
Umar menatap cincin di tangannya, itu adalah cincin lamaran Hilya yang dikembalikan pada Umar. Tak hanya itu keluarga Hilya mengembalikan semua seserahan seperti pakaian dan produk kecantikan yang belum sempat Hilya buka. Umar sudah mengatakan mereka tak perlu mengembalikan barang-barang itu tapi Hilya mengatakan dirinya tidak mungkin menyimpan benda yang akan membuatnya semakin sakit hati. Akhirnya Umar bisa mengerti dan menerima barang-barang yang dikembalikan.
Selang dua hari setelah Umar membatalkan lamarannya, Zaid dan Maryam pergi ke kediaman keluarga Abizar. Mereka memohon maaf karena telah membatalkan perjodohan secara sepihak. Mereka juga berharap hubungan keluarga mereka tetap baik setelah itu.
"Ada yang bisa saya bantu?" Seorang karyawan wanita membuyarkan lamunan Umar.
Umar menyodorkan cincin pada karyawan toko emas tersebut. Umar tidak tahu harus memberikan cincin itu pada siapa, ia juga tidak mungkin menyimpan ataupun membuangnya karena cincin tersebut cukup mahal, seharga satu bulan gaji Umar sebagai dosen. Ia bukan orang kaya yang kelebihan uang, akhirnya ia memutuskan untuk menjualnya.
"Mau dijual?"
Umar mengangguk. Sebelum pergi ke kampus, ia mampir ke toko tempat Maryam membeli cincin untuk Hilya. Umar harap Hilya baik-baik saja setelah ini.
Jalanan masih sepi ketika Umar melanjutkan perjalanan menuju kampus. Karena memiliki jadwal mengajar di kelas pertama, Umar berangkat lebih pagi.
"Wah, udah disetrika ya?"
Umar terkejut mendengar suara itu ketika ia baru turun dari motor di parkiran kampus. Tampak Aisyah juga baru keluar dari mobilnya, ia mengenakan gamis hitam dipadukan dengan pashmina krem yang dipasang asal. Namun percayalah walaupun mengenakan jilbab secara asal tapi Aisyah tetap terlihat cantik.
Umar melirik ke kanan dan kiri, apa maksud dari pertanyaan Aisyah. Apanya yang sudah disetrika?
"Saya sudah menyetrikanya." Umar melihat kemeja yang ia kenakan, tampak rapi dan licin karena ia menyetrikanya sendiri.
Aisyah tertawa, "maksud ku wajah Gus eh Pak Umar."
"Apa wajah saya terlihat lurus?"
"Bukan, terlihat cerah nggak seperti waktu kita ketemu terakhir kali."
Umar manggut-manggut, apakah wajahnya saat itu benar-benar terlihat kusut?setelah membatalkan perjodohan itu Umar memang merasa amat lega seperti melepaskan beban berat yang berada di pundaknya.
"Tas mu terlihat berat." Umar melihat Aisyah membawa dua tas yang berada di pundak kanan dan kirinya.
"Oh iya," Aisyah mengeluarkan satu toples kue kering buatan mama nya yang ia bawa dari rumah. Karena Renata membuat banyak jadi Aisyah membawanya ke kampus untuk dibagikan pada teman-teman sekelasnya. Aisyah juga ingin lebih akrab dengan mereka walaupun sebenarnya sudah terlambat karena sebentar lagi mereka akan lulus. Namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
"Buat Mas Umar." Aisyah menyodorkan kue itu pada Umar. "Itu enak kok, bukan aku yang bikin."
"Kalau kamu yang bikin?"
"Itu hal yang mustahil."
"Nggak ada yang mustahil kalau kamu mau berusaha."
"Keahlian ku di bidang lain, contohnya menjahit jilbab." Aisyah menepuk-nepuk tasnya yang menggembung. Selain kue Aisyah juga membawa belasan jilbab jahitannya sendiri. "Aku pergi ke kelas dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Aisyah pergi dengan senyum lebar, entah kenapa mengucapkan salam pada Umar membuatnya bahagia karena dulu ia tidak dapat melakukan hal itu. Kini Aisyah bisa melakukan semua yang ingin ia lakukan dulu seperti mengucapkan salam, membaca Alqur'an dan shalat. Itu sedikit dari kebiasaan baru yang membuatnya bahagia.
