi waktu untuk memanen semua hasil kebun karena Umar tidak memiliki jadwal mengajar ataupun kajian di masjid.
Sebagian dari hasil panen dimasak untuk makan siang dan makan malam sedangkan sisanya disimpan serta dibagikan ke tetangga sekitar pondok.
Kegiatan memanen ditemani oleh suara santri laki-laki yang sedang sorogan bersama Khalid. Kebetulan letak mushalla khusus santri laki-laki tak jauh dari kebun tersebut.
Itu sudah menjadi suara yang familiar bagi Umar karena ia lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren. Setelah lulus MTs pun ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo hingga lulus S2. Ia tak banyak tahu tentang dunia luar karena setiap hari selalu berada di pondok. Namun setelah menjadi dosen, ia jadi sedikit tahu tentang kehidupan di luar sana.
Kadang Umar dibuat terkejut oleh beberapa hal yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Seperti remaja berpacaran, wanita yang menampakkan aurat atau perkataan kasar dari lisan mereka. Kadang ia merasa sangat menyayangkan pergaulan seperti itu sudah dianggap lumrah di masyarakat. Namun Umar juga tidak bisa berbuat banyak, ia hanya memberi sedikit nasehat saat menghadiri pengajian.
Lamunan Umar buyar ketika gundukan tanah mengenai sarungnya.
"Maaf Gus." Santri laki-laki berambut ikal di dekat Umar buru-buru meminta maaf setelah tidak sengaja mengotori sarung Umar dengan tanah saat ia tengah mencabut sawi.
Umar hanya terkekeh lalu menepuk bahu santri tersebut dengan tatapan teduh, lagi pula sarungnya memang sudah kotor.
Tidak butuh waktu lama sebagian kebun sudah kosong. Karena dilakukan beramai-ramai maka pekerjaan lebih cepat selesai.
Mereka lanjut memindahkan semua sayuran ke dapur untuk dicuci sebelum dimasak.
Meskipun pondok memiliki juru masak tapi beberapa santri yang mengabdikan diri untuk pondok pesantren selalu turut membantu menghidangkan masakan bagi semua orang.
"Sudah selesai?" Maryam menghampiri Umar yang sedang istirahat di gazebo samping rumah.
"Sudah Ummi." Umar menggeser duduknya memberi ruang untuk Maryam. "Alhamdulilah ada waktu senggang hari Minggu jadi bisa memanen sayur."
"Nggak ada masalah kan kamu ngajar di dua kampus sekaligus?"
"Inshaa Allah Umar bisa mengatur waktu, jadwal kelasnya juga menyesuaikan."
"Bagaimana suasananya?"
Mendapat pertanyaan seperti itu Umar memikirkan kembali saat pertama dirinya menginjakkan kaki di kampus Universitas Banyuwangi. Ada beberapa orang yang tidak asing bagi Umar karena mereka sering ikut kajiannya. Suasananya tidak terlalu berbeda dari kampus lain tempat Umar mengajar.
Umar cukup terkejut mengetahui Atalie berkuliah di kampus tersebut. Pertemuan pertama mereka di kampus juga tidak bisa dibilang bagus. Atalie hampir menabrak motor Umar. Sejak awal, Atalie memang orang yang meninggalkan kesan berbeda bagi Umar.
"Nggak jauh berbeda dari Ibrahimy Ummi." Pungkas Umar akhirnya.
"Jadwal mu selalu padat, luangkan sedikit waktu untuk dirimu sendiri." Maryam mengusap punggung tangan Umar.
"Maksud Ummi?"
"Maksud Ummi kamu sudah dewasa, nikahilah gadis untuk menyempurnakan agama mu."
"Apa karena Umar sudah hampir 30, Ummi khawatir nggak ada gadis yang mau sama Umar?"
"Bukan begitu Umar." Maryam menyentuh punggung tangan Umar.
"Apa karena Mas Khalid dulu menikah diusia 25?"
"Ummi bukannya mau membandingkan kamu dengan Mas Khalid tapi saat ini kamu memang sudah pantas untuk menikah."
__ADS_1
"Menurut Ummi begitu?"
"Iya."
"Kalau begitu Ummi bantu cari gadis yang cocok, Umar percaya sama Ummi dan Abi." Umar selalu ingin menyenangkan orangtuanya maka ini adalah salah satu cara untuk mencapai hal tersebut. Umar selalu menghormati keduanya dan tidak pernah menentang mereka.
