
Keringat dingin membasahi telapak tangan Umar, ia sudah mengusapnya beberapa kali menggunakan sapu tangan tapi tidak berhasil. Sejak berangkat dari rumah Umar tidak mengatakan apapun meski Khalid menggodanya. Umar sibuk menghafal kalimat qabul dalam hatinya. Itu hanya kalimat pendek yang seharusnya mudah saja diucapkan. Namun rasa gugup menguasai Umar, ia takut membuat kesalahan.
Mobil-mobil mewah berjajar di tempat parkir hotel. Umar bisa tahu jika keluarga Aisyah sudah hadir. Kesenjangan sosial begitu kentara ketika mobil Umar parkir di antara belasan mobil mewah tersebut.
"Lihat anak Ummi, dari tadi udah kayak robot, kaku banget." Ali menggoda Umar.
"Sudah Ali, jangan goda Mas mu terus." Maryam menarik Ali ke dekatnya agar tidak lagi menggoda Umar.
Saat semakin dekat dengan masjid, Umar bertambah gugup. Tangannya dingin seperti es.
Keluarga dekat Aisyah sudah berada di dalam masjid begitupun dengan pihak dari keluarga Umar. Tak hanya mobil, penampilan mereka juga berbeda.
Keluarga Aisyah kompak mengenakan pakaian berwarna sampanye dengan berbagai model yang amat cantik tapi tetap sopan. Renata sudah mengatur pakaian tersebut sejak jauh hari, ia mengatur banyak hal untuk pernikahan Aisyah.
Di sisi lain keluarga Umar mengenakan gamis yang mengulur dengan anggun, beberapa dari mereka juga menggunakan cadar seperti Maryam. Anggota laki-laki kompak memakai jubah putih yang membuat mereka terlihat cerah.
Doa sebelum akad nikah dilangsungkan dipimpin oleh penghulu yang juga sudah hadir di tengah-tengah mereka.
Umar dan Jaya saling berpandangan dengan canggung padahal sebelumnya mereka sering mengobrol saat Umar berkunjung. Hari ini suasananya berbeda, atmosfer di dalam masjid juga sangat berbeda.
Pandangan Jaya seolah menyiratkan bahwa setelah akad sebentar lagi, ia menyerahkan anak sulungnya pada Aisyah. Cinta pertama Jaya dan Renata, anak yang membawa kebahagiaan bagi mereka. Anak penurut yang selalu juara kelas.
Umar mengangguk samar seolah mengerti arti tatapan Jaya. Umar tidak bisa berjanji banyak, ia akan melakukan yang terbaik untuk Aisyah. Bukan dengan kemewahan tapi kehidupan sederhana yang penuh curahan kasih sayang.
Kini tangan Umar sudah berada dalam genggaman penghulu. Umar menegakkan tubuhnya dan menahan napas. Atau mungkin ia lupa cara bernapas saking gugupnya.
"Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka Atalie Alindra binti Jaya Alindra alal mahri khamsumiayat 'alf rubia hallan."
"Qobiltu nikakhaha wa tazwiijaha linafsii bilmahril madzkuuri haalan"
Para saksi mengucapkan sah dengan lantang setelah Umat melafalkan kalimat qabul dengan lancar dalam satu tarikan napas.
Beban yang memberatkan bahu Umar seketika terlepas saat itu juga. Umar mengangkat tangan sedangkan wajahnya tertunduk membaca doa setelah akad.
Ketika mengangkat wajah, sosok Aisyah sudah berada di depan pintu masjid. Dengan balutan gaun pengantin berwarna putih dengan model sederhana tapi itu membuat Aisyah terlihat semakin cantik. Aisyah berjalan perlahan didampingi Gracia.
Senyum Umar mengembang lebar, matanya berkaca-kaca tak kuasa menahan haru. Akhirnya setelah melalui ujian mereka resmi menjadi sepasang suami istri.
Jantung Aisyah berdegup kencang. Ini seperti mimpi ketika Aisyah melangkah menghampiri Umar. Jika mimpi, Aisyah tidak akan pernah bangun agar ia bisa selalu bersanding dengan laki-laki yang dicintainya.
Umar masih malu-malu untuk menatap Aisyah lama, ia menunduk mengusap matanya yang basah.
Umar meletakkan tangannya pada ubun-ubun Aisyah sembari membisikkan doa sesuai Sunnah.
Kembang api meletup-letup membuncah dari dalam dada ketika Umar meraih tangan Aisyah dan menggenggamnya untuk pertama kali. Mata keduanya memancarkan cinta.
