Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah
Gema Syahadat Aisyah


__ADS_3

"Apa Papa bilang, belum satu hari Atalie sudah kembali." Jaya tersenyum jumawa melihat Atalie datang, sesuai perkiraan nya Atalie tak akan bisa bertahan di luar lebih dari satu hari. Sejak kecil ia dan Renata telah memberikan fasilitas mewah untuk Atalie. Jaya yakin Atalie akan meminta maaf lagi sambil menangis karena telah mempelajari sesuatu yang tidak seharusnya secara berlebihan. Keputusan Jaya membakar buku-buku dan pakaian Atalie tidak keliru.


Atalie berjalan menunduk melewati rumput halaman rumah yang rapi, sepertinya tukang kebun baru memotongnya pagi ini. Atalie mengepalkan tangannya memberi kekuatan pada dirinya sendiri. Atalie akan menghadapi orangtuanya yang begitu keras. Atalie harap ada sedikit celah untuk dirinya melembutkan hati sang papa dan mama.


"Atalie, kamu tidur dimana semalam?" Renata langsung menghampiri Atalie, semalaman ia tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan Atalie.


"Aku tidur di rumah Gracia." Jawab Atalie, ia tak kuasa melihat wajah sedih Renata. Atalie telah menyakiti mama nya tapi ia datang bukan untuk memperbaikinya melainkan akan menambah kekecewaan di hati Renata.


"Ayo masuk, kamu udah sarapan kan?"


Atalie menjawab dengan anggukan samar.


"Duduk." Jaya melirik Atalie dari balik koran di tangannya, ia duduk dengan kaki terlipat di ruang tamu. "Belum terlambat untuk minta maaf dan mengakui kesalahan mu."


"Aku minta maaf Pa, Ma."


"Jadi kamu sudah mengakui kesalahan mu dan mau berjanji untuk tidak melakukan hal aneh lagi, jangan kaget kalau Papa juga akan mengendalikan buku-buku apa aja yang kamu baca."


"Papa nggak akan bisa mengendalikannya." Suara Atalie semakin rendah, ia menunduk tidak berani menatap papa dan mama nya.


"Apa maksud kamu?" Renata bertanya tidak mengerti.


"Aku sudah membuat keputusan." Kata Atalie akhirnya setelah menarik napas dalam.


"Papa tahu." Jaya tersenyum miring, Atalie pasti telah menyesali perbuatannya. Atalie membelanjakan uang orangtua untuk hal aneh yang seharusnya tidak ia lakukan. Atalie juga pergi ke tempat yang harusnya tidak ia kunjungi.


"Aku mau memeluk Islam." Ucap Atalie dengan nada rendah bukan karena lagu, ia justru sangat yakin akan keputusan yang telah diambilnya. Atalie bahkan tidak bisa tidur semalaman membayangkan hari ini akan terjadi. Atalie hanya tidak sanggup melihat kekecewaan orangtuanya, sejak kecil ia sudah dicetak menjadi anak yang selalu membanggakan orangtua. Atalie tak ingin mengecewakan mereka tapi keputusan untuk memeluk Islam juga sudah ia pegang teguh.


Atalie merasa Tuhan sudah memilihnya untuk memeluk Islam, ia tak bisa menyebutkan satu alasan pasti. Yang jelas Atalie merasa nyaman dan tenang ketika berada di masjid sembari mendengarkan bacaan Al-Qur'an.


Atalie merasa kesepian ketika teman-temannya mendirikan shalat sedangkan ia berada di tenda sendirian. Atalie iri saat teman-temannya menyebutkan ayat Alqur'an ketika mereka berada di puncak Ijen, ayat yang berhubungan langsung dengan alam.


Atalie jatuh cinta pada kisah Aisyah yang ia baca di buku milik Umar. Lalu Atalie dibuat jatuh cinta berkali-kali setelah membaca kisah Khadijah, Hafshah dan Saudah. Mereka semua wanita luar biasa. Atalie merasa nyaman berpakaian tertutup bukan karena ia tak ingin bekas lukanya, tapi ia memang ingin melakukannya.


Jaya menurunkan korannya menatap Atalie geram, wajahnya memerah tak percaya pada apa yang Atalie katakan beberapa detik yang lalu.


