
Ketika Renata membuka mata, ia melihat Aisyah di dekatnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali memastikan jika dirinya tidak salah lihat. Renata jatuh sakit beberapa hari setelah Aisyah pergi, ia ingin mencaritahu keberadaan Aisyah tapi Jaya melarangnya. Jaya selalu mengatakan jika Aisyah sudah dewasa dan tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk terhadap dirinya sendiri. Namun tetap saja sebagai seorang ibu, Renata terus memikirkan putri sulungnya itu. Apakah Aisyah hidup dengan baik, makan dan istirahat teratur, selama ini Renata yang memastikan segala kebutuhan anak-anaknya terpenuhi.
Renata sering memimpikan Aisyah di malam hari dan menangis ketika bangun. Renata berjanji jika Aisyah pulang, apapun keadaannya, ia pasti akan menerima Aisyah kembali. Sekalipun Aisyah sudah berpindah keyakinan. Renata tidak mungkin membiarkan Aisyah berada di luar tanpa perhatian darinya.
"Atalie," Renata memegang punggung tangan Aisyah yang terjuntai mengenai perutnya. Renata hanya bisa melihat kepala Aisyah yang tertutup jilbab tapi ia yakin itu adalah sang anak. Renata begitu mengenal Aisyah meskipun penampilannya sekarang jauh berbeda.
"Mama udah bangun?" Aisyah mengangkat kepalanya, "maafin aku Ma, aku terlambat pulang."
"Dimana kamu tinggal?" Renata menegakkan badannya dibantu Aisyah, ia mengusap pipi Aisyah.
"Aku tinggal di tempat yang nyaman." Aisyah menghambur ke pelukan mama nya.
"Tapi kamu kurusan sayang." Renata penasaran apa yang Aisyah makan hingga badannya terlihat lebih kurus.
"Mama juga kurusan, Mama jangan diet-diet lagi." Aisyah tahu Renata sangat menjaga makan tapi kali ini mama nya terlihat lebih kurus dari biasanya.
"Atalie, ini rumah mu, kamu hanya boleh tinggal disini."
"Iya tapi Mama harus sehat lagi."
"Mama sudah sembuh begitu kamu datang." Renata menatap wajah Aisyah lekat, ia begitu merindukan Aisyah di rumah ini.
Aisyah naik ke tempat tidur Renata dan bercerita bahwa selama ini ia tinggal bersama keluarga Umar dan anak-anak santri yang begitu baik. Aisyah hanya menceritakan hal-hal baik, ia melewatkan insiden cipratan minyak, tangannya yang sering luka karena tak hati-hati saat menggunakan pisau atau ketika matanya perih saat memotong bawang. Itu pengalaman berharga tapi tak mungkin diceritakan pada sang mama.
Aisyah baru ingat setelah mama nya tidur bahwa tadi ia meninggalkan Umar di depan. Aisyah segera keluar dari kamar mama nya dan turun ke lantai bawah berharap Umar masih ada disitu. Namun tidak ada siapapun di halaman bahkan mobil Jaya juga sudah tidak terparkir disana. Aisyah berlari keluar gerbang, benar saja, Umar sudah pergi.
"Lupakan Umar dan fokus sama diri kamu sendiri!" Aisyah mengepalkan tangan mencoba menyemangati dirinya sendiri, ia akan terus mengingat ucapan Maryam bahwa ia harus fokus memperbaiki diri bukannya sibuk memikirkan orang lain. Jika Aisyah sibuk memikirkan Hilya yang sholehah nya tidak bisa ia jangkau mungkin ia akan kehabisan energi.
Rumah luas itu terasa sangat sepi karena Aisyah terbiasa tinggal di pesantren yang penuh dengan suara santri. Ada yang hilang setelah ia kembali ke rumah ini. Mungkin ia juga harus belajar mengikhlaskan Umar. Bukankah Umar pantas mendapatkan wanita yang lebih baik darinya?
"Ini hanya sebentar." Gumam Aisyah seraya melangkah masuk, ia akan berada di rumah seharian karena ada banyak yang harus dikerjakan.