Aisyah mengecup punggung dan telapak tangan Umar, ia melihat Khawla melakukan itu pada Khalid. Aisyah mencontoh mereka. Bahkan sekarang Aisyah ingin mencium pipi Umar. Bolehkan ia melakukan itu?
"Cium kening istrimu Umar." Ujar Khalid.
Umar melakukan sesuai perintah, mencium kening Aisyah dengan gugup. Ragu-ragu ketika hendak mendaratkan bibir di kening Aisyah.
"Mas." Bisik Aisyah.
Umar menatap Aisyah, apa yang hendak Aisyah katakan?
"Boleh aku mencium mu?"
Umar mendelik lalu menggeleng. Nggak boleh Aisyah.
Mata Aisyah melebar. Kenapa?
Umar membimbing Aisyah duduk bersamanya untuk menandatangani surat nikah. Wajah Umar memerah akibat pertanyaan Aisyah barusan.
Mahar sebesar 500 ribu berada di atas meja diletakkan begitu saja tanpa hiasan apapun. Itu adalah permintaan Aisyah sendiri termasuk nominalnya. Saat itu Umar menanyakan sendiri pada Aisyah berapa mahar yang ia inginkan. Aisyah menyebutkan 500 ribu dan membuat Umar keheranan. Jika harga sepatu Aisyah jutaan mengapa ia hanya meminta 500 ribu sebagai mahar. Umar belum mendapat jawabannya sampai sekarang.
Prosesi sakral sungkeman berlangsung mengharu biru. Umar mengucapkan terimakasih pada abah dan ummi nya karena telah membesarkan, mendidik dan memberikan pendidikan terbaik padanya. Mereka telah mencurahkan kasih sayang dan cinta pada anak-anaknya.
"Abah, terimakasih sudah membuka jalan saya menuju agama Allah."
"Tidak Aisyah, seperti kata Umar, kamu menemukan agama itu sendiri, Allah yang telah menanamkan keyakinan di dalam hatimu, saya selalu berdoa agar Aisyah senantiasa berada di jalan Allah, selamat datang di keluarga kami."
Aisyah tersenyum mengangguk samar memeluk Zaid. Ia akan menganggap Zaid sebagai ayahnya sendiri, bukan mertua.
__ADS_1
"Terimakasih Ummi." Aisyah mencium punggung tangan Maryam lalu memeluknya erat. Terimakasih sudah melahirkan Umar ke dunia. Lelaki pertama yang membuat Aisyah jatuh hati, sekaligus lelaki terakhir.
"Semoga Allah memberi keberkahan yang banyak pada mu Aisyah, anak Ummi." Bisik Maryam.
"Titip Atalie." Ujar Jaya pendek, terlalu banyak yang ingin ia katakan hingga tidak satupun dari mereka berhasil keluar. Jaya sudah menahan tangisnya sekuat tenaga tapi air matanya tetap meleleh ketika menyaksikan Aisyah memasuki masjid. Putrinya yang cantik itu kini sudah menjadi seorang istri.
"Terimakasih Pak Jaya sudah memberi saya kepercayaan mendampingi Atalie."
"Jangan panggil Pak, Papa."
"Maaf, baik Papa."
Jaya tersenyum lebar menepuk-nepuk pundak Umar sedangkan tangan lainnya mengusap air mata di pipinya.
"Umar, jaga Atalie untuk kami, kadang dia memang nakal tapi saya mohon jangan marah dan membentaknya, banyak hal yang belum ia ketahui tapi semoga kamus sabar mengajarinya."
"Bu Renata maksud saya Mama, saya menerima Atalie dengan apa adanya dirinya."
"Terimakasih Umar." Renata memeluk Umar.
Makan siang dilangsungkan bersama keluarga dan kerabat dekat di hotel yang sama dengan digelarnya resepsi nanti. Dua keluarga yang berasal dari status sosial berbeda itu berada dalam satu ruangan, mengobrol dan makan bersama. Itu akan membuat mereka lebih mengenal dan menghargai perbedaan. Kelak perbedaan antara dua keluarga itu akan semakin indah. Begitulah keharmonisan tercipta melalui perbedaan yang justru menyatukan keduanya.
"Kamu mau dipanggil apa setelah ini Mas?" Aisyah iseng bertanya, ia tahu panggilannya untuk Umar sudah banyak tapi setelah menikah mungkin Umar ingin dipanggil dengan sebutan lain. "Sayang, cinta?"
