Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Akhirnya Bertemu


__ADS_3

Umar mengedarkan pandangan ke seluruh jamaah yang hadir di kajiannya hari ini. Ia tidak melihat Atalie lagi sore ini, terhitung sudah lebih dari satu bulan Umar tak melihat Atalie mengikuti kajiannya. Di kampus yang tidak terlalu luas pun Umar tak pernah bertemu dengan Atalie sejak terakhir kali bicara soal buku Khadijah.


Umar merasa ada yang kurang dari hidupnya setelah lama tidak bertemu Atalie. Tiba-tiba ia ingin mendengar pertanyaan-pertanyaan polos Atalie yang membuatnya tak bisa menahan tawa. Gadis yang katanya ingin berkenalan dengan Aisyah.


Kemana Atalie?


Begitu pertanyaan yang selalu hadir di benak Umar. Apakah ucapannya waktu itu keterlaluan hingga membuat Atalie marah. Umar hanya tidak mau Atalie menanyakan banyak hal tapi pada akhirnya itu tak memberi manfaat apa-apa. Bukankah bagus jika Atalie marah, itu artinya Umar tak perlu berurusan dengan Atalie lagi. Umar juga tak berniat berteman dengan Atalie, tidak sama sekali.


"Mari Ustadz." Pamit Ayana pada Umar di halaman masjid ketika ia dan Khanza hendak pulang lebih dulu.


"Kalian cuma berdua?" Sebenarnya Umar ingin menanyakan itu sejak tadi melihat Ayana dan Khanza datang tapi ia tak punya cukup alasan untuk bertanya keberadaan Atalie, ia juga tak berbakat untuk berbasa-basi terutama pada perempuan. Ia hanya lelaki kaku yang tidak memiliki pengetahuan untuk memulai obrolan dengan perempuan.


"Benar Ustadz." Jawab Khanza, ia sudah memakai helm tapi mengurungkan niat untuk naik ke motornya mendengar pertanyaan Umar.


"Satu lagi yang biasa sama kalian tidak ikut?" Umar berpura-pura lupa nama Atalie, akan terasa aneh jika ia mengingat nama Atalie padahal mereka tidak akrab terlepas dari Atalie yang pernah mengunjungi kediaman Umar. Lagi pula Umar tak pernah mengundang Atalie untuk datang. Itu atas keinginan Atalie sendiri.


"Maksud Ustadz, Atalie?" Netra Ayana melebar, sebelumnya mereka tak pernah bicara seperti ini itu sebabnya ia tampak antusias. Apalagi Umar yang bertanya lebih dulu.


"Ah iya benar, Atalie." Umar menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal, kenapa juga ia harus pura-pura lupa nama Atalie. Umar merasa kikuk sekarang.


"Dia sibuk selesain tesisnya Ustadz." Khanza menjawab.


"Oh begitu." Umar manggut-manggut, itu artinya Atalie sedang menempuh pendidikan Pascasarjana. Umar pikir Atalie masih sangat muda jauh di bawahnya tapi ternyata gadis itu sudah lulus S1. Pikiran Umar jadi sibuk menerka usia Atalie. Mungkin 26? tidak, ia terlihat berusia awal 20-an.


"Bukannya nggak boleh ya sama Mama nya?" Ayana menatap Khanza polos.


Khanza melotot lalu membekap mulut Ayana karena mereka sudah sepakat untuk merahasiakan ini dari siapapun. Atalie mengatakan orangtuanya membatasi ruang geraknya terutama setelah pulang kuliah. Namun mereka berjanji untuk tak membahas hal ini lagi dimanapun.


Alis Umar terangkat, percuma Khanza membekap mulut Ayana karena Umar sudah mendengar semuanya.


"Maaf Ustadz." Khanza menunduk, "sebenarnya Atalie itu non muslim." Ucapnya ragu-ragu.


"Saya tahu." Kata Umar dengan nada datar, itu bukan hal yang mengejutkan.


"Ustadz tahu?" Ayana dan Khanza bertanya bersamaan lalu mereka saling berpandangan seolah bicara melalui tatapan mata. Mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin Umar tahu tentang itu.


"Kalau gitu saya permisi dulu, assalamualaikum." Umar naik ke motornya meninggalkan halaman masjid serta Ayana dan Khanza yang masih diliputi rasa penasaran.


Sebelum sampai rumah, Umar berhenti di sebuah toko roti. Ia sudah memesan muffin untuk para santri yang sudah memenangkan lomba qosidah beberapa waktu lalu. Ada sekitar 20 orang santri yang terbentuk dalam satu tim untuk mengikuti lomba tersebut.


"Atas nama Umar, 200 Choco Banana dan Peanut Butter Muffin benar?"


"Benar."


"Mas nya mau bawa pakai motor?" Karyawan toko itu melihat keluar pada motor Umar yang diparkirkan.