******
Setelah kembali ke rumah, Umar mendapati Hilya sudah datang. Hilya dijemput oleh Khalid dan Khawla pagi tadi karena perjalanan ke Lumajang memakan waktu cukup lama meski hanya dipisahkan oleh satu kabupaten.
Mereka sudah berencana untuk membeli seserahan ditemani oleh Khawla karena Umar tidak tahu apapun tentang seserahan yang harus ia beli untuk lamaran. Sebenarnya yang membuat rencana itu adalah keluarga mereka, Umar sendiri hanya menuruti permintaan mereka.
"Assalamualaikum, maaf sudah membuat Ning menunggu."
"Waalaikumussalam, tidak apa-apa, saya baru sampai." Hilya sumringah melihat Umar datang.
"Kenapa tidak masuk?"
Hilya sudah masuk tadi tapi ia ingin melihat suasana pondok disini jadi ia berkeliling sebentar dan berakhir di gazebo ini.
"Saya sudah minta tolong agar Ummi ikut menemani mu." Ujar Umar pada Hilya. Ia ikut duduk di gazebo dengan jarak sekitar satu meter, mereka duduk di masing-masing ujung gazebo.
__ADS_1
"Gus Umar tidak ikut?" Tanya Hilya.
"Saya tidak mengerti soal itu, Ummi dan Mbak Khawla lebih mengerti jadi mereka yang menemani mu."
Hilya tersenyum getir di balik cadarnya, rasa perih menjalar di dadanya. Perasaannya tidak salah lagi bahwa Umar menyukai gadis bernama Aisyah yang tinggal disini. Gadis itu memang cantik, kulitnya putih bersih dengan sepasang mata yang indah.
"Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Silakan Ning."
"Kita memang sudah saling kenal sejak kecil tapi sebenarnya ada banyak yang saya tidak tahu tentang Gus Umar, perjodohan Gus dan saya sudah berjalan sejauh ini tapi saya tidak pernah bertanya bagaimana perasaan Gue Umar terhadap saya, saya jadi menduga-duga bagaimana jika hanya saja yang senang sedangkan Gus tidak."
Umar tetap tenang mendapat pertanyaan tersebut karena ia yakin suatu hari Hilya pasti akan bertanya.
"Tolong jangan beri saya pertanyaan seperti itu." Umar tidak mungkin menjawab pertanyaan yang akhirnya dapat menyakiti perasaan Hilya.
"Itu jawaban yang sangat ingin saya ketahui."
"Saya sangat menghormati Ning Hilya sebagai putri Kyai Abizar jadi saya tidak bisa menolak perjodohan ini."
"Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan saya Gus."
"Apakah tidak masalah jika Ning Hilya hidup dengan seseorang yang tidak mencintai Ning?"
Dunia Hilya terasa runtuh ketika kalimat itu terlontar dari mulut Umar—lelaki yang ia kagumi sejak dulu walaupun ia tidak pernah mengungkapkannya. Tak hanya sebagai kakak, Hilya memandang Umar sebagai laki-laki yang ia bisa jatuh cinta terhadapnya.
"Ada gadis lain yang Gus suka?" Hilya memberanikan diri bertanya walaupun ia sudah tahu jawabannya.
"Jawaban saya mungkin akan menyakitkan hati Ning Hilya jadi saya tidak akan menjawabnya."
"Bagaimana kalau saya tetap ingin melanjutkan perjodohan ini, anggap saja saya tidak tahu jika Gus menyukai Aisyah."
"Saya memang menyukainya."
"Apa dia tahu?"
"Dia tidak tahu."
"Kenapa Gus tidak mengungkapkannya?"
"Karena kita telanjur dijodohkan, percuma saya mengungkapkannya."
Hilya dongkol, Umar bisa saja menolak perjodohan tersebut dan mengatakan sudah menyukai gadis lain jadi mereka tidak akan sampai pada tahap sejauh ini.
"Kita akan tetap melanjutkan perjodohan ini." Kata Hilya mantap seraya beranjak dari sana karena ia melihat Maryam dan Khawla keluar.