"Kamu waras?" Jaya berdiri, ia siap mengibaskan koran di tangannya ke wajah Atalie.


"Jaga ucapan mu Atalie." Renata tak kalah terkejut.


"Aku sudah dipilih untuk menerima hidayah itu Pa."


"Omong kosong!" Jaya melipat koran dan melemparnya ke depan wajah Atalie.

__ADS_1


Atalie merosot dari sofa berlutut di hadapan Jaya, ia menautkan tangannya di depan dada.


"Aku minta maaf sama Papa dan Mama tapi ini sudah menjadi keputusan ku dan nggak akan pernah berubah." Atalie memejamkan mata tidak berani menatap papa dan mama nya. Bibirnya gemetar menahan tangis. Tangan Atalie terulur memegang kaki Jaya.


Renata lemas, untuk sesaat dunia terasa terhenti sedangkan napasnya tercekat penuh sesak. Bagaimana mungkin anaknya yang ia besarkan dengan disiplin dan keras bisa mengambil keputusan sebesar ini tanpa persetujuan mereka. Perasaan tidak enak Renata saat Atalie banyak menghabiskannya waktu dengan Ayana dan Khanza ternyata terbukti, seorang ibu selalu memiliki perasaan yang kuat.


Renata merasa gagal sebagai seorang ibu, "kamu bosan dengan rutinitas Minggu dan ibadah sore atau pagi?" Akhirnya Renata bisa mengucapkan satu kalimat setelah sekuat tenaga menyatukan perasannya yang hancur berkeping-keping.


Atalie menggeleng, "aku merasa hatiku sudah tertaut dengan Allah."


"Jadi kamu siap kehilangan semua kemewahan ini, jangan harap semuanya tetap sama setelah kamu membuat keputusan itu."


"Aku siap." Atalie mengangguk yakin, ia sudah memikirkan ini sejak meninggalkan rumah kemarin. Membayangkannya Atalie seolah tidak akan sanggup tanpa fasilitas yang diberikan papa dan mama nya tapi pagi ini Atalie bisa mengatakan bahwa ia siap kehilangan segalanya. Kehilangan apapun yang Atalie miliki sekarang.


"Mari lihat apakah kamu benar-benar sanggup melakukannya." Jaya mengangkat kakinya dengan cepat hingga membuat Atalie terhempas ke belakang.


"Mama." Atalie beralih pada Renata.


"Mama bahkan nggak sanggup lihat kamu sekarang." Renata ikut beranjak meninggalkan Atalie di ruang tamu seorang diri.


Atalie tertunduk memeluk lututnya dan menangis tersedu-sedu, ia tidak pernah melihat orangtuanya marah hebat seperti sekarang. Raut kecewa begitu terlihat di wajah Renata.


Ini pilihanmu, Atalie.


Namun melihat Atalie terduduk di lantai dengan menyedihkan, akhirnya Daniel menuruni tangga menghampiri sang kakak.


"Kak." Panggil Daniel dengan suara tercekat.


Perlahan Atalie mengangkat wajahnya yang basah penuh air mata.


"Kak Atalie yakin?" Tanya Daniel meskipun wajah Atalie sudah menjawab semuanya. Atalie tampak sangat yakin dengan keputusannya menepuk Islam. Hal yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.


Atalie mengangguk.


"Kalau gitu aku akan dukung apapun keputusan Kakak." Daniel mengusap bahu Atalie, ia tak kuasa melihat Atalie seperti ini. Daniel satu-satunya saudara Atalie maka ia harus mendukung apapun keputusan yang kakaknya ambil. Daniel yakin kakak nya tidak asal memilih, Atalie pasti sudah memikirkannya dengan matang sebelumnya.


"Terimakasih Niel." Atalie memeluk Daniel, di tengah dingin yang menyelimuti hati Atalie ternyata masih ada sang adik yang memberinya sedikit kehangatan. Atalie harap setelah ini semuanya berjalan dengan mudah.


******


Bacaan syahadat menggema di mushalla Adz-Zaidan siang itu. Dengan dituntun Zaid, Atalie mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh Maryam dan Umar. Tak hanya diucapkan dengan mulut tapi Atalie betul-betul meyakini kalimat tersebut.