"Iya." Tadinya Umar yakin bisa membawa dua kotak berisi 200 muffin itu dengan motornya tapi sekarang ia ragu.


"Kami khawatir muffin nya akan rusak jika Mas membawanya dengan motor."


"Kalau gitu saya akan kembali membawa mobil." Umar terpaksa harus pulang untuk membawa mobilnya kesini.


"Lepasin!" Suara teriakan perempuan mengalihkan perhatian Umar yang hendak naik ke motornya. Ia menyipitkan matanya agar bisa melihat lebih jelas.


"Atalie?" Umar urung naik ke motornya, langkahnya membawa Umar menghampiri Atalie yang sedang berusaha melepaskan pegangan seorang lelaki berkulit putih pucat di sampingnya.


"Qu ni ma de!"


Umar terkejut mendengar kata umpatan yang keluar dari mulut Atalie.


"Dia memintamu melepasnya." Tukas Umar pada lelaki tersebut, meskipun tidak tahu persis apa yang terjadi pada mereka tapi Umar tahu jika Atalie tidak suka diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


Untuk sesaat Atalie terkejut melihat keberadaan Umar, ia tidak menyangka bahwa mereka akan bertemu di situasi seperti ini. Sebelumnya Atalie bertekad untuk tidak menunjukkan diri di depan Umar bagaimanapun keadaannya. Namun sekarang Atalie sangat membutuhkan bantuan Umar.


"Atalie, tolong maafin aku." Rengek lelaki tersebut.


"Felix, kamu sadar sama perbuatan mu kan? aku nggak akan pernah maafin kamu!" Atalie masih berusaha melepaskan diri dari Felix, ia beralih melihat Umar. "Mas tolongin aku, aku tahu kamu benci sama aku tapi tolong aku kali ini aja."


Umar membelalak, ia tak pernah mengatakan bahwa dirinya membenci Atalie. Tidak sama sekali, ia tak punya alasan untuk membenci perempuan yang bahkan tak ia kenal dengan baik.


"Tolong lepaskan!" Umar menarik Felix dengan kuat agar pegangannya terlepas.


"Kamu jangan ikut campur." Semprot Felix meski tubuhnya terdorong ke belakang akibat tenaga Umar yang cukup kuat.


"Pergi dari sini." Tubuh Umar yang tinggi mencoba menghalangi Felix.


Felix ciut hanya dengan tatapan tajam Umar yang seolah menusuk ke dalam dadanya. Felix menelan ludahnya dengan susah payah lalu segera membalikkan badan dan masuk ke mobilnya.


Umar sedikit merendahkan tubuhnya demi melihat Felix yang sudah duduk di kursi kemudi. "Kalau kamu ganggu dia lagi, kamu akan berurusan dengan saya." Ujarnya penuh penekanan.


Felix menancap gas tanpa mengucapkan apapun lagi, ia meninju kemudi dengan keras mengekpresikan betapa ia sangat kesal. Felix marah pada dirinya sendiri karena telah mengacaukan hubungannya dengan Atalie. Sepertinya semua akan berjalan lancar setelah hari itu, andai Felix tidak membelikan Atalie high heels.


"Makasih ya." Ucap Atalie pada Umar, ia tak tahu bagaimana nasibnya jika tidak ada Umar barusan.


"Ini punya mu?" Umar memungut amplop berukuran cukup besar dengan nama salah satu rumah sakit Banyuwangi.


"Iya, terimakasih Mas." Atalie mengambil amplop berisi hasil Rontgen kakinya tersebut. Ia baru saja selesai melakukan pemeriksaan terakhir pada kakinya. Setelah kejadian keseleo hari itu, Jaya meminta Atalie melakukan CT scan karena kakinya tidak juga sembuh setelah satu Minggu. Padahal biasanya jika keseleo biasa maka akan membaik setelah tiga hari. Atalie baru tahu jika ada retakan pada tulang pergelangan kakinya setelah dokter melakukan CT scan.


"Kamu mau kemana?"


"Mau pulang, tunggu jemputan."


"Kalau gitu saya tunggu sampai jemputan mu datang." Putus Umar berjaga-jaga jika lelaki itu datang lagi.


Atalie mengangguk menahan senyum, ia mengayun-ayunkan tasnya salah tingkah. Dasar Atalie, kenapa juga kamu harus salah tingkah hanya karena Umar menolong mu.


Jadi nyariin aku nih? katanya nggak usah tanya apapun tapi kenapa nyariin?


"Iya, udah nggak ada mata kuliah yang harus aku ikuti di kampus."


Umar mengangguk mengerti, ia pikir Atalie sakit atau pergi ke luar negeri. Bukankah orang kaya suka liburan ke luar negeri.


"Ngomong-ngomong, kamu jago mengumpat ya."


"Hm?" Alis Atalie terangkat, ia memang paling jago mengumpat tapi dari mana Umar tahu?


"Itu tadi."


"Kamu tahu itu umpatan?" Kini ia membelalak karena tidak menduga jika Umar akan mengerti umpatan dalam bahasa Mandarin tersebut. Bahkan Atalie yakin Felix saja tak akan mengerti jika tadi ia mengumpat.


"Tahu." Kata Umar santai.


"Kok bisa?"


Umar mengedikkan bahu, ia sering mendengarnya dulu. Teman-temannya mengatakan bahwa itu sejenis kata umpatan dan pengucapan Atalie tadi sangat fasih, sepertinya ia memang mahir mengumpat.


"Kamu pernah tinggal di China?" Atalie bertanya antusias.


"Hanya enam bulan di Shanghai tapi kata itu tidak asing, saya sering mendengarnya."


"Oh ya? aku juga pernah belajar di China, kota Hangzhou." Kata Atalie antusias.


"Maksudmu belajar kata-kata umpatan?" Sindir Umar.

__ADS_1


Atalie tertawa, "bukan-bukan, aku belajar bahasa, kamu?"


"Aku membimbing beberapa mualaf."


"Oh." Atalie manggut-manggut mengerti.


Sebuah mobil Ford hitam berhenti di depan mereka, ketika kaca jendelanya terbuka Atalie melambaikan tangan pada seseorang yang berada di balik kemudi.


Umar ingat itu adalah lelaki yang memeluk Atalie di kampus. Pacar Atalie terlihat lebih muda, rupanya selera Atalie adalah berondong—istilah yang biasa digunakan untuk menyebut lelaki yang lebih muda, bukannya berondong jagung. Umar mulai melantur.


"Lama banget sih." Ketus Atalie ketika Daniel turun dari mobil.


"Maaf sudah membuat tuan putri menunggu lama." Daniel berkata dengan lembut disertai senyum yang dibuat-buat karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia kesal karena Atalie selalu marah-marah padanya.


"Kalau gitu aku pergi dulu." Pamit Umar, tak ada gunanya lagi ia disini selain menjadi obat nyamuk.


"Eh tunggu dulu, nggak kenalan dulu?"


"Untuk apa?" Umar memasang ekspresi datar, ia tak ingin berkenalan dengan pacar Atalie.


"Oh ini Mas Umar yang Kak Atalie ceritain itu ya?" Daniel melihat Umar, meskipun belum pernah bertemu sebelumnya tapi ia memperkirakan sosok Umar yang sering Atalie ceritakan beberapa waktu terakhir.


Atalie nyengir sedangkan matanya melotot meminta Daniel tidak membocorkan fakta bahwa ia sering menceritakan Umar.


Kakak?


"Kenalin Daniel, adik aku." Atalie menarik tangan Daniel agar berkenalan dengan Umar.


"Halo Mas, saya Daniel." Daniel mengulurkan tangan pada Umar.


"Umar." Umar membalas uluran tangan Daniel. Entah kenapa setelah mengetahui jika Atalie dan Daniel adalah adik kakak, mereka jadi terlihat mirip.


"Barusan kamu emang ada di sekitar sini?" Atalie lupa bertanya mengapa Umar tiba-tiba ada disini.


"Iya, ambil pesanan kue untuk santri."


"Pakai motor, emang bisa?"


"Tidak bisa, makanya saya mau pulang ambil mobil."


"Ya udah aku aja yang anterin kuenya ke pesantren dari pada kamu harus pulang."


"Tidak usah."


"Jangan ditolak, kamu juga barusan udah bantuin aku."


"Bener kata Kak Atalie." Timpal Daniel meski ia tak tahu apa yang Umar lakukan untuk Atalie baru saja. "dimana kuenya Mas biar saya bantu bawa."


"Di toko itu." Umar menunjuk toko roti yang ia datangi barusan.


Daniel mengekori Umar masuk ke toko roti untuk membantu membawa kue. Atalie juga mengikuti di belakang Daniel, ia ingin membeli roti untuk makan malam nanti.


Atalie membeli sekotak Cinnamon Roll dan Donat klasik untuk dimakan bersama ART di rumah. Meskipun Atalie tidak memiliki banyak teman tapi ia menganggap semua ART di rumah adalah temannya.


"Kamu masih ingat rumah ku?" Umar ingin memastikan Atalie tidak lupa letak rumahnya.


"Aku nggak mungkin lupa, kami akan membawa kuenya dengan selamat sampai tujuan." Atalie membuka bagasi mobil Daniel untuk meletakkan dua kotak muffin milik Umar.


Umar mengucapkan terimakasih pada Atalie dan Daniel, berkat mereka ia tidak perlu bolak-balik untuk membawa kue tersebut.


__ADS_1


Aku akan tunjukkan visual Atalie setelah dia jadi Aisyah nanti, tungguin ya.


__ADS_2