"Tunggu Aisyah,"
Aisyah menghentikan langkah mendengar panggilan Umar.
"Ya?" Aisyah melihat Umar seperti hendak mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu. "Toplesnya nggak perlu dibalikin kok."
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Apa kamu termasuk orang yang merencanakan masa depan?"
__ADS_1
"Tentu saja, kenapa?" Aisyah bahkan sudah merencanakan apa saja yang akan ia lakukan dalam 10 tahun ke depan. Misalnya membuka butik yang berarti ia akan menyediakan lapangan pekerjaan bagi 10 orang jika itu berjalan dengan lancar.
"Apa kamu mau menikah?"
"Mau kalau sama kamu, eh." Aisyah segera menutup mulut lalu menepuk bibirnya beberapa kali karena sudah mengucapkan kalimat tidak pantas. Ia lupa jika Umar sudah melamar Hilya. Mereka pasangan yang serasi, Aisyah akui itu karena ia pernah bertemu langsung dengan Hilya. Aisyah tidak mau memikirkan itu lagi, walaupun berat tapi sampai saat ini ia terus berusaha melupakan perasannya pada Umar.
"Baiklah." Umar melenggang pergi setelah mengucapkan satu kata pendek yang membuat Aisyah bengong.
Aisyah hanya menatap kepergian Umar dengan perasaan bingung. Umar tak pernah menyelesaikan kalimatnya hingga membuat Aisyah bertanya-tanya.
Setelah Umar tak lagi terlihat barulah Aisyah kembali melangkah melewati koridor untuk sampai ke kelasnya.
"Ini buat kalian." Aisyah mengeluarkan toples kecil-kecil berisi kue yang akan dibagikan pada semua orang di dalam kelas.
"Wah ada acara apa nih?" Mereka mengambil satu per satu toples tersebut.
"Nggak ada acara apa-apa, Mama ku lagi bikin kue lumayan banyak."
"Makasih ya." Ucap mereka.
"Yang ini buat cewek-cewek." Aisyah juga membagikan jilbab yang sudah ia kemas ke dalam plastik. Itu jilbab yang Aisyah jahit sendiri di sela kesibukan kuliahnya.
"Ada jilbab juga?"
"Iya, itu aku jahit sendiri dan tolong kasih masukan buat aku." Ujar Aisyah pada teman-temannya.
"Kamu mau bikin produk jilbab?"
"Inshaa Allah semoga lancar semuanya, masukan kalian berharga banget buat aku."
"Kamu tenang aja, kami akan kasih masukan setelah pakai jilbab nya."
"Aisyah, makasih ya." Ucap salah seorang teman Aisyah, ia duduk tepat di samping Aisyah.
Aisyah menjawabnya dengan anggukan dan senyum lebar. Dulu Aisyah sulit melakukan itu— tersenyum pada orang lain yang tidak begitu ia kenal. Namun pelan-pelan Aisyah belajar lebih ramah dan berteman dengan banyak orang dimulai dari teman sekelasnya .
"Ternyata kamu baik."
"Hm?" Alis Aisyah terangkat.
"Dari dulu aku dan yang lain pengen banget kenal dan berteman sama kamu tapi kami nggak berani."
"Kenapa?"
"Kamu kelihatan galak, nggak pernah senyum."
Aisyah tertawa, ia akui dirinya memang jarang tersenyum dan enggan berteman dengan mereka. Dulu tujuan Aisyah kuliah adalah untuk mencari ilmu dan gelar tentu saja. Mungkin itu juga alasannya Aisyah tidak tahu hal-hal sepele seperti ada sayur yang berasal dari sawah dan bisa dimakan.
Aisyah akan mencoba banyak hal dan berteman dengan banyak orang serta tidak henti belajar. Hidupnya jadi lebih seru setelah mualaf. Aisyah selalu bersemangat setiap kali bangun tidur di pagi hari untuk mencoba hal baru.
