
"Aku berseru dengan segenap hati, jawablah aku, ya Tuhan! Ketetapan-ketetapan-Mu hendak ku pegang." Suara Jaya terdengar lantang ke seluruh ruangan ibadah. Setelahnya Jaya, Renata, Atalie dan Daniel menunduk bermaksud memfokuskan diri terhadap Tuhan.
Lagu kuasa-Mu lebih besar terdengar memenuhi ruangan, suara merdu Atalie memimpin nyanyian pujian pagi itu. Di antara mereka Atalie memang memiliki suara paling merdu, tak heran jika ia juga sering memimpin pujian di gereja.
Mereka rutin melakukan ibadah pagi sebelum memulai aktivitas di ruangan khusus yang terletak di samping taman belakang.
"Ma, besok aku nggak mau sarapan roti." Ujar Atalie setelah mereka keluar dari ruang ibadah. Ia sempat mengintip menu sarapan mereka hari ini yakni roti.
"Terus mau apa?" Renata melangkah lebih dulu menuju dapur mengecek hidangan untuk sarapan. Biasanya mereka menyantap makanan ringan saat sarapan seperti roti atau bubur.
"Mama tahu nggak di dunia ini ada ubi warna ungu."
"Tahu kok."
Atalie membelalak, jadi hanya dirinya yang tidak ada tahu ada ubi berwarna ungu padahal ia berniat pamer pada mama nya.
"Tapi kenapa aku nggak pernah lihat?"
"Karena Mama nggak kepikiran, kan kamu sering makan kentang yang sama-sama dari dalam tanah." Renata tidak mengerti kenapa Atalie mempermasalahkan hal itu padahal ia telah memberi makanan terbaik.
"Tenang Kak, aku juga nggak tahu ada ubi ungu." Daniel menepuk bahu Atalie.
"Oh ya? kamu belum pernah makan?" Atalie lega karena ia tidak sendiri. Mereka lahir dan besar di lingkungan yang sama, jika Daniel lebih tahu banyak hal maka Atalie akan protes pada papa dan mama nya.
"Lihat aja belum pernah." Daniel melangkah ke ruang makan lebih dulu.
"Yah payah banget sih, aku udah pernah makan." Atalie menyusul Daniel, akhirnya ia punya kesempatan untuk memamerkan pengalamannya makan ubi ungu yang memiliki rasa manis apalagi jika memakannya di depan Umar. Kalaupun Atalie makan jeruk lemon pasti akan terasa manis jika ada Umar. Apaan sih Atalie, udah nggak waras. Atalie tertawa menyadari kebodohannya sendiri.
"Dimana?"
Atalie tidak bisa menjawab, tak mungkin ia memberitahu jika kemarin dirinya pergi ke rumah Umar. Atalie sudah susah payah mencari alasan menginap di tempat kos Gracia agar bisa pergi ke kajian Maryam.
"Di kampus." Jawab Atalie terbata.
Daniel mencibir, ia tahu kakaknya sedang berbohong. Mulut Daniel terbuka bersiap mengejek Atalie tapi kata-katanya terpaksa harus ia telan kembali saat ART menyajikan makanan di atas meja. Roti panggang dengan olesan butter dan telur mata sapi, sosis, jamur kancing, daging asap dan tomat panggang yang disajikan di satu piring.
"Bi, besok Atalie minta sarapan ubi ungu." Renata duduk bergabung di ruang makan.
"Baik Bu."
"Makasih ya Bi." Ucap Atalie seraya mengusap lengan bibi. Atalie tidak sabar makan ubi ungu besok.
Mereka menunduk untuk berdoa bersama sebelum makan.
"Aku nanti sama kamu ya ke kampus." Ucap Atalie setelah berdoa.
"Biasanya naik mobil sendiri."
"Dedek ku yang ganteng, aku lagi males nyetir."
"Ya udah sekalian nanti mau nyoba ubi ungu yang dijual di kampus Kakak."
Atalie mendelik lalu menendang kaki Daniel, ia tidak serius soal makan ubi di kampus.
"Awh!" Daniel merintih dramatis.
"Kenapa Niel?" Jaya melihat Daniel yang tiba-tiba merintih kesakitan.
"Kakak tendang kaki aku."
"Udah-udah, kalian ribut mulu perasaan." Renata berusaha menyudahi keributan dua anaknya tersebut.
"Atalie, nanti jangan telat pulang, beberapa hari ini kamu nggak ikut ibadah sore, Papa sudah cek jadwal kuliah kamu, kelas terakhir selesai pukul 2 siang."
"Iya Pa." Atalie tidak punya alasan lagi untuk pergi ke kajian Umar sore ini. Sudahlah, lagi pula ibadah tetap lebih penting dari urusan lain.
