Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Meminang


__ADS_3

"Kenapa kamu terlalu cepat mengambil keputusan?" Alis Zaid bertaut—marah karena Umar tiba-tiba memberitahunya untuk pergi ke rumah Aisyah hari ini juga. Baru kemarin mereka membahas ini tapi Umar sudah bertindak sejauh itu.


"Lebih cepat lebih baik, katanya perjuangan paling tinggi untuk sebuah cinta adalah dengan menikahinya, Umar juga sudah mendapat izin Abah waktu itu."


"Tetap saja ini terlalu cepat Umar."


"Tapi Umar sudah mengatakan akan pergi ke rumah Aisyah hari ini, Bah." Umar memegang kedua tangah Zaid dan berkata dengan nada rendah, ia tidak mau memancing emosi Zaid lagi.


"Pergilah sendiri."


"Ada Abah dan Ummi kenapa Umar pergi sendiri?" Umar bukannya tidak berani pergi sendiri, ia memang harus pergi dengan orangtuanya seperti yang ia katakan pada Aisyah tadi.


"Buktikan sebesar apa kemauan mu untuk menikahi gadis itu, pergilah sendiri."


"Kalau begitu Umar akan pergi dengan Ummi."


"Abah juga tidak akan mengizinkan Ummi pergi." Zaid beranjak dari sofa ruang tamu hendak meninggalkan Umar. "Dan bukti cinta yang paling tinggi adalah mengikhlaskan, seperti yang Hilya lakukan sekarang." Imbuhnya lagi sebelum pergi dari sana.


Umar juga beranjak dari sana setelah mendengar adzan dhuhur yang dikumandangkan oleh Ali. Ia bergegas pergi ke masjid untuk mendirikan shalat dhuhur berjamaah.


Sekali lagi Umar memohon ridho Allah untuk pergi ke rumah Aisyah dengan niat baik. Zaid dan Maryam seolah tidak mendukung Umar tapi itu membuatnya gentar, ia tetap pada pendiriannya untuk melamar Aisyah.


"Ada apa Mas?" Ali yang duduk tepat di samping Umar bertanya ketika kakak nya itu selesai mendirikan shalat sunah setelah dhuhur. Masjid itu sudah sepi, hanya beberapa santri senior yang berada disana sedangkan santri lainnya telah bersiap makan siang.


Umar memutar kepala melihat Ali, apa maksud dari pertanyaan itu?


"Aku lihat Mas sujud lama sekali."


"Sebentar lagi Mas akan melakukan langkah besar jadi Mas harus ridhonya Allah."


"Mas mau melamar Mbak Aisyah itu ya?"


Umar mengangguk, "kamu tahu sendiri Abah dan Ummi sepertinya belum mengizinkan Mas untuk melakukan ini."


"Mereka pasti mendukung Mas, cuma keadaannya memang belum mendukung, mereka pasti nggak enak sama keluarga Ning Hilya."


Umar tersenyum mengusap puncak kepala Ali, "kamu sudah dewasa sekarang."


"Iya lah Mas, sebentar lagi Ali lulus SMA."


"Terimakasih sudah bilang begitu."


"Jadi Mas mau kasih aku uang jajan tambahan?" Ali menengadah tangan tersenyum jahil pada Umar.


Umar terkekeh, "ambil aja di dompet Mas."


"Dimana dompetnya?"


"Di kamar, nanti kamu ambil sendiri."


Ali tersenyum puas karena mendapat tambahan uang untuk ia tabung.


"Mas pernah bilang kalau Mbak Aisyah itu anaknya orang kaya, bukannya kita ini sangat berbeda dengannya, katanya kita harus menikah dengan yang sekufu Mas."


"Kamu benar Ali, apa ini nggak akan berhasil?"


Ali menggeleng, "aku percaya sama pilihan Mas."


"Kalau gitu Mas mau siap-siap dulu." Umar beranjak dari sana dengan semangat yang terisi kembali setelah berbicara dengan Ali.


Umar memilih baju koko lengan pendek berwarna hitam untuk pergi ke rumah Aisyah. Jantungnya tidak berhenti bergemuruh karena ia akan melamar Aisyah seorang diri.


"Ummi, Umar mau berangkat." Umar menghampiri ummi nya yang sedang menjahit pakaian di ruang tengah.

__ADS_1


"Semoga semuanya lancar ya." Maryam mengusap kepala Umar ketika sang anak mencium punggung tangannya. Ia ingin sekali pergi menemani Umar tapi Zaid melarangnya. Namun ia percaya Umar akan bisa menangani ini. "Ummi tunggu kabar baik dari kamu."


"Terimakasih Ummi." Umar juga berpamitan pada Abah nya serta Khalid dan Khawla.


