
Mobil Aisyah berhenti di halaman rumah Ayana. Rumah itu tampak sepi membuat Aisyah ragu-ragu hendak turun dari mobilnya. Namun ia harus meluruskan kesalahpahaman antara mereka, Aisyah harus meminta maaf pada Ayana dan Khanza.
Sepulang dari restoran, Aisyah pergi menuju rumah Ayana setelah ganti baju dan shalat ashar. Ia menghabiskan waktu sangat lama berdoa pada Allah setelah shalat. Ia memohon agar Allah melancarkan urusannya terutama pernikahannya. Banyak orang mengatakan jika ujian pernikahan memang berat. Bagi Aisyah ini amatlah berat ketika Zaid tidak setuju terhadap pernikahan tersebut.
Hujan tiba-tiba turun ketika Aisyah membuka pintu hendak keluar dari mobil. Ia mengulurkan tangan ke jok belakang mengambil payung dan turun dari sana.
Jika diingat Aisyah sangat jarang mengunjungi rumah Ayana dan Khanza, ia juga tidak banyak menceritakan tentang kehidupannya pada mereka. Aisyah tidak terbiasa dengan itu padahal Ayana dan Khanza selalu berbagi cerita. Aisyah tidak tahu apakah itu salah karena ia terlalu tertutup, ia tidak tahu cara berteman dengan benar. Itu karena Aisyah tidak berteman dengan banyak orang sejak kecil.
Aisyah mengetuk pintu rumah Ayana dan mengucapkan salam. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membukakan pintu, ia adalah ibu Ayana.
"Ibu, saya Aisyah temannya Ayana." Aisyah menjabat tangan ibu Ayana dan mengulas senyum tipis.
"Oh kamu yang mualaf itu ya, Ayana sering bercerita tentang kamu, terakhir kesini kamu belum berjilbab."
"Benar Bu, Ayana ada?"
"Ada, ayo masuk." Ibu Ayana mengajak Aisyah masuk dan mempersilakannya duduk.
"Ngapain kamu kesini?" Ayana tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar paling dekat dengan ruang tamu, rupanya itu adalah kamar Ayana. Ia pasti mendengar percakapan singkat antara ibunya dan Aisyah barusan.
"Eh kok ngomong gitu sih sama temen sendiri?" Tegur ibu Ayana.
"Aku mau minta maaf." Ujar Aisyah.
"Udah lah Aisyah." Ayana tidak ingin membicarakan ini lagi dengan Aisyah. Ia sudah cukup dibuat kaget ketika melihat keluarga Umar datang ke wisuda Aisyah tadi. Ia dan Khanza hanya seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa padahal mereka menganggap Aisyah sebagai teman dekat. Namun Aisyah justru menyembunyikan hal tersebut dari mereka.
"Ayana, aku sama sekali nggak berniat menyembunyikan ini dari kamu, tolong dengerin aku dulu." Aisyah memegang tangan Ayana dengan pandangan memohon.
"Aku pikir kita udah cukup deket, tapi ternyata kamu—"
"Ayana," tegur Aisyah cepat. "Waktu kita makan di restoran aku udah mau ngasih tahu kamu tapi nggak jadi karena kamu bilang kalau Mas Umar lebih cocok dengan Ning Hilya, kamu bilang mereka serasi, gimana aku mau ngasih tahu kamu dan Khanza kalau kalian udah telanjur menganggap gadis yang hendak Mas Umar nikahi merusak hubungan Ning Hilya dan Mas Umar!"
Air mata Aisyah mengalir dengan sendirinya padahal ketika berangkat dari rumah ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis. Namun ini terlalu menyakitkan baginya, tidak ada satu pun yang menganggap dirinya pantas untuk seorang Umar. Aisyah sudah berusaha sebaik mungkin tapi ia tetap tidak bisa menyamai Hilya. Tak akan pernah bisa.
Ayana tertegun mendengar penjelasan Aisyah, ketika Aisyah hendak melepaskan pegangannya, Ayana segera menahannya.
"Aku emang nggak ada apa-apanya dibanding Ning Hilya tapi bahkan kalian sangat mendukung perjodohan mereka." Aisyah menahan tangis tapi tidak bisa.
"Aisyah, aku nggak bermaksud kayak gitu."
Aisyah menangis tersedu-sedu, belum lagi Zaid yang tidak memberi restu tehadap pernikahan itu. Ini terlalu berat untuk Aisyah hadapi. Ia bahkan baru mengenal Islam, tentu tak akan bisa bersaing dengan Hilya.
"Maafin aku." Ayana menarik Aisyah ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya. Ia menyesal karena justru marah padahal Aisyah sedang butuh dukungan. Ia tidak bisa jadi teman yang baik untuk Ayana. "Kamu pantas untuk Gus Umar, kamu lah yang paling pantas untuknya."
