
Di depan sana Hamzah telah membuka kajian sore itu. Tidak seperti biasa, Hamzah meminta Umar ikut hadir untuk membahas tentang betapa luasnya rahmat Allah terhadap seluruh umat. Keberadaan mereka berdua awalnya mengejutkan jamaah. Lantas mereka akan menggunakan kesempatan tersebut untuk bertanya sebanyak mungkin.
Atalie dan dua temannya duduk di antara jamaah lain. Khanza ingin bertanya mengapa Atalie kembali mengganti jilbabnya, padahal tapi ia sudah mengatakan jilbab merah muda cocok dengan pakaiannya hari ini. Namun karena kajian sudah dimulai, Khanza mengurungkan niatnya. Toh fungsi utama jilbab adalah untuk menutupi kepala tak peduli apapun warnanya.
"Dalam hadits riwayat Ahmad, ketika Allah menetapkan taqdir semua makhluk, maka Allah menulis dalam sebuah kitab yang ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy, yaitu, sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku." Suara Hamzah menggema ke seluruh masjid sedangkan para jamaah mendengarnya dengan sungguh-sungguh tidak terkecuali Atalie, tapi ia menunduk hingga wajahnya tidak terlihat.
"Ganteng kan?" Ayana menyikut Atalie seraya berbisik.
Atalie memutar bola mata balas menyikut Ayana, baru dimulai Ayana sudah jelalatan menatap ketampanan sang Ustadz.
Atalie mengambil pulpen dan menulis dua kata di tangannya, biasa aja. Ayana melotot tak terima tapi ia menunda untuk ribut dengan Atalie karena mereka sedang berada di dalam masjid.
Menurut Atalie, Hamzah seperti laki-laki pada umumnya, ia tak bisa mengatakan tampan. Tentu laki-laki di samping Hamzah lebih tampan, setidaknya di mata Atalie. Atalie tak akan beradu pendapat soal ketampanan Umar atau siapapun sebab ia memiliki pandangan sendiri. Lagi pula apa pentingnya membicarakan hal seperti itu.
"Jika di antara kita merasa banyak dosa hingga malu untuk bersujud pada Allah sesungguhnya kita termasuk umat yang merugi, sebab meski dosa kita memenuhi langit dan bumi, ampunan Allah jauh lebih banyak dari itu maka jangan ragu untuk kembali."
"Padahal Ustadz Hamzah tipe ku banget, kulitnya putih cerah." Ayana masih belum selesai.
Atalie tidak menanggapinya, kulit coklat seperti Umar lebih maskulin dan mempesona. Jika kulit putih menjadi patokan, Felix juga punya kulit seputih salju tapi sayangnya Atalie tidak tertarik. Pokoknya Atalie hanya menyukai Umar, ah stop Atalie, jangan sampai kalimat itu keluar dari mulutmu.
"Tipe kita beda." Gumam Atalie pelan hampir tidak terdengar tapi Ayana yang memang tak serius mendengarkan kajian Hamzah, justru mendengar ucapan Atalie.
"Tipe mu Koko-Koko gitu ya?"
Atalie hanya mengedikkan bahu enggan menjawab pertanyaan yang menurutnya terlalu pribadi. Atalie belum pernah membicarakan soal laki-laki dengan siapapun termasuk Ayana dan Khanza. Mereka sudah saling mengenal hampir dua tahun tapi Atalie jarang menceritakan hal pribadi pada mereka. Bukannya Atalie tidak percaya pada dua temannya tersebut, ia memang tidak terbiasa menceritakan sesuatu yang terlalu pribadi.
"Dalam surat Thoha ayat 82 Allah berfirman yang artinya, Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar, manusia itu suka sekali berbuat dosa tapi Allah juga akan selalu memberi ampunan." Kini suara Umar terdengar, pandangan beredar pada seluruh jamaah. Tanpa sengaja pandangan Umar bertemu dengan Atalie yang juga tengah melihatnya dan terkunci sepersekian detik. Setelahnya Umar melihat ke arah lain.
"Jangan berpikir bahwa Allah adalah Dzat yang pemarah atau emosi-Nya berubah-ubah, tidak sama sekali, mungkin kita pernah berpikir jika berbuat dosa maka Allah akan marah, tidak sama sekali, justru Allah adalah Al-Latif yang artinya Maha Lembut, Maha Halus."
Atalie terpana bukan pada sosok Umar tapi pada apa yang lelaki itu sampaikan. Mengapa Tuhan mereka baik sekali?
"Allah itu pengasih dan penyayang, setiap kali kita memanggil-Nya maka Allah akan langsung menjawabnya, ada apa hamba-Ku, apa yang kamu butuhkan kali ini?"
__ADS_1
Atalie reflek mengusap pipinya yang basah, ia sedikit mendongak ketika air mata tiba-tiba meleleh tanpa ia sadari. Itu bukan cerita sedih kenapa aku menangis?
Sesi pertanyaan dimulai, satu per satu jamaah bertanya dijawab oleh Hamzah dan Umar bergantian.
"Jangan tanya apapun." Khanza memegang tangan Atalie mencegahnya agar tidak mengangkat tangan karena terakhir kali bertanya Atalie membuat seluruh jamaah mentertawakan nya. Walaupun menurut Atalie tidak lucu tapi jamaah lain tetap saja tertawa. Atalie bertanya murni karena ia ingin tahu. Namun sekarang Atalie sudah tahu mengenai silsilah keluarga Nabi Muhammad, ia banyak membaca tentang itu. Jadi Atalie tak akan mempermalukan dirinya sendiri di depan banyak orang.
