
Dengan mata masih setengah terbuka Gracia melihat Atalie berputar-putar di depan cermin. Atalie mengenakan gamis hitam dengan potongan A line yang sangat pas di tubuhnya. Gracia mengucek mata lalu mengerjap beberapa kali memastikan ia tidak salah lihat. Namun matanya masih berfungsi dengan baik, Atalie benar-benar mengenakan gamis yang identik dengan pakaian muslimah.
Gracia menegakkan tubuhnya, apakah ia sedang bermimpi. Untuk apa Atalie bangun pagi buta begini lalu mematut diri di depan cermin seolah tak ingin ada yang salah dari penampilannya. Padahal di mata Gracia yang masih ngantuk ini, penampilan Atalie sudah sempurna.
"Ngapain kamu pagi buta gini udah dandan cantik?" Akhirnya Gracia mengeluarkan suara karena penasaran melihat tingkah sahabatnya itu.
"Mau ke kajian Ummi Maryam." Atalie menoleh pada Gracia, ia sengaja memasang senyum lebar meminta pendapat Gracia tentang penampilannya pagi ini.
"Jadi?" Gracia melongo, kini ia mengerti maksud Atalie menginap di tempat kosnya. Itu karena Atalie ingin pergi ke kajian Ummi Maryam. "Wah, kerasukan setan apa sih kamu?" Ia melompat turun dari tempat tidur untuk melihat Atalie lebih dekat.
"Mana ada setan secantik aku?" Atalie mengedip-ngedipkan matanya dengan genit.
"Kamu kuliah pagi aja sering terlambat, kok bisa mau pergi kajian Ummi Maryam pagi buta gini, aku curiga kamu kerasukan setan."
"Ya aku udah niat mau pergi makanya bisa bangun." Atalie mengedikkan bahunya, ia sengaja menginap di tempat kos Gracia agar bisa pergi ke kajian tanpa diketahui papa dan mama nya. Untungnya mereka langsung memberi izin saat Atalie ingin menginap disini. Sebelumnya Atalie juga pernah menginap di tempat kos Gracia jadi orangtuanya tak akan curiga.
Ide menginap itu muncul begitu saja ketika Atalie pulang dari toko buku kemarin. Ia langsung mencari info tentang kajian Maryam di website resmi masjid Al-Fatah.
"Kamu berangkat sendiri?" Gracia membuka gorden, benar—langit masih gelap.
"Iya, kalau kamu mau ikut ayo." Atalie menyampirkan tas selempang nya yang berisi dompet dan tablet untuk mencatat hal penting saat kajian nanti.
"Ogah!" Gracia kembali ke tempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya. "Waktu itu bukannya kamu iseng doang ikut Khanza dan Ayana kenapa sekarang jadi ketagihan?"
"Aku penasaran aja sama kajian Ummi." Atalie menyambar kunci mobil dan keluar dari kamar. "Pergi dulu ya!"
Gracia tidak menyahut, ia sudah kembali ke dunia mimpi yang jauh lebih menyenangkan.
Atalie menyalakan mesin mobil, ia melihat arloji di tangan kirinya, pukul setengah 5 tepat. Atalie harap ia tidak terlambat sampai masjid.
Jalanan masih sepi, mungkin ini pertama kalinya Atalie berkendara saat pagi buta. Kalaupun ada kuliah pagi, biasanya itu pukul 7 dan jalanan sudah ramai oleh kendaraan lain.
Atalie sengaja membuka kaca jendela mobil agar ia bisa menghirup udara pagi yang ternyata bisa membuatnya tenang.
"Udara apa ini? sepertinya Tuhan ngasih kualitas udara yang lebih bagus waktu subuh." Atalie menggumam. "Apa umat muslim setiap hari bangun subuh, mereka beruntung bisa menghirup udara yang kualitasnya lebih bagus."
Masjid sudah ramai saat Atalie sampai tapi ia beruntung karena kajiannya belum dimulai. Sesaat setelah ia menemukan tempat duduk, Maryam mengucapkan salam untuk membuka kajian.
"Ternyata semuanya perempuan." Atalie mengedarkan pandangan ke sekitar, tak seperti saat kajian Umar, kajian Ummi Maryam khusus untuk jamaah perempuan.