Tidak peduli seberapa baiknya Hilya, cinta Umar hanya untuk Aisyah. Tak akan ada yang bisa mendapatkan hati Umar kecuali Aisyah.
"Kamu maafin aku nggak?"
"Aisyah, aku yang harus minta maaf, ini hari kelulusan mu tapi aku justru bikin kamu sedih." Ayana mengurai pelukan.
"Nggak apa-apa yang penting kamu udah maafin aku."
Ayana kembali memeluk Aisyah, ia amat menyesal sudah membuat Aisyah menangis.
Mereka pergi ke rumah Khanza bersama, Aisyah menjelaskan hal yang sama pada Khanza bahwa ia tidak berniat menyembunyikan pernikahannya. Ia justru ingin membagikan kebahagiaan pada mereka. Aisyah tidak memiliki teman dekat selain Ayana, Khanza dan Gracia.
"Aku ngerti." Khanza bisa menerima penjelasan Aisyah, "Aisyah, mulai sekarang kamu harus lebih terbuka, kamu punya aku dan Ayana, kami akan selalu dukung kamu."
Aisyah mengangguk berterimakasih karena Ayana dan Khanza memaafkannya. Ia akan belajar lebih terbuka pada mereka walaupun itu tidak mudah.
"Maaf soal kata-kata kami waktu itu." Ucap mereka.
"Kalian nggak salah kok, aku cuma sedih aja karena belum bisa jadi perempuan yang pantas buat Mas Umar." Aisyah mengembangkan senyum.
"Tapi Allah sudah memilih mu untuk menjadi istri Gus Umar, penilaian manusia belum tentu benar." Ayana mengusap lengan Aisyah, ia tidak boleh mendahului Allah dalam menilai orang lain.
__ADS_1
"Aku yakin kamu akan terus berusaha lebih baik lagi." Tambah Khanza.
"Aku dukung kamu, Aisyah."
"Makasih ya, berkat kalian aku jadi mengenal Islam." Jika mereka tidak pernah mengajak Aisyah pergi kajian mungkin sampai sekarang Aisyah belum mengenal Islam. Ini adalah karunia paling besar yang akan Aisyah syukuri seumur hidupnya.
Aisyah pamit pulang ketika langit mulai gelap tapi gerimis tak kunjung reda. Ia mengantar Ayana lebih dulu dan numpang shalat disana sebelum kembali ke rumah.
******
Pandangan Umar menengadah ke atas langit yang gelap tanpa bintang. Apakah langit juga bersedih sama seperti suasana hati Umar saat ini. Namun harusnya langit menghiburnya bukan malah mendukung suasana hatinya yang amburadul.
Umar mengalihkan pandangan ketika salah seorang santri yang hendak keluar dari masjid menyalaminya.
"Jangan hujan-hujanan!" Seru Umar pada santri tersebut, ia melihat bocah laki-laki bertubuh kurus itu menerobos hujan seraya memegangi sarungnya agar tidak basah tapi percuma. Genangan air di depan masjid membuat sarungnya basah. "Dasar anak-anak."
"Sama seperti kamu." Khalid muncul di belakang Umar.
"Apanya yang sama Mas?"
"Kamu juga anak-anak, dilarang bukannya mundur malah makin dilakuin."
"Apa lelaki berusia 30 tahun ini pantas disebut anak-anak."
"Tapi Mas suka tekad kamu."
"Kata-kata Abah tadi pasti membuat Aisyah sedih, Mas."
"Kalau gitu kamu harus ke rumah Aisyah sekarang sekalian minta maaf ke orangtuanya."
"Aku memang berniat pergi."
"Pergilah."
Ketika hendak turun dari teras masjid, Umar melihat santri yang menerobos hujan barusan kembali dengan membawa dua payung.
"Terimakasih ya, yang satu buat kamu saja." Umar hanya menerima satu payung dari santri tersebut.
"Maaf, tidak perlu Gus." Tolaknya sopan.
"Pakai saja, saya dan Gus Khalid bisa pakai payung berdua."
"Terimakasih banyak Gus."
"Mari Gus." Umar membuka payung merangkul bahu Khalid keluar dari masjid bersama-sama.
Sesampainya di rumah, Umar mencari keberadaan Maryam untuk pamit pergi ke rumah Aisyah.
"Bawa mobil atau motor?"
"Motor aja Ummi, mobil tua itu Umar takut macet di tengah jalan."
"Jangan lupa pakai jas hujan."
"Iya Ummi, Umar pamit pergi." Umar mencium tangan Maryam dan mengucapkan salam. Ia tidak pamit pada Zaid karena Abah nya masih mengajar para santri di masjid.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Aisyah, ditemani gemuruh hujan Umar berdoa dalam hati agar Allah melancarkan urusan mereka untuk menikah. Umar bisa menghadapi ini, ia lebih mengkhawatirkan Aisyah yang harus mendapat banyak tekanan.
Umar menekan bel rumah Aisyah satu kali sembari berharap kedatangannya tidak mengganggu Aisyah dan orangtuanya.
Tak lama kemudian gerbang terbuka bersama munculnya seorang satpam.
"Cari siapa?" Tanya satpam.
"Aisyah ada di rumah?"
__ADS_1
"Ada, Mas siapa ya?" Satpam tersebut tidak bisa melihat terlalu jelas karena hujan.
"Saya Umar."
"Oh Gus Umar, silakan masuk." Ia membuka gerbang lebih lebar mempersilakan Umar masuk.
Aisyah baru turun dari mobil ketika melihat Umar datang. Walaupun pencahayaan di halaman minim tapi Aisyah bisa mengenali Umar dari jauh.
Aisyah buru-buru menghampiri Umar dengan membawa payung. Aisyah tidak menanyakan tujuan Umar datang kesini, ia lebih dulu mengajak Umar masuk. Aisyah membantu menggantung jas hujan Umar.
"Bi, tolong ambilin handuk ya." Pinta Aisyah pada salah seorang ART yang membukakan pintu.
"Aisyah dari mana?" Tanya Umar karena ia melihat Aisyah turun dari mobil barusan.
"Dari rumah Ayana dan Khanza, mereka sempat salah paham saat melihat keluarga Mas Umar di kampus, mereka berpikir kalau aku menyembunyikan rencana pernikahan kita."
"Jadi itu sebabnya kamu terlihat muram dari tadi?"
Aisyah mengangguk, "tapi aku sudah meluruskan kesalahpahaman ini, "Mas ada apa kesini?"
"Aku datang untuk minta maaf sama kamu."
"Nggak perlu minta maaf Mas, aku tahu Abah mengatakan itu untuk kebaikan mu."
ART datang membawa handuk kecil untuk mengeringkan rambut Umar yang basah.
"Umar." Jaya muncul dari lantai dua dan Renata di belakangnya. "Ada apa?"
"Maaf Pak, Bu saya tidak memberitahu jika akan datang, saya datang untuk minta pada Pak Jaya dan Ibu Renata karena kata-kata Abah saya tadi, tolong maafkan kami."
"Sudahlah, yang penting kamu janji untuk selalu menjaga Atalie untuk kami."
"Tentu saja, saya akan menjaga Atalie apapun yang terjadi, jika Pak Jaya dan Bu Renata tidak mengizinkan Atalie tinggal di pondok pesantren, saya akan membeli rumah sebelum kami menikah."
"Soal itu kamu tanyakan pada Atalie, kalau kami lebih tenang jika kalian tinggal disini tapi setelah menikah keputusan ada di tangan kalian, saya tidak bisa memaksakan kehendak." Renata menyahut.
"Kalian ngobrol dulu berdua, kami ada urusan di luar." Ujar Jaya pada Umar dan Aisyah.
"Baik Pak."
"Aku bikin minum dulu." Aisyah melangkah pergi dari ruang tamu menuju dapur setelah papa dan mama nya keluar.
Di dapur ART sudah membuat teh hangat untuk Umar dan Aisyah.
Aisyah berterimakasih karena sebenarnya ia tidak percaya diri membuat teh untuk Umar. Itu hanya sesimpel membuat teh tapi Aisyah tidak pernah melakukannya sebelum ini.
"Ya ampun Aisyah, kamu harus belajar bikin sendiri." Gumam Aisyah pada dirinya sendiri, ia menata kue kering ke piring lalu membawanya ke ruang tamu bersama dua gelas teh hangat.
Aisyah mendapati Daniel berada di ruang tamu ketika ia kembali. Mereka tampak mengobrol, Aisyah meletakkan teh dan kue kering di atas meja.
"Mas, Minggu depan aku mau opening butik, datang ya."
"Inshaa Allah aku datang."
"Diminum tehnya, bukan aku yang bikin kok."
"Nggak masalah walaupun kamu yang bikin Aisyah."
"Aku nggak bisa bikin teh." Aisyah berkata jujur, ia tidak mau Umar berekspektasi terlalu tinggi terhadap dirinya.
"Nggak apa-apa nanti aku ajarin." Umar menyesap teh hangat yang Aisyah bawa.
Mereka membicarakan beberapa persiapan pernikahan yang belum sempat dibahas sebelumnya. Daniel yang tidak mengerti obrolan kakak nya dan Umar memilih membaca buku yang sengaja ia bawa ke ruang tamu.
__ADS_1