
Aisyah begitu bersemangat menyiapkan grand opening Butik Muslimah setelah melalui proses panjang yang tidak mudah. Mulai dari lokasi, brand yang akan dijual hingga karyawan. Awalnya Aisyah ingin membuat produknya sendiri dengan mencari perusahaan konveksi di sekitar Banyuwangi tapi ternyata itu tidak mudah. Setelah berkelana selama satu bulan terakhir, Aisyah tidak menemukan tempat konveksi yang sesuai keinginannya. Akhirnya Aisyah memilih menjual satu brand di butiknya sembari diselingi pakaian buatannya sendiri. Membayangkannya saja Aisyah sudah amat senang.
Hari ini Butik Muslimah resmi buka. Tiga sahabat Aisyah datang begitupun dengan teman-teman sekelasnya. Tidak banyak pengunjung yang datang meski seminggu terakhir Aisyah telah menyebar selebaran dibantu Gracia.
"Kalau ini bukan butik khusus pakaian muslimah mungkin akan lebih banyak yang datang." Ucap Gracia seraya memperhatikan seluruh butik.
Aisyah hanya tersenyum menanggapinya, ia sudah memikirkannya matang-matang. Karena sebagian besar kenalan Aisyah berasal dari komunitas gereja, mereka tidak mungkin datang ke butiknya. Namun bagi Aisyah tidak masalah, ia yakin seiring berjalannya waktu butik ini akan dikenal lebih banyak orang.
"Ayo mulai potong pita nya." Renata menepuk bahu Aisyah.
"Tunggu Ma." Sebenarnya Aisyah tidak ingin ada acara potong pita lagi pula itu bukan butik besar dan tak banyak yang datang. Namun Renata sudah menyiapkan semuanya termasuk acara potong pita.
Aisyah menunggu Umar untuk potong pita karena itu adalah hal penting baginya maka ia ingin Umar bersamanya. Aisyah mulai gelisah karena Umar tidak kunjung datang, jam menunjukkan pukul setengah 11, sudah lewat 30 menit.
Aisyah memeriksa ponselnya, ia melihat satu pesan masuk dari Umar.
Assalamualaikum Aisyah, aku sungguh minta maaf karena tidak bisa datang. Aku harus menjenguk Hilya di rumah sakit. Nanti aku sempatkan datang setelah kembali.
Senyum Aisyah pudar, sorot matanya redup setelah membaca pesan Umar. Bukankah ia sudah memberitahu Umar sejak jauh-jauh hari. Apakah menjenguk Hilya tidak bisa ditunda. Aisyah ingin marah, semangatnya yang membara beberapa menit lalu seketika lenyap.
Akhirnya Aisyah beranjak dari duduknya menghempas semua pikiran buruk dalam kepalanya. Ia harus kembali bersemangat, ada sahabat dan teman-temannya disini. Tak apa Umar tidak datang.
"Terimakasih untuk teman-teman yang sudah menyempatkan waktu datang kesini, aku harap butik ini dapat terus berkembang dan menyediakan pakaian yang sesuai untuk para muslimah." Sudut bibir Aisyah terangkat, ia melihat mama nya yang tersenyum lebar ke arahnya lalu memotong pita. Tepuk tangan terdengar di halaman butik.
"Selamat sayang." Renata memberi Aisyah pelukan, "salah satu impian mu terwujud." Ia menatap Aisyah bangga.
"Ini semua karena Mama dan Papa yang sudah mendukung penuh keinginan ku."
Walaupun Jaya tidak datang karena harus pergi ke Bali tapi akhirnya ia mendukung keinginan Aisyah untuk memiliki butik. Jaya bahkan membantu Aisyah dengan menginvestasikan dana yang jumlahnya cukup besar.
Butik Muslimah memiliki tiga orang pegawai yang siap melayani pembeli. Berbagai model dan warna pakaian muslimah tersedia lengkap dengan jilbab serta aksesoris.
"Gus Umar katanya mau datang." Ayana berbisik pada Aisyah.
"Dia tiba-tiba ada urusan jadi nggak bisa datang." Entah kenapa Aisyah tidak mau memberitahu jika Umar menjenguk Hilya. Meskipun Ayana dan Khanza meminta Aisyah lebih terbuka tapi untuk satu ini Aisyah tidak dapat memberitahu. Aisyah akan menyimpan kekecewaannya seorang diri. Ia hanya ingin berbagi kebahagiaan, biar kesedihan, rasa sakit dan kecewa untuk dirinya sendiri.