Umar berangkat lebih awal agar tidak terlambat walaupun jarak ke rumah Aisyah tak terlalu jauh. Aisyah tinggal di perumahan elit tempat orang-orang ber-ada. Benar kata Ali, Umar dan Aisyah memang amat sangat berbeda. Mulai dari status sosial, ilmu agama, suku, kepribadian, kebiasaan, cara mereka dibesarkan dan hal lain yang belum Umar temukan. Setelah menikah mungkin Umar akan menemukan perbedaan lainnya, ia tidak akan mengatakan ini mudah tapi ia tak mungkin menyerah.


Kedatangan Umar disambut oleh Aisyah yang mulanya tersenyum lebar tapi perlahan senyumnya memudar dalam hitungan detik. Umar tahu alasan raut wajah Aisyah berubah dengan cepat. Itu pasti karena Umar tidak datang dengan Zaid dan Maryam.


"Mas Umar datang sendiri?" Aisyah melihat ke belakang Umar barangkali Zaid dan Maryam tertinggal. Namun ia memang hanya melihat Umar seorang.


"Maaf Aisyah, Ummi dan Abah ada acara mendadak jadi mereka tidak bisa ikut."


"Oh." Aisyah manggut-manggut, ia bisa melihat kebohongan di wajah Umar tapi karena lelaki itu sudah berusaha menenangkannya maka Aisyah juga harus pura-pura percaya. Tapi bukankah berbohong itu dosa? "Kalau gitu mari masuk, Mama dan Papa sudah menunggu di ruang tengah." Ia mengajak Umar menuju ruang tengah dimana Jaya dan Renata sudah menunggu.


Jaya pulang lebih awal agar bisa menyambut Umar sedangkan Renata sejak pagi bingung memilih pakaian. Renata takut pakaian yang dikenakannya terlalu terbuka karena Aisyah memberitahu jika gaya pakaian ummi Umar sangat tertutup. Tidak ada yang terlihat kecuali sepasang mata dan alisnya.


"Maaf Pak Jaya dan Bu Renata, saya datang sendiri." Ujar Umar begitu menemui orangtua Aisyah.


"Tidak masalah Umar." Sahut Jaya.


Renata justru lega karena Umar datang sendiri sehingga ia bisa menanyakan banyak hal pada lelaki itu tanpa merasa tidak nyaman pada orangtuanya.


"Sebelumnya terimakasih karena Pak Jaya dan Ibu Renata memberi saya kesempatan untuk datang dan mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya tidak memberitahu jauh-jauh hari sebelum datang."


"Lain kali jangan mendadak." Ucap Renata, ia lebih suka menyiapkan sesuatu sejak jauh-jauh hari. Bahkan ia biasa menyiapkan pakaian yang akan dikenakan ke gereja tiga atau empat hari sebelumnya. Dan Renata cukup kerepotan karena Umar datang tiba-tiba.


"Baik Bu." Umar mengangguk.


Aisyah duduk di tengah-tengah antara papa dan mama nya.


Umar memuji penampilan Aisyah dalam hati, tentu ia tidak berani mengatakannya langsung. Aisyah mengenakan gamis berwarna lembut yang pas untuk kulit putihnya.


"Bismillahirrahmanirrahim kedatangan saya kesini dengan niat baik ingin meminang putri Pak Jaya dan Ibu Renata," ia melirik Aisyah sesaat. "Atalie Alindra yang lebih sering saya panggil Aisyah—gadis yang membuat saya segera datang kesini tapi Aisyah tidak saya pilih dengan gegabah, saya memilihnya dengan hati-hati."


"Sebelum menjawab pinangan Mas Umar, boleh aku tanya alasan mu ingin menjadikan aku sebagai istri mu."


"Itu pertanyaan yang sulit bukan karena saya ragu-ragu tapi saya tidak pandai menyusun kalimat, seseorang berkata bahwa cara mengetahui rasa cinta adalah ketika melihat orang tersebut maka kita merasakan kehangatan disini." Umar menyentuh dadanya, meski gugup ia berusaha menutupinya dengan senyum lebar padahal tangannya gemetar sekarang.


"Saya akan mengatakan alasan lainnya jika kamu bersedia menerima pinangan saya."


Aisyah tertawa, "kamu pria yang menarik."


Renata menyikut Aisyah karena bicara hal seperti itu secara terang-terangan.


"Bismillahirrahmanirrahim, atas ridho dan izin Allah yang telah menggerakkan hati ku dan hati mu serta restu Papa dan Mama,  aku menerima pinangan mu Mas."


Mendengar itu Umar langsung menunduk dalam menekan tulang hidungnya untuk menutupi air mata yang tiba-tiba merembes. Umar mengucapkan terimakasih dengan suara gemetar, ia masih tak percaya bisa melakukan ini sendirian. Sebenarnya tidak sendiri, Allah lah yang telah menuntun Umar kesini.