Mata Maryam berkaca-kaca, Umar memang anak penurut sejak kecil. Setelah dewasa pun Umar tidak pernah berubah.
Mendapat kepercayaan Umar, tentu Maryam tidak mau mengecewakannya. Maryam akan memilih gadis baik untuk putranya.
Jika Umar merasa kesulitan untuk menemukan pasangan maka Maryam dan Zaid selalu siap membantu.
"Umar mandi dulu, siap-siap shalat dhuha." Umar beranjak dari sana. Tubuhnya sudah tidak berkeringat dan ia harus segera mandi.
*******
Para santri putri menunduk takzim ketika Umar melewati koridor. Sama seperti mereka, Umar juga menunduk. Sebenarnya ia jarang pergi ke kawasan ini tapi karena harus mengambil kitab di perpustakaan dekat asrama putri maka ia terpaksa kesini.
Tadinya Umar tidak merisaukan soal pasangan yang orangtuanya akan pilih untuknya. Namun sekarang ia penasaran siapakah perempuan yang akan dipilih oleh Maryam dan Zaid. Pikiran Umar jadi melantur, apakah itu salah satu santri disini atau putri teman orangtuanya atau bisa saja gadis yang tidak pernah Umar tahu.
"Astaghfirullah!" Para santri berteriak ketika tiba-tiba Umar jatuh terjerembab di tangga terakhir di ujung koridor.
Umar memejamkan mata, dari pada merasakan sakit di pinggang dan dahinya ia lebih memikirkan betapa malunya ia jatuh di hadapan para santri. Umar tidak berani membuka mata, apa ia pura-pura pingsan saja. Tidak mungkin, tubuhnya yang besar ini tak akan pingsan dengan mudah. Bahkan ketika jatuh dari pohon rambutan saat remaja dulu ia tidak pingsan padahal pohon itu cukup tinggi.
Harusnya Umar tidak melamun selagi menuruni tangga, ia benar-benar ingin menghilang sekarang juga. Sayangnya ia hanya manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan super semacam itu.
Santri ribut berlarian mendekati Umar yang masih tidak berubah dari posisi tengkurap di sepanjang tangga. Untung saja sarungnya tidak tersingkap, jika itu terjadi pasti Umar lebih malu lagi.
"Mari Gus." Beberapa santri mendekat mengulurkan tangan.
Umar membuka mata, wajahnya sudah merah padam apalagi setelah melihat banyak santri yang mengelilinginya. Posisi Umar saat ini sangat menyulitkannya untuk bangkit. Ia mengulurkan tangan memegang ujung lengan baju salah satu santri sedangkan tangannya yang lain meraih pegangan tangga. Santri lainnya memegang lengan Umar, setelah menolong dengan susah payah karena tubuh Umar berat akhirnya mereka berhasil. Umar berdiri linglung bersandar pada pinggiran tangga.
"Terimakasih." Ucap Umar, pandangannya menelusuri tangga, mencari sandalnya yang terlepas.
"Silakan Gus." Santri berjilbab merah muda yang ikut menolong menyodorkan kopiah Umar yang terlepas. Sebelumnya ia mengusap debu yang menempel di kopiah tersebut.
Umar menerimanya dan kembali mengucapkan terimakasih. Umar menemukan sandal jepit satu-satunya yang ia miliki terlempar mengenaskan di bawah pohon pucuk merah. Yang lebih mengenaskan lagi adalah ternyata sandal itu putus.
"Pakai sandal kami, Gus Umar tidak mungkin berjalan tanpa alas kaki." Tawar mereka.
Umar memperhatikan kaki milik santri yang berada di sekitarnya, kaki mereka sangat mungil tentu saja tak akan cukup untuk kaki Umar. Kalaupun cukup Umar tidak mungkin memakai sandal milik mereka. Lebih baik ia berjalan tanpa alas kaki.
"Tidak usah, terimakasih kalian sudah membantu saya." Umar menganggukkan kepala mengucapkan terimakasih pada mereka. Sebelum pergi Umar mengambil sandal miliknya, siapa tahu masih bisa diperbaiki. Sandal 10 ribuan itu harusnya tahan di segala medan. Namun kali ini Umar harus membeli sandal baru, tentu saja dengan harga yang tidak jauh berbeda.