"Kamu nggak kesal atau marah?"
Aisyah menggeleng walaupun sebenarnya jauh dalam dirinya ia sangat kesal. Umar seolah-olah mengutamakan Hilya dibanding Aisyah. Entahlah, Aisyah tidak mau terlalu memikirkannya. Untuk saat ini ia harus fokus pada butiknya.
******
Umar kembali menginjakkan kaki di Kota yang hanya dipisahkan oleh satu Kabupaten dari Banyuwangi setelah menempuh jarak sekitar 4 jam dengan motor. Ini bukanlah kunjungan yang Umar inginkan. Lebih tepatnya ia selalu berharap Hilya dalam keadaan baik. Tidak terbaring lemah dengan alat medis menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Hanya satu orang yang boleh masuk ke ruang rawat Hilya, Umar menunggu giliran sementara salah satu sahabat Hilya berada di dalam sana.
Abizar dan Aminah berada di depan ruang ICU, mereka setia menemani Hilya mendoakan kesembuhan sang anak.
"Sekitar satu bulan ini kesehatan Hilya memang tidak baik. Hilya selalu menolak untuk pergi ke dokter, ia hanya meminta saya membuat teh jahe, kami pikir itu akan sembuh dengan sendirinya seperti demam biasa. Seminggu setelah itu panasnya turun tapi Hilya justru tidak sadarkan diri di kamar, hidungnya mengeluarkan darah." Aminah tercekat menyeka air di pelupuk matanya. Ia masih ingat persis kejadian itu.
"Dokter mengatakan Hilya mengalami kebocoran plasma karena terlambat ditangani, saya sangat menyesal karena tidak segera membawanya ke rumah sakit."
"Maaf Nyai, saya yakin Nyai dan Kyai sudah melakukan yang terbaik." Umar menunduk tidak kuasa mendengar cerita Aminah tentang kondisi Hilya. Ia tidak menduga demam berdarah Hilya akan separah itu. "Mengenai kondisi Ning Hilya satu bulan terakhir, saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada Nyai dan Kyai."
"Kamu tidak perlu minta maaf Umar."
Semakin Aminah mengatakan tidak perlu minta maaf, rasa bersalah menggerogoti Umar.
Seseorang keluar dari ruangan Hilya. Umar segera beranjak meminta izin untuk masuk.
Hilya tidak memakai cadarnya, ia terbaring lemah di atas brankar dengan selang oksigen terpasang di hidung serta infus di punggung tangan kiri.
"Assalamualaikum, ini aku Umar." Umar berjalan mendekat dan duduk di meja samping brankar. "Maafkan aku, Ning."
Mata Hilya mengerjap, jemarinya bergerak. Melihat respon Hilya, Umar tahu jika Hilya bisa mendengar dan merasakan kehadirannya.
Perlahan Hilya membuka mata, pandangannya sayu menatap Umar lalu segaris senyum tipis terlukis di wajahnya yang pucat.
Hilya menggeleng samar tidak yakin dengan ucapan Umar. Bahkan saat ini ia tidak bisa melihat wajah Umar dengan jelas. Hanya ingatan tentang Umar yang masih amat jelas.
Mereka bertemu pertama kali saat usia Hilya 4 tahun sedangkan Umar baru lulus sekolah dasar. Saat itu Hilya sudah mengagumi Umar tapi bukan karena wajah tampannya apalagi akhlaknya karena ia belum mengerti tentang itu. Tubuh Umar sangat tinggi hingga Hilya harus mendongak jika berbicara dengannya.
Gus ini tinggi sekali seperti tiang listrik. Begitu pikir Hilya saat itu.
Mereka bermain di halaman samping lebih tepatnya di pinggir kolam ikan lele yang berlumpur.
"Gus jalannya pelan-pelan."
"Ini sudah pelan, jalan mu yang lambat."
Demi mengejar Umar yang berjalan jauh di depannya, Hilya tak sengaja terpeleset dan jatuh ke dalam kolam.
"Ning Hilya!" Umar terkejut melihat Hilya terjun ke kolam hingga tubuhnya penuh lumpur. Ia bergegas menarik tangan Hilya dengan kuat dan menaikkannya ke pinggir.
Hilya menangis karena gamis putih yang dikenakannya berubah kehitaman dan bau.
"Jangan menangis, Ning Hilya." Umar mengusap lumpur di pipi Hilya, sebenarnya ia ingin tertawa tapi takut membuat Hilya semakin menangis.
__ADS_1
Maryam muncul seketika terkejut melihat tubuh Hilya penuh lumpur.