"Alhamdulillah kita semua diberi kesehatan untuk hadir kembali di kajian rutin ba'da subuh hari ini, seperti biasa karena disini semuanya perempuan maka saya akan melepas niqab."
Atalie terperangah melihat wajah Maryam untuk pertama kalinya, beberapa jamaah juga menunjukkan ekspresi yang sama dengannya. Sepertinya mereka juga baru pertama kali datang ke kajian Maryam.
"Sekarang aku tahu kenapa Umar tampan, eh." Atalie menutup mulutnya karena tanpa sadar ia mengakui jika Umar tampan. Kulitnya yang kecoklatan dan tubuh jangkung membuat Atalie selalu ingin melihat lelaki itu. Masih jelas terekam di kepala Atalie saat Umar datang dengan keringat yang membasahi badannya tapi entah kenapa di matanya Umar justru terlihat lebih tampan. Mungkin Atalie sudah tidak waras.
"Islam begitu memuliakan wanita dengan memberi kita aturan untuk menutup aurat, salah satu keindahan Islam adalah wanita akan tetap terlihat cantik meski tanpa menunjukkan kulit mereka, dengan menjaga aurat kita juga akan dihormati oleh lelaki di luar sana, ada pendapat yang mengatakan bahwa Islam membatasi ruang gerak wanita dan mengekang mereka karena mewajibkan untuk berjilbab padahal di balik aturan itu Islam telah melindungi kita para wanita yang berharga."
Atalie ingat betapa Maryam terkejut melihat dirinya saat itu. Meski mengenakan cadar tapi Atalie tahu saat itu Maryam terkejut melihat penampilannya. Wajar jika Maryam dan Umar terkejut, mereka selalu melihat wanita yang berpakaian tertutup. Mereka juga tidak tahu jika Atalie non muslim. Atalie tidak punya alasan untuk memberitahu mereka.
Matahari mulai mengintip menghasilkan sinar kekuningan di cakrawala. Para jamaah keluar satu per satu dari masjid dengan tertib. Mereka pulang dengan membawa ilmu baru dari kajian Maryam.
"Ummi." Atalie sengaja keluar paling akhir demi menyapa Maryam.
"Masya Allah Nduk, kamu cantik sekali, Ummi hampir nggak ngenalin kamu." Maryam memuji penampilan Atalie yang sangat berbeda dibandingkan saat pertama kali mereka bertemu. Gamis hitam yang Atalie kenakan sangat kontras dengan kulit putihnya. Jika Atalie tidak menyapa lebih dulu pasti Maryam tak akan mengenalinya.
Pipi Atalie memerah dipuji seperti itu oleh Maryam.
"Ummi pulang sama siapa?" Atalie melihat tempat parkir sudah lengang.
"Biasanya dijemput Abah atau Umar."
"Ya udah saya antar kalau begitu." Atalie tidak mau membiarkan Maryam disini sendirian selagi menunggu Umar.
"Jangan, sebentar lagi Umar pasti datang." Tolak Maryam halus.
"Tidak apa-apa Ummi, ayo." Atalie menarik tangan Maryam menuju satu-satunya mobil yang ada di halaman masjid. "Saya akan antar Ummi dengan selamat." Katanya untuk meyakinkan Maryam.
Maryam tersenyum masuk ke mobil Atalie. Atalie membuat Maryam tak bisa menolak kebaikannya. Atalie memang pemaksa yang andal.
"Kamu bisa bangun pagi?" Maryam ingat jika Atalie mengatakan tidak bisa bangun pagi.
__ADS_1
"Iya, ternyata kalau sudah niat bisa juga bangun pagi padahal dulu rasanya sangat mustahil melakukannya." Atalie bahkan tak percaya pada dirinya sendiri karena bisa bangun pagi, pantas saja Gracia mengira Atalie kerasukan setan.
"Alhamdulillah, Allah memudahkan kamu."
Atalie terdiam, benarkah Allah memudahkannya bahkan jika ia belum pernah menyebut nama-Nya.
"Ummi cantik sekali." Akhirnya Atalie bisa mengeluarkan pujian untuk Maryam setelah kata-kata itu mengendap beberapa menit di otaknya.