Umar menahan tawa sementara wajahnya sudah memerah. Kenapa Aisyah jago sekali menggoda Umar padahal ada banyak orang di sekitar mereka. Apakah biasanya Aisyah memang jahil. Tidak salah lagi, Aisyah bahkan pernah mengejek Umar dengan sebutan cucian kusut.
"Bagaimana denganmu, ingin dipanggil apa?"
"Istriku satu-satunya paling cantik di dunia."
"Bukankah itu terlalu panjang?"
Aisyah terkekeh, bapak dosen satu ini memang tidak bisa diajak bercanda. Sifat itu mungkin akan menurun pada anak-anak mereka nanti.
"Dari mana kamu mendapat laki-laki ganteng ini, hm?" Salah satu tante Aisyah menggoda.
"Tentu aja di tempat yang bagus."
"Kulit coklatnya sangat bagus, bisa memperbaiki keturunan." Bisiknya membuat Aisyah tak bisa menahan tawa. "Hěn shuài!"
Wanita berusia 40 tahunan itu melongo terkejut karena ternyata Umar mengerti ucapannya padahal ia sengaja menggunakan bahasa Mandarin.
"Jangan salah, menantu kami mahir berbahasa Mandarin." Ujar Jaya, seperti biasa bangga dengan kemampuan Umar berbahasa Mandarin.
"Kalian berencana berbulan madu dimana?" Tanya yang lain.
Aisyah dan Umar saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak merencanakan bulan madu.
"Nggak ada rencana bulan madu Suk, aku juga sibuk sama butik." Aisyah tidak menginginkan bulan madu karena ia masih semangat membuka butik. Baginya dimana pun tempatnya asal bersama Umar maka akan terasa seperti bulan madu.
*******
Lampu-lampu kristal menggantung dihiasi bunga mawar dan anggrek putih serta dedaunan. Meja dan kursi berjajar rapi, di atasnya sudah terdapat alat makan lengkap. Alas makan yang juga berwarna putih bermotif burung merpati seusai permintaan Renata. Berbagai hidangan sudah tersaji, makanan halal yang bisa dinikmati oleh semua tamu.
Ballroom itu disulap bak istana dengan warna putih mendominasi. Kesan mewah begitu terasa sejak menginjakkan kaki di lantai pualam yang mengkilap memantulkan lampu kristal di atasnya.
Pintu ballroom dibuka, seluruh tamu undangan mengarahkan pandangan ke arah sepasang mempelai yang tampak begitu bahagia. Senyum mereka bermekaran seperti matahari di musim kemarau. Memancar tak dapat ditutupi oleh mendung.
"Wah!" Aisyah berdecak kagum melihat venue resepsi nya, ia tidak menyangka jika dekorasinya akan se-mewah ini. Aisyah memang tidak sempat melihatnya karena sibuk menyiapkan pembukaan butik. Tidak salah Aisyah menyerahkan semua urusan dekor pada mama nya.
"Mereka semua teman mu, Mas?" Aisyah melirik ke sisi kiri dan kanan ketika mereka melangkah bersama menuju pelaminan. Tangannya menggandeng lengan Umar erat sambil memegang buket mawar putih.
"Jangan kaget, mereka memang banyak."
"Banyak sekali, teman ku sampai nggak kelihatan."
Umar tersenyum melirik Aisyah, jika tadi ia lupa cara bernapas sekarang ia lupa cara berkedip. Mata Umar terasa panas karena lupa berkedip saat menatap Aisyah. Ia tak lagi malu-malu menatap Aisyah yang kini resmi menjadi istrinya.
"Atalie, happy wedding, aku ikut bahagia denger kamu nikah." Teman Aisyah mendapat giliran memberi selamat lebih dulu karena jumlah mereka sedikit.
"Makasih udah datang." Aisyah harus terbiasa dengan dua panggilan, Atalie dan Aisyah. Itu adalah salah satu teman dari komunitas gereja.
"Aisyah, nggak nyangka diam-diam ternyata kamu nikah sama dosen kita." Sukma memberi selamat. "Aku masih ingat setengah tahun lalu kamu bilang nggak punya pacar." Ia membicarakan soal trip mereka di Ijen.
__ADS_1
"Aku memang jomblo waktu itu Mbak." Aisyah tidak berbohong, sampai sekarang pun ia tak punya kesempatan untuk merasakan seperti apa pacaran.
"Ada yang patah hati di belakang." Sukma berbisik seraya sedikit menoleh ke belakang.
Tio berada tepat di belakang Sukma, wajahnya lesu sama sekali tidak bersemangat untuk hadir di acara tersebut.
"Selamat ya Aisyah." Tio mengulurkan tangannya.