******
"Cantik nggak?" Atalie menunjukkan fotonya saat mengenakan gamis pada Daniel, mereka berada di dalam mobil menuju kampus nya.
__ADS_1
"Siapa nih?" Daniel merebut ponsel Atalie dan melihat foto tersebut secara seksama. Ia bahkan mengerjapkan mata beberapa kali karena tidak bisa mengenali Atalie yang berbalut gamis berwarna hitam.
"Kakak mu lah." Atalie tersenyum geli melihat reaksi Daniel.
"Puji Tuhan karena sudah menciptakan wanita secantik Kak Atalie." Daniel serius soal mengatakan Atalie cantik, ia belum pernah bertemu wanita yang lebih cantik dari Atalie.
"Oh ya Tuhan, dramatis sekali adik ku ini." Ledek Atalie.
"Kakak ngapain pakai baju kayak gitu?" Walaupun Daniel mengakui Atalie terlihat lebih cantik dengan pakaian panjang yang hampir menutupi seluruh bagian tubuhnya tapi ia merasa aneh. Mungkin karena Atalie lebih sering mengenakan pakaian terbuka.
"Emang kenapa, cantik kan?"
"Cantik sih."
"Iya lah, Ummi Maryam aja bilang aku cantik pas pakai baju ini." Atalie berdebar mengingat pujian Maryam, ia ingin datang lagi ke kajian itu tapi mama nya bisa curiga jika ia sering menginap di tempat kos Gracia.
"Siapa lagi Ummi Maryam, aku khawatir Kak Atalie jadi salah pergaulan."
"Yah, kamu sama aja kayak Mama, Kakak tuh udah dewasa, nggak mungkin lah salah pergaulan."
"Terus kenapa Kakak jadi jarang ikut ibadah sore?"
"Lagi pengen ke masjid aja."
"Lagian nongkrong nya aneh-aneh aja, masa ke masjid."
"Masjid itu bukan tempat aneh."
"Nggak aneh buat mereka yang muslim, beda lagi kalau Kakak yang kesana."
Atalie mengerucutkan bibirnya meledek Daniel, ia mengambil kembali ponselnya. Mereka sudah hampir sampai di kampus Atalie.
"Ngapain kamu ikut turun?" Atalie melihat Daniel yang juga turun dari mobil ketika mereka sampai di depan kampusnya.
"Mau nyoba ubi ungu kan." Daniel menggandeng tangan Atalie membawanya menuju halaman kampus yang sudah dipadati oleh mahasiswa lain.
"Niel, aku bohong soal itu." Atalie berusaha melepas tangannya dari genggaman Daniel.
"Di rumah Ummi Maryam, udah sana pergi."
Daniel tersenyum puas karena berhasil membuat kakak nya mengaku. Ia tidak tahu siapa Ummi Maryam tapi menurutnya Atalie sudah salah pergaulan.
Akhirnya Daniel melepaskan tangan Atalie, tapi sebelum pergi ia memeluk kakak nya terlebih dahulu seolah hubungan mereka sebagai kakak beradik sangat harmonis padahal sebenarnya mereka lebih sering bertengkar.
Daniel melambaikan tangan dengan wajah jahil sebelum pergi dari hadapan Atalie.
Dari kejauhan Umar yang sedang memarkirkan motornya tidak sengaja melihat ke arah Atalie dan Daniel.
"Tentu saja, zaman sekarang hampir nggak ada cewek jomblo, mereka selalu punya pacar." Umar terkekeh menyadari kebodohannya sendiri yang berpikir bahwa Atalie tidak punya pacar. "Memangnya kenapa kalau punya pacar, apa urusannya denganku?" Umar melangkah dari tempat parkir melewati koridor menuju kelas.
Beberapa bulan yang lalu Umar mendapat tawaran mengajar di kampus tersebut. Setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya Umar menerima tawaran tersebut. Ia hanya datang dua hingga tiga kali karena ia juga mengajar di kampus lain.
"Mas Umar!"
Umat spontan menghentikan langkah mendengar seseorang memanggilnya dengan suara cukup kencang hingga beberapa mahasiswa yang duduk di depan kelas ikut menoleh.
Dari jarak sekitar 5 meter Atalie berlari menghampiri Umar.
"Maaf, aku lupa banget mau ganti uang parkir padahal kemarin kita ketemu."
"Nggak usah diganti." Tolak Umar.
"Jangan, aku nggak enak kamu udah bantu waktu itu, kalau nggak ada kamu mungkin aku nggak akan bisa pulang."
Akhirnya Umar menerima uang tersebut, lagi pula mereka tidak sedekat itu.
"Mas Umar kuliah disini juga?" Atalie melihat Umar masuk ruang rektor kemarin.
"Saya ngajar disini."
__ADS_1
"Oh ya? mata kuliah apa?"
"Hadits Tarbawi."