"Kalian akan menikah setelah Atalie wisuda." Ucap Jaya.


"Baik Pak." Umar kembali mengangguk patuh, ia tahu wisuda Aisyah sudah dekat.


"Sebelum itu boleh saya mengajukan pertanyaan yang umum ditanyakan pada orang yang hendak menikah, sebagai Mama nya Atalie saya tentu ingin dia bahagia."


"Boleh Bu, saya akan menjawab nya dengan jujur."


"Berapa gaji mu satu bulan, jawab dengan terus terang tanpa ditutupi sedikitpun."


"Saya menjadi dosen di dua kampus swasta dengan gaji per bulan satu juta empat ratus."


Alis Jaya terangkat, ternyata gaji Umar lebih sedikit dari perkiraannya.


Aisyah sudah mulai belajar menggunakan uangnya hanya untuk sesuatu yang benar-benar diperlukan.

__ADS_1


"Sebelumnya kami memberi jatah uang pada Atalie 5 juta per bulan dan dia suka menghamburkan uang." Kata Renata terus terang, ia ragu Umar bisa mengimbangi gaya hidup Atalie yang suka menggunakan barang-barang mahal.


"Saya akan memenuhi kebutuhan Atalie." Balas Umar tegas, bagaimanapun caranya ia harus tetap memenuhi kebutuhan Aisyah. Itu adalah kewajibannya sebagai suami.


"Baik, setelah menikah dimana kalian akan tinggal, tentu kami tidak melarang kalian tinggal disini tapi biasanya istri akan ikut suami."


"Inshaa Allah saya punya cukup tabungan untuk membeli rumah sederhana tapi untuk sementara mungkin kami akan tinggal di pondok bersama keluarga saya."


"Boleh aku bertanya?" Aisyah menyahut.


"Silakan Aisyah." Umar justru senang jika Aisyah memberinya pertanyaan.


"Apa setelah bekerja nanti aku boleh bekerja."


"Tergantung pekerjaannya."


"Ini masih rencana yang belum jelas tapi aku pengen punya bisnis pakaian ku sendiri."


"Kamu boleh melakukannya, bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai translator?"


"Aku akan melepas pekerjaan itu supaya bisa fokus sama kamu dan memulai bisnis ku."


"Baiklah." Diam-diam Umar tersenyum ketika Aisyah mengatakan akan fokus padanya.


Umar mengeluarkan kotak cincin dari dalam saku celananya, ia sempat membeli satu cincin untuk Aisyah sebagai tanda bahwa ia telah melamar gadis itu.


"Bu Renata, tolong pakaikan pada Aisyah." Umar menyodorkan cincin itu pada Renata.


"Kamu tidak akan memakaikannya pada Atalie?"


"Tidak, saya tidak boleh menyentuhnya."


Renata mengeluarkan cincin bermata putih itu dan memasangkannya pada jari manis Aisyah.


Aisyah tersenyum lebar, ia akan melepas cincinnya sendiri dan membiarkan cincin lamaran Umar menjadi satu-satunya perhiasan di jarinya.


"Saya harap kamu belum makan siang." Jaya mengangkat lengan melihat arloji di tangan kirinya. Mereka melewatkan makan siang agar bisa makan bersama Umar yang sayangnya hanya datang sendirian padahal mereka menyiapkan banyak makanan.


"Belum Pak."


"Mama panggil Daniel dulu." Renata beranjak lebih dulu menuju lantai dua untuk memanggil Daniel agar ikut makan.


Sementara itu Jaya, Umar dan Aisyah pergi ke ruang makan lebih dulu.


"Kami tidak tahu apa makanan yang kamu suka, semoga ada yang cocok dengan selera kamu."


"Saya bisa makan apapun Pak." Umar tidak termasuk orang yang pilih-pilih makanan.



Meja makan penuh dengan berbagai hidangan yang dibuat oleh juru masak di rumah itu. Kali ini Aisyah tidak ikut campur karena ia tak ingin mengacaukan masakan itu.


"Semuanya halal."


"Terimakasih Pak Jaya."


Setelah semuanya berkumpul mereka makan bersama sembari sesekali berbincang ringan. Umar bersyukur karena ia disambut hangat oleh keluarga Aisyah. Ia berharap langkah mereka menuju pernikahan dimudahkan oleh Allah.


"Ini sendok." Aisyah menyodorkan sendok dan garpu karena Umar terlihat tidak nyaman menggunakan sumpit.


"Terimakasih Aisyah." Umar merasa terselamatkan oleh Aisyah, ia memang tidak terbiasa menggunakan sumpit untuk makan.


__ADS_1



__ADS_2