Satu per satu jamaah meninggalkan masjid, Umar dan Hamzah menjadi dua orang terakhir yang keluar dari sana.
"Ada apa di saku Gus Umar?" Hamzah melihat saku baju Umar menggembung.
"Oh ini," Umar meraba saku nya, kenapa juga ia harus memasukkan jilbab Atalie kesana. Karena bahan jilbab itu sangat tipis, Umar jadi bisa memasukkannya ke dalam kantong. Umar ingin menegur Atalie karena mengenakan jilbab setipis itu tapi mengingat Atalie bukan muslim, maka ia tidak bisa melakukannya. Sekarang Umar bingung bagaimana cara mengembalikannya pada Atalie.
"Ini kain." Lanjut Umar setelah membuat Hamzah menunggu jawabannya.
Sementara itu Atalie dan dua temannya berada di teras masjid. Atalie mengeluarkan satu toples kue buatan mama nya untuk Ayana dan Khanza.
"Wah kelihatan enak." Ayana tidak sabar mencoba kue tersebut, "apa namanya?"
"Jago banget Tante Renata bikin kue." Khanza berkomentar.
"Lho kalian masih disini?" Hamzah menghentikan langkah di depan pintu melihat tiga gadis berada di teras masjid duduk membentuk lingkaran.
"Eh Ustadz," Ayana langsung menelan kue nya yang belum dikunyah sempurna, ia mendadak salah tingkah melihat Hamzah. "Ustadz mau?" Ayana tiba-tiba beranjak menyodorkan stoples kue pada Hamzah dan Umar yang berdiri bersebelahan. "Ini namanya kue—kue apa Atalie, aku lupa." Ayana melihat ke arah Atalie.
"Almond Oatmeal Cookies." Atalie menyebutkan kata per kata dengan lebih jelas agar Ayana tidak bertanya lagi.
Umar melirik kue tersebut, sepertinya rasanya enak. Apakah Atalie yang membuat kue itu? Umar penasaran ingin mencicipinya tapi sayangnya Ayana hanya menawarkan kue itu pada Hamzah.
Manik Ayana berbinar-binar ketika Hamza mengambil satu kue, tanpa terasa ia menahan napas untuk beberapa saat menunggu komentar Hamzah mengenai kue yang bukan buatannya itu. Ia sudah seperti peserta kompetisi yang menunggu juri menilai masakannya.
"Enak nggak Ustadz?" Ayana akhirnya bertanya karena tidak sabar menunggu.
"Enak, terimakasih ya." Hamzah menebarkan senyum, laki-laki yang beberapa tahun lebih muda dari Umar itu memang terkenal ramah pada murah senyum.
__ADS_1
"Mas nggak cobain?" Atalie menyanggah dagu melihat Umar yang dari tadi hanya diam. Ayana dan Khanza langsung melempar tatapan tajam pada Atalie, dari tatapan itu mereka seolah berkata, Atalie nggak sopan banget sih panggil Mas udah kayak temen nongkrong aja.
"Maksud aku Ustadz Umar." Atalie buru-buru meralat, ia selalu bingung menyebutkan nama panggilan Umar. Beda tempat maka sebutannya juga berbeda. Atalie ingin memiliki satu panggilan saja agar ia tidak bingung.
"Silakan Ustadz." Ayana mempersilakan Umar ikut mencicipi kue di tangannya.
"Buat kamu aja semua." Atalie beranjak dari duduknya. "Buat Ustadz Umar." Lanjutnya, "Zaidan Umar Kahfi."
Umar terpaku mendengar Atalie menyebut nama lengkapnya. Jantungnya berdegup kencang bersama dengan perasaan hangat yang perlahan menelusup ke dalam rongga dadanya. Rasanya aneh tapi Umar menyukainya.
"Aku pulang duluan ya." Atalie melirik Ayana dan Khanza lalu menganggukkan kepala pamit pada Hamzah dan Umar.
"Ini Ustadz." Ayana memberikan stoples kue di tangannya pada Umar. "kami juga pamit, assalamualaikum." Ia menarik tangan Khanza menyusul Atalie.
"Atalie." Khanza menahan tangan Atalie yang hendak masuk mobil. "Kok kue nya dikasih ke Ustadz Umar semua?"
"Besok aku bawain lagi buat kalian."
"Besok kamu ke kampus?" Tanya Ayana.
"Iya."
"Kalau nggak dibawain,aku samperin ke rumah kamu." Ayana pura-pura mengancam Atalie karena ia baru makan satu kue buatan Renata tersebut.
"Samperin aja, Mama justru seneng kalau kalian ke rumah." Atalie masuk ke mobil, ia harus segera pulang untuk melaksanakan ibadah sore. "Makasih ya udah nemenin aku belanja hari ini." Atalie melambaikan tangan pada Ayana dan Khanza.
Sementara itu Umar duduk di undakan teras masjid untuk mencicipi kue Atalie. Sedangkan Hamzah pamit pulang lebih dulu.
"Enak, dia pandai membuat kue." Gumam Umar setelah menghabiskan suapan pertama. Ia belum pernah makan kue seperti itu sebelumnya tapi Umar langsung menyikapinya.
Umar menutup toples tersebut lalu beranjak dari sana. Ia akan membagikan kue tersebut dengan yang lain di rumah.
"Jilbab Atalie?" Umar baru ingat jika ia belum mengembalikan jilbab milik Atalie yang tak sengaja ia bawa.
__ADS_1