"Aslinya aku nggak galak kok, cuma suka nggak terkontrol aja mulutnya." Aisyah masih sulit menghilangkan kebiasannya mengumpat saat kesal.
"Kalau gitu aku boleh sapa kamu kalau kita ketemu di luar."
"Boleh banget."
*******
Zaid sudah mendiamkan Umar selama seminggu ini dan itu membuat Umar tersiksa, lebih baik Zaid memarahinya dibandingkan diam seperti ini. Umar selalu berusaha memulai obrolan tapi Zaid tidak menyahut. Puluhan kali Umar mengucapkan maaf tapi Zaid masih marah. Umar tahu kesalahannya tidak sepele karena telah melibatkan dua keluarga yang dulunya berhubungan baik.
__ADS_1
"Siapa gadis itu?"
Umar terperanjat di kursi mendengar suara Zaid di belakangnya. Ia baru melepas sepatu setelah pulang dari kampus. Umar segera mencuci tangan dan mencium tangan Zaid, ia bersemangat karena ini pertama kalinya Zaid bicara dengannya sejak hari itu.
"Apa dia lebih baik dari Hilya?"
Umar yang telah bersiap menjawab pertanyaan Zaid terpaksa menutup mulutnya lagi. Umar bingung menjawab pertanyaan itu.
"Apa dia bercadar?"
"Apa dia shalat 5 waktu?"
"Apa dia hafal Al-Qur'an?"
Umar makin bungkam, semua yang ditanyakan abahnya tidak ada dalam diri Aisyah.
"Dia tidak bercadar dan tidak hafal Al-Qur'an." Lirih Umar.
"Lalu apa alasanmu menyukainya, hatimu gelap oleh sesuatu yang kamu sebut cinta."
"Abah, tapi dia bisa menemukan Islam dengan dirinya sendiri bukan terlahir muslim seperti kita, dia gadis yang dipilih oleh Allah untuk mendapatkan hidayah, dia istimewa, dia mau berusaha mengenal Islam lalu memeluknya, dia berani meninggalkan semua kemewahannya demi Islam, sampai hari ini dia tidak berhenti belajar dan menjadi muslim yang lebih baik."
"Siapa dia?" Zaid mengerutkan kening, Umar seperti menceritakan seseorang yang tidak asing.
"Aisyah, Abah sendiri yang menuntunnya bersyahadat."
Zaid terperangah tak percaya jika ternyata gadis yang Umar sukai adalah Aisyah.
"Kamu ingin menikahi gadis Tionghoa itu?"
"Jika Abah dan Ummi mengizinkan."
Zaid terdiam untuk beberapa saat sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Asal kamu tidak terpengaruh dengan penilaian orang, setelah kalian menikah pasti akan ada orang yang menentang dan membicarakan kalian, putra pengasuh pondok pesantren menikahi gadis Tionghoa, kamu harus bersiap untuk itu."
"Umar tidak peduli dengan penilaian orang Bah, yang penting Abah dan Ummi mengizinkan, Umar hanya mengharap ridho Allah."
"Abah percaya sama kamu." Zaid menepuk bahu Umar beberapa kali.
"Terimakasih Bah." Umar memeluk Zaid erat, tak terasa ia menangis karena mendapat restu Zaid. "Bagaimana jika Abah dikritik oleh banyak orang?"
"Karena kamu tidak menikah dengan Hilya?"
"Iya Bah, mungkin akan ada yang mengatakan jika Abah gagal mendidik Umar."
"Jangan terlalu memikirkan hal yang belum tentu terjadi, yang penting kamu tidak menyalahi syariat."
"Saya juga minta maaf karena hubungan Abah dan Kyai Abizar jadi renggang?"
"Persahabatan kami tidak akan pernah berubah, Kyai Abizar bukan orang seperti itu." Meski sampai sekarang Abizar belum benar-benar memaafkan Zaid dan keluarganya, tapi Zaid mengatakan itu untuk menenangkan Umar.
"Benar Bah?"
"Tapi kamu jangan terlalu senang, kamu tetap salah."
"Iya Bah." Umar mengangguk, kesalahannya memang sangat fatal tapi ia tidak akan berhenti meminta maaf pada Zaid dan Maryam.
__ADS_1