Setelah Umar tidak terlihat para santri kembali ribut menceritakan kejadian barusan. Bukan saat Umar jatuh tapi ketika mereka menolong salah satu putra pengasuh pondok tersebut.
"Kalau disuruh milih antara Gus Umar dan Gus Ali, aku pilih Gus Umar, orangnya kharismatik sekali." Pekik salah satu dari mereka.
"Masalahnya Gus Umar yang nggak mau sama kita." Sahut santri berjilbab merah muda.
"Coba mau cium baju mu, siapa tahu ada aroma Gus Umar yang tertinggal." Mereka berebut ingin mencium ujung lengan baju yang tadi dipegang Umar. Dugaan mereka benar, aroma musk samar-samar bisa dirasakan oleh indra penciuman mereka.
"Jangan dicuci seminggu." Ujar mereka.
__ADS_1
"Tenang, nanti aku gantung di dinding asrama putri." Candanya.
Sementara itu Umar berjalan tertatih menuju perpustakaan, usia memang tidak bisa dibohongi. Sekali jatuh seluruh tubuhnya langsung sakit, mungkin karena jarang olahraga. Mulai sekarang Umar akan lebih memperhatikan kesehatannya.
Sesampainya di perpustakaan Umar langsung mengambil kitab karya Muhammad al-Khudari tentang hukum Islam. Untungnya perpustakaan itu sepi jadi Umar bisa duduk lebih lama untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Dahi mu kenapa?" Khalid menghampiri Umar, barusan ia melihat Umar masuk ke perpustakaan jadi ia menyusulnya.
"Jatuh di tangga barusan." Umar menekan dahinya yang terasa berdenyut dan perih.
"Berdarah lho itu." Khalid menyingkirkan tangan Umar, "lihat."
Umar melihat darah di tangannya, "tapi nggak robek kan Mas?" Tanyanya berusaha tenang, ia tak mau dahinya dijahit.
"Enggak tapi harus cepat dibersihin dan dikasih plester."
"Nanti aja." Umar masih ingin duduk disini lebih lama.
"Kamu juga harus belajar fiqih wanita untuk diajarkan pada istrimu nanti." Khalid duduk bergabung dengan Umar.
"Bukannya itu kewajiban wanita belajar fiqih untuk dirinya sendiri."
"Setelah jadi seorang suami nanti kamu wajib membimbing istrimu, nggak ada salahnya belajar kan, kamu juga belum tahu apakah nanti istrimu sudah paham betul pada hukum fiqih atau nggak."
Ucapan Khalid benar, Umar tidak berpikir sampai sana. Ia hanya yakin Maryam dan Zaid akan memilih istri yang baik agamanya. Jika begitu tentu lah wanita tersebut paham soal hukum-hukum Islam.
"Dulu Mbak Khawla juga pilihan Abah dan Ummi," Umar meletakkan bukunya, kali ini ia menatap Khalid.
"Benar, kenapa?"
"Mbak Khawla paham betul soal ilmu agama bukan hanya fiqih."
Senyum Khalid terbit, sekarang ia tahu jalan pikiran Umar.
"Jadi menurutmu, Mas sudah nggak perlu membimbing istri Mas karena dia sudah paham soal itu maka kamu juga akan melakukan hal yang sama nanti?"
Umar mengangguk samar.
"Lalu apa fungsi dia menikah denganmu?"
Umar tak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
"Belajar sedikit-sedikit." Khalid menepuk bahu Umar sebelum beranjak dari sana.
Setelah Khalid menghilang, Umar masih terdiam cukup lama. Ia jadi kehilangan semangat untuk membaca kitab di tangannya.
"Assalamualaikum Gus, maaf." Seorang santri laki-laki menghampiri Umar.
"Waalaikumussalam." Jawab Umar.
"Gus Khalid meminta saya mengantar ini untuk Gus Umar." Santri tersebut membawa sepasang sandal jepit persis seperti milik Umar.
Umar mengucapkan terimakasih pada santri tersebut. Ternyata Khalid menyadari bahwa Umar tidak mengenakan alas kaki dan langsung memberikan yang baru. Padahal sepertinya tadi Khalid tidak memperhatikan kaki Umar.
__ADS_1