
Pengajian pihak laki-laki sebenarnya tidak jauh dari aula santri putri hanya saja area pesantren yang luas membuat Umar tidak bisa bertemu Aisyah. Mereka memang harus seperti ini sebelum akad besok.
Pihak laki-laki jauh lebih banyak karena tak hanya diikuti oleh santri putra, Umar juga mengundang teman-temannya. Teman-teman sekolah Umar dari berbagai kota pun datang demi menghadiri pernikahan Umar. Mereka adalah teman satu pesantren yang berasal dari Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Jombang hingga Yogyakarta.
Zaid memimpin pengajian hari itu, tanpa diminta ia datang lebih awal. Ia tidak bisa menentang keinginan Umar lagi. Zaid hanya bisa mendoakan segala yang terbaik untuk Umar.
"Umar mohon maaf atas kesalahan Umar selama ini." Umar mencium tangan Zaid sangat lama. Tanpa sadar air mata sudah meleleh di pipinya.
"Buktikan pada Abah kalau keputusan mu ini benar."
Umar mengangguk, ia tak pernah se-yakin ini saat memutuskan sesuatu. Aisyah sudah melampaui batas-batas dalam diri Umar.
Satu per satu santri meninggalkan tempat pengajian untuk memulai kegiatan lainnya. Begitupun dengan Zaid dan Khalid, tinggal Umar dan teman-temannya mengobrol ringan setelah sekian lama tidak bertemu.
Rata-rata dari mereka sudah menikah dan memiliki anak. Hanya satu dua orang yang belum menikah termasuk Umar. Pada beberapa kesempatan mereka menggoda Umar karena tidak segera menemukan tambatan hati. Tak jarang juga yang menjodohkan Umar dengan kenalan mereka. Lulusan pesantren, putri Kyai, Hafidzah hingga Ustadzah tapi Umar selalu mengatakan belum berniat menikah.
"Aku penasaran gadis seperti apa yang akhirnya membuat Gus Umar jatuh cinta dan mantap untuk menikahinya." Celetuk salah satu dari mereka seraya menyesap kopi yang sudah disediakan.
"Kamu bisa tebak." Sahut Umar dengan senyum merekah, ia memang tidak berhenti tersenyum sejak bangun tadi pagi. Tangisan yang tadi itu adalah tanda bahagia. Bahagia karena akhirnya Zaid menunjukkan perubahan. Hati Zaid perlahan luluh dan memberi restu terhadap pernikahan Umar dan Aisyah.
"Boleh aku tebak tipe gadis yang kamu suka?"
"Silakan."
"Semuanya mungkin sudah tahu kalau kami sering menjodohkan Gus dengan kenalan kami, gadis baik-baik yang berasal dari keluarga baik-baik tapi Gus Umar selalu menolak, jadi kemungkinan calon istri Gus Umar adalah Syarifah."
"Astaghfirullah, kamu tahu orang seperti ku nggak boleh menikahi Syarifah."
"Lalu siapa gadis yang kurang beruntung itu?" Tanya yang lain.
Mereka tertawa puas meledek Umar. Umar hanya geleng-geleng menahan tawa lalu melempar sebatang rokok pada Imran yang sudah meledeknya barusan.
"Dia gadis yang luar biasa,"
Semuanya terdiam demi mendengar kalimat Umar selanjutnya.
"Waktu pertama kali ketemu dia minta dikenalkan dengan Aisyah." Umar masih ingat persis kejadian itu. Semua orang mentertawakan Aisyah bahkan tak jarang yang mengejeknya. Namun bagi Umar, Aisyah sangat menarik.
"Aisyah yang mana, bukan Aisyah yang dulu naksir Gus Umar itu kan?" Aiman menambahkan.
Umar menggeleng mendelik, sejak kapan ada gadis bernama Aisyah yang naksir Umar. Umar hanya tahu Aisyah yang dulunya bernama Atalie.
"Sayyidatuna Aisyah, Ibu kita semua."
"Gus jangan jahil, mana ada orang yang nggak kenal Sayyidatuna Aisyah." Mereka tidak percaya mendengar cerita Umar. Apakah ada manusia di bumi yang tidak mengenal Aisyah, maksudnya siapa yang tidak tahu ibu seluruh umat muslim.
__ADS_1
"Aku nggak jahil apalagi berbohong, singkat cerita aku meminjamkan buku tentang Sayyidatuna Aisyah padanya lalu dia memutuskan untuk mengganti nama menjadi Aisyah, dia lah Aisyah yang inshaa Allah besok akan menjadi istriku."
"Wah, sepertinya dia memang bukan gadis biasa." Mereka semakin tidak sabar bertemu dengan sosok calon istri Umar.
"Apa dia berasal dari planet Pluto?" Imran masih keheranan.
"Pluto sudah lama dikeluarkan dari kategori planet." Sahut yang lain.