"Terimakasih Atalie."
"Pantas saja Umar tampan."
Maryam tertawa mendengar kalimat ceplas-ceplos Atalie. Bahkan Atalie tidak ragu memuji Umar di depan Maryam.
"Umar bilang kalian belum pernah mengobrol tapi kamu seolah sudah mengenal Umar dengan baik."
"Tidak butuh waktu lama untuk melihat ketampanan seseorang, Ummi."
"Kamu benar."
Mobil Atalie berhenti tepat di depan gerbang pondok pesantren Adz-Zaidan. Atalie turun lebih dulu membukakan pintu untuk Maryam.
"Atalie, kenapa kamu membuka pintu untuk saya?" Maryam terkejut saat Atalie membukakan pintu untuknya.
Atalie menjawab pertanyaan itu dengan senyuman, itu karena ia lihat Maryam membawa tiga buku dan tas di tangannya jadi Atalie berniat sedikit membantu.
"Terimakasih ya."
Seorang santri membukakan gerbang, motor Umar muncul dari balik gerbang besi berwarna coklat itu.
"Ummi, aku baru mau jemput." Umar menghentikan motornya melihat Maryam.
"Ummi diantar Atalie." Maryam melirik Atalie di belakangnya.
Umar sempat terpaku melihat penampilan Atalie yang membuatnya lupa bahwa gadis itu bukanlah muslimah.
"Ayo masuk dulu, Nduk." Ajak Maryam.
"Saya langsung pulang aja Ummi."
Benar dugaan Atalie jika buku itu tertinggal di rumah Umar.
"Ayo duduk sambil nunggu Umar ambil buku mu."
Atalie mengekori Maryam padahal ia ingin segera kembali ke tempat kos Gracia dan tidur. Saat ini Atalie seperti tidak menapak bumi, kakinya seolah melayang. Atalie merindukan tempat tidur.
"Saya tunggu disini aja Ummi." Atalie duduk di gazebo yang berada di pinggir kolam. Tak seperti di rumahnya, kolam itu keruh membuat Atalie tidak bisa melihat ikan apa yang ada di dalamnya.
Maryam masuk ke rumah untuk meletakkan tas dan bukunya.
"Kamu nggak tahu kalau buku ini ketinggalan?" Umar menyodorkan buku pada Atalie.
"Aku tahu makanya kemarin aku beli buku baru yang persis kayak ini." Atalie memasukkan buku itu ke dalam tasnya, ia tahu tapi tak berani kesini lagi untuk meminta buku tersebut.
"Nduk, saya punya ubi rebus, coba deh." Maryam datang membawa sepiring sepiring ubi jalar ungu yang masih berasap.
Umar ikut naik ke gazebo untuk makan ubi ungu begitupun dengan Maryam.
"Ini bisa dimakan?" Atalie melihat Maryam ragu, ia sering makan umbi-umbian seperti kentang dan lobak tapi tak pernah melihat umbi berwarna ungu sebelumnya.
"Tentu saja, kamu belum pernah makan ubi jalar ya?" Maryam mengambil ubi terlebih dahulu untuk menghilangkan keraguan Atalie.
Atalie tersenyum kaku. Atalie pikir selama 23 tahun hidup di bumi ia sudah mencoba banyak makanan tapi ternyata ada banyak yang belum pernah ia makan. Bahkan ini pertama kalinya Atalie melihat ubi berwarna ungu. Atalie harus protes pada mama nya karena hanya memberi makanan itu-itu saja. Renata harus belajar memasak hidangan yang lebih beragam.
Atalie mengambil satu ubi dan hendak melahapnya setelah ditiup sebentar, ia tak akan melakukan hal bodoh seperti waktu itu lagi yakni minum teh yang masih panas.
"Eh!" Maryam memekik, "dikupas dulu kulitnya."
"Oh." Atalie melongo.
"Berikan padaku." Tukas Umar.
__ADS_1
Atalie memberikan ubi itu pada Umar.
"Lihat caraku melakukannya." Umar mengupas kulit tipis ubi jalar dengan gerakan pelan agar Atalie bisa mengetahui caranya.