"Mari berangkat." Ucap Maryam, alih-alih naik mobil tua milik Umar, mereka menaiki mobil Khalid yang lebih bagus karena ingin memperlakukan Hilya dengan baik. "Ayo Umar." Serunya pada Umar yang masih terpaku di gazebo seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Hilya pura-pura tidak tahu apa yang Umar pikirkan saat ini. Hilya tidak peduli meskipun Umar tak mencintainya, setelah menikah—cinta akan mengiringi. Lagi pula cinta bukanlah hal wajib dalam pernikahan.
__ADS_1
"Umar tidak ikut Ummi." Kata Umar akhirnya.
"Kenapa, bukannya kamu tidak ada jadwal mengajar hari ini?"
Umar sengaja mengosongkan jadwal mengajarnya karena ingin mengantar Aisyah. Ini membuat Umar diliputi rasa bersalah terhadap Hilya. Hilya tidak seharusnya dinomor duakan. Namun di hati Umar, tidak ada yang lain kecuali Aisyah.
"Ummi dan Mbak Khawla pasti akan memilih semua yang terbaik untuk Ning Hilya, jadi saya tidak perlu ikut."
"Baiklah kalau begitu, mari Hilya." Maryam mempersilakan Hilya masuk mobil. Mereka akan pergi ke pusat perbelanjaan terdekat untuk membeli seserahan.
Hilya menatap Umar melalui jendela mobil, Umar semakin terlihat tidak menginginkan pernikahan mereka.
******
Karena Umar tidak ikut membeli keperluan lamaran, sebagai gantinya ia mengantar Hilya pulang dengan mobil Khalid. Perjalanan 4 jam yang mungkin akan terasa lebih lama karena tidak ada obrolan disitu. Idham yang menemani Hilya juga diam—sibuk membaca buku di tangannya. Umar juga tidak pandai memulai obrolan apalagi dengan Hilya yang notabene adalah putri dari orang yang ia hormati. Apalagi setelah pembicaraan serius mereka tadi pagi, Umar makin mengatup bibirnya rapat enggan mengeluarkan sepatah katapun.
Hanya suara deru mesin mobil yang mendominasi. Dingin menusuk kulit ketika mobil memasuki jalan berkelok gunung gumitir yang menghubungkan Banyuwangi dan Jember. Umar menurunkan kecepatan mobil, di sisi kiri terdapat tebing tinggi yang ditumbuhi berbagai pohon sedangkan di kanan adalah jurang jadi ia harus ekstra hati-hati. Itu adalah jalan yang dibuat pada masa kolonial Belanda yang memperkerjakan penduduk pribumi tanpa upah dan istirahat.
Perjalanan masih lama, Umar sibuk memikirkan bagaimana jika perjodohan ini terus berlanjut. Apakah mereka dapat bahagia? kebahagiaan memang bukan satu-satunya tujuan menikah tapi alangkah indahnya jika mereka mengisi ibadah berumahtangga dengan cinta dan bahagia.
Sejak awal Hilya tentu lebih unggul tapi hati tidak dapat memilih kepada siapa ia akan jatuh. Umar tidak mau menjadikan Aisyah sebagai pilihan kedua. Namun sekarang apakah Umar masih berhak untuk memilih padahal segala keperluan lamaran sudah dibeli.
Pandangan Hilya tertunduk, sesekali ia melihat pemandangan di luar jendela yang sebenarnya tidak menarik. Ia bersemangat sejak semalam membayangkan hari ini tapi ternyata semuanya tidak sesuai dengan bayangannya.
"Bagaimana kalau kita mampir di masjid depan untuk shalat dhuhur." Ujar Umar setelah mengecek arloji di tangan kirinya.
"Boleh." Jawab Hilya dan Idham bersamaan.
Umar menghentikan mobil di depan masjid, ia dan Idham segera turun disusul Hilya.
"Ning Hilya." Panggil Umar.
Hilya menghentikan langkah membalikkan badan melihat Umar.
"Ya?"
"Saya minta maaf."
"Soal apa?"
"Soal tadi, saya sudah menyinggung perasaan Ning Hilya."
"Tidak apa-apa, saya yakin Gus akan berusaha memperbaikinya lagi pula kita akan menikah." Hilya kembali melangkah mendahului Umar.
__ADS_1