"Terimakasih." Aisyah hendak membalas uluran tangan Tio tapi Umar segera menariknya. Aisyah langsung menautkan tangannya di depan dada, ia belum terbiasa melakukan itu.
Tio belum sempat mendekati Aisyah tapi ia sudah harus mundur jauh-jauh. Mendekati Aisyah tidak semudah itu, tiba-tiba sekarang gadis yang ia suka telah menikah dengan dosen mereka. Sungguh akhir yang tidak menyenangkan bagi Tio.
Lelaki patah hati lainnya segera datang, ia adalah Felix yang membawa hadiah mewah untuk Aisyah. Felix menenteng paper bag salah satu brand luxury berisi clutch. Ia harus jauh-jauh ke Bali untuk membeli barang tersebut karena di Banyuwangi tidak tersedia. Setidaknya Felix memberi hadiah spesial sebelum benar-benar mengucapkan perpisahan. Walaupun sebelumnya Felix mengatakan ia akan menyerah tapi kabar pernikahan Aisyah itu terlalu cepat.
"Selamat ya!" Ayana dan Khanza mendekat memeluk Aisyah.
"Akhirnya setelah hujan badai angin ribut kamu nikah juga sama laki-laki yang udah lama kamu taksir." Celoteh Ayana.
"Percayalah nggak ada yang lebih baik dari Gus Umar untuk jadi pendamping hidup kamu." Khanza juga memberikan hadiah pada Aisyah.
"Tapi kita masih bisa pergi kajian bareng nggak, secara Ustadz nya suami kamu sendiri."
"Aku tetap pergi tapi duduknya di samping Ustadz boleh nggak?" Aisyah melirik Umar menggodanya.
"Boleh." Jawab Umar dengan senang hati.
Aisyah tak bisa menahan senyumnya, Umar sangat menggemaskan, ia ingin menggigit pipinya.
"Pak Umar, titip sahabat saya yang nggak tahu apa-apa ini ya." Giliran Gracia memberi ucapan selamat.
"Sahabat kamu akan tahu banyak hal setelah ini." Balas Umar.
"Aku harap kalian selalu bahagia dan bareng-bareng terus." Gracia memberi Aisyah pelukan erat. Setelah ini tak ada yang menginap di tempat kosnya lagi. Setelah lulus, Gracia juga akan pergi ke Semarang untuk melanjutkan pendidikan.
"Makasih ya." Aisyah menepuk-nepuk bahu Gracia, sahabat satu-satunya yang paling tahu dirinya.
Mereka berfoto bersama berkali-kali dengan berbagai pose sebelum giliran teman-teman Umar mendapat giliran naik ke pelaminan.
"Jadi ini gadis yang sudah kenal Aisyah, Nabi Muhammad, Khadijah dan Umar." Imran maju paling pertama memberi selamat pada pengantin yang tengah berbahagia.
"Jangan dilihat lama-lama." Umar menutupi wajah Aisyah dengan tangannya.
"Ya ampun Gus, aku udah beristri."
"Maka dari itu jaga pandangan mu."
"Menunggu 30 tahun nggak masalah karena akhirnya Gus mendapat istri istimewa seperti Aisyah."
"Ah terimakasih Aiman."
Umar resah karena teman-temannya yang hobi menggoda itu. Harusnya ia meminta Aisyah mengenakan cadar agar tak ada yang melihat wajah cantik itu.
"Jangan galak-galak sama istrinya Gus."
"Ayolah, sejak kapan aku galak?"
Mereka tertawa karena berhasil menggoda Umar. Saat kuliah dulu, Umar memiliki tugas mengajar anak-anak Madrasah Tsanawiyah dan banyak murid mengatakan Umar selalu serius dan jarang bercanda. Mereka menganggap Umar adalah guru yang galak.
"Teman-teman mu lucu Mas." Gumam Aisyah setelah mendapat kesempatan duduk. Para tamu tengah menikmati makanan mereka.
"Mereka memang punya bakat melawak."
Aisyah mendekatkan wajahnya, ia melihat bulu mata Umar jatuh. Ia mengangkat tangan untuk mengambil bulu mata di pipi Umar.
Umar tegang berada sangat dekat dengan Aisyah, ia hendak memundurkan wajahnya tapi Aisyah lebih dulu menyentuh pipinya.
"Ada yang kangen kamu."
"Kamu percaya mitos itu, istriku?"
Giliran Aisyah yang tegang karena untuk pertama kalinya Umar memanggilnya seperti itu. Aisyah segera memundurkan wajahnya dan berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya.
__ADS_1