"Maaf Ummi, Umar nggak jaga Ning Hilya dengan baik." Umar menunduk merasa bersalah karena ia tidak mendengarkan Hilya untuk berjalan lebih pelan. Akibatnya Hilya jatuh ke kolam lele.
Tangan Hilya mengepal lemah, ia masih ingat genggaman Umar saat mengangkatnya dari kolam. Setelah beranjak dewasa, mereka tidak lagi akrab bahkan Umar hanya menyapa Hilya dengan kalimat pendek saat bertemu. Hilya mengerti karena mereka bukan lagi anak-anak dan harus membatasi interaksi dengan bukan mahram. Namun kekaguman Hilya tidak berubah justru semakin besar dan perlahan menjadi perasaan cinta.
Saat mendengar akan dijodohkan, Hilya amat bahagia. Setiap hari terasa menyenangkan menjelang hari pernikahan. Semuanya terasa berjalan lancar hingga Umar mengatakan jika dirinya mencintai gadis lain. Hilya pikir itu tidak masalah lagi pula mereka akan segera menikah dan perasaan cinta pasti tumbuh dengan sendirinya. Namun Umar datang dan mengatakan akan membatalkan khitbah nya. Saat itu juga dunia Hilya hancur.
"Lusa ya?" Suara Hilya serak hampir tidak terdengar tapi karena di ruangan itu hanya ada mereka berdua, Umar masih bisa mendengarnya.
"Hm?"
"Hari pernikahan itu." Hilya enggan membahas ini tapi ia harus ikhlas menerima takdir yang sudah digariskan. Seharusnya itu menjadi hari pernikahannya tapi ia justru terbaring tak berdaya disini. Betapa beruntungnya Aisyah, ia dicintai dan hendak dinikahi Umar. Aisyah adalah satu-satunya gadis yang membuat Hilya iri.
"Benar Ning."
"Semoga Gus Umar dan Mbak Aisyah menjadi keluarga yang diliputi kasih sayang dan barokah serta dikaruniai anak-anak yang sholeh dan sholehah."
Umar tercekat, sungguh Hilya tak perlu mengatakan itu. Hilya sudah cukup tersakiti tapi ia masih sempat mendoakan pernikahan Umar dan Aisyah.
"Ning," Umar terkejut melihat darah mengalir di hidung Hilya. Ia berusaha menyeka darah Hilya seraya menekan Nurse Call di dekat nakas.
"Aku bahagia." Hilya tersenyum dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar, "karena pernah mencintai mu, Gus."
"Terimakasih Ning." Umar bergetar menahan tangis, ia tak kuasa mendengar kalimat itu karena sampai kapanpun ia tidak bisa membalasnya.
Beberapa perawat dan dokter masuk ke ruangan Hilya, mereka meminta Umar keluar dari sana sementara dokter memeriksa kondisi Hilya.
"Ada apa Umar?" Aminah beranjak menghampiri Umar, ia kaget melihat tangan Umar bersimbah darah.
"Ning Hilya mimisan, dokter sedang memeriksanya." Jelas Umar masih dengan suara gemetar, ia mengusap tangannya dengan baju yang dipakainya.
Aminah berusaha melihat ke dalam ruangan Hilya sembari terus merapalkan doa untuk keselamatan Hilya.
******
Deru motor Umar terdengar lebih kencang di jalanan yang sepi lalu berhenti di depan bangunan dengan tulisan Butik Muslimah. Butik itu gelap padahal Umar berharap ia masih sempat menemui Aisyah sekadar untuk mengucapkan selamat. Namun ia terlambat, butik itu sudah tutup.
"Maaf Aisyah, aku terlambat." Gumam Umar. Ia mengeluarkan ponselnya memeriksa barangkali ada pesan dari Aisyah. Namun pesan terakhir Umar tadi pagi hanya dibaca tanpa ada balasan.
Motor Umar kembali melaju meninggalkan halaman butik yang tidak terlalu luas. Umar sudah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dari Lumajang tapi ia tetap terlambat.
Tak lama kemudian pintu butik terbuka, Aisyah muncul dari balik dinding kaca butik yang gelap. Ia mengunci pintu dan melangkah menuju halaman samping dimana mobilnya terparkir. Ia sengaja pulang lebih malam menunggu Umar.
__ADS_1
"Mas Umar belum pulang ya?" Aisyah mendongak menatap langit mendung, sebentar lagi hujan pasti turun. Aisyah harap Umar tidak kehujanan saat perjalanan pulang.