
Pondok pesantren Adz-Zaidan selalu ramai oleh santri dan para tamu Kyai tapi kali ini lebih ramai dari biasanya karena kedatangan Ayra, adik bungsu Zaid. Halaman kediaman Zaid yang tidak luas terlihat penuh oleh mobil. Beruntung Umar memilih membawa motor dari rumah jadi ia masih bisa menyelipkan kendaraannya di dekat gerbang.
"Ummi Ayra dan Abah Haidar itu juga pengasuh pondok pesantren di Pasuruan." Umar menceritakan sedikit tentang Ayra dan suaminya pada Aisyah agar saat mengobrol nanti tidak terlalu canggung.
"Aku mau Mas." Aisyah memegangi baju Umar sejak mereka turun dari mobil.
"Kan waktu itu udah pernah ketemu, masa masih malu?" Umar merapikan jilbab Aisyah, memasukkan anak rambut yang keluar tertiup angin saat naik motor barusan.
"Waktu itu cuma sebentar." Aisyah ingat saat itu ia hanya berjabat tangan dengan keluarga Umar tanpa sempat mengobrol karena setelah resepsi mereka langsung pergi ke rumah Aisyah.
Umar terkekeh mencubit pipi Aisyah dengan gemas.
"Kenapa kamu malu, mereka juga keluargamu dan sebelumnya Aisyah bukan orang pemalu." Umar tahu persis Aisyah cukup berani bicara dengannya ketika orang lain merasa sungkan.
"Sebenarnya aku pemalu."
"Tapi kamu suka menggoda ku dulu, kalau bukan kamu siapa lagi yang berani menggoda seorang Ustadz setelah ikut kajian."
"Itu makanya aku bisa jadi istrimu Mas."
"Kalau begitu aku siap digoda seumur hidup olehmu."
Mereka sama-sama tertawa tapi tidak berlangsung lama karena Maryam lebih dulu mengetahui kedatangan Umar dan Aisyah lalu segera mengajak keduanya masuk.
Seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang tengah. Rupanya mereka bersiap makan malam setelah shalat Isya'. Karena meja makan tidak cukup untuk semua orang maka makanan diangkut ke ruang tengah di atas alas yang sudah digelar.
"Aduh menantunya baru datang." Ayra menegur Aisyah lebih dulu.
"Ummi Ayra, gimana kabarnya?" Aisyah menyalami Ayra, ia langsung bisa mengenali Ayra karena jika dilihat sekilas wajahnya mirip dengan Zaid.
Ayra datang bersama suami dan keempat anak dan tiga menantu serta lima cucunya. Jika ketiga anak Zaid laki-laki maka empat anak Ayra perempuan.
"Aisyah menunggu saya pulang kajian lalu pergi bersama kesini." Sahut Umar.
"Memangnya tidak bisa pergi sendiri?"
"Bisa Ummi, tapi Gus Umar meminta saya menunggu." Jawab Aisyah sopan. Ia membantu menata makanan dan menuang air pada gelas-gelas di atas nampan.
"Ajari istrimu untuk pergi sendiri, jangan menempel terus sama kamu."
"Sudah seharusnya istri menempel pada suami kan Ummi." Umar menanggapinya dengan gurauan sementara Aisyah berpura-pura tidak mendengar percakapan mereka.
"Mari berdoa." Zaid mengangkat tangan memimpin doa sebelum makan.
Hidangan daun singkong yang dimasak santan tampak menggugah selera dengan lauk pendamping ayam goreng, ikan asin, tahu, tempe dan sambal terasi.
Mereka menikmati masakan abdi dalem itu sembari mengobrol. Membahas soal Ali yang sudah berangkat ke pondok bulan kemarin. Membahas tentang cucu pertama Ayra yang sudah hafal 10 juz diusia 8 tahun.
Aisyah hendak mengambil sayur daun singkong tapi ia tidak bisa menjangkaunya. Ia melihat Umar yang duduk bersama para lelaki, tidak mungkin ia memanggil Umar hanya untuk mengambilkan sayur. Ditambah Umar tampak fokus mengobrol dengan para menandu Ayra. Aisyah merasa asing berada di tengah-tengah mereka.
"Ini bagian paha kesukaan mu." Maryam meletakkan potongan paha atas di piring Aisyah. Maryam tidak mungkin tega melihat Aisyah makan hanya dengan tempe dan sambal.
__ADS_1
Aisyah tersenyum berterimakasih pada Maryam, di antara semua orang yang sibuk mengobrol masih ada Maryam yang memperhatikan Aisyah.
"Kalau Aisyah bagaimana?" Ayra melihat Aisyah yang dari tadi hanya diam. Ia ingin setidaknya Aisyah mengobrol bersama mereka.
"Saya?"
"Sudah berapa juz yang kamu hafal?"
"Saya hafal juz 30."
Suara tawa terdengar ke seluruh ruangan, mereka menganggap Aisyah sedang bercanda. Anak-anak kecil yang mendengar jawaban Aisyah juga ikut tertawa.
Aisyah menggigit bibir, kenapa mereka tertawa? apa yang lucu dari jawaban itu? Aisyah tidak mengerti kenapa ia sering ditertawakan. Dulu di masjid pun Aisyah berada di posisi seperti ini. Namun sekarang ia benar-benar tidak mengerti mengapa jawabannya membuat orang-orang tertawa.
Selera makan Aisyah hilang seketika padahal ia baru mendapat bagian ayam kesukaannya dari Maryam tapi melihat Umar ikut tertawa, Aisyah seperti menelan duri saat mengakhiri makannya dan meneguk segelas air.
Aisyah tertunduk dalam, ia ingin segera pergi dari sini tapi jika begitu maka ia akan terlihat seperti anak kecil. Namun bertahan disini rasanya amat menyakitkan.
Usai makan Aisyah dan Khawla dibantu beberapa abdi dalem membawa wadah bekas makan ke belakang lalu langsung mencucinya.
"Biar kami saja yang cuci piring Ning." Ucap salah satu abdi dalem pada Aisyah dan Khawla.
"Mbak Khawla, biar aku yang cuci." Aisyah mengambil alih piring kotor di tangan Khawla. Percuma Aisyah disana, ia tidak akan mengerti obrolan mereka. Aisyah merasa lebih baik disini bersama para santri yang tidak banyak bicara.
Khawla tidak menolak ketika Aisyah menggantikannya mencuci piring tapi bukan berarti ia langsung ke depan. Khawla harus memotong semangka dan mencuci anggur sebelum diletakkan di piring.
Setelah mencuci semua wadah bekas makan, Aisyah ikut menyusun buah ke piring, memindahkan kue bawang ke toples yang lebih kecil. Itu adalah kue yang Aisyah bawa dari rumah buatan mama nya.
Aisyah bersandar ke dinding dapur menghela napas berat, sedikit mendongak agar tidak ada air mata yang meleleh. Mungkin jika Hilya yang berada di posisi Aisyah sekarang, ia tak akan di dapur sendirian. Hilya bisa bergabung dengan saudara Umar membahas hafalan, program pondok dan lain sebagainya. Yang jelas Hilya tak akan merasa terasingkan seperti Aisyah. Kini Aisyah mengerti mengapa manusia harus menikah dengan yang sekufu. Mungkin itu terdengar menyakitkan bagi sebagian orang karena pada dasarnya semua manusia itu sama. Aisyah dan Umar berasal dari dunia yang berbeda, sama-sama di atas bumi tapi lingkungan mereka tak sama. Aisyah tak bisa tertawa dengan mereka justru ia ditertawakan.
"Aisyah, kenapa kamu disini sendirian?"
Aisyah mengerjap mendengar seseorang menegurnya, ia lantas memasang senyum melihat Ayra menghampirinya.
"Kok nggak gabung sama yang lain di depan?"
"Ummi Ayra butuh sesuatu?"
Sebelum menjawab, Ayra duduk di kursi tak jauh dari tempat Aisyah berdiri.
"Saya pengen minum wedang jahe, Banyuwangi dingin sekali, maklum lama nggak kesini."
"Saya buatkan sebentar ya." Aisyah membuka kabinet di atas kompor mencari jahe pada wadah khusus menyimpan bumbu berupa rimpang. Tidak lupa Aisyah juga memanaskan air di atas kompor.
Setelah dicuci, jahe dimemarkan lalu dimasukkan ke gelas.
"Keras banget jahenya." Gerutu Aisyah, mungkin karena terlalu lama disimpan jahe itu lebih keras dari biasanya.
"Ini tidak terlalu manis Ummi, jadi tetap nyaman di tenggorokan." Aisyah meletakkan segelas wedang jahe di dekat Ayra.
"Terimakasih ya." Ucap Ayra lantas mengajak Aisyah duduk di dekatnya. Ayra menghirup aroma wedang jahe itu, keningnya mengernyit. "Ini bukan jahe Aisyah."
__ADS_1
Mata Aisyah melebar, lalu apa yang ia masukkan ke dalam gelas. Warnanya putih seperti jahe walaupun teksturnya lebih keras.
"Ini lengkuas, kamu tidak bisa membedakan jahe dan lengkuas padahal dari baunya saja sudah beda."
"Maaf Ummi sekilas mereka mirip, saya akan buatkan yang baru."
"Tidak usah Aisyah." Ayra menahan tangan Aisyah mengajaknya duduk. "Kita ngobrol saja."
Akhirnya Aisyah duduk di samping Ayra, ia makin malu bertatapan dengan Ayra. Membedakan jahe dan lengkuas saja Aisyah tidak bisa.
"Aisyah, kamu kan sekarang sudah jadi istrinya Gus Umar, kamu adalah bagian dari kami."
Sepertinya Aisyah bisa menebak kemana arah pembicaraan mereka.
"Kamu harus belajar lebih giat lagi, masa istri Gus Umar bacaan Al-Qur'an nya masih terbata-bata dan baru hafal juz 30."
Pandangan Aisyah nanar, rupanya membahas soal hafalan lagi. Percayalah Aisyah sudah berusaha keras untuk menambah hafalan tapi Umar mengatakan lebih baik ia mempertahankan hafalannya dulu.
"Kamu juga harus bisa membedakan rempah-rempah, itu penting dan jangan menyendiri, kamu harus berbaur dengan yang lain."
Aisyah menelan saliva dengan susah payah, sakit sekali.
"Ummi Maryam terlalu memanjakan kamu, saya yakin dia juga ingin mengatakan hal serupa tapi dia ingin menghargai mu jadi dia menahannya."
Aisyah menggigit bibir bawahnya ketika perih semakin menusuknya. Seperti sebuah belati yang perlahan mengiris dada, menyesakkan dan mirisnya Aisyah tidak bisa berbuat apapun bahkan sekedar menjawab ia tak mampu.
"Rupanya Gus Umar gagal mendidik istrinya."
"Tidak Ummi, Gus Umar sudah melakukan yang terbaik, saya saja yang kurang rajin belajar."
Ayra beranjak ketika mendengar suara anak kecil memanggilnya. Ia meninggalkan Aisyah setelah memberi nasehat, ia perlu melakukan itu agar Aisyah lebih pantas bersanding dengan Umar.
"Lho Umar." Ayra berpapasan dengan Umar di depan ruang makan. "Istrimu ada di dapur, entah kenapa dia tidak mau berbaur dengan yang lain."
"Ummi, saya tidak sengaja mendengar percakapan Ummi dan Aisyah."
"Oh begitu, Ummi cuma kasih nasehat untuknya."
"Ummi, kasihan Aisyah, biarlah dia belajar perlahan-lahan, kehidupannya sebelum menikah jauh berbeda dari sekarang, dia selalu dilayani dan serba ada jadi dengan Aisyah mau tinggal bersama saya saja dia sudah mengorbankan banyak hal, saya bersyukur karena itu."
"Baiklah." Ayra menepuk pundak Umar satu kali lalu melenggang pergi.
Umar hendak menghampiri Aisyah di dapur tapi ia lebih dulu dipanggil oleh Khalid. Akhirnya Umar kembali bergabung di ruang tengah.
Wedang jahe yang ternyata lengkuas masih mengepulkan asap di atas meja. Aisyah mengambil gelas itu dan menuangkan isinya di atas wastafel. Menyusun tesis tidak ada apa-apanya dibandingkan membedakan rimpang.
"Jangan sampai Gus Umar tahu tentang obrolan saya dengan Ummi Ayra barusan ya." Ujar Aisyah pada beberapa santri yang ada disana. Aisyah tak ingin Umar menyalahkan dirinya sendiri karena ia belum lancar membaca Alqur'an. Jika dibandingkan dengan Umar tentu beda jauh.
"Baik Ning." Jawab mereka serempak.
__ADS_1