Setelahnya Atalie benar-benar merasa dipeluk, bukan raganya—melainkan pelukan yang merengkuh jiwanya. Tanpa sadar air mata kembali mengaliri pipi mulus Atalia. Ia menyambut pelukan Maryam yang begitu hangat, menemani jiwa Atalie yang semula kesepian. Maryam tidak menyangka jika Atalie akan bersyahadat dalam waktu yang sangat cepat. Jika Allah sudah berkehendak maka tidak ada yang dapat menolaknya.

__ADS_1


Umar ikut terharu melihat Atalie yang kini mengenakan jilbab dan gamis panjang berwarna hitam. Umar kagum karena Atalie dapat menemukan Islam padahal ia tumbuh tidak dengan ajaran Islam. Lain halnya dengan Umar yang memang terlahir sebagai muslim. Atalie akan jatuh cinta pada Islam karena ia telah menemukannya sendiri.


"Kamu boleh tinggal disini dulu." Ujar Maryam setelah melepaskan tautan.


Atalie terlihat ragu, ia tidak begitu mengenal orang-orang disini. Atalie bisa tinggal di rumah Gracia untuk sementara waktu. Setelahnya Atalie akan kembali ke rumah untuk mendapatkan maaf orangtuanya.


"Kamu butuh banyak bimbingan, saya akan membimbing mu bersama yang lain disini, syahadat saja tidak cukup."


Atalie terdiam, Maryam benar, ia tidak tahu apa-apa soal Islam meskipun telah banyak mempelajari teorinya di buku. Namun Atalie belum pernah mempraktekannya.


"Kamu tidak boleh sendiri." Maryam tidak mungkin membiarkan Atalie sendiri, mereka yang sudah terlahir muslim saja butuh guru apalagi Atalie yang baru mengenal Islam. Atalie butuh banyak bimbingan.


"Benar, kamu sudah menjadi tanggungjawab kami." Sahut Zaid.


Atalie mengucapkan terimakasih pada Maryam dan Zaid karena telah begitu baik menyambutnya disini padahal mereka tidak mengenalnya dengan baik. Namun Maryam memperlakukan Atalie seperti seorang anak. Mungkin karena Maryam sudah menjadi ibu bagi puluhan santri.


"Kalau boleh tahu, berapa usia mu Atalie, mungkin ada santri yang sebaya kamu disini." Tanya Maryam.


"Dua puluh tiga, Ummi."


Umar terkejut mengetahui usia Atalie yang jauh dari perkiraannya. Atalie memang terlihat berusia awal 20 tahunan tapi karena ia hampir lulus S2 Umar mengira usia gadis itu tidak terpaut jauh darinya.


"Ummi, saya ingin menjadi Aisyah." Atalie ragu-ragu mengutarakan keinginannya mengubah nama. Atalie sudah jatuh cinta sejak pertama kali mendengar soal wanita luar biasa bernama Aisyah. Meskipun Atalie tak akan pernah bisa seperti Aisyah tapi ia berharap dirinya terlahir sebagai pribadi baru dengan nama tersebut, pribadi yang jauh lebih baik.


Maryam tersenyum lembut di balik cadarnya, "kalau begitu mulai sekarang kamu akan dipanggil Aisyah."


Umar ikut tersenyum, itu nama yang bagus. Umar tidak sabar memanggil Atalie dengan nama Aisyah.


"Terimakasih juga Mas Umar—maksud saya Ustadz—eh Gus." Atalie menutup mulutnya, ia kikuk karena selalu bingung memanggil Umar dengan sebutan yang mana. Atalie ingin memanggil Umar dengan satu nama yang tidak pernah berubah, suami misalnya, eh.


Umar menahan tawa, "sama-sama Aisyah." Jawabnya.


Atalie terperangah mendengar Umar memanggilnya Aisyah untuk pertama kalinya. Nama itu terdengar menakjubkan.


"Terimakasih sudah mengenalkan ku dengan Aisyah, aku akan terus belajar lebih baik lagi."


"Aku doakan semoga kamu selalu Istiqomah." Kata Umar tulus.


Atalie mengangguk meski ia tidak mengerti arti Istiqomah, ia akan mencaritahu sendiri nanti. Banyak istilah baru yang Atalie dengar akhir-akhir ini.


Please welcome Aisyah


__ADS_1


__ADS_2