"Oh." Atalie melongo, ia pernah mendengar mata kuliah tersebut dari Ayana dan Khanza. Tentu saja itu tidak ada dalam jurusan Atalie. Itu artinya peluang Atalie untuk bertemu Umar di kelas adalah nol persen.
"Kamu naksir Umar kan?"
Atalie menggeleng kuat saat ucapan Gracia tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Tidak. Tidak!
"Kalau gitu saya permisi." Umar memasukkan selembar 20 ribuan ke dalam saku kemejanya.
"Iya, terimakasih sekali lagi." Atalie sedikit menunduk mengucapkan terimakasih pada Umar.
******
Atalie mengedarkan pandangan mencari meja kosong di taman yang terletak di tengah kampus usai kelas terakhir. Bukannya langsung pulang, Atalie duduk di salah satu kursi kosong dan membuka laptopnya.
Disela-sela kesibukan kuliah semester akhir, Atalie bekerja di salah satu perusahaan komik online sebagai penerjemah. Atalie tidak mau menyia-nyiakan waktu satu tahunnya belajar bahasa Mandarin di Hangzhou tanpa melakukan apapun. Ia menerjemahkan komik China ke bahasa Indonesia.
Atalie menyangga dagunya dengan kedua tangan menatap layar laptop di hadapannya. Ia merasa kosong—kekosongan yang tak tahu apa penyebabnya. Apa yang tidak ia punya? cerdas, cantik, kaya dan sebentar lagi lulus S2 diusia 23 tahun sementara Gracia masih sibuk mengurus skripsi S1 nya.
"Aisyah hebat banget, dia berusia 9 tahun waktu menikah dan bisa mengingat ribuan hadits yang tercatat sampai sekarang, dia bukan hanya istri yang baik." Atalie menjatuhkan kepalanya di atas meja. "Aku juga ingin menikah tapi sama siapa?" Ia termenung lama. Jika ada Gracia disini pasti ia sudah meneriakkan nama Felix berkali-kali. Cowok yang katanya boyfriend material itu.
"Ah apaan sih Atalie, udah nggak waras ya kamu!" Atalie mengangkat kepalanya dan menepuk pipinya sendiri beberapa kali. "Fokus!"
Setelahnya Atalie sibuk berkutat dengan laptopnya. Jemarinya yang lentik menari-nari di atas keyboard, tidak peduli suara riuh di sekitarnya, Atalie tetap bekerja.
"Atalie!" Ayana dan Khanza datang dari arah belakang, mereka duduk bergabung dengan Atalie yang tampak serius mengetik.
"Belum pulang?" Tanya Khanza.
"Belum." Atalie melihat dua temannya itu bergantian.
"Eh kamu mau tahu nggak, ya ampun mimpi apa aku semalam!" Ayana menepuk-nepuk pipinya yang tampak memerah.
"Ada apa, tugas kamu dapat nilai A?" Atalie mencoba menerka apa yang membuat Ayana seheboh itu.
"Nggak sia-sia aku dandan cantik hari ini, ternyata dosen baru aku itu Ustadz Umar."
"Astaghfirullah, gitu doang udah heboh." Atalie memutar bola matanya.
"Astaghfirullah Atalie, kenapa kamu jadi istighfar, harusnya aku yang bilang gitu." Khanza tertawa.
Atalie ikut tertawa, ia sudah terbiasa mengucapkan kata-kata seperti itu karena sering mendengar Khanza dan Ayana beristighfar.
"Aku merasa beruntung karena bisa ikut kelasnya Ustadz Umar."
"Karena?"
"Kelasnya asyik banget, beliau alumni Universitas Nurul Jadid."
"Oh ya?" Khanza membelalak sementara Atalie hanya menyimak karena ia tidak paham apa yang mereka bicarakan.
"Kenalin, alumni Universitas Shuren Zhejiang." Atalie mengulurkan tangan.
"Udah tahu!" Semprot Ayana dan Khanza, mereka masih lanjut membicarakan Umar.
Atalie terkekeh menarik tangannya kembali lalu melanjutkan pekerjaannya. Membiarkan Ayana dan Khanza membicarakan dosen baru yang tidak lain adalah Umar.
"Aku pulang duluan ya." Atalie membereskan barang-barangnya, karena keasyikan mengetik Atalie lupa jika ia tidak boleh telat pulang.
"Langsung pulang?" Tanya Khanza.
"Iya."
"Kenapa buru-buru?" Giliran Ayana bertanya.
"Mau ibadah." Atalie menyampirkan tasnya dan melambaikan tangan pada Khanza dan Ayana.
__ADS_1
"Saatnya kembali." Bisik Atalie pada dirinya sendiri, kembali pada rutinitas ibadah sore bersama papa dan mama nya. Memuji Tuhan dengan lagu-lagu indah yang penuh hikmat.