"Dia selalu tulus menolong orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri, dia gadis yang selalu semangat bercerita kalau dia sudah mengenal Nabi Muhammad, Aisyah, Khadijah, Umar dan para sahabat lainnya."
"Apa dia di bawah umur tapi bahkan anak ku yang usianya 4 tahun sudah tahu siapa itu Aisyah."
"Ngomong-ngomong soal umur, aku baru tahu umurnya setelah mengurus dokumen pernikahan, umur kami terpaut cukup jauh tapi dia bukan termasuk gadis di bawah umur." Umar baru menyadari itu. Ia masih tidak percaya jika Aisyah baru berusia 23 tahun setelah lulus S2.
"Wah, Gus memang luar biasa memilih istri."
"Apa dia mualaf?" Ihsan akhirnya membuat kesimpulan menurut cerita Umar bahwa Aisyah merupakan seorang mualaf. Wajar jika gadis itu tidak tahu tentang Aisyah.
"Benar, Abah sendiri yang membimbingnya untuk bersyahadat."
"Selamat Gus." Mereka kembali memberi selamat, besok mereka pasti melakukannya lagi.
"Selamat Gus, semoga pernikahan kalian membawa keberkahan bagi kita semua."
"Dia rutin ikut kajian ku, tentu saat itu dia belum memeluk Islam, dia menyelinap pergi ke masjid sepulang kuliah."
"Mas-Mas dan Gus-Gus dengarkan Ali bicara." Ali yang dari tadi hanya memperhatikan kini angkat bicara.
"Silakan Gus Ali." Mereka mempersilakan Ali bicara.
Perasaan Umar mendadak tidak enak ketika Ali mulai berbicara.
"Waktu pertama kali Mbak Aisyah kesini, dia bahkan pakai hot pants dan bikin para santri ribut."
Umar langsung membekap mulut Ali agar berhenti bicara.
"Apa itu hot pants?"
"Celana pendek."
"Nggak heran, dia menyelinap ikut kajian padahal dia belum memeluk Islam, kini kami tahu gadis luar biasa yang akan menjadi istri Gus Umar, kami akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian."
"Terimakasih." Umar mengangguk dan kembali tersenyum meski wajahnya sudah merah padam karena dijahili habis-habisan. Ali bukannya membela Umar justru ikut-ikutan menggoda.
*******
__ADS_1
Malam harinya Umar tidak bisa segera tidur padahal ia ingin tidur lebih awal setelah seharian sibuk. Umar sudah membaca Lubabul Hadits karya jalaluddin bin kamaluddin as-suyuthi berulang-ulang tapi ia tidak juga mengantuk. Padahal saat kuliah dulu Umar mudah tertidur saat belajar kitab Lubabul Hadits.
Umar sudah berada di atas tempat tidur sejak dua jam yang lalu dan berganti posisi puluhan kali. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar rumah, menghirup udara segar mungkin bisa membuatnya lebih rileks dan mengantuk.
Tidak seperti malam-malam sebelumnya, langit malam ini cerah penuh bintang serta bulan sabit terang benderang.
Apakah kamu tiada melihat bahwasannya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.
(QS Al-Hajj ayat 65)
"Belum tidur?"
Umar membalikkan badan mendengar suara Khalid.
"Belum ngantuk."
Khalid terkekeh, ia mengerti perasaan Umar. Dulu ia juga begitu, gugup dan tidak bisa tidur pada malam hari sebelum akad.
"Jangan gugup." Khalid menepuk bahu Umar mencoba untuk membuat sang adik percaya diri dan tidak terlalu gugup.
"Bukannya Mas juga gugup dulu?"
"Itu benar." Khalid tidak bisa memungkiri bahwa dulu ia juga sama gugupnya dengan Umar. Ia bahkan harus mengulang kalimat qabul hingga dua kali. "Tapi kamu nggak boleh gugup, dulu Mas masih 25 tahun."
"Apa bedanya, aku juga belum pernah menikah sebelumnya."
"Benar juga, kamu bahkan lebih cupu dari pada Mas."
"Aku cupu?"
"Ya." Khalid mengangguk meledek Umar.
"Sudah lah, aku ke musholla dulu." Umar memutuskan pergi ke musholla untuk mendirikan shalat malam. Itu akan membuatnya tenang dibanding menghirup udara malam.
Umar menyerahkan segala urusannya pada Allah, memohon kelancaran untuk akad dan resepsi besok.
Setelah satu jam berada di musholla, Umar kembali ke kamar. Ia lumayan mengantuk sekarang, rasa kantuk kerap datang saat sedang beribadah.
Umar memeriksa ponselnya yang menyala, senyumnya otomatis mengembang membaca pesan yang baru saja masuk.
Aku gugup sampai nggak bisa tidur. Aku yakin kamu jauh lebih gugup. Bersiaplah, aku akan didandani dengan sangat cantik besok.
Selamat malam, Mas.
__ADS_1