Atalie menutup wajahnya dengan tangan, ia malu karena hal sepele seperti mengupas ubi saja ia tak bisa. Atalie ingin memasukkan wajahnya ke dalam tas bersama buku firman Kudus agar ia bisa sadar bahwa ada banyak hal yang tidak ia ketahui di dunia ini.
"Kalau sudah bersih dari kulit, bisa dimakan." Umar memberikan ubi yang sudah ia kupas pada Atalie.
"Terimakasih." Suara Atalie samar hampir tidak terdengar, itu karena dirinya telanjur malu. Atalie terkejut saat mengunyah ubi jalar itu, kenapa ia baru tahu jika ada tumbuhan di dalam tanah yang rasanya seenak ini.
"Kamu selama ini tinggal di luar negeri ya kok nggak tahu ketela ungu."
Atalie tidak menjawab, ia memang pernah tinggal di China tapi itupun hanya satu tahun untuk belajar bahasa Mandarin.
"Saya akan belajar lebih banyak nama-nama tumbuhan." Ujar Atalie dengan senyum hambar.
Umar tertawa menanggapi kalimat Atalie, itu terdengar seperti anak TK yang baru belajar nama buah dan tumbuhan.
"Umar, jangan gitu sama Atalie." Maryam mengusap lengan Atalie.
Umar menunduk menahan tawa, ia baru menemui manusia seperti Atalie yang tidak tahu cara makan ubi jalar.
"Ummi, saya boleh minta satu lagi buat dibawa pulang?"
"Boleh, ambil saja semuanya, Umar tolong ambilkan kantong plastik untuk Atalie."
"Eh jangan Ummi, satu saja buat temen saya Gracia, dia pasti juga belum pernah makan ubi."
"Tidak apa-apa semuanya kamu bawa pulang, kami masih punya banyak di kebun."
Umar turun dari gazebo mengambil kantong plastik untuk Atalie. Ia tak bisa menahan senyum melihat tingkah Atalie barusan.
Umar memasukkan semua ubi kukus di piring ke dalam kantong plastik.
"Ini kamu juga yang tanam?"
"Iya."
"Wah, kamu jago berkebun, buah belimbing yang kamu tanam juga manis banget." Atalie menerima sekantong plastik ubi kukus dari tangan Umar. "Ummi terimakasih, Umar makasih ya, saya pamit dulu."
"Ummi yang harus berterimakasih sama kamu, hati-hati di jalan."
Atalie masuk ke dalam mobil dengan senyum merekah karena mendapatkan ubi kukus sekantong plastik penuh. Ia akan membaginya dengan Gracia nanti di kampus.
"Atalie datang ke kajian Ummi?" Tanya Umar setelah mobil Atalie tidak terlihat.
"Iya."
"Umar mau kasih tahu Ummi sesuatu." Umar mengajak Maryam duduk kembali di gazebo.
"Apa itu?" Maryam memperhatikan raut wajah Umar yang serius.
"Sebenarnya Atalie non muslim."
"Ummi tahu." Maryam tetap tenang, ia sudah menduga sejak Umar bercerita bahwa Atalie tidak tahu siapa Aisyah.
"Ummi tahu?" Umar membelalak, ia pikir dirinya satu-satunya orang yang tahu hal tersebut disini.
"Ummi lihat gantungan berbentuk salib di tasnya."
"Lalu Ummi akan tetap membiarkannya datang ke masjid?"
"Ya, siapa tahu itu bisa menjadi jalan baginya untuk lebih mengenal Islam."
Umar membenarkan ucapan Maryam, jauh di lubuk hatinya ia berharap agar Atalie bisa sepertinya yakni menjadi umat muslim.
"Kamu menyukainya?"
Umar tersentak dengan pertanyaan Maryam, mengapa Maryam bertanya begitu. Umar menggeleng, ia tak punya alasan untuk menaruh rasa suka pada Atalie.
"Enggak Ummi."
__ADS_1
"Tapi kamu selalu tersenyum saat Atalie datang, bahkan waktu itu kamu juga tersenyum saat bercerita tentang Atalie."
"Hanya karena tersenyum bukan berarti Umar menyukainya, Ummi." Umar mengelak, ia menggunakan seluruh akal sehatnya untuk menyangkal perasaan itu.