
"Ternyata aku sering lewat depan rumah Atalie tapi nggak tahu sama sekali kalau ini rumahnya." Ayana mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru halaman rumah keluarga Atalie. Meski sudah cukup lama berteman tapi Atalie jarang membicarakan soal keluarganya. Atalie memang termasuk orang yang tertutup.
Sepulang kuliah Gracia, Ayana dan Khanza memutuskan untuk menjenguk Atalie. Di antara mereka hanya Gracia yang pernah berkunjung ke rumah Atalie, itupun hanya satu kali.
"Temen-temennya Atalie ya, ayo masuk." Renata menyambut kedatangan mereka bertiga dengan ramah. Atalie sudah memberitahu bahwa teman-temannya akan datang.
Mereka menjabat tangan Renata bergantian dan menanyakan kabarnya.
"Atalie di kamarnya, kalian ke atas aja nanti Tante anterin camilan ke atas."
"Tante jangan repot-repot, kami kesini mau jenguk Atalie." Gracia tidak mau kedatangan mereka jutsru merepotkan Renata, tujuan mereka adalah untuk menjenguk Atalie.
"Jangan sungkan." Renata mengusap punggung Gracia sesaat sebelum ia pergi ke dapur. Sementara itu Gracia, Ayana dan Khanza menaiki tangga menuju kamar Atalie di lantai dua.
Atalie tampak menyedihkan terbaring di atas ranjang, kakinya ditopang dengan tumpukan bantal. Bekas luka di kaki Atalie belum juga hilang lalu sekarang ditambah keseleo. Itu adalah paket lengkap bagi Atalie untuk menghabiskan seharian di dalam kamar sembari membaca buku.
"Masuk." Atalie setengah berteriak mendengar suara ketukan pintu beberapa kali. Sedetik kemudian pintu terbuka lalu Gracia, Ayana dan Khanza muncul dari sana.
"Atalie, ya ampun!" Gracia terkejut melihat kaki Atalie dibalut perban, "aku pikir cuma keseleo dikit."
"Emang keseleo dikit." Atalie mengulas senyum melihat teman-temannya.
"Duh pasti sakit banget." Ayana bergidik ngeri membayangkan sakit yang harus Atalie rasakan. Kakinya pernah terkilir waktu kecil dan ia tak bisa berhenti menangis semalaman.
"Wajah kamu pucat banget." Khanza meletakkan paper bag di atas nakas, itu adalah barang yang ia bawa untuk menjenguk Atalie.
"Karena belum cuci muka kali." Atalie menegakkan tubuhnya, Khanza membantu menyusun bantal agar Atalie duduk lebih nyaman. "Kalian bawa apa?"
"Bawa buku." Gracia duduk di sofa begitupun dengan Ayana sementara Khanza duduk di pinggiran tempat tidur.
"Idenya Gracia." Tukas Khanza saat Atalie melihat ke arahnya, ia juga melihat beberapa buku di sekitar Atalie. "Buku memang pilihan yang tepat, walaupun sakit kamu masih baca buku lho."
Atalie mengucapkan terimakasih pada teman-temannya yang menyempatkan waktu untuk datang kemari. "Mau lihat dong."
"Nih." Khanza memberikan paper bag tersebut pada Atalie. "Katanya itu buku yang baru aja keluar bulan kemarin."
"Wah, aku emang mau beli buku ini." Atalie berbinar-binar mengeluarkan buku berjudul Seperti Bulan dan Matahari karya Stanley Harsha yang memang ia inginkan. Itu adalah buku tentang kehidupan politik, agama dan budaya dari kacamata seorang diplomat Amerika.
"Aku yakin ada puluhan buku lainnya yang pengen kamu beli." Sahut Ayana yang membuat Atalie terkekeh.
Obrolan mereka terputus sebentar ketika seorang ART mengantar minuman dan makanan ringan untuk ketiga teman Atalie.
"Terimakasih Bi." Ucap mereka pada bibi yang telah mengantar minuman untuk mereka.
"Eh Atalie, setelah sembuh kamu harus ikut aku dan Khanza ke kajian sore hari Kamis." Ayana berpindah naik ke tempat tidur Atalie setelah bibi keluar dari kamar tersebut.
"Emang kenapa kalau hari Kamis?" Atalie mengerutkan kening, baginya setiap hari sama.
__ADS_1
"Setiap hari Kamis yang ngisi kajian itu Ustadz Hamzah, dia ganteng banget." Jelas Ayana heboh.
"Sependapat sama Ayana." Timpal Khanza sementara Gracia hanya menyimak karena ia tidak tahu apa-apa tentang hal itu. "Lebih ganteng dari Ustadz Umar."
"Sebenarnya kalian ikut kajian mau nyari ilmu atau pengen lihat pria ganteng sih?" Atalie memiringkan kepalanya menatap Ayana dan Khanza bergantian, ia tak tertarik dengan ustadz ganteng yang mereka sebutkan. Bukannya Atalie tidak normal, tentu saja ia juga bisa jatuh cinta pada pria. Hanya saja bagi Atalie, Umar tetaplah yang paling tampan. Ah, Atalie tidak mau keceplosan memuji Umar. Ayana dan Khanza bisa mengejek Atalie tanpa henti. Bahkan untuk mengakuinya dalam hati saja Atalie gengsi, ia selalu membandingkan Umar dengan aktor luar negeri agar tetap sadar diri.
"Ya dua-duanya, kamu tahu peribahasa sambil menyelam minum air kan?" Ayana membela diri, lagi pula bukan hanya dirinya yang mengagumi Ustadz Hamzah.
"Aku nggak bisa." Atalie mengalihkan perhatian pada buku di tangannya, wajahnya berubah muram saat mengatakan hal itu.
"Kenapa?"
"Mama dan Papa batasin waktu ku buat keluar selain untuk kuliah apalagi setelah ini aku akan jarang ke kampus."
"Yah." Ayana dan Khanza menyahut bersamaan, tapi mereka juga tidak berhak memaksa Atalie untuk ikut kajian tersebut.
Atalie menunduk, ia tidak bisa ikut kajian itu lagi setelah Umar melarangnya bertanya apapun. Bagi Atalie itu sama seperti sebuah penolakan. Sepertinya Umar membenci Atalie setelah ucapannya terakhir kali beberapa waktu lalu. Atalie akan berusaha untuk tidak menampakkan wajahnya di depan Umar.
"Jadi beneran Felix maksa kamu pakai high heels?" Giliran Gracia bersuara, ia sudah mendengar cerita singkatnya dari Atalie.
"Sebenarnya bukan maksa sih dan aku juga bisa tolak, aku cuma pengen buruan pulang jadi aku pakai aja sandal yang heels nya 5 centimeter itu, dia bilang nggak terlalu tinggi kok." Atalie menirukan gaya bicara Felix kemarin.
"Segitu emang nggak terlalu tinggi bagi orang yang udah sering pakai high heels."
"Tapi Atalie sebelumnya udah bilang kalau dia nggak bisa pakai high heels." Timpal Khanza.
"Udahlah jangan dipikirin lagi." Tukas Atalie, ia tak mau membuat Gracia terlalu memikirkan hal tersebut. Lagi pula sekarang ia sudah baik-baik saja, kakinya juga tidak terlalu sakit lagi. Namun bukan berarti Atalie akan memaafkan Felix, tidak akan pernah.
******
Kamar Atalie sepi setelah kepergian tiga temannya yang telah menemani kesendirian Atalie hingga langit gelap. Atalie mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamarnya yang bernuansa abu-abu, ini adalah tempat paling nyaman untuk berdiam diri selain taman belakang.
Lagi-lagi Atalie merasa kosong, ini mengganggunya beberapa hari terakhir. Atalie melangkah tertatih dari depan kamar mandi dan duduk di depan meja rias. Atalie mengeringkan wajahnya dengan tisu lalu mengaplikasikan toner dan pelembap.
"Apa yang kurang?" Atalie bertanya pada dirinya sendiri, ia punya teman-teman baik dan keluarga yang selalu menyayanginya.
Atalie kembali melemparkan pandangan ke seluruh kamar, "apa yang nggak aku punya?"
Deretan buku pada rak menjadi barang favorit yang Atalie miliki. Hari ini Atalie telah menyelesaikan dua buku sekaligus, buku yang sebelumnya tidak sempat ia baca karena kesibukan kuliah.
Siapa yang menciptakan manusia?
Atalie mengetik pertanyaan tersebut pada kolom pencarian.
Allah menciptakan manusia dari unsur tanah. Dalam salah satu hadits disebutkan "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari gumpalan tanah yang diambil dari seluruh tempat yang ada di bumi".Jika Allah menghendaki bisa saja manusia diciptakan dari unsur yang lain.
__ADS_1
"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari."
(QS Hud Ayat 7)
Atalie spontan menutup laptopnya ketika pintu terbuka. Renata datang membawa makan malam untuk Atalie.
"Mama bikin makanan kesukaan kamu." Renata menunjukkan salad sayur dengan potongan alpukat dan dada ayam.
"Makasih ya Ma." Ucap Atalie, "Mama bikin sendiri?"
"Iya dong." Renata duduk di sofa membiarkan Atalie menikmati makan malamnya.
"Bikinan Mama yang paling enak." Puji Atalie setelah menghabiskan suapan pertama, itu hanya potongan selada, kubis ungu, wortel, alpukat, tomat dan telur dengan dressing minyak zaitun dan bawang putih. Namun jika Atalie yang membuatnya tak akan seenak ini. Entah kenapa sentuhan mama selalu membuat sesuatu menjadi spesial.
"Cowok yang kemarin, katanya yang naksir kamu sejak SMA ya?"
Atalie berhenti mengunyah, pasti Daniel telah membocorkan hal ini pada Renata. Dasar Daniel, ia paling hobi menjahili Atalie. Kapan anak itu akan tumbuh dewasa.
Atalie akhirnya menjawab dengan anggukan singkat.
"Tapi kamu nggak suka?"
"Iya."
"Diusia kamu sekarang, nggak apa-apa lho kalau kamu mau mulai pacaran, Mama dan Papa nggak pernah melarang kamu untuk punya pacar."
"Buat apa Ma?"
Renata terdiam sejenak, "bukankah wajar jika anak seusia mu pacaran buat seneng-seneng."
"Aku udah bahagia Ma, ada Mama, Papa dan Daniel."
"Jadi untuk sekarang belum ada laki-laki yang kamu suka?"
Atalie ragu hendak menjawab pertanyaan mama nya, ia hanya menunduk berpura-pura fokus menikmati salad nya padahal kepalanya sudah dipenuhi oleh nama Umar. Atalie jelas menolak perasaan tersebut tapi kenapa sosok Umar justru muncul pada saat seperti ini.
Renata tersenyum melihat semburat merah di pipi Atalie. Ia yakin ada lelaki yang berhasil mencuri perhatian Atalie. Namun Atalie enggan mengakuinya.
"Ada tapi sulit digapai Ma, ini cinta pertama ku tapi nggak akan berhasil." Atalie menghela napas berat, ini pertama kalinya ia menaruh perhatian terhadap seorang lelaki. Namun meskipun belum mencoba tapi Atalie sudah tahu akhirnya akan seperti apa. Ada perbedaan besar di antara mereka yang membuat Atalie dipenuhi keraguan untuk menggapainya.
"Kenapa bilang gitu, emangnya kamu udah coba deketin?"
"Belum coba aja dia udah minta Atalie menjauh."
"Alasannya?"
Atalie memutar badan melihat Renata, "dia bahkan nggak pernah lihat wajah ku waktu kami ngobrol." Ia menekuk bibir bawahnya kesal mengingat ucapan Umar waktu itu.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu bisa cari laki-laki lain yang penting jangan si Felix itu." Renata beranjak mengusap bahu Atalie